Halaman 9

1120 Words
Saat ini Dinda sedang berhadapan dengan laptopnya. Menjadi sekretaris pribadi adalah hal yang ringan. Laily yang duduk di meja belajar. Masih mengerjakan tugas kantor. Suara perutnya bergemuruh menandakan bahwa Laily sangat lapar. "Din, beli makanan gih," suruh Laily. "Lo aja yang beli sana!" "Gue ngga tau makai motor." Dinda pun mempause drakornya. Ia menatap Laily yang memohon. "Yaelah, lo tinggal masukan tuh kunci motor dan lo putar dikit, terus lu starter dan pelan pelan jangan lupa putar gasnya dan pegang remnya." "Ribet amat. Dinda aja." "Sesekali lo lah Ly." Laily mendengkus sebal. Sesekali apa ini baru pertama kali nya. Dan Dinda juga tak pernah menggunakan motor itu. Laily pun terpaksa karna perutnya sudah sangat lapar. Mau delivery lagi malas. Pengennya tuh beli langsung. "Hati hati Ly!" pekik Dinda saat wanita itu keluar kamar. Laily menatap motor scoopy didepannya ini. Ia pun menaiki motor itu. "Bismillah," ucapnya. Laily mengikuti perkataan Dinda tadi. Laily pun memasukan kunci motor dan memutar sedikit ternyata motor itu menyala. Tinggal starter doang. Laily tersenyum saat motornya menyala. Ia pun mulai menstarter motornya sesuai dengan yang diperintah Dinda. Ia tidak memegang rem. BRUKK PRANGG "Gempa bumi!" Dinda langsung keluar dari kamarnya menuju keluar. Dinda melongo. Bukan gempa bumi namun nasib naas. Kini Laily sedang berduaan dengan motor. "Laily! Itu motor jangan lo ajak malam pertama!" Laily tertimpa motor. Wanita itu berada di bawah motor. Kompleknya ini didominsi dengan pagar kaca. Pagar kaca tetangga depannya sudah pecah. Laily meringis di timpa motor. "Bantuin Din. Bukan di tontonin!" Dinda yang tersadar pun langsung membantu Laily. Orang yang milik rumah itu keluar. "Astagfirullah!" Wanita itu langsung membantu Dinda mengangkat motor itu dan menolong Laily. Laily mencebikkan bibirnya. Ia ditimpa motor. "Ly, lo masih perawan kan?" tanya Dinda mengusap jidat Laily yang merah. "Eh, motor mana bisa merawani manusia!" sungut wanita itu. "Aduh Mbak. Maaf pagarnya hancur gara gara Laily." Laily menyatukan kedua telapak tangannya. "Ngga papa. Komplek disini masih ada garansi nya." Laily tak henti hentinya bergumam minta maaf. Wanita itu mempersilahkan Laily masuk kerumahnya untuk mengobati luka di dahi dan sikut Laily. "Nama Mbak siapa?" tanya Laily sambil meniup luka disikutnya yang sedang diobati wanita itu. "Maisyura ananda viola." "Mbak Mai masak apa? Wangi banget." indera penciuman tajam Dinda sangat tepat sekali. Kalo soal makan ciuman Dinda sangat tajam. "Oh lagi bikin opor ayam. Kangen suasana lebaran hehe." "Boleh numpang makan nggak?" tanya Dinda dan Laily berbarengan. "Wah boleh banget. Makan ramai ramai tuh lebih enak daripada sendiri." ~ ~ ~ ~ Laily dan Dinda tersenyum puas. Akhirnya mendapatkan tetangga yang baik. Ia sangat merindukan masakan rumahan. Apalagi masakan Kella. Sangat ia rindukan sekali. Mai dengan senang hati menerima Laily dan Dinda. Kebetulan Mai juga tinggal sendiri di rumahnya ini. Mai sangat jago dalam masak. Mai menyajikan makanannya dan untungnya ia masak banyak hari ini. "Mbak Mai ngga papa nih kita numpang makan?" tanya Dinda. Mai tersenyum dan mengangguk. "Ngga papa sering sering aja numpang makan disini. Ngga masalah." "Jangan ngomong gitu Mbak Mai kita jadi keenakan hehe." Laily menunjukkan cengirannya. Padahal didalam hati mereka berdua bersorak girang. Setidaknya tak makan makanan cepat saji lagi. "Ngga papa. Setiap hari aja makan disini." Mai berucap sambil mengambil nasi. Mereka pun makan dengan tenang dan khidmat. Yang baca Saquella tau kan larangan Alby pada Dinda. Makan ngga boleh kaki satu naik ke atas kursi. Namun menurut Dinda itu tidaklah efesien. Karna