Aqeela sedang berjalan berdampingan dengan Alex, persis seperti sepasang kekasih. Baju yang mereka kenakan juga tanpa sengaja mempunyai warna yang senada.
Dengan kaos oversize berwarna cream dan celana jeans panjang Aqeela berjalan dengan fokus pada handphone. Bahkan Alex sudah berulangkali menarik tangan Aqeela yang berjalan tanpa melihat arah, hingga hampir di tabrak dan menabrak beberapa pengunjung mall yang lainnya.
"Kak coba fokus, lu niat gak sih nemenin gua?" Kesal Alex, yang lagi-lagi harus menarik Aqeela yang hampir menabrak pagar pembatas saat hendak turun.
"Kalo gua gak niat, gua gak bakal ada disini dong!" jawab Aqeela santai.
Malas berdebat, Aqeela memasukkan handphone nya ke dalam tas. Kembali berjalan, kali ini kebih fokus dengan tangan yang bertaut pada lengan Alex.
"Lu cari sepatu yang kayak apa sih, dari tadi muter-muter udah berapa toko yang lu jamah, ujung-ujungnya balik lagi ke toko pertama," Aqeela bertanya dengan sedikit nada kesal.
"Makanya buruan, entar keburu di ambil orang harus cari lagi!" Jawab adiknya itu sembari menarik tangan Aqeela untuk berjalan lebih cepat.
Sampai di depan toko yang di maksud, Aqeela membiarkan adiknya berjalan lebih dulu. Sedangkan dia mulai melihat-lihat sepatu wanita yang sekiranya pas untuk dia pakai.
Baru saja hendak mengambil salah satu sepatu sneaker berwarna putih, telinganya mendengar suara ribut yang sepertinya adalah suara Alex. Dengan cepat Aqeela menghampiri asal suara, khawatir terjadi sesuatu yang merugikan dirinya nanti karena ulah adiknya itu.
"Tapi saya sudah menandai sepatu ini duluan mas tadi sebelum keluar" terlihat Alex yang sedang memegang sepatu futsal berwarna hitam, yang memang sejak awal dia incar sebelum mencari di toko lain.
"Alex kenapa?" Tanya Aqeela saat sudah berada di samping adiknya itu.
Aqeela melihat pria yang sedang beradu tatap dengan adiknya, berusaha memperebutkan sepatu futsal yang menurutnya sama sekali tidak patut di perebutkan.
Pria dengan baju koko hitam dan sarung putih, berdiri menjulang di depan Aqeela. Bahkan Aqeela harus sedikit mendongak saat menatapnya, tapi anehnya pria itu menundukkan pandangannya saat beradu tatap dengan Aqeela.
"Mas nya mau ambil sepatu ini?" Tanya Aqeela.
"Iya, karena saya duluan yang ambil."
"Owh yaudah ambil aja," jawab santai Aqeela, bahkan tanpa rasa bersalah.
Mengabaikan Alex yang melotot di sampingnya. "Heh, apa-apaan sih kan gua duluan!" Sentak Alex.
Aqeela menyenggol perut Alex, "cari yang lain, lu gak malu jadi bahan tontonan? Kelakuan lu kek bocah tau gak!"
"Saya sebenarnya tidak masalah memberikan sepatu ini pada pacar mbaknya, tapi dengan catatan dia harus mengganti hp saya yang sudah dia pecahkan," suara adem dari pria itu menghentikan pelototan Aqeela pada adiknya yang terus merengek seperti anak kecil.
"Hah?"
Aqeela merasa tidak paham dengan keadaan yang sebenarnya.
"Lu berulah lagi? Astaga lu ngapain weh?!" Kesal Aqeela.
Feeling seorang Aqeela pada kelakuan adiknya memang tidak pernah salah. Alex yang merupakan manusia minim sopan santun seringkali melakukan sesuatu tanpa melihat situasi dan kondisi, bahkan tanpa memikirkan konsekuensi dari perbuatannya.
"Ya maap gak sengaja kesenggol," jawab Alex santai namun terkesan judes.
"Maaf mas boleh liat hp nya?" Tanya Aqeela berusaha ramah.
Sepatu yang sejak tadi menjadi bahan rebutan sudah kembali pada tempatnya, Aqeela mengambilnya paksa dari tangan Alex yang memegangnya erat.
Mata Aqeela nyaris melompat dari tempatnya saat pria itu menunjukkan Iphone 13 pro max dengan layar yang sudah retak parah.
"Ini kesenggol apa kebanting astaga, Alex!" Aqeela lemas, bagaimana bisa adiknya begitu ceroboh di tempat orang.
"Gak sengaja kak."
“Saya tidak sepeduli itu mau kamu sengaja atau tidak, yang pasti kamu menerjang saya tiba-tiba saat saya sedang menghubungi seseorang dengan memegang sepatu itu.” Jelas lelaki itu.
Mendengar penjelasannya, Aqeela menatap malas Alex. "Ganti sendiri deh, gua gak punya duit!"
"Lah apalagi gua? Lu kan tahu gua kesini juga bergantung ke lu"
"Udah tau bergantung jangan berulah, t***l! Rugi gua, berasa jadi sel inang gua kalo sama lu" ujar Aqeela jengah.
Ponselnya saja tidak sekelas dengan Iphone, tapi tanpa harus membelinya dia sudah harus mengeluarkan uang seharga ponsel mehong itu. Gimana gak bergetar ginjalnya.
"Terus siapa parasitnya?" tanya Alex sok polos.
"Ya elu lah, siapa lagi!"
Di tengah pertengkaran kakak beradik itu, muncul sosok pria lain dengan penampilan yang tak jauh beda dengan pria yang berdiri di depan Aqeela.
"Ada masalah apa, Gus?" Tanyanya.
Menghentikan pertengkaran antara Aqeela dan Alex.
Aqeela mengeryit, "Fahri?"
Ya, pria itu adalah Fahri. Pengurus yang menjaga pos penjagaan kemarin, yang membiarkan Aqeela dan teman-temannya berpanas-panas ria tanpa dipersilahkan untuk duduk atau sekedar menunggu di tempat yang teduh.
Fahri menoleh, menatap bingung wanita sok kenal di depannya. "Siapa?" Tanyanya.
Mulut Aqeela menganga, bisa-bisanya orang ini melupakan Aqeela padahal baru kemarin mereka bertemu di pesantren.
"Padahal baru kemarin kita ketemu, masa udah lupa, sombong banget!" tuainya.
Memperhatikan dari atas sampai bawah, Fahri seperti mengenalnya. Dia tak asing dengan suaranya, pun dengan wajahnya yang sepertinya pernah dia lihat sebelumnya.
Detik berikutnya Fahri beristighfar dan segera mengalihkan pandangannya. Dia ingat, wanita di depannya adalah dia yang mengaku sebagai fotografer yang di panggil oleh Yuni. Ya, dia orang yang sama dengan yang menyindirnya secara terang-terangan di depan Yuni.
Fahri menghela nafas, jika di pikir lagi bagaimana bisa dia ingat jika penampilan Aqeela jauh berbeda dengan yang kemarin dia temui. Jika kemarin dia mengenakan hijab meski tidak sempurna menutup d**a, hari ini entah kemana hijabnya dia tanggalkan. Rambutnya diikat kuda sedikit tidak rapi, dengan beberapa helai rambut yang terlihat jelas berwarna abu-abu sedikit kebiruan.
Pakaiannya pun jauh berbeda, tidak lagi seperti wanita karir yang kemarin dia temui, tapi lebih seperti anak gadis yang pergi di ajak jalan oleh pacarnya.
Mengabaikan dua orang di depannya, Fahri kembali bertanya pada orang yang dia sebut "gus" tadi.
Setelah di jelaskan, Fahri kembali menatap pada kakak beradik itu, tepatnya pada Alex.
"Jadi bagaimana, apakah anda siap mengganti hp gus Yudha yang rusak?" Tanyanya tanpa basa-basi.
"Aduh Fahri, saya tuh miskin gak punya duit, ini kan salah dia yaudah deh ini bawa aja sekalian orangnya…" Aqeela mendorong Alex pelan.
Dirinya sudah terlanjur pusing memikirkan kelakuan Alex, benar-benar bikin malu dan bikin bangkrut.
"…Lumayan kan jadi babu," lanjutnya.
“Saya tidak peduli mbaknya punya uang atau tidak, karena kami meminta pertanggung jawaban dari pacar mbak.” Jelas Fahri.
Aqeela melotot, “Dih dia bukan pacar saya, ogah banget. Dia kebetulan aja satu rahim sama saya pas lahir dulu…”
“…Yah dan saya juga udah males sih punya sodara kek dia, jadi bawa aja orangnya sebagai jaminan.” Lanjut Aqeela.
Fahri tak menanggapi, berbeda dengan Alex yang sudah melotot tak percaya. Bisa-bisanya kakaknya itu mengorbankan dirinya untuk dijadikan babu.
"Apaan sih kak?!" Kesalnya.
"Mon maap, siapa? Saya gak kenal!"