Setelah mengatakan maksud dan tujuannya datang, Aqeela mendapati orang yang menjaga pos tadi menelepon seseorang. Memberitahu seseorang di seberang sana untuk menjemput Aqeela di gerbang utama.
Telepon dimatikan. Orang tersebut yang tidak Aqeela tahu siapa namanya, kembali fokus dengan pekerjaannya. Mengabaikan Aqeela, tidak mempersilahkan Aqeela duduk atau sekedar basa-basi menyuruhnya menunggu sebentar.
"Ehm, pak ustad..." Aqeela bingung hendak memanggil orang di depannya ini siapa, ingin memberitahu bahwa ada dua temannya di mobil depan gerbang yang sedang menunggu kepastian darinya.
"Fahri"
"Ah iya, pak ustad Fahri-"
"Panggilnya Fahri aja, saya bukan ustad hanya pengurus yang kebetulan dapat jadwal menjaga." kalimat yang diucapkannya panjang, namun nadanya masih datar.
“Sebentar lagi Yuni akan datang menjemput, silahkan menunggu dimanapun anda mau.”
Wow, bukan itu yang ingin Aqeela utarakan. Tapi tak apa, setidaknya dia tahu bahwa orang Bernama Yuni itu akan segera datang untuk menjemputnya dan teman-temannya. Dalam hatinya, dia berharap Yuni itu tidaklah sedingin Fahri di depannya ini.
Aqeela tersenyum. Belum pernah ada yang berbicara sedatar itu padanya, kecuali dosen pembimbing nya dulu waktu masih kuliah, 3 tahun yang lalu.
"Oke, jadi gini, Fahri. Saya gak sendirian, ada dua teman saya sedang menunggu di depan, jadi boleh gak kalau mobil kami masuk ke dalam soalnya kan gak mungkin kami parkir di jalan sedang kami gak tau selama apa nanti kami meninggalkan mobil kami diluar" Aqeela berbicara panjang lebar.
Orang yang bernama Fahri itu mengangguk. "Tenang aja, desa ini aman gak bakal ada maling, apalagi malingnya mobil, tapi karena anda tamu saya akan membukakan gerbangnