Halaman 12

976 Words
Setelah perdebatan di w******p. Dinda pun sampai dirumah Farel. Ia menatap pintu besar itu dengan malas. Yang mau lihat chattan Dinda dan Farel bisa lihat di ig aku ya siska.fbrnti4 Dinda membuka tas selempangnya dan mengeluarkan dompetnya. Ternyata uangnya tersisa 2000 ribu saja setelah membayar taksi tadi. Dinda menarik napasnya dan membuka pintu itu. Ia menuju ke ruang tengah dimana Farel berada dengan ipad di tangannya. Dinda mendekati Farel dan meletakkan uang senilai 2000 ribu itu di atas meja. "Gue ganti rugi atas kerugian dapur lo. Kalo kurang uangnya gue ngutang dulu. Ntar kalo ingat gue bayar kalo engga jangan diingatin!" Farel menatap Dinda dengan satu alis terangkat dan kembali mengambil uang bewarna abu abu itu. Farel menatap uang itu bolak balik. "Uang negara mana?" Dinda cengo dengan pertanyaan Farel. "Uang negara +62 lah." "Oh ini bentuk uang 2000 ribu. Selain ini bentuk uang apalagi yang ngga gue tau?" Dinda menolehkan kepalanya kelain arah. "Ini nih buat gue malas berteman sama orang kaya. Uang 2000 ribu aja ngga pernah lihat kek Tasya farasya yang kaget lihat uang seribu dan bilang bentuknya lucu. Jadi insinyur dompet gue yang kosong," gumam Dinda. Dinda berdehem. "Jangan bilang lo ngga pernah lihat uang receh alias logam?" Farel hanya mengedikkan bahunya acuh saja dan kembali meletakkan uang itu di meja. "Uang itu ngga cukup buat renovasi dapur gue! Dan lo ngga mandi apa gimana? Baju kotor kayak gitu." Dinda berdecak sebal. Tadi pas ia mau mandi dulu disuruh kerumahnya sekarang. Eh pas udah di rumah dikatain ngga mandi. Ini boleh ngga sih ditenggelemin ke lem aspal panas. "Eh Jaenudin! Kan lo yang nyuruh gue kesini!" "Sana mandi. Di kamar tamu ada baju khusus tamu. Lo bisa makai itu." "Nggak! Gue mau pulang!" "Bersihin dulu dapur gue! Setelah itu lo boleh mandi dan lo temenin gue disini!" Dinda sudah mengumpat geram dalam hatinya. Tadi disuruh mandi sekarang disuruh bersihin dapur kenapa ngga sekalian suruh kuras air laut pakai sendok. Dinda menghentakkan kakinya menuju dapur dan membuka pintu dapur itu. Betapa terkejutnya melihat dapur Farel yang setengah hitam. Ini perbuatan dia apa bukan. Sumpah ini bukan kelihatan dapur tapi kelihatan seperti hancur karna ledakan. Dinda menggaruk kepalanya. Ini nih kebanyakan m***m. Yaiyalah ledakan orang ia yang bikin dapur hancur dan meledak. Farel menghampiri Dinda yang berada di ambang pintu dapur. Dinda masih menatap sendu dapur yang hancur itu. "Jangan dipikirin. Gue mau ada pertemuan dengan klien. Lo jaga rumah gue, jangan pulang sebelum gue pulang!" Dinda sama sekali tak menoleh ke Farel. Farel kembali ke kamarnya. Dinda pun terduduk lemas di lantai dapur. "Apa salah gue yaallah dikurung dirumah mewah ini! Gue mau keluar dari sini. Kasihan baju dan dompet gue jadi insecure." ~ ~ ~ ~ Dinda memilih memakai kemeja putih punya Farel yang kebesaran dibadannya itu. Ia masa bodo. Sesekali pakai kemeja mahal. Tak lupa ia memberikan ikat pinggang hitam di bagian perut ratanya itu. Ikat pinggang ini juga netral cewek cowok bisa pakai. Dengan rambut diikat asal asalan Dinda mengambil sendal selop dan melepas harga yang masih menempel disendal itu.  Dinda tersenyum senang. "Mulai sekarang lo milik gue ya sendal. Farel juga ngga marah kalo gue nyolong lo." Dinda sangat bosan sekali dirumah Farel ini. Kegiatannya menonton televisi dengan berbagai macam makanan didepannya ini. Ia Dinda delivery makanan meminjam uang Pak Bambang sang satpam dirumah Farel dan akan mengganti ketika Farel datang nanti. ~ ~ ~ ~ Farel tampak sedang berada di salah satu cafe. Ia menunggu seseorang. Bel cafe berbunyi pertanda ada orang masuk. Farel tersenyum dan berdiri. Ia menyalami punggung tangan orang itu. "Apa kabar Ayah?" "Ayah sangat baik sekali." pria itu pun duduk dihadapan Farel. "Bagaimana dengan Dinda? Apa dia membuat masalah?" "Alhamdulillah Ayah. Sampai sekarang masalah dia makin bertambah. Dapur Farel lagi berduka." Sergio tertawa. Ia tau bahwa Dinda itu anak manja dan tak bisa memasak. Dinda juga pernah menghancurkan dapur dirumah Sergio dan berakhir direnovasi lagi. "Ayah akan ganti kerugiannya." "Tidak perlu Ayah." Farel memesankan Sergio makanan dan minuman dulu sebelum melanjutkan obrolannya. Mereka bicara banyak tentang perusahaan. Farel menyuruh dinda tidak pulang karna disuruh Sergio. Tak mungkin sergio kerumah Dinda dan Laily. Karna hanya memiliki satu kamar saja. Kalo dirumah Farel banyak kamar dan ia bisa beristirahat disana. Lagipula ia sudah biasa menginap dirumah pria itu. ~ ~ ~ ~ Dinda keluar rumah dengan segelas boba ditangannya. Ia meminum boba itu sambil mengunyah boba nya yang sangat kenyal dan enak sekali ketika dimakan. Halaman rumah Farel juga sangat luas. Untuk menuju ke rumah Farel ia harus menaiki tangga. Dinda pun duduk disalah satu tangga itu. Ia menatap langit yang bertaburan bintang. Dua buah mobil pun masuk kehalaman rumah Farel yang luas ini. Gambar hanya tampak rumahnya aja ya. Bukan halaman. Dinda berdiri dari duduknya. Salah satu mobil itu tak asing baginya. Hingga keluarlah orang didalam mobil itu dan tersenyum. "AYAHHHH!" Dinda langsung berlari dan memeluk Sergio. Ia sangat merindukan Sergio. Dinda pun menangis dipelukan Sergio. Farel hanya menatap dinda aneh. "Dinda kangen banget sama Ayah. Dinda pulang aja ya, Dinda kangen Caca." Pelukan Dinda pun melonggar. Sergio mengecup kening anaknya dengan lembut. "Disini kamu tuh kerja. Masa mau pulang." "Dinda ngga suka sama dia!" Dinda menunjuk Farel tajam dan mengeratkan pelukannya. "Ngga boleh gitu dia bos kamu." Sergio menurunkan tangan Dinda yang menunjuk Farel. "Ayah ngga tau aja betapa galaknya dia jadi bos!" "Sudah Dinda. Ngga boleh gitu." Farel mempersilahkan Sergio masuk saat pria itu melepaskan pelukannya dari Dinda. Dinda berjalan dibelakang Sergio. Dengan cepat Farel menarik kerah belakang baju Dinda seperti kucing dan menatap wanita itu. "Baju, ikat pinggang dan sendal gue. Apalagi yang lo ambil?" tanya Farel. Dinda menepuk jidatnya. "Gue minjam uang Pak Bambang 200 ribu. Minta dong gue mau ganti uang Pak Bambang." Farel pun mengeluarkan dompetnya disaku celana nya dan memberikan Dinda uang pas. Setelah itu ia memilih masuk duluan. "Baik juga ternyata," gumam Dinda. Dinda pun mengembalikan uang Pak Bambang. Setelah itu ia menyusul masuk kedalam rumah Farel.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD