Halaman 7

1099 Words
Dinda sangat bosan sekarang. Setelah jam makan siang tadi. Ia tak ada kegiatan apa apa lagi. Ini sekretaris pribadi apa pajangan sih atau cuman nemani Wisnu doang duduk disini. Kenapa ngga di pelaminan aja duduknya . "Nu," panggil Dinda. "Hm." "Pekerjaan gue apa sih?" Wisnu pun menghentikan tangannya yang dari tadi mengetik papan keyboard. "Besok pagi lo harus ada di rumah Farel, siapkan semua keperluan Farel disana. Sarapan, pakaian, bangunin Farel. Farel itu tipe orang yang kadang rajin bangun dan kadang malas bangun. Dan gue ngga akan standby di rumah Farel lagi. Lo yang bakalan standby disana." "WHAT! Gila lo ogah gue. Emang gue babu dia!" Wisnu menjentikkan jarinya. "Sebelas dua belas pekerjaan lo jadi babu dan sekretaris pribadi." Wisnu mendekat ke arah Dinda membuat gadis itu memundurkan tubuhnya sedikit. "Lo pernah nonton drakor sss secretary Kim?" Dinda mengangguk. "Sebelas dua belas sama dia pekerjaan lo. Mungkin kayak gitu pekerjaan lo mulai besok. Tapi sayangnya lo ngelakuin hal pribadi doang. Kalo urusan kantor itu tanggung jawab gue." "Jadi, gue harus nyiapin makanan di kantor gitu?" "Engga, kalo makanan ada OB yang bikin. Lo palingan sibuk di pagi hari layaknya istri dan bersantai ketika sudah di kantor. Palingan lo bakalan ikut kemana Farel dan gue pergi." "Lo suka ngedrakor?" tanya Dinda menatap wisnu lekat. "Suka banget." "Wah satu server. Drakor apa yang paling lo suka?" "Strong woman Do Bong Soon sama sss secretary Kim." Wisnu dan Dinda pun ber tos karna drakor favorit nya sama. "Wah itu fav banget di gue. Eh lo udah nonton drakor lucky romance?" "Gue baru nonton setengah. Maklum kerjaan numpuk." "Gue mau dong drakornya. Lo simpan di flashdisk kan?" Wisnu mengangguk. "Nanti kalo udah selesai gue tonton. Gue pinjamin." Dinda pun memeluk Wisnu erat membuat lelaki itu menegang. "Makasih Wisnu lo baik banget." "Lepasin Din. Gue normal! Punya lo nempel di d**a gue, ntar adek gue bangun anjir!" Dinda langsung melepaskan pelukannya. Ia menatap Wisnu jahil dan melihat sesuatu di bawah sana dengan mata genit. Wisnu langsung menutupi senjata nya dengan tangannya. "Jadi lo bisa gitu juga ya? Apa perlu gue bikin bangun? Hm." "WANITA GILAAA!" pekik Wisnu dan menjauhi Dinda. Sedangkan wanita itu tertawa puas. Wisnu salah berteman. Ia sangat salah duduk berdua bersama Dinda. Ia akan meminta Farel memisahkan tempat duduknya agar tak satu tempat duduk lagi sama Dinda. Wisnu sangat bersyukur sekali adiknya tak bangun. Kalo adiknya bangun mati dia. ~ ~ ~ ~ Wisnu berada di ruangan Farel. Ia takut untuk kembali ke meja kesayangannya yang harus dibagi dengan Dinda sekarang ini. Wanita itu mengintip di jendela dan melambaikan tangannya membuat Wisnu bergidik ngeri. Farel menatap aneh Wisnu. "Ada apa Nu?" "Please Rel demi adek gue. Lo harus pisahin duduk gue sama Dinda. Gue mohon. Sumpah demi cinta gue sama Mimi peri gue nggak mau adek gue sampai bangun gara gara Dinda. Mana badan nya hot lagi," cerocos Wisnu. Farel mengintip sedikit ke jendela dan melihat Dinda yang menatap dirinya tajam. "Tadi lo biasa aja." "Itu tadi Rel. Please Rel pisahin gue atau lo bakalan lihat gue ke kamar mandi terus!" Farel terkekeh pelan. Ada senjata untuk Farel buat menakut nakuti Wisnu sekarang. "Oke, meja nya bakalan gue ganti besok. Nanti gue suruh OB." "Sekarang Rel." "Ngga bisa Nu. Gue lagi ada kerjaan. Sana keluar hus hus hus," usir Farel membuat Wisnu menghentakkan kakinya. Wisnu menatap pintu keluar dengan was was. Ia sudah membayangkan wajah mengerikan Dinda. Wisnu pun menoleh ke arah Farel meminta pertolongan namun Farel mengibaskan tangannya menyuruh wisnu keluar. Dengan berat hati pria itu keluar. Dinda pura pura menyibukkan dirinya dengan ponselnya. Ia melihat Wisnu berjalan dengan kaku. Wisnu menarik sedikit kursinya agar berjauh dengan Dinda. "Nu." "Kyaaa!" Wisnu mengeluarkan jurus ular cobra membuat Dinda yang memanggil pria itu kaget. Wisnu mengelus d**a nya. Segitu takutnya Wisnu dengan Dinda. "Yaelah gue cuman manggil eh lo malah silat disitu!" Wisnu kembali duduk ke kursinya. Ketenangannya hilang semenjak Dinda menggoda dirinya. Pria itu berdehem dan melanjutkan ketikannya pada keyboard yang sempat tertunda tadi. Dinda masih punya ide jahil. Ia melepaskan sepatu hak tinggi nya dan mendekati kakinya sedikit ke kaki Wisnu dengan diam diam tanpa sepengetahuan lelaki itu. "Putih mulus, berisi, b****g yang seksi menggoda, buah semangka yang mengenakkan. Apa lo ngga tertarik?" Kaki Dinda kini bermain di kaki nya Wisnu. Ditarik kakinya mengelus betis Wisnu membuat pria itu merasa ada gejolak aneh dan merinding. "Lo bisa ngga sih ngga gangguin gue!" sungut Wisnu kesal. Dinda yang menggoda Wisnu pun menarik kakinya dan memajukan bibir merahnya ke arah Wisnu. "Nu, bibir gue seksi ngga?" tanya Dinda yang menggigit bibir bawahnya dengan penuh nafsu. Wisnu membulatkan matanya. Ia meneguk saliva nya susah payah. Ada yang sesak di bawah sana. Matilah dia. Dengan gerakan seribu Wisnu pun berlari tak tau kemana membuat Dinda puas mengerjai lelaki itu. Setidaknya kegiatan Dinda ada disini. Menggoda Wisnu. Daripada ia jadi patung sedari tadi dengan dilanda kebosanan. Jayden baru keluar dari kantin dengan membawa segelas espresso dingin menemani pekerjaan yang sangat banyak ini. Jayden meminum sedikit espresso nya menikmati rasa nikmat minuman itu. "Pas banget dengan kerjaan gue yang numpuk. Lo bakalan jadi doi gue untuk menemani gue kerja," ucap Jayden pada minuman itu. Wisnu berlari tanpa menghiraukan siapapun yang berlalu lalang. Hingga.... Byurr Jayden memasang wajahnya datar. Kini minuman yang ia idam idamkan malah membasahi muka nya. "Maaf Jay!" pekik wisnu. "Wisnuuuuuu!! Hiks doi gue hilang!" Jayden menghentakkan kakinya kesal. Baru saja ia ingin berkencan dengan doi espresso nya eh malah minuman itu mengenai mukanya alamat baju nya basah setengah. "Mandi espresso lo Jay?" tanya Qina yang baru keluar dari ruangan tim pembangunan dengan membawa beberapa berkas. "BUKAN MANDI s**u GUE!" kesal Jay dan berlalu dari hadapan Qina. Qina tak tau masalahnya. Ia hanya mengedikkan bahunya acuh dan kembali ke ruangannya di tim pengembangan. Qina melewati meja sekretaris Wisnu. Ia melihat Dinda yang terkikik geli. Qina memberhentikan langkahnya. "Ada apa Din?" tanya Qina. Dinda pun berhenti tertawa. Mereka kenal pas makan siang tadi. Semua di tim pengembangan Dinda kenal semua. Mereka sudah mulai jadi teman. "Sabun bolong beraksi sama si Wisnu hahaha." tawa Dinda kembali pecah. Qina ini sebelas dua belas sama Laily. Polos polos b*****t. Qina tak mengerti yang dimaksud Dinda. Daripada otaknya tercemar ia memilih meninggalkan Dinda yang masih tertawa. "Orang di kantor ini mulai aneh deh," gumam Qina dan meletakkan berkasnya. "Semoga Qina ngga ketularan gila kayak Dinda. Aamiin." Qina berdoa saja semoga ia tak ketularan Dinda yang super aneh dan m***m. Qina tau Dinda m***m itu dari Laily dan sikap Dinda saat makan siang tadi membahas hal hal diluar nalar Qina. Ah Dinda merupakan manusia yang tergolong aktif dalam melakukan olahraga malam kalo seandainya sudah menikah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD