"Wisnu, dasi," pinta Farel membuat Wisnu berdecak sebal.
"Ini nih yang buat gue malas nginap di rumah lo. Seolah olah gue babu lo. Memang gue sekretaris lo. Tapi setidaknya jangan merintah gue kayak istri lo, helloww gue memang belum nikah dan gue harap lo nggak tertarik sama gue. Yakali gue nikah sama lo apa kata netizen indonesia. Hancurrr dunia!" dengan satu tarikan napas. Omelan Wisnu membuat Farel memutar bola matanya malas.
"Hari ini ada sekretaris pribadi yang bakalan ngurusin semua perlengkapan lo. Mungkin besok dia bakalan datang ke rumah lo setiap hari dan mengurus segala hal hal tentang lo. Gue bakalan nunggu lo setiap hari di depan kantor bersama 2 bodyguard lo!"
Farel yang sedang memasang dasi. Menatap Wisnu di pantulan cermin. Sekretaris pribadi?
"Gue ngga butuh!"
"Ngga usah nolak. Dia wanita cantik, seksi, bohay, putih mulus dan satu lagi anaknya pak Sergio. Lo mau nolak?"
Farel langsung menatap Wisnu ketika mendengar nama Sergio.
"Kella?"
Farel hanya tau bahwa Sergio rawnie memiliki anak bernama Saquella rawnie. Farel menimang ucapan Wisnu.
Bukannya Kella sudah menikah muda dengan Alby cirrilo dan memiliki anak sepasang kembar.
"Bukan, namanya Adinda rawnie."
Farel semakin dibuat bingung oleh wisnu.
"Anak angkat pak Sergio."
Sejak kapan Sergio memiliki anak angkat. Kok Farel engga tau sih. Farel hanya mengedikkan bahunya acuh.
"Yaudah."
Farel tak bisa menolak. Jika sudah menyangkut Sergio rawnie orang yang sangat penting dalam perusahaan nya.
Farel pun menelpon Sergio. Hanya sekedar menyapa pria itu dan menanyakan kenapa anak angkatnya bekerja di perusahaan nya dan menjadi sekretaris pribadi nya.
Wisnu sudah tau itu. Sergio sengaja mendekatkan Dinda dan Farel. Kalo dijodohkan Dinda bakalan nolak keras. Lebih enaknya jadi sekretaris pribadi. Seiring berjalannnya waktu. Cinta akan tumbuh dintara keduanya karna sering bersama.
"Jadwal hari ini?" Farel sudah selesai berbicara dengan Sergio.
Ia pun keluar dari kamarnya diikuti Wisnu dibelakang. Menanyakan jadwal hari ini.
"Meeting dengan tim pengembangan."
Farel mengangguk. Wisnu pun masuk ke dalam mobil Farel mengambil alih mengemudi. Sedangkan pria itu duduk di belakang.
Farel dan Wisnu sering sekali dikatakan adik kakak. Farel selalu membutuhkan Wisnu dimana pun berada.
Yang membedakan meraka hanya alis. Alis Wisnu tebal sedangkan Farel tak begitu tebal, dan yang kedua adalah warna bibir mereka. Tapi gaya rambut tetap sama tak akan berubah dan tinggi badan mereka sama. Mereka itu kayak sendal jepit. Sepasang.
~ ~ ~ ~
"DINDAAAAA!!" sudah 17 kali Laily membangunkan kebo ini. Namun tak di indahkan. Hanya mendapatkan gumaman saja.
"Din lu serius ngga mau kerja? Kan kita disini buat kerja dan nyari pasangan." Laily duduk di tepi ranjang.
"Hah Af cerai sama bini nya?" dengan wajah bantal. Dinda langsung bangkit dan duduk.
Orang ngomong apa dia ngomong apa!
"Gue harus pulang ke jakarta kalo si Af cerai sama bini nya!" Dinda pun bangkit dari duduknya. Tangan wanita itu di tahan oleh Laily.
"Af udah bahagia woyy! Elah Dinda mah ih! Yakin ngga mau kerja hari ini?"
Seketika Dinda menjadi lesuh dan terduduk lemas di tepi ranjang. Ketika mendengar Af bahagia membuat hatinya sakit. Yaiyalah sakit Af dekat dengan dirinya, pake sayang sayangan, pake ngenalin ke ortu eh malah nikah sama orang lain. Perih banget hati Dinda. Udah mau bunuh diri si Dinda malah ditahan Alby.
Laily pun berdiri dari duduknya mengambil tas kerja nya. Yasudahlah jika Dinda tak mau bekerja. Dia saja yang bekerja.
Dinda memperhatikan penampilan Laily dari atas sampai bawah.
"Gue mau jalan jalan aja sendiri," kata Dinda yang menatap Laily.
"Laily tadi pagi beli bubur ayam pas ada mamang lewat. Buburnya enak. Laily ada beliin Dinda juga jangan lupa di makan."
Laily dan Dinda pun ber tos ria ala perempuan. Setelah itu Laily pun pergi kerja. Mereka belum ada mobil. Terpaksa mereka menggunakan ojol berupa mobil. Motor si ada. Cuman ngga berguna jadi pajangan doang di rumah. Dinda malas pakai motor sedangkan laily tak bisa memakai motor.
Setelah mandi. Dinda pun langsung ke dapur dan membuka tutup saji hanya ada bubur ayam dan jajanan pasar saja. Dinda tak memikirkan itu. Ia pun memakan bubur ayamnya. Enak juga rasanya. Alamat jadi langganan mereka berdua nih untuk sarapan pagi karna mereka berdua tak bisa masak.
Tring!
Dinda melirik ponselnya ternyata ada pesan masuk disana. Ayah.
Kamu kerja kan hari ini? Semangat yah anak Ayah kerja nya. Jangan bikin masalah. Kamu itu nggak bisa apa apa. Cuman tau nya nyusahin doang.
Dinda berdecak sebal dengan kata menyusahin. Ia tak menyusahkan juga. Malahan ia adalah orang penyelesai masalah.
Dinda mengambil ponselnya yang tergeletak di meja makan. Mengetik papan keyboard membalas pesan sergio.
Ayah. Dinda ngga kerja hari ini. Laily aja yang kerja. Dinda besok. Dinda perlu istirahat Ayahhhhh.
Baru akan meletakkan ponselnya. Pesan masuk pun terdengar lagi.
Dindaaaaa!
Kan Ayah bilang kamu kerja hari ini!
Ah yasudahlah kalo begitu. Besok kamu kerja dan ngga ada alasan ngga mau kerja lagi!
Makasih Ayah. Dinda makin sayang
Hm.
Dinda tersenyum lebar. Ayahnya tak akan menolak jika sudah jauh begini. Ayahnya akan memilih mengalah saja dengan dirinya.
~ ~ ~ ~
Laily menatap perusahaan besar di depannya ini. Ia berdecak kagum sekali. Akhirnya bisa jadi bagian dari perusahaan ini. Dimana produk perusahaan inilah yang selalu Laily incar dan selalu merogoh tebal dompetnya. Karna harga dan kualitas nya tak main main.
"Kalo Laily udah masuk tim pengembangan. Pasti harga produk di perusahaan ini bakalan ngasi Laily diskon atau gratis. Wah keren sekali kalo gini mah!"
Dengan semangat 45. Laily pun masuk dan tak lupa tersenyum kepada dua penjaga di depan pintu. Bertepatan dengan Laily masuk. Farel dan Wisnu pun datang.
Penjaga yang berada di depan pintu dengan cepat membuka pintu mobil belakang. Farel pun keluar dari mobil diikuti Wisnu. Wisnu menyerahkan kunci mobil itu kesalah satu penjaga.
"Ada anak baru pak. Dia masuk ke tim pengembangan." Farel memberhentikan langkahnya. Banyak karyawan yang menatap Farel kagum.
"Siapa?"
"Laily naiara putri. Dia anak angkat pak Panji teman baiknya pak Sergio."
Farel mengangguk. "Suruh ketua di tim pengembangan memimpin Laily. Agar wanita itu tau apa saja yang akan ia lakukan saat berada di tim pengembangan."
Wisnu tersenyum dan mengikuti langkah Farel. "Baik pak."
Saat melewati tim pengembangan. Mereka selalu tunduk jika Farel datang dengan intruksi 2 penjaga yang masuk ke tim pengembangan. Ruangan farel melewati tim pengembangan.
"Wisnu." Farel meraih gagang pintu pun berbalik menatap Wisnu.
"Urus yang namanya-" Farel tampak berpikir.
"Laily pak," sambung Wisnu.
Farel menjentikkan jarinya. "Ah iya dia. Kamu urus dia. Saya ada kepentingan di dalam."
"Baik pak."