makan dengan kaki di angkat satu membuat makanan lebih enak dan lebih kenyang. Nikmatnya berasaaaaaaa bangettttt. Setelah makan. Laily pun membantu Mai mencuci piring. Mai sampai heran bahwa Laily tak bisa mencuci piring dengan sabar Mai mengajarkan Laily mencuci piring. ~ ~ ~ ~ Kini mereka bertiga lebih akrab. Mereka bertiga sedang duduk dikamar Mai yang ada televisi disana. Kamar Mai sama luasnya dengan kamar mereka berdua. "Mbak Mai kerja dimana? Kok pagi pagi kalo Laily beli bubur ayam ngga lihat Mbak Mai?" Mai mengangguk. "Mbak itu baru pindah dua hari yang lalu. Disini itu tempatnya dekat juga dengan tempat kerja Mbak Mai?" "Kerja dimana Mbak Mai?" sahut Dinda sambil ngemil makanan punya mai. "Zefano groups." "Serius?" Dinda yang sedang berselonjor manja dan bersandar di tepi ranjang pun menatap mai dengan lekat. Mai membalas tatapan Dinda. "Mbak, berarti Mbak tau Adrian?" Mai mengangguk. Dinda menjentikkan jarinya. "Mbak Mai tau. Dinda itu suka sama pak Adrian." Mai menutup mulutnya kaget. "Beneran?" Dinda mengangguk. Ia pun kembali membayangkan wajah tampan Adrian sambil memasukan cemilannya kedalam mulutnya. "Matanya, hidungnya, rahangnya, bibir seksinya, bentuk tubuhnya, Dinda tergila gila sama dia. Pokoknya Mbak Mai harus kenalin Dinda ke pak Adrian!" "Mana bisa! Mbak Mai itu sangat formal sama pak Adrian. Kalo di perusahaannya Mbak Mai bagian tim pengembangan." "Sama dengan Laily. Laily tim pengembangan di perusahaan Hansel groups," celetuk Laily cepat. "Umur Mbak berapa? Siapa tau kita sepantaran," ujar Dinda. "Umur Mbak 30 tahun dan masih sendiri. Sebenarnya mbak mau nikah setahun yang lalu. Eh ditikung teman." "Kita beda Mbak. Kalo Dinda bukan ditikung tapi ditinggal nikah sama pacar. Dekat sama Dinda nikahnya sama orang lain." Dinda dan Mai berpelukan. Laily menatap aneh keduanya. Sama sama sadgirl. Lah dia apa ya? Bukan ditikung bukan ditinggal lebih tepatnya dipermainkan perasaannya. Tiga wanita sadgirl berkumpul. Dinda dan Mai melepaskan pelukannya. "Kalo umur kita berdua 27 tahun. Mbak cerita dong gimana bisa ditikung teman," paksa Laily dengan mengguncang tubuh Mai. "Oke oke-" Mai mengangguk. "Jadi gini. Ada teman Mbak namanya si A lah ya. Jadi Mbak ini suka curhat sama si A tentang pacar Mbak ini. Kalo Mbak mau dinikahin. Karna Mbak percaya banget sama si A ini jadilah Mbak selalu ajak si A ketemu sama pacar Mbak. Eh ternyata dia main dibelakang. Mbak sama pacar Mbak udah tunangan. Tinggal naik kepelaminan doang. Pas besok mau hari H nya. Si A ini datang kerumah pacar Mbak dan bawa testpack bahwa dia hamil. Dan ternyata mereka udah melakukan hubungan suami istri dalam rangka suka sama suka. Yaudah deh jadi besoknya yang nikah si A sama pacar Mbak. Mbak jadi tamu undangan aja. Semua keluarganya turut prihatin sama Mbak. Tapi Mbak bilang bukan jodoh yang tepat. Mbak selalu tegarin hati Mbak dan milih pindah kesini. Coba melamar di perusahaan besar ternyata keterima," jelas Mai panjang lebar. "Gimana bisa keterima Mbak? Kan perusahaan itu benar benar mencari orang serius?" Dinda mengangguk atas pertanyaan Laily. "Seminggu setelah mereka nikah. Mbak pindah kesini dan melamar di perusahaan itu yang katanya membuka lowongan pekerjaan. Banyak banget yang ngelamar ada ratusan orang. Tapi Mbak keterima karna menjawab pertanyaan dari pak Adrian dengan benar dan tepat. Mbak udah setahun kerja disitu dan sampai sekarang. Sebelum pindah kesini Mbak tinggal di apartemen. Apartemennya kurang nyaman. Mbak memilih mencari komplek aja ya disini." Dinda dan Laily manggut manggut ngerti dan ber oh ria. Ia mengerti penjelasan dari Mai. "Mbak mai hebat banget." Laily mengacungkan kedua jempolnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD