"Jadi ini acara graduate?" Tanya Aqeela kurang mengerti.
Saat ini Aqeela beserta Tiara dan Viano di giring oleh Yuni menuju Aula yang nantinya akan dijadikan tempat acara, aulanya lumayan luas. Bahkan Aqeela yang baru pertama menelusuri pondok pesantren dibuat kagum, tidak menyangka bahwa sekolah pesantren memiliki fasilitas yang bisa dibilang lengkap seperti ini.
Sepanjang perjalanan menuju Aula ini, Aqeela disuguhi jejeran kelas yang dipenuhi oleh siswi dengan penampilan full hijab. Tiba-tiba saja ia merasa insecure, melihat penampilan mereka yang lebih muda darinya sudah bisa menutup aurat dengan sempurna. Sedangkan dirinya, setengah dari mereka saja sepertinya tidak.
"Sebenarnya ini acara tahunan disini mbak, tapi wisuda yang kita adakan bukan hanya wisuda kelulusan saja, tetapi juga wisuda tahfidz, jadi insyaallah mbak sama mas nya gak bakal kecewa jasanya dipake buat acara wisuda." jelas Yuni panjang lebar.
"Nggak dong, kan emang kerjaan kita masa ada job masuk gak kita layani. Selama halal mah gas aja kita," ujar Viano.
Baik Aqeela maupun Tiara mereka hanya mengangguk.
Aqeela menatap sekitarnya, merasa heran saat menyadari bahwa sedari tadi sepanjang jalan dia hanya mendapati siswi tidak dengan siswa.
"Eh mbak, ini emang pesantrennya khusus cewek ya? Soalnya saya gak liat santri cowok deh kayaknya," tanya Aqeela penasaran.
"Oh nggak, pesantren ini putra maupun putri sama-sama di terima, tapi memang yang sejak tadi mbak lewati adalah sekolah untuk santri putri saja, jadi disini putra dan putri di pisah kelasnya mbak, yang putra ada di sebelah selatan sana."
Aqeela mengangguk paham, "eh bukannya kalo wilayah putri cowok-cowok gak boleh masuk ya? Lah kenapa ini curut satu dibiarin ngintilin kita," ucap Aqeela menunjuk Viano yang sejak tadi setia mengikuti mereka.
Yuni tersenyum, "Gak masalah kok, disini masih wilayah sekolah jadi pria yang mempunyai kepentingan tidak dilarang masuk, tenaga pengajar untuk putri juga tidak semua dari kalangan ustadzah, ada juga ustad yang tentu saja bebas masuk kesini, asalkan tidak melewati batas sampai asrama putri."
"Nah kan, kalo misalkan emang gak boleh gua pastinya udah di usir dari tadi sama mbaknya, lagian napa? Lu ngerasa udara disini berkurang kalo ada gua?" Sewot Viano.
Aqeela hanya mengedikkan bahu.
Mereka melanjutkan diskusi sambil terus berjalan ke ruangan yang dikhususkan untuk tamu. Sesekali Aqeela bertanya jika di rasa ada yang kurang di pahami.
***
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam saat Aqeela tiba di rumahnya dengan diantar oleh Viano. Pashmina yang sejak pagi tadi bertengger manis di kepalanya, sudah dia lepas dan memasukkannya ke dalam tas.
Gerah. Satu kata yang sangat mewakili keadaan Aqeela saat ini, dia ingin segera naik ke kamarnya dan mandi. Keadaannya sudah berantakan, rambut yang dia cepol rapi sejak pagi pasti sekarang sudah tidak membuatnya terlihat cantik lagi.
"Eh Aqeela baru pulang, lain lagi sekarang yang nganter? Bukannya itu cowok yang minggu lalu ya…"
Baru saja hendak membuka gerbang rumahnya, sapaan dari tetangganya membuat pergerakannya terhenti.
"Eh bu Opi, gak tidur buk? Atau sengaja mau nungguin saya?" Tanya Aqeela basa-basi.
Meski sudah terlalu lelah, tidak mungkin dia mengabaikan sapaan tetangganya, yang pastinya memang seperti biasa endingnya akan berakhir menyebalkan.
Sebentar lagi Aqeela pastikan pertanyaan kapan nikah akan terlontar dari mulut tetangga kesayangan nya itu. Bagaimana tidak, segala tingkah laku Aqeela pasti tidak lepas dari sorot matanya, Aqeela jadi merasa sangat di perhatikan olehnya.
"Ah nggak, saya mah kebetulan aja tadi mau buang sampah eh liat Aqeela baru pulang di antar cowok malem-malem." jawab bu Opi menyangkal tuduhan Aqeela.
Padahal tadi Aqeela jelas melihatnya baru membuka pintu saat mendengar suara mobil berhenti di depan. Lagi pula orang kurang kerjaan mana yang mau buang sampah jam sembilan malam, bu Opi juga tidak terlihat sedang membawa plastik sampah.
"Oh gitu ya buk, yaudah di lanjut aja buang sampahnya, saya mau masuk dulu." enggan memperpanjang, Aqeela berusaha menyudahi pembicaraan tidak berguna ini. Dia sudah terlalu Lelah, demi apapun.
Saat hendak mendorong pintu gerbang rumahnya, lagi-lagi pergerakannya terhenti karena ucapan bu Opi.
"Iya silahkan, istirahat ya Aqeela pasti capek kerja tiap hari, keseringan pulang malem dianter cowok beda-beda lagi, yakin kerjanya cuma jadi fotografer doang..."
"Tadi pagi juga kayaknya perginya pake hijab deh, sekarang udah kebuka aja, kok makin mencurigakan sih?" Lanjut bu Opi.
Aqeela masih diam.
Merasa tidak mendapat respon dari Aqeela, bu Opi semakin menjadi.
"Anak saya bulan depan mau nikah loh, kamu kapan? Cewek jangan ngejar karir, jangan terlalu pemilih juga entar jadi perawan tua lagi. Sudah mau dua lima kan, lagian emang yakin karirnya bisa dikejar, emang kerja apaan masa iya fotografer doang pulangnya sampe malem, anak saya aja jam delapan udah harus di rumah loh makanya cepet dapet jodohnya, soalnya orang-orang pada tau kalo anak saya itu cewek baik-baik..."
"...saya juga sering wanti-wanti biar Rere gak terlalu ngejar karir takutnya orang-orang pada minder yang mau lamar dia jadi istri, bukan apa-apa nih tapi mau setinggi apa karir dan Pendidikan cewek mah tetep aja entar endingnya di dapur."
Aqeela menarik nafas panjang. Berbalik, menatap tetangganya yang hanya memakai daster itu dengan senyuman manis.
"Oh anak ibu mau nikah ya, selamat ya bu semoga lancar sampe hari H"
Bu Opi tersenyum sombong, jelas sekali sedang berusaha membandingkan Aqeela dan Rere anaknya.
"Kerjaan saya emang cuma fotografer doang kok bu, bu Opi gak usah khawatir gitu lah, saya pulang malem juga bukan keluyuran tapi karena cari cuan biar cepet kaya, masih muda buk sayang dong kalo karirnya yang udah pasti cemerlang di biarin terbang gitu aja…"
"…Gak maksud buat lelaki di luar sana minder kok bu, tapi kan konsepnya gini kalo kualitas saya bagus pastinya orang yang datang juga akan berkualitas bagus dong, lagian jodoh mah gak bakal kemana kali buk, buktinya anak ibu mbak Rere yang umurnya udah dua tujuh aja akhirnya dapet jodoh kan, udah ya buk saya masuk dulu udah malem soalnya mau istirahat capek soalnya."
Tanpa mendengarkan apapun lagi, Aqeela mendorong pintu dan masuk. Meninggalkan bu Opi yang wajahnya sudah memerah menahan malu dan marah karena gagal memberikan serangan balasan. Melihat kiri kanan, memastikan tidak ada yang mendengar pembicaraan memalukan tadi.
Aqeela mengatur nafasnya yang memburu, merasa lega karena bisa mengeluarkan isi hatinya. Tiap hari kerjaan tetangganya itu kalo gak gosip ya nyinyir, memang sekali-kali harus di kasih pelajaran, sudah cukup dia selama ini diam karena ibunya. Tapi malam ini kesempatan bagus untuknya karena tidak ada ibunya di sampingnya yang selalu mengontrol omongan Aqeela.