Laily saat ini berhadapan dengan Wisnu. Pria itu menatap Laily lekat bahkan tak berkedip dari tadi. Laily yang merasa risih dilihatin seperti itu pun berdehem cukup keras membuat Wisnu gelagapan.
"Laily naiara putri?" tanya Wisnu.
"Iya, pak."
Wisnu mengangguk dan mengisi data Laily. "Dinda?"
"Dia kerja besok katanya. Hari ini Dinda mau refresh otaknya dulu."
Wisnu hanya mengedikkan bahunya acuh saja dan kembali melanjutkan tulisannya yang sempat tertunda tadi.
"Nih, kamu bisa masuk ke tim pengembangan disana."
Laily menatap kertas dan id card yang diberikan Wisnu. Ia tersenyum lebar sambil memperhatikan id card itu. Ah bergabung di tim pengembangan adalah cita cita nya dari dulu. Apalagi perusahaan ternama ini tuh kayak mimpi.
"Makasih pak."
Laily pun langsung bangkit dari duduknya menuju ke ruang kerja tim pengembangan. Ruang kerja tim pengembangan itu masih bisa dijangkau alias tidak berbentuk ruangan seperti ruangan CEO, bendahara, atau ruangan kepentingan lainnya.
~ ~ ~ ~
Laily di sambut hangat oleh tim pengembangan bahkan. Tim pengembangan memperkenalkan dirinya satu persatu dan tugas tugas apa saja yang ia lakukan disini.
Laily sungguh senang menatap meja kerja nya ini. Komputer mahal lagi yang ia tatap dan lebih bikin Laily tak henti nya berdecak kagum adalah bolpen dari perusahaan Hansel groups plus tanda tangan CEO nya. Ini satu bolpen bisa beli motor N-MAX. Laily sangat beruntung sekali. Ia berharap ada hadiah selanjutnya mungkin skincare yang selalu bikin dompetnya bolong. Skincare itu juga buatan Hansel groups.
Ini sih gila bisa bergabung di tim paling banyak orang mau. Dan ia adalah orang paling beruntung disini.
"Laily, tugas kita hari ini adalah meeting sama pak Farel," ucap Qina.
Laily menatap qina berbinar. "Serius? Akhirnya laily bisa lihat CEO nya langsung."
"Ayo Laily," ajak Hadi selaku ketua di tim pengembangan.
Dengan senang hati pun Laily mengikuti mereka dengan membawa laptop, buku, dan bolpen yang baru. Bolpen mahal ini akan ia rawat.
~ ~ ~ ~
Laily tak henti hentinya berdecak kagum bisa melihat Farel secara langsung tanpa melihat di televisi lagi.
Dinda itu ngga suka ribet. Dinda juga ngga tau ia memakai produk dari Hansel groups. Intinya produknya nyaman saja. Dinda juga ngga tau siapa pemilik Hansel groups karna ia tak pernah melihat pria itu.
"Fasilitas panti asuhan yang saya bangun ini harus bintang lima. Saya mau anak jalanan bisa menikmati mewahnya kehidupan seperti saya. Jadi saya harap pembangunan panti asuhan bisa dipercepat. Bisa lihat di gambar ini. Pembangunan nya sudah dua puluh persen. Ketika sudah mencapai tujuh puluh persen. Kalian bisa cari anak jalanan."
"Komplek perumahan bagi orang ngga mampu itu sudah dalam proses pembangunan rumahnya. Ketika sudah bisa ditempati jangan lupa kasi penjagaan di depan komplek. Penjagaan berikan yang ketat. Setiap rumah harus mendapatkan makanan pokok, uang, dan fasilitas yang baru jika fasilitas itu rusak. Mereka akan mendapatkan itu setiap bulan. Berikan juga modal kepada mereka, agar mereka bisa membuka usaha kecil kecilan. Sampai sini paham?"
"Paham pak," jawab mereka kompak.
Pak Hadi pun mengangkat tangannya ingin bertanya. "Silahkan pak Hadi," ucap Farel dengan sopan. Karna pak hadi jauh lebih tua dari nya.
"Dilaporan saya tahun ini. Kita sudah membagikan sembako ke daerah terpencil sebesar tujuh puluh persen. Tiga puluh persennya masih dalam tahap pengiriman dan ada beberapa penghambatan juga disana. Terkait produk baju piyama tidur yang kita rancang, sudah memasuki pasaran luar negeri. Hanya itu catatan yang bisa saja jelaskan disini. Terimakasih pak."
Hadi kembali duduk lagi. Farel mengangguk.
"Produk selanjutnya kita rancang adalah game, sepatu, furniture, dan skincare. Hubungi profesor Ahmed dan dokter Marisha. Rapat selesai. Terimakasih."
Mereka semua berdiri. "Sama sama pak."
Farel pun keluar dari ruang rapat diikuti Wisnu. Mereka semua terduduk lemas. Akhirnya rapat yang mendebarkan ini selesai juga dalam waktu satu jam.
"Pantesan pak Farel semakin jadi trilliuner. Karna dia ngga berhenti sedekah," celetuk Laily.
"Pak Farel itu sangat dermawan. Temurun dari keluarga Hansel groups juga, setiap kali mengeluarkan barang atau apapun itu. Ia tak hentinya bersedekah. Bahkan kita selalu mendapatkan bonus yang sangat fantasi banget," sahut Anggi.
"Satu lagi, pak Farel itu diluar memang sombong. Tapi, didalam ia itu sangat dermawan dan ramah. Ia sengaja bersikap sombong. Agar kedermawanannya tidak dipuji puji. Pak Farel ingin orang melihat dirinya itu sombong dengan harta yang banyak. Padahal dibalik itu semua pak Farel orangnya ngga kayak gitu."
Laily mengangguk akan penjelasan Alis. Padahal kebanyakan orang selalu ingin di puji ini malah kebalik. Ingin di bilang sombong dan dihina. Memang harus Laily acungkan dua jempol buat Farel. Pasti yang memiliki Farel sudah sangat terjamin hidupnya. Bukan terjamin lagi. Hidup dengan berlimpah harta dan uang yang setiap detiknya ngalir.
Jangan tanyakan perusahaan Hansel groups itu sudah sangat terkenal dimana mana. Bahkan diluar negeri pun perusahaan disana sangat menghormati hansel groups.
"Jayden sama Qina kamu ikut saya kelapangan terbuka. Penanaman sepuluh ribu pohon akan dibuka besok." ujar Hadi.
"Baik pak Hadi." Qina dan Jayden pun mengikuti Hadi keluar dari ruangan rapat.
Mereka semua juga keluar. Laily masih tak mengerti dengan ucapan hadi tadi.
"Alis, maksud pak Hadi apa?" tanya Laily.
Alis tersenyum. "Gini ya Ly, pak Farel memang selalu membangun gedung tinggi untuk kemajuan indonesia yang masih berkembang ini. Selain itu pak Farel juga sangat menghargai alam." alis menjeda ucapannya. Saat masih berjalan menuju ruangan para kedua wanita ini masih berbicara.
"Seminggu yang lalu, nggak tau itu di daerah mana. Ada pembakaran hutan membuat pasokan oksigen pasti menipis. Pak Farel saat itu marah besar. Karna hutan itu dibakar buat nanam g***a. Pak Farel bekerja sama dengan polisi menangkap pelaku dan berjanji akan mengganti kerusakan alam. Jadilah ada penanaman sepuluh ribu pohon," jelas Alis.
Laily membulatkan mulutnya. Ia mengerti maksud hadi tadi. Laily pun kembali kepada pekerjaan baru nya. Yaitu bagian dari meringkas laporan dan beberapa tugas lainnya.
~ ~ ~ ~
Setelah membayar makanannya. Dinda pun berjalan menjauh dari kasir. Kakinya tak sengaja menabrak kaki meja yang menyebabkan segelas jus jeruk seseorang itu tumpah ke baju orang itu.
Langkah Dinda berhenti saat tangannya ditarik kasar oleh orang itu.
"LO!" Dinda terkejut dengan apa yang ia lihat. Pria ini yang membuat bajunya basah malam malam.
"Lo jalan ngga pakai mata!" bentak pria itu.
"Jalan itu pakai kaki!" Dinda tak mau kalah. Ia meninggi kan nada suaranya.
"Lo bisa lihat jas gue basah gara gara minuman itu tumpah! Karna lo nabrak meja nya!"
"Gue bisa lihat! Yaudah deal kan. Kemaren malam lo bikin gue basah dan sekarang gue yang bikin lo kotor!"
Mereka kini jadi bahan tontonan orang di cafe. Cafe ini cukup ramai juga.
"BERSIHIN BAJU GUE!" Dinda tersentak saat lelaki itu semakin meninggi kan nada suaranya. Mata wanita itu berkaca kaca.
"Gu-gue ngga sengaja," gugup Dinda.
Saat Dinda akan pergi. Tangannya ditarik kasar oleh pria itu membuat Dinda sedikit meringis. Pria itu mengambil sebotol besar air mineral di atas meja dan menuangkan di atas kepala Dinda hingga sebotol besar air itu habis.
Dinda melihat bajunya yang basah. Baju Dinda bewarna putih dengan bahan tipis. Kini bra merahnya tercetak jelas. Pria itu tercengang melihat apa yang didepannya ini.
Dinda menyilangkan tangannya didepan d**a. Menatap pria di depannya ini berkaca kaca. Sekarang ia persis seperti telanjang. Bra nya terekspos jelas ditubuhnya. Bahkan lelaki ada yang terang terangan menyebutkan warna bra nya dan menggoda nya dengan menanyakan bayaran untuk tubuh Dinda.
"Pak Farel."
Sedetik kemudian air mata Dinda runtuh. Ia malu menjadi tontonan saat ini. Bahkan banyak dari mereka mengambil momen ini di ponselnya. Mungkin dinda akan viral.