Halaman 10

1221 Words
"Mbak Mai kalo kerja di Zefano groups mudah nggak?" tanya Laily. "Tergantung tugasnya. Gajinya juga bukan lumayan lagi. Gajinya wow banget. Oh iya kalian kerja di Hansel groups gimana masuknya?" "Lewat Ayah. Karna pak Farel itu anak teman baik Ayah," sahut Dinda. Mai hanya ber oh ria saja. "Udah deh Mbak Mai. Kita pulang dulu. Kerjaan Laily belum selesai," pamit Laily. "Oh sama dengan Mbak. Yaudah besok malam kayak gini datang lagi ya. Mbak masakin daging sama udang saos padang," ucap Mai. "Aduh Mbak Mai. Sering aja masak nanti kita jadi keenakan." Dinda menyengir lebar. Mereka berdua pun pamit pulang. Dinda mendorong motor scoopy nya. Alamat masuk bengkel nih motor karna sudah lecet. Harus diganti dengan yang baru. Dinda pun memarkirkan motornya di depan rumahnya. "Ly, motornya ganti aja deh. Nih motor kasi ke orang aja. Udah lo jatohin juga." "Iya, ntar pas gajian baru beli motor." Dinda menahan tangan Laily yang ingin membuka pintu rumah. "Beli mobil aja gimana?" Saran yang sangat bagus. Laily bisa bawa mobil. Kalo motor Laily nyerah sudah cukup sekali saja ditimpa motor. "Bagus, ntar bayarnya bagi dua." Dinda mengangguk. ~ ~ ~ ~ Dinda sebenarnya sangat malas menginjakkan kaki dirumah besar ini. Yah sebelas dua belas lah sama rumah Ayahnya di jakarta sana. Ngomongin Sergio, dinda jadi rindu dihukum Ayahnya di halaman rumah dengan hormat didepan tiang bendera dan diawasi Sergio dengan senapan panjang andalan Sergio. Dengan langkah malas. Dinda pun masuk ke halaman rumah itu saat pak satpam membukakan nya pintu. Halaman rumah itu sangat luas namun Farel hanya tinggal sendiri. Jangan tanyakan dapat darimana alamat rumah Farel kalo bukan dari Sergio. "Malas banget yaallah!" gumam Dinda dan membuka pintu utama. Ia terperangah dengan model rumah ini. Abu abu klasik banget. Bau harum menyambut dirinya saat masuk kedalam rumah. "Nggak ada pembantu aja bersih banget." Farel tak mempercayai orang dengan cepat. Ia hanya mempercayai satpamnya yang sudah bekerja lama sejak ia masih duduk di bangku SD. Sedangkan pembantu ia tak mempercayai itu. Karna barang barang branded, berlian, uang atau barang mahal lainnya sering Farel tinggalkan dimana pun itu. Berlamparan dimana mana. Barang itu kecil tapi harganya fantastis. Dinda melihat di atas meja. Ada cincin berlian yang sangat wow pasti harganya. "Ck, nyimpan barang sembarangan banget. Kalo hilang baru tau rasa." Daripada memikirkan berlian mahal itu. Dinda kembali meletakkan di atas meja. Barang barang mahal disini semuanya ada dimana mana. "Lantai 2 kamar Farel," ucapnya dan menaiki tangga. Dinda menatap malas pintu yang bertulis nama Farel samudra hansel. Dengan iseng ia pun mengambil spidol didalam tasnya dan menulis nama. PRIA ANGKUH DAN SIALAN. Setelah menulis itu. Ia meraih knop pintu. Dinda melototkan matanya bulat bulat. Nikmat mana yang mau dinda dustakan ini. Ternyata Farel mempunyai tubuh yang sixpack banget. Farel tidur memang jarang memakai baju. Mana selimut kesingkap lagi ya alamat terlihat perut Farel dan d**a pria itu. "Sarapan pagi," gumam Dinda. Dinda menghela napasnya panjang ia pun memberanikan dirinya menghampiri Farel. Biarpun matanya fokus di perut dan d**a Farel. "Rel bangun. Lo kerja kan?" Dinda menggoyangkan lengan Farel agar lelaki itu bangun. Yaallah lengannya aja berotot gini apalagi isi yang didalamnya pasti lebih wow. Ah dinda benci pikirannya. Dengan cepat ia menepis itu semua. Dengan tak ada belas kasihan. Dinda mengguncang tubuh Farel dengan kuat sambil memanggil keras nama Farel dengan irama. "FARELLLL BANGUNNNN WOYY!" Brukk Saat mengguncang kuat tubuh Farel. Pria itu menarik kuat tangan Dinda. Hingga Dinda jatuh diatas d**a Farel. Dinda menatap lekat mata yang terpejam dan perlahan terbuka itu. Farel menatap lekat mata Dinda. Kalo diperhatikan dekat begini. Ternyata Dinda adalah wanita cantik yang memiliki kulit putih bersih dan bibir yang merah alami. Mata Farel beralih pada bibir Dinda. Membuat Dinda menjadi gugup sekarang dan posisinya juga tak lazim. Farel semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Dinda menarik tengkuk wanita itu. Dinda menjadi panas dingin sendiri. Ia tak tau apa yang akan dilakukan pria ini. Dinda memejamkan matanya rapat rapat saat merasakan hembusan napas Farel yang menerpa wajahnya yang kini semakin dekat hingga mengikis jarak. Dinda masih memejamkan matanya. Ia tak tau apa yang akan dilakukan pria ini. Farel juga memejamkan matanya dan sedikit memiringkan wajahnya semakin dekat ke dinda. Hingga...... Hayooo nungguin apaan kalian hahaha. ~ ~ ~ ~ Dinda masih gugup soal tadi dirumah Farel. Ternyata pria itu tak melakukan apa apa. Ia kira akan ada ciuman panas. Ah kenapa mengharapkan lelaki itu sih. Dinda pun keluar dari mobil Farel. Disana sudah berdiri Wisnu. Dinda menatap malas Wisnu dan mengikuti langkah Farel. Kalo sudah sampai di kantor pasti sangat membosankan sekali. Meja Dinda dan Wisnu bersebrangan tidak bersama lagi. Jarak mereka ya lima langkah lah. Wisnu melambai lambaikan tangannya dengan perasaan senang. Karna ia terpisah dari Dinda. Ah tidak ada yang bisa Dinda lakukan lagi sekarang. Dari arah sini Wisnu bisa melihat para tim pengembangan termasuk Laily. Entah mengapa mata Wisnu selalu menangkap Laily yang sangat fokus dalam pekerjaannya. "Nu, dekatan dong," pinta Dinda. "Nggak! Cukup sekali adek gue bangun!" Dinda semakin berdecak sebal. Ia pun memilih pergi saja darisana dan menuju kedepan gedung duduk ditaman gedung itu. Adrian yang melihat Dinda ditaman menghampiri wanita itu. Dinda tekejut bukan main. Pria impiannya menghampiri dirinya. Wow menakjubkan. "Kita belum kenalan," ujar Adrian. "Adinda rawnie " "Adrian howell zefano." Dinda dengan senang hati membalas jabatan tangan Adrian. Tangannya saja membuat dinda merinding. Tak menyangka bisa dekat dengan Adrian. Dari lantai atas ada seorang pria yang memperhatikan keduanya dengan kedua tangan di dalam saku celana. Menatap datar pemandangan dibawahnya ini. "Salam sama pak Sergio ya," kata Adrian. "Baik, nanti saya sampaikan." "Bisa bicara tidak formal dalam luar pekerjaan?" tanya Adrian. Dinda mengangguk. "Bisa." Adrian tersenyum membuat hati Dinda semakin bahagia. Seperti ada ribuan kupu kupu yang terbang diperutnya. Keduanya sama sama terdiam. Adrian menoleh ke Dinda menatap wanita itu dari samping. "Kamu bisa jalan nggak?" tanya Adrian membuat Dinda menoleh. "Bisa kok," jawab Dinda. "Kapan?" Dinda mengulum senyumannya. Yaallah jantung Dinda serasa mati suri. "Mau nya kapan?" "Malam ini aku jemput kamu. Mau?" Dinda dengan senang hati mengangguk. Adrian berdiri dari duduknya. Tangannya terulur mengusap kepala Dinda. "Jangan dandan yang cantik. Takutnya aku nggak bisa jauh dari kamu." Setelah mengatakan itu. Adrian pun pergi dari hadapan Dinda. Dinda bersorak girang. Cinta nya terbalaskan. Sepertinya begitu. Saat Adrian sudah memasuki kantor Farel. Dinda langsung berdiri dari duduknya dan jingkrak jingkrak kesenangan. Farel keluar dari kantornya menghampiri Dinda. Dinda tak sadar bahwa Farel berdiri tak jauh dari nya. "Malam ini gue kencan sama pak Adrian yes!" Dinda masih bersorak girang. "Kata siapa?" tanya Farel datar membuat Dinda berhenti berjoget. "Kata saya lah!" "Tidak! Malam ini ada rapat. Jadi kamu harus ikut saya!" "Ngga bisa gitu dong pak. Itu sudah diluar jam kerja!" "Resiko jadi sekretaris pribadi!" Dinda berdecak sebal. "Nggak bisa pak! Saya mau kencan!" Farel mendekati Dinda dan menarik pinggang wanita itu. Dinda meletakkan tangannya diatas d**a bidang Farel menatap lelaki itu was was. "Pak ini diluar." Dinda merasa risih karna Farel semakin memajukan wajahnya. "Apa perlu saya tuntaskan kegiatan tadi pagi yang tertunda atau belum terlaksanakan?!" Dinda meneguk salivanya susah payah. Mengingat kejadian tadi pagi membuat ia sangat malu. Karna Dinda memejamkan matanya berharap Farel mencium dirinya. Namun tidak terjadi apa apa. Dinda merasa risih karna ia diperhatikan oleh penjaga kantor dan beberapa karyawan kantor yang melihat dirinya bersama Farel. Karyawan itu berbisik bisik. Membuat Dinda semakin risih. Dinda menatap Farel malas yang kini sedang menyeringai. "Berharap sesuatu?" tanya Farel. Menyebalkan!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD