Gara gara Farel sialan itu Dinda membatalkan kencannya bersama Adrian. Dinda duduk disofa ia menatap tajam Farel yang didepannya ini.
Meeting apaan kalo disuruh duduk dirumah doang. Dinda benar benar mengumpat kesal.
"Saya mau mandi. Siapkan baju saya!" ucap Farel.
"Enak aja lo pikir gue babu lo!"
"Jangan lupakan kamu sekretaris pribadi!"
Setelah mengatakan itu Farel pun pergi dari hadapan Dinda. Kalo kayak gini Dinda memilih dipecat aja deh. Eh ngga usah nanti nggak ketemu Adrian lagi.
Adrian benar benar membuat Dinda gila. Secinta itukah Dinda sama Adrian. Memang Adrian cinta gitu sama Dinda.
Daripada pusing banyak pikiran yang ngga jelas. Dinda pun menaiki tangga menuju kamar Farel. Terdengar gemircik suara air dikamar mandi. Wanita itu memilih langsung ke walk in closet di kamar Farel.
Dinda terperangah begitu luas sekali ruangan ini. Ditengah ruangan itu ada meja yang berisikan jam, dasi, cincin berlian, dan beberapa aksesoris cowok lainnya.
"Wow ini sih bikin dompet gue jadi insinyur!" Dinda berdecak sebal saat ia mengambil salah satu jam tangan.
Jam tangan ini selain desainnya bagus harganya juga sangat gilaaaa. Satu jam tangan ini dibandrol 12 milyar. Untuk dipakai ditangan aja harganya segini.
"Mending gue beli mansion daripada jam tangan yang dipakai ditangan doang!"
Dinda kembali meletakkan jam itu ketempat semula. Ia meraba raba cincin berlian yang harganya fantastis sekali. Ini semua barang ngga main main harganya. Kalo gini dompet Dinda jadi minder kan.
Dinda sampai melupakan tugasnya. Ia pun mencari lemari baju tidur Farel. Satu persatu lemari disana ia buka. Baju bajunya juga harganya sangat mahal tidak ada yang harga puluhan juta disini harganya ratusan juta semua.
"Dasar boros! Mentang mentang orang kaya! Punya baju harga ratusan juta. Lo pikir gue mampu beli nya? Ya enggak lah t***l amat dah!" cerocos Dinda.
Dinda pun mendapatkan baju tidur Farel. Diambilnya piyama tidur itu. Ini nih Dinda malas berteman sama orang kaya apalagi jadi sekretaris orang kaya. Dinda minder sumpah dompetnya menangis dari tadi melihat baju dengan harga yang fantastis. Wajar saja baju Farel mahal orang Farel perusahaan penting yang menduduki peringkat satu didunia.
"Baju gue," pinta Farel membuat Dinda menoleh kebelakang.
"Kyaaa! Lo anjir banget sih!" Dinda menutup matanya saat Farel hanya melilitkan handuk dipinggang dan terlihatlah perut sixpack Farel.
Dinda mengintip dicelah tangannya. Rugi juga kalo ngga dilihatin. Kesempatan emas siapa yang mau lewatin.
"Jangan sok suci wanita m***m! Lo masih ngintip!" sungut Farel.
Dinda pun langsung melepaskan tangannya yang menutupi wajahnya.
"Yakali gue ngelewatin kesempatan emas!"
"Wanita m***m!"
Farel mendekati Dinda dan mengambil piyama tidur yang berada di samping Dinda. Dinda menatap malas Farel.
"Otak lo isinya m***m semua?" tanya Farel.
"95 persen m***m. Sisanya ngga tau. Ngga m***m ngga normal!" Dinda memandang ke arah lain.
Berani banget Farel buka handuk didepan dia. Farel hanya menggunakan boxer saja. Gini gini Dinda juga ada rasa malunya. Biarpun sedikit.
"Gue laper! Masakin gue!"
Dinda kembali menoleh ke Farel yang sudah memakai pakaian dan sekarang sedang menyisir rambutnya.
"Lo yakin nyuruh gue?"
"Jangan bilang lo ngga bisa masak! Ngga guna banget tau ngga! Siapapun yang menjadi suami lo pasti nyesal. Karna punya istri yang ngga bisa masak dan tau nya nyusahin doang," cibir Farel menatap Dinda dicermin.
Dinda berdecak sembari memutar bola matanya malas. "Gue sumpahin lo nikah sama gue!" gerutu Dinda pelan. Tak tau mengapa mulutnya ingin berbicara seperti itu.
Dinda pun memilih pergi darisana dan menuju ke dapur. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Dinda melangkah malas ke dapur sedangkan Farel bersantai di kamarnya sembari menonton televisi. Hingga ngantuk menyerang dirinya dan memilih tidur dulu.
"Gue mau masak apaan ini?"
Dinda pun membuka kulkas disana sudah lengkap sekali. Ia mengambil 3 telur ayam dan mengambil mangkuk.
"Ini buka nya gimana lagi." Dinda menyapu pandangannya ke dapur itu hingga menemukan tongkat baseball. Dinda pun mengambil tongkat itu.
"Pakai ini kalik bisa ya."
Dengan percaya diri dinda meletakkan 3 telur itu di atas meja dan memukulnya satu persatu.
"Yah kok gini sih, alamat jadi kotor ini!" ekspetasi tak seindah realita.
Dinda mengambil telur itu dengan tangannya dimasukkan ke dalam mangkuk. Alhasil jadinya sedikit dan banyak tumpahnya di atas meja.
"Masak apaan ini anjir!"
Dinda pun mulai mencari cara mudah. Ia membuka youtube dan melihat beberapa cara masak dan tak lupa cara MENGHIDUPKAN KOMPOR. ya Dinda tak bisa menghidupkan kompor. Ia hanya tau menyeduh pop mie saja san bagaimana masak mie. Itupun Qailla yang menghidupkan dan mematikan kompor.
Lama dinda berkutat didapur. Bukan makin beres dapur malah makin berantakan.
"OMG! Apinya besar!" Dinda kaget saat melihat api kompor semakin besar. Ia mengibaskan tangannya berharap api itu mengecil. Namun nihil.
Ia pun langsung berlari keluar dari dapur dan menutup pintu dapur. Dinda berjongkok sambil menutup telinganya rapat rapat. Telur yang dimasak Dinda semakin gosong dan api senakin membesar. Dinda pastikan ini akan terjadi ledakan seperti di kartun marsha and the bear.
Duarr!
"Bom nagasaki!"
Dinda bernapas lega. Ia langsung menaiki tangga menuju ke kamar Farel. Syukurlah pria sialan itu tidak bangun. Tanpa membuang waktu dan takut dimarahi Dinda langsung turun kebawah dan mengambil tasnya ia langsung pulang kerumah.
Jangan tanyakan lagi keadaan dapur Farel gimana nasibnya. Alhasil Farel harus merenovasi dapurnya dan mengganti kompor. Untuk ledakan itu hanya sebentar dan api pun langsung padam. Kalo rumah Farel terbakar Dinda tak bisa mengitung kerugian yang pastinya mencapa triliunan.
"Salah sendiri ngapain nyuruh gue masak! Kan hancur dapurnya! Ah matilah gue!" Dinda masih berjalan di trotoar.
Pikirannya melayang melihat nasib dapur. Dinda tak mengecek dapur setelah ada ledakan didalam.
Dinda pun memilih menaiki taksi dan ia sampai dirumahnya. Ternyata Laily sudah pulang juga dari kantor.
"Lah Dinda bajunya kenapa kotor?" tanya Laily saat melihat baju Dinda kotor.
Karna Dinda masak tak menggunakan celemek. Jadi alhasil bajunya kotor. Dari mulai telur gosong, daging gosong, hingga sayur yang hanya dimasukkan saja ke panci tanpa dibersihkan terlebih dahulu.
"Gue kursus masak," jawab Dinda sembari melepaskan sepatu dan kaos kakinya.
"Kursus masak apa bikin dapur hancur?"
Dinda memutar bola matanya malas. Ia pun memilih masuk ke dalam kamar.
"Lo kok tau kalo dapurnya hancur?"
"Iyalah Laily tau. Pasti orang yang ngajarin Dinda kursus masak nyesal banget. Mana Dinda pulang malam lagi ini udah hampir jam delapan malam!"
"Gue bukan kursus masak, tapi gue ngehancurin dapur Farel."
Laily membelalakkan matanya. Dinda menghancurkan dapur Farel. Laily menepuk jidatnya kesal.
"Din, barang barang di rumah Farel itu mahal semua. Lo hancurin dapurnya?" tanya Laily tak percaya.
"Gue ngga bisa masak Ly, disuruh masak. Alamat dapurnya hancur lah. Mau gimana lagi."
Laily benar benar pusing. Kenapa harus nekat masak sih.
"Dinda kenapa masak?"
"Gue disuruh. Gue udah bilang kalo gue ngga bisa masak. Ya lo tau lah Farel sialan itu!"
Laily tak habis pikir lagi. Bagaimana kalo sampai farel tau.
"Pak Farel nya?"
"Dia tidur. Gue tinggalin gitu aja."