Jam delapan pagi. Aqeela baru saja bangun setelah semalam bergadang untuk menyelesaikan naskah tulisan yang sudah sejak seminggu lalu di tagih oleh pihak penerbit. Aqeela hanya mencuci mukanya untuk kemudian bergabung di meja makan, hendak sarapan bersama keluarganya.
Hari minggu, akhir pekan yang selalu di nantikan oleh semua orang. Tak terkecuali oleh Aqeela dan keluarganya, karena hanya akhir pekan lah keluarga Aqeela bisa menghabiskan waktu bersama. Meski terkadang baik ayahnya maupun Aqeela sendiri tidak mampu menuntaskan sehari penuh di dalam rumah, sering sekali ada gangguan yang mau tidak mau harus segera di selesaikan.
Ayahnya yang seorang komandan kepolisian banyak menghabiskan waktunya di kantor, bahkan tak jarang harus menginap dan akan pulang beberapa hari kemudian. Ibunya tidak diizinkan bekerja sejak menikah dengan ayahnya, menjadi ibu rumah tangga yang membuatnya sangat betah berada di rumah. Jika Aqeela dan ayahnya sedang sibuk, mau tak mau ibunya harus sendirian di rumah sampai Alex adik Aqeela pulang sekolah.
Ya Aqeela dua bersaudara, dia mempunyai seorang adik laki-laki. Alex Hamdan Jamanika, yang saat ini duduk di kelas dua SMA. Karena merupakan adik satu-satunya untuk Aqeela, maka dia sangat menyayangi Alex. Apapun yang adiknya inginkan, sebisa mungkin akan Aqeela kabulkan.
Biar bagaimanapun, Aqeela adalah sosok kakak yang baik. Dan Alex, meski tampangnya yang menyebalkan dan selalu mengganggu kakak perempuannya itu, dia juga sangat menyayangi kakaknya. Ibu dan ayahnya benar-benar berhasil mendidik kedua anaknya untuk menjadi pribadi yang saling menyayangi satu sama lain.
"Semalam pulang jam berapa?" Tanya ibunya membuka obrolan di meja makan dengan bertanya pada anak sulungnya.
"Jam sembilan," Aqeela menjawab singkat sambil terus mengunyah nasi goreng spesial masakan ibunya.
Keadaan kembali hening, hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan makanan di atas piring.
"Kak, entar temenin gua beli sepatu futsal ya."
Alex menyenggol Aqeela yang memang duduk bersebelahan dengannya.
Aqeela nyaris tersedak saat disenggol secara tiba-tiba oleh adiknya. Alex meski umurnya yang bertaut delapan tahun dengan Aqeela, tingginya sudah hampir menyamai sang ayah. Dia sangat menyukai olahraga futsal, mungkin itu yang menjadi salah satu alasan kenapa dia bisa sebegitu tinggi.
"Bukannya masih bagus?" Tanya Aqeela heran. Pasalnya Alex adalah satu-satunya manusia yang Aqeela temui hampir setiap bulannya beli sepatu futsal.
"Mingdep gua tanding kak, masa harus pakai sepatu buluk sih?" Jawab Alex santai.
"Alex, jangan suka menghamburkan uang buat barang yang udah kamu punya banyak, pakai yang ada kalo udah rusak baru beli lagi!" ayahnya – Tio, menimpali pembicaraan kakak beradik itu.
"Udah jelek, yah." Alex mulai merengek. Tentu saja badan besarnya tidak membuatnya malu untuk bertingkah manja saat Bersama keluarganya.
"Yaudah kasih orang aja, lumayan kan tuh bisa sedekah dapet pahala deh lu!" Aqeela memberikan ide cemerlangnya, mengingat sepatu Alex adalah yang paling mendominasi di rak sepatu keluarga mereka. Selain itu sepatunya hampir sama semua lagi.
"Jangan! Itu kan sepatu kesayangan gua, enak aja!"
Dan terjadilah perang mulut di meja makan minggu pagi itu, ayahnya yang setuju dengan pendapat Aqeela otomatis berada di kubu anak sulungnya. Sedangkan Alex tidak mempunyai partner untuk membalas serangan ayah dan kakaknya, karena sang ibu juga enggan berada di pihak Alex.
“Yaudah pake aja sepatu kesayangan lu dulu, kalo rusak baru beli lagi, ya kan yah?” ujar Aqeela mulai kompor.
“Bener kata kakakmu, pake dulu yang ada kalo nggak ayah bakal kasih semua sepatumu yang Menuhin rak itu buat anak-anak tetangga.”
Alex merengut kesal saat ayah dan kakaknya menyerangnya secara bersamaan. Sebagai anak bungsu, dia selalu menjadi objek bully yang sempurna saat ayah dan kakaknya bersama. Seperti saat ini misalkan.
Tak menyerah, Alex melakukan banyak cara untuk membujuk Aqeela menemaninya dan meminta ayah untuk mengizinkannya. Dan dengan jurus sok imut yang rasanya ingin Aqeela hantam wajahnya dengan pirinnh, akhirnya dia berhasil.
Sarapan selesai, dan Aqeela menyanggupi untuk menemani sang adik membeli sepatu futsal. Karena Aqeela terlalu tidak tega jika harus menolak kemauan adiknya yang tampan itu, selain itu dia juga jengah menatap wajahnya yang dibuat sok imut itu.
Aqeela membereskan meja makan, membersihkan sisa-sisa keributan pagi hari di meja makan.
"Aqeela, tadi bu Opi ngomong sesuatu ke ibu." Ibunya menghampiri Aqeela yang sedang mencuci piring dan langsung to the point, membuat Aqeela berhenti sejenak dari pekerjaannya.
"Iya Aqeela sudah paham, pasti mak lampir itu udah ngadu ke ibu perihal semalam dia yang udah fitnah Qeela," jawab Aqeela kembali melanjutkan pekerjaannya.
Ibunya menghela nafas panjang, kemudian dia mengusap bahu Aqeela lembut. "Apapun itu kamu gak seharusnya bilang kalau Rere itu perawan tua, nak." Nasehat ibunya.
"Hah? Qeela gak ada bilang gitu buk, sumpah demi apapun. Tuh kan, mulutnya bu Opi emang beneran harus di sumpel sekali-kali," ucap Aqeela meradang.
Sudah Aqeela kira, bu Opi pasti mengadu yang tidak-tidak pada ibunya, seperti yang sudah-sudah. Dan sekarang kembali terjadi, tetangganya yang satu itu pintar sekali menyilatkan lidah, membalikkan fakta begitu saja. Lagi-lagi dia di fitnah di depan ibunya sendiri, entah apa tujuan hidupnya sehingga sangat suka mengganggu ketenangan Aqeela.
Ibunya tersenyum, "ibu percaya kok sama anak ibu, ibu yakin kamu gak seperti itu orangnya. Tapi apa yang dikatakan bu Opi itu ada benarnya, kamu seharusnya lebih cepat membawakan ibu sama ayah mantu, ayah kan sebentar lagi pensiun, kami tidak akan tenang menikmati masa tua jika kamu belum menemukan pasangan kamu sayang."
Aqeela mengelap tangannya yang basah, kali ini dia menatap ibunya. "Ibu gak perlu khawatir, Aqeela pasti membawakannya satu untuk ibu, tapi tidak sekarang karena Aqeela belum menemukan sosok yang Aqeela cari bu, lagi pula Aqeela belum tua-tua banget, ibu sama ayah gak usah khawatir."
"Kamu mau cari yang seperti apa Aqeela? Sudah banyak lelaki yang datang tapi selalu kamu tolak, ibu hanya takut kalo akhirnya kamu harus di ruqyah," sarat akan kekhawatiran terlihat jelas di wajah ibunya, tapi bukannya merasa terharu Aqeela justru merasa lucu dan menahan tawanya mendengar kalimat terakhir ibunya.
"Ngapain harus di ruqyah sih, bu. Aqeela gak kesurupan setan…" Aqeela tertawa.
"… Aqeela cuma mau cari orang yang menjadi cerminan diri Aqeela, karena Aqeela pernah dengan kalo jodoh itu adalah cerminan diri kita," lanjutnya.
"Apapun itu, kamu harus membawakan rumah ini calon menantu, ibu dan ayah sangat menunggunya. Dan satu lagi Aqeela, kamu tidak bisa terus berpatokan pada frasa itu, sejatinya jodoh itu adalah saling melengkapi, kalo kamu mencari orang yang seperti kamu mau sampai kapan?"
Aqeela terdiam. Hal yang seperti ini sudah sering ibunya bahas, tentang kapan Aqeela akan menikah, sosok seperti apa yang Aqeela inginkan dan seseorang seperti apa yang seharusnya Aqeela pahami sebagai calon suami idaman.
"Udah ya buk, Aqeela mau siap-siap dulu, Alex pasti akan marah kalo Qeela telat turun," Aqeela berusaha mengakhiri pembicaraan yang mulai tidak enak ini.
Untungnya kali ini ibunya mengiyakan, tidak seperti yang biasanya dimana ibunya akan menuduhnya menghindar. Meski memang benar adanya, karena Aqeela benar-benar merasa tidak nyaman jika pembicaraan dengan ibunya sudah memasuki ranah jodoh menjodohi.
Aqeela akhirnya pergi ke kamarnya, benar-benar mengakhiri pembicaraan dengan ibunya pagi itu.