Dinda menyilangkan tangannya didepan d**a. Menatap pria di depannya ini berkaca kaca. Sekarang ia persis seperti telanjang. Bra nya terekspos jelas ditubuhnya. Bahkan lelaki ada yang terang terangan menyebutkan warna bra nya dan menggoda nya dengan menanyakan bayaran untuk tubuh Dinda.
"Pak Farel."
Sedetik kemudian air mata Dinda runtuh. Ia malu menjadi tontonan saat ini. Bahkan banyak dari mereka mengambil momen ini di ponselnya. Mungkin dinda akan viral.
• • • • • • • • • • • • • • • • • • •
"Gila tubuhnya putih banget bra nya juga cakep. Makin nafsu gue."
"Itu perempuan ngga tau malu ya. Makai pakaian pendek gitu. Mana bra nya kelihatan lagi."
"Perempuan nggak benar kali."
"Neng, berapa bayaran permalam. Boleh abang boking nggak?"
"Perempuan kok pakaiannya pendek sih! Pasti buat goda laki orang tuh. Ini yang suka disebut pelakor."
Dinda semakin terisak. Ia menundukkan kepalanya. Ia memakai pakaian pendek karna nyaman dengan tubuhnya. Apa salahnya dia memakai pakaian pendek.
Selama itu nyaman baginya. Dinda memang begini. Dari dulu ia selalu memakai pakaian pendek. Tapi ngga ada niat goda laki orang.
Wisnu datang dari arah pintu masuk cafe. Ia melepaskan jas nya dan memakaikan ke tubuh Dinda. Dinda mendongakkan kepalanya menatap Wisnu dan kini beralih menatap Farel.
"PUAS LO?!" bentak Dinda.
Farel terdiam. Ia tak bisa berucap apa apa. Terlihat dari mata wanita itu menyimpan kebencian dan amarah.
"GUE NGGA SENGAJA NYENGGOL MEJA LO! TAPI APA YANG LO PERBUAT KE GUE! SEKARANG ORANG ORANG MANDANG GUE SINIS! HARGA DIRI GUE TURUN DISINI!"
"GUE BENCI LO!"
"EMANG WAKTU ITU GUE PERNAH NINJU PERUT LO! TAPI LO BALAS GUE KAYAK GINI. LO NGGAK BISA LIHAT KALO BAJU GUE WARNA PUTIH!"
Dinda menatap pengunjung cafe yang masih setia merekam kejadiannya saat ini. Ia menatap ibu ibu yang terang terangan bilang bahwa ia adalah pelakor.
"Jangan mandang orang dari luarnya! Saya berpakai begini karna nyaman! Jangan urusin kehidupan orang! Urus anak perempuan ibu yang mungkin lagi hamil atau keperawanannya di ambil oleh pacarnya!"
"Dan kalian!" Dinda menunjuk lelaki yang tadi menanyakan harga dirinya. "Sangat menjijikan! Pikiran kalian itu normal! Yang ngga normal omongan kalian yang ngga ada akhlak! Yang ngga bisa difilter!"
Dinda kembali menatap Farel tajam.
"Ayo ngomong!" paksa Dinda.
"Ayo ngomong! Tadi aja lo koar koar! Sekarang lo diam! Puas lihat gue kayak gini. PUAS! Buat gue jadi tontonan gini hah! Bayangin kalo di depan lo ini adik perempuan lo atau bahkan ibu lo. Yang sekarang terang terangan ditawar tubuhnya oleh lelaki b******n! Bayangkan!"
Wisnu pun menatap Farel. Farel sama sekali tak menyahut omongan Dinda.
"Nggak bisa kan? Karna lo udah ngga punya hati dan otak! Ngga mikirin dampak yang lo perbuat kepada orang lain! Lo mikirin kepentingan lo sendiri! Gue benci lo! Gue harap ngga akan ketemu lo lagi!"
Dinda keluar dari cafe itu dengan perasaan kesal mengeratkan jas yang bertengger di tubuhnya itu. Agar tidak dilihat orang.
~ ~ ~ ~
"Ini seriusan dinda?" Laily menatap layar laptopnya tak percaya apa yang ia lihat.
Dinda hanya duduk diam di ranjangnya. Tanpa sepatah kata pun. Pikirannya kembali pada kejadian tadi siang.
Laily melihat video itu. Yang menampakkan Dinda saja. Tidak memperlihatkan 2 orang pria yang berdiri disana.
Banyak yang membagikan video Dinda, banyak menyukai video Dinda dan banyak komentar juga disana dari positif maupun negatif.
Laily yang sadar pun memandangi Dinda yang hanya terdiam dari tadi. Mematikan laptopnya dan mendekati Dinda.
"Din."
"Gue malu Ly, biar pun otak gue gesrek dan m***m. Gue malu, dilihatin orang banyak kayak gitu!"
Dinda memeluk Laily. Ia sangat malu saat itu. Memang ia itu super m***m. Tapi kalo ditempat umum gitu pasti malu lah. Apalagi mereka terang terangan mencibir Dinda. Dan video Dinda juga tersebar luas.
"Sabar Din. Kita bisa hapus video itu minta bantuan Kella."
"Udah banyak yang lihat. Percuma juga kalo dihapus. Udah telanjur malu gue nya hiks."
Laily mengusap punggung Dinda.
"Lo bisa lihat. Harga diri gue turun. Semua mandang gue sinis. Video gue tersebar luas, kalo video kayak gitu udah pastikan bakalan kesebar Ly. Lo aja di posisi gue."
Laily tetap memeluk Dinda dan mengusap punggung wanita itu. Ia tau apa yang dirasakan Dinda saat ini. Apalagi video itu tersebar luas. Seluruh medsos ada.
~ ~ ~ ~
"Farel, gara gara lo video itu kesebar!" Farel yang sedang bersantai di tepi kolam renang pun melihat isi ipad nya.
"Lo keterlaluan Rel, dia perempuan. Lo bisa lihat keadaanya disaat itu. Dia pakai baju putih, wajar kalo dalaman dia terekspos gitu."
Farel masih fokus dengan ipad nya melihat video Dinda marah marah.
"Dan lo tau, dia anak angkat pak sergio. Sekretaris pribadi lo."
Farel langsung menatap Wisnu kaget. Ia pun langsung merogoh ponselnya di saku celana nya.
"Halo, hapus semua video yang lagi viral di cafe tadi siang. Secepatnya di hapus!"
Setelah memerintah orang disebrang sana. Farel pun mematikan sambungan teleponnya.
"Lo harus minta maaf sama dia," kata Wisnu yang kini berjalan mengikuti Farel masuk.
"Ngga penting."
"Enteng, banget lo ngomong! Dia perempuan Rel. Lo harus minta maaf sama dia bagaimana pun itu. Dan besok dia bakalan masuk kerja."
Farel memilih menaiki tangga masuk ke dalam kamarnya. Wisnu menghela napasnya berat dan memijit sedikit pelipisnya.
Farel duduk di tepi ranjang. Ia tau apa yang dirinya perbuat itu keterlaluan. Ia tak membayangkan akan separah ini jadinya.
~ ~ ~ ~
Dinda masih berhadapan dengan laptonya. Ia membuka youtube mencari videonya disana. Namun semuanya sudah dihapus. Ia mencari dengan nama lain. Cover videonya itu dirinya namun saat membuka video itu tertulis video sudah dihapus.
"Siapa yang hapus?" gumam Dinda.
"Bersyukur Din, karna video Dinda udah ngga ada lagi," sahut Laily yang masih mengerjakan pekerjaan kantornya.
Dinda mengangguk. "Gue bakalan ngucapin makasih sama orang itu. Gue sekarang jauh lebih lega. Gue harap ayah nggak lihat video ini. Gue ngga mau bikin ayah khawatir."
~ ~ ~ ~
Dinda dan Laily sudah bersiap pergi kerja. Mereka juga sudah sarapan. Kini buat pertama kalinya bagi Dinda menginjakkan kaki di perusahaan besar ini. Dinda berdecak kagum dengan perusahaan besar ini.
"Lo yakin bos nya baik?" sudah belasan kali dinda menanyakan ini kepada Laily.
"Iya Dinda. Bos nya baik banget malahan. Ayo masuk."
Dinda dan Laily pun masuk ke dalam perusahaan besar itu. Laily membawa Dinda ke sekretaris Wisnu. Dinda terkejut dengan pria di depannya ini. Sedangkan Laily sudah kembali ketempat kerjanya.
"Kamu kan yang menolong saya kan?"
Wisnu mengangguk. "Ikut saya sekretaris Dinda."
Dinda hanya mengangguk. Ia pun mengikuti Wisnu masuk ke ruangan Farel. Dinda bisa lihat saat ini ada seorang lelaki bertubuh tegap membelakangi mereka berdua.
Wisnu gugup untuk memanggil Farel. Namun Farel sudah tau bahwa itu adalah Dinda anaknya pak Sergio.
"Pak, ini Adinda rawnie sekretaris pribadi bapak."
Dinda tersenyum hangat ke arah Wisnu. Farel membalikkan badannya membuat senyuman dinda memudar dan bayangan itu kembali lagi.
"Saya tidak mau bekerja disini!" Dinda yang ingin pergi ditahan oleh wisnu.
"Lepasin saya!" bentak Dinda kepada wisnu.
"Bisa bicarakan baik baik dulu," ucap Wisnu lembut.
Dinda melepaskan kasar tangan Wisnu. Ia pun menuju pintu keluar. Saat meraih gagang pintu. Langkah dinda terhenti.
"Maaf karna kesalahan saya dicafe," ujar Farel tulus dan lembut.
Dinda menghela napasnya panjang. Ia masih belum bisa memaafkan Farel untuk saat ini. Karna sakit hati nya jauh lebih besar. Dinda tetap pergi dari ruangan Farel. Menutup pintu itu dengan kasar membuat mereka yang berada di tim pengembangan terlonjak kaget dengan suara bantingan pintu yang cukup keras itu.
"Biar saya kejar pak." Wisnu pun keluar dari ruangan Farel. Mengejar Dinda yang pergi entah kemana.