3 : Semoga Hanya Ilusi

1402 Words
-Lebih baik dibenci tapi menjadi diri sendiri, daripada disuka tapi menjadi seperti orang lain- (Anonim)___ Bandara Soekarno-Hatta menjadi salah satu Bandara tersibuk di Indonesia dengan lebih dari 100 penerbangan setiap harinya. Karena itu, tentu saja penumpang yang berdatangan masuk dan keluar dari Airport Ibu Kota ini juga banyak sekali. Suasana Bandara Soekarno-Hatta terlihat begitu ramai. Beragam jenis manusia ada di sini dengan tujuan yang beragam pula, tak kecuali seorang gadis dengan seragam sekolahnya yang tengah kebingungan sendirian. Semalam, ia menawarkan diri untuk menjemput sepupunya yang kembali dari liburan. Gadis berkerudung ini memilih izin dari sekolah hanya untuk menjemput mereka. Tetapi, sudah setengah jam menunggu, tak juga tampak kedatangan tiga orang itu. Ia menghela nafas dengan memandangi ponselnya yang kehabisan baterai hingga membuatnya seperti orang bodoh saja di sini. Saat kebingungan kian menghampirinya, ia dikagetkan dengan tepukan di pundaknya oleh seseorang yang sangat ia kenal. "Illa, Kakak titip ini bentar ya! Kakak kebelet banget, mana tembus lagi. Mau sekalian ganti pakaian." ucap orang itu dengan tergesa-gesa. Gadis berama Khalilla ini pun mengambil alih papan nama yang dibawa Ratu sekaligus sebuah map. "Terus, Illa harus gimana?" tanyanya. "Kamu berdiri aja di sana sambil pegang papan nama, jangan lupa angkat tinggi-tinggi biar kelihatan. Misalkan Kakak kembalinya lama, kamu kasih aja langsung map ini ke orangnya, terus bilang kalo Kakak izin ke toilet bentar. Oke!" timpal Ratu sambil menutupi gamis bagian belakangnya dengan handbag. "Tapi, Kak, Illa mau jemput Hasbi." tolak Khalilla dengan wajah memelas. Ratu melebarkan pupil matanya seraya menoyor lembut kepala Khalilla. "Kamu pintar tapi nggak pintar-pintar ternyata. Tante Oya aja udah sampai satu jam yang lalu. Dia hubungi Kakak, katanya, kok Illa belum dateng dan ditelepon nggak aktif. Jadi, Kakak pesenin mereka taksi sebelum ke sini." "Ya sudah, Kakak ke toilet dulu. Makasih ya Illa sayang, atas bantuannya. Untung ada kamu." tambah Ratu tanpa memberi Khalilla kesempatan untuk bersuara. Wanita 25 tahun itu pun bergegas meninggalkan Khalilla. Khalilla menghela nafas seraya mengumpulkan kesabarannya. Sia-sia saja dirinya izin dari sekolah, padahal hari ini adalah hari pertama setelah liburan kemarin. Niatnya ingin menjemput Hasbi, Ayah dan bundanya, pada akhirnya malah terlibat dengan urusan orang lain di sini. Demi amanah sang kakak sepupu, Khalilla pun berbaur dengan orang-orang yang juga mengangkat beberapa papan nama sepertinya. Gadis beransel ini mengikuti apa yang orang-orang itu lakukan tanpa melihat terlebih dahulu nama siapa yang tertulis di papan yang ia pegang. Khalilla hanya ingin orang yang ditunggu Ratu itu cepat datang, kemudian menyerahkan titipan Ratu ini sehingga Khalilla bisa kembali ke sekolah lebih cepat. Beberapa puluh menit kemudian, Khalilla merasa kakinya mulai pegal. Ia pun memundurkan tubuhnya dan hendak duduk sebentar, namun, niat tersebut langsung ia urungkan saat menyadari jika seorang pria sedang memandanginya---lebih tepatnya, mencermati papan nama yang ia pegang. Pria itu semakin dekat ke arahnya dan berhenti tepat di depannya. Khalilla merasa gugup, kemudian menunduk menghindari tatapan pria itu. Siapa sih? Khalilla membatin. "Oke, saya setuju!" ucap pria itu dengan suara tegas yang membuat dua orang pria di belakangnya terperanjat. Khalilla masih menunduk sambil memikirkan siapakah orang di depannya ini. Apakah dia orang yang ingin dijemput oleh Ratu? Lalu, apa maksudnya 'setuju'. Setuju apa?  “Lusa kita tunangan!” lanjut pria itu tanpa mengalihkan pandangannya dari Khalilla. Perlahan, Khalilla mengangkat wajahnya hingga iris matanya mendapati sosok tinggi yang berdiri di depannya. Pria itu tampak tampan dengan kemeja silvernya, terlebih lagi iris mata yang berwarna kebiru-biruan membuat Khalilla terpana. Pria itu pun sama, ia mengernyit heran memperhatikan seragam sekolah yang digunakan Khalilla. Ia bingung, apakah ia salah orang? Tapi, dengan cepat pria itu merubah kembali mimik wajahnya. Toh, tidak penting masih sekolah atau sudah janda, yang jelas wanita. Pikirnya. Sadar dengan apa yang dilakukannya, Khalilla pun beristighfar seraya menunduk kembali. “Maaf, Pak, saya ada sedikit urusan mendesak sehingga meminta bantuan sepupu saya ini untuk menyambut Bapak,” tiba-tiba Ratu muncul di tengah kebingungan melanda Khalilla. “Tidak apa-apa. Terima kasih atas bantuannya." ucap pria itu pada Ratu. Ketika ingin menyalami Ratu, pria itu mendapat penolakan halus. Dengan perlahan, tangannya berpindah ke arah gadis berseragam sekolah di samping Ratu yang masih saja menghindari tatapannya. Namun sayang, ia kembali mendapat penolakan untuk bersalaman. “Maaf, Pak, kita bukan mahram. Saya juga senang bisa kerja di tempat Bapak.” tolak Ratu dengan raut wajah bersalah. Pria itu mengangguk seraya menarik tangannya yang sudah dua kali diabaikan hari ini. “Baiklah, Ratu, saya setuju dengan pilihan kamu. Nampaknya, dia akan sangat membantu. Untuk itu, saya minta pertunangan kami diselenggarakan lusa. Urus semuanya dengan baik tanpa cela. Oke!” Seperti disambar petir, Ratu memandangi atasannya kemudian beralih pada Khalilla yang berdiam kaku di sampingnya. “Jangan bilang, Illa dikira orang yang sudah aku pilih. Ya Allah, bantu aku!” batin Ratu bersalah. “Maksud, Bapak? Coba lihat isi map yang saya bawa terlebih dahulu sebelum memutuskan.” pinta Ratu hati-hati. Pria itu mengambil map yang masih berada ditangan Khalilla hingga merobeknya. Srekk... srekk.... “Sebagai orangnya saya, kamu hebat! Tapi, saya tidak peduli lagi dengan isi map ini. Saya sudah memutuskan bahwa yang akan saya nikahi adalah ... dia!” tegas pria itu pada Ratu seraya menunjuk Khalilla. Khalilla tersadar bahwa dirinya sudah dilibatkan terlalu jauh di sini. Untuk memastikannya, ia pun bersuara, “Maaf, maksud Anda apa ya? Kenapa nunjuknya ke arah saya gitu?” Pria itu menarik sudut bibirnya, tergerak ingin menyentuh tangan Khalilla yang terangkat seperti meniru gerakannya. Namun, Khalilla langsung menghindar. Kembali menarik dan menyimpan tangannya, pria itu menimpali Khalilla, “Seperti yang saya katakan, saya akan menikahi kamu. Pertunangan kita akan dilaksanakan lusa. Jadi kamu harus siap-siap,” kemudian, ia melanjutkan yang kali ini menuju Ratu, “Ratu, kamu atur semuanya agar terlihat natural dan juga temani saya menemui orang tuanya. Kamu masih keluarganya, bukan? Maka akan lebih mudah.” Ratu kembali menyela, namun sang atasan mengangkat tangannya seolah tidak ingin mendengar sepatah kata pun. “Saya tidak bersedia menarik apa yang sudah saya ucapkan. Kamu jalankan saja sesuai perintah saya!” Pria itu beralih menghadap Khalilla, “Besok saya akan menemui orang tua kamu,” tak langsung melengkapi perkataannya, pria itu melirik name tag yang tergantung di kerudung putih Khalilla kemudian melanjutkan lagi, “Khalilla Arresha Okhtara ... saya pilih kamu!” *** Khalilla kembali ke sekolah dengan perasaan yang tak menentu. Memikirkan kejadian beberapa saat yang lalu, membuatnya pusing dan setengah tak percaya. "Apa Illa lagi mimpi? Atau Kak Ratu dan orang-orang itu lagi ada syuting di Bandara?" batin Khalilla menerka. Ia tak habis pikir jika hal yang dikatakan pria itu benar-benar terjadi dan ia berharap itu hanya ilusi. Apa kata Umi dan abinya nanti, jika putri mereka ini tiba-tiba saja dilamar oleh pria dewasa, bahkan orang yang tidak Khalilla kenal. Sampai di sekolah, Khalilla langsung dipanggil oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan untuk menuju ruang Kepala Sekolah. Di dalam sana, sudah ada Wildan dan Zahara. Kepala Sekolah pun meminta Khalilla untuk ikut bergabung bersama mereka. "Khalilla, saya ingin mengikutsertakan kamu dalam Olimpiade Fisika mewakili sekolah kita. Saya tahu kamu sudah hampir lulus, tapi, dalam ketentuannya setiap bidang lomba diperbolehkan mengikutserta satu orang siswa kelas XII. Jadi, untuk Fisika saya percayakan padamu. Sedangkan untuk Matematika diwakilkan oleh Wildan dan Kimianya Zahara. Biologi diwakilkan Alyaumil, tapi hari ini dia izin tidak datang ke sekolah." Kepala Sekolah menjelaskan rasa penasaran Khalilla. Khalilla memandang Zahara dan Wildan sejenak kemudian beralih pada Kepala Sekolah yang biasa dipanggil 'Buya'. "Maaf, Buya, apa nggak bisa yang lain aja? Illa yakin siswa kelas X dan XI mampu, biarkan mereka mencoba. Masa Illa ikut OSN Fisika terus sih, nanti orang bosan lihat Illa kembali duduk di podium." tolak Khalilla dengan nada khasnya. Wildan terkekeh geli mendengar jawaban Khalilla begitupun dengan Buya yang hanya bisa geleng kepala. Namun, Zahara yang berada di samping Khalilla menampakkan pandangan mengejek---tak suka. "Tidak apa-apa, Khalilla. Ini yang terakhir kalinya, sekalian kamu sharing pengalaman kamu ke adik kelas, agar setelah lulus nanti ada yang gantiin sang juara ini. Oke!" Buya meyakinkan Khalilla. Khalilla menggembungkan kedua pipinya, pertanda dirinya kehabisan argumen untuk menolak. Kemudian, gadis berpipi subur ini pun mengangguk pasrah. "Nggak bisa nolak, terus kenapa Buya panggil Illa ke sini sih? Langsung aja tulis nama Illa kan beres." gumam Khalilla seolah menumpahkan kekesalannya. "Khalilla, yang sopan dong ke Buya. Masa ngomongnya gitu sih!" Zahara menatap Khalilla kesal. Menurutnya, Khalilla sok akrab sekali dan hal itu membuat Zahara ingin muntah mendengarnya. "Tidak apa-apa, Zahara, saya sudah sangat tahu tabiat seorang Khalilla. Dia memang begitu adanya dan saya memakluminya." ucap Kepala Sekolah pada Zahara. Khalilla yang berada di samping Zahara hanya memperhatikan kedua orang itu. Lalu, saat iris matanya ingin beranjak, tiba-tiba saja matanya bertemu dengan Wildan. Laki-laki itu tersenyum sangat manis kepadanya. Khalilla memutar tubuhnya, tepatnya menoleh ke arah belakang, mana tahu Wildan tersenyum pada orang yang ada di belakangnya. Namun, tak ada makhluk apapun di belakang. "Wildan senyumin Illa ya?" tanya Khalilla sambil menunjuk dirinya sendiri, membuat Wildan salah tingkah hingga pura-pura menggaruk pundaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD