"Dindaaa!" teriak Laily saat melihat wanita itu melewati tim pengembangan. Laily pun langsung bangkit dari kursinya mengejar dinda.
"Dindaa! Dindaa!"
Dinda sama sekali tak menghiraukan teriakan Laily bahkan Wisnu juga meneriaki namanya. Ia berjalan dan menabrak siapa saja disana.
Brukk
Dokumen dokumen yang dibawa pria jangkung itu pun jatuh. Dinda dan pria itu memunguti dokumen.
"Maaf banget gue ngga sengaja!" Dinda merasa bersalah.
"Tidak papa."
Dinda pun masih membantu pria itu memungut dokumen yang berserakan saat ini.
Dinda tak henti hentinya mengucap kata maaf. Hingga tak sengaja tangan mungil dinda di pegang oleh tangan besar milik pria itu. Dinda pun menatap pria itu begitupun pria itu menatap Dinda lekat. Eak pandangan pertama awal aku berjumpa.
Dinda sempat terpanah dengan tatapan lembut pria itu. Pemandangan indah di depannya ini sungguh menggoda hasratnya.
Hidung mancung, rahang tegas, bibir seksi. Dinda memandangi tangannya yang di pegang. Tangan pria itu terlihat sangat berurat, urat urat pria itu menonjol. Astaga apa isi dalamnya aish! Dinda menggeleng cepat membuat pria itu menatap Dinda aneh.
Masih dalam keadaan gini masih sempat mikir aneh.
Nih otak eror kali ya, yakali gue bayangin isi dalamnya. Astoge sadar Dinda sadar jangan mikir aneh aneh.
"Oke tetap fokus, otak kembali normal," gerutu Dinda pelan.
Pria itu pun melepaskan tangannya dan mengambil dokumen nya.
"Orang jakarta?" Dinda pun berdiri diikuti pria itu.
"Iya, gue orang jakarta."
Pria itu mengangguk dan tersenyum. "Kelihatan dari cara ngomongnya, biasanya orang kantor kalo ngomong pake bahasa formal. Saya permisi."
Ini otak sangat eror. Dinda bukan fokus pada pria itu. Lebih tepatnya fokus pada bibir pria itu yang sangat menggoda menurut Dinda. Hah gila ini.
Laily yang memanggil Dinda tak direspon pun mengguncang tubuh Dinda keras.
"Dindaaaa! Sadar woyyy!"
Seketika dinda langsung sadar dan menatap Laily. "Jantung sama otak gue jedug jedug Ly." Dinda memegangi jantungnya yang seperti marathon.
"Hah gimana otak bisa jedug jedug?!" tanya Laily.
"Lo tau bibirnya seksi banget, rahangnya tegas, wajahnya, apalagi isi dalamnya, aish bikin gue makin gilaaa ini!"
"Dinda sadar ini tuh di kantor!" Dinda memandangi sekelilingnya. Ternyata ia masih di kantor. Ia pun melihat wisnu yang berdiri tak jauh dari nya.
Dinda memghampiri Wisnu. "Nama lo siapa?
"Wisnu."
"Pria tadi siapa?"
"Rekan bisnis pak Farel, itu adalah saingan pak Farel alias musuh dalam dunia perbisnisan."
Dinda menjentikkan jarinya. "Good, gue mau kerja disini. Gue harus dapatkan hati orang tadi. Ayo kerja."
Dinda menarik Wisnu. Laily mendengkus sebal ia ditinggal sendirian. Dinda pun terpaksa harus kembali ke ruangan yang sama sekali tak mau ia kunjungi ini. Bertemu pria sialan itu lagi. Ah sangat membosankan.
~ ~ ~ ~
Dinda sekarang duduk berdua dengan Wisnu karna mereka sama sama sekretaris. Menurut dinda nggak ada guna nya jadi sekretaris pribadi dia bukan Kim Mi So yang tau semua tentang CEO nya. Cuman parasit mungkin.
Dinda sangat bosan ia menopang dagunya sambil memutar mutar pulpen didepannya ini. Melihat sekilas apa yang dilakukan Wisnu.
"Nu, gue disini kayak ngga guna banget. Pecat gue deh. Gue mau masuk ke perusahaan-" Dinda tampak berpikir.
Wisnu menghentikan ketikan di papan keyboard dan melihat dinda dengan satu alis ditautkan. "Zefano groups?"
"Nah itu, biar gue bisa dekat sama yang namanya-"
Wisnu menghela napasnya. Wanita disampingnya ini memang pelupa atau sudah pikun di makan usia. "Adrian howell zefano."
"Yups, itu dia."
Wisnu pun sedikit mendekat ke Dinda. Ia bisa melihat Laily yang berada tepat di depan matanya yang sangat fokus pada pekerjaan barunya.
"Adrian howell zefano itu musuh bebuyutan pak Farel. Mereka berdua memang tak akur karna dulu mereka satu SMA dan menyukai primadona SMA yang sama. Tapi, pak Farel kalah dan yang mendapatkan primadona SMA itu Adrian." Dinda manggut manggut ngerti.
"Sekarang dimana primadona itu? Masih sama Adrian?"
Wisnu menggeleng membuat dinda bernapas lega. "Shelyn marimar disney, aneh kan nama belakangnya kayak kartun. Sekarang dia itu model di inggris dan menikah dengan pria inggris dikaruniai anak satu. Pria inggris yang ia nikahi itu adalah milyuner sekaligus pemain film besar hollywood."
Dinda kembali manggut paham. Ia pun pamit kepada Wisnu menuju ke dapur kantor karna perutnya lapar. Ia mengajak Laily juga.
Kini Dinda dan Laily sedang berada di dapur kantor. Ah mereka salah berkunjung. Dinda dan Laily sama sama nyengir.
"Bukan tempat yang tepat," ucap Dinda.
Laily pun beralih pada kulkas besar disana ternyata minuman disana cukup lengkap bahkan sangat lengkap ada kulkas eskrim juga.
"Kita tepat banget Din. Ini banyak minuman."
Dinda pun mendekat ke Laily mengambil minuman dan beberapa cemilan di lemari atas yang menempel pada dinding. Disini khusus untuk CEO, sekretaris dan tim pengembangan saja karna ini masih satu ruangan.
Sedangkan ruangan karyawan biasa itu beda beda. Disini ada beberapa kelompok. Sesuai dengan produk yang mereka bikin.
Jika siang maka mereka akan makan siang dikantin. Tidak perlu bayar untuk makanan. Karna sudah disediakan disini. Semuanya gratis. Kalo di dapur itu adalah dapur darurat seandainya belum sarapan bisa sarapan di dapur itu dulu.
Kantin hanya untuk makan siang. Kalo makan pagi maka tak ada makanan disana hanya ada minuman dan penjaga kantin doang. Karna makanan tersedia pada siang hari. Isi kantin sama dengan isi di dapur.
Saat ini Dinda dan Laily duduk di meja pantry yang ada di dapur. Dinda sibuk dengan ponsel di tangannya. Biasa jadi stalker Adrian howell zefano.
"Sumpah dia ganteng banget. Kapan gue bisa miliki hati dia," puji Dinda. Laily mengintip sedikit isi ponsel wanita itu.
"Oh, pak Adrian?" celetuk Laily membuat Dinda menatap Laily.
"Lo kenal?"
Laily mengangguk.
"Dimana?"
"Tadi pas sama Dinda, Laily lihat dia dan pas meeting tadi."
"Cerita ke gue," pinta Dinda dengan semangat 45 yang sudah sangat menggebu gebu.
"Tadi Laily meeting sama pak Adrian dan tim Laily juga bahas tentang game yang akan dikeluarkan tahun ini dan produk herbal. Jadi, ini tuh perjanjian lama antara bokap mereka berdua terpaksa mereka menjalankannya. Dinda tau kan mereka berdua itu musuh dan pernah suka sama satu cewek yang sama." Dinda mengangguk.
"Nah, menurut yang Laily dengar dari Qina. Kalo Adrian itu single umur 30 tahun. Dia itu dari perusahaan Zefano groups. Semua menggilai dia sama kayak pak Farel juga. Dan masuk ke kedua perusahaan yang berpengaruh besar didunia ini mustahil. Dan kita orang yang beruntung bisa masuk ke perusahaan Hansel groups karna perusahaan Hansel groups menduduki perusahaan terbaik nomor satu didunia dan perusahaan Zefano groups menduduki perusahaan terbaik nomor dua didunia. Gitu."
"Tapi, gue lebih mau ke perusahaan Zefano groups," melas dinda.
"Seperti yang Laily bilang tadi MUSTAHIL. Masuk ke perusahaan Hansel groups aja udah sangat sangat bersyukur sekali. Karna pesaing bisnis ditahun ini sangat ketat sekali. Dinda bisa lihat banyak perusahaan yang gulung tikar. Jangan mimpi kejauhan kalo bisa masuk ke perusahaan Zefano groups yang super ketat sama dengan Hansel groups. Kita bisa masuk karna om Sergio."
Laily pun membuang minuman kalengnya yang habis ke tong sampah dan berdiri dari duduknya.
"Balik kerja lagi. Laily masih banyak kerjaan."
Dengan langkah malas pun Dinda keluar dari dapur itu dan mengikuti langkah Laily.
"Lima persen ngga ada gitu peluang masuk kesana?"
Laily menghela napasnya berat. "Bukan lima persen lagi tapi mustahil. Karna, Mereka mencari orang yang benar benar mau kerja keras. Bukan kayak Dinda yang malas dan cuman nyusahin doang!"
Dinda menggerutu kesal. "Sama kayak lo!"
"Setidaknya Laily bisa berguna sedikit didalam pekerjaan. Lah Dinda sekretaris pribadi tapi ngga tau kerja apaan. Cuman diam diam kayak doi yang ngga peka!"
Dinda memang memikirkan itu.
Sekretaris pribadi? Tapi ngga ada kerjaan mending diam dirumah ngedrakor atau ke club malam nenangin otak dan refresh mata. Biar tingkat kemesumannya bertahan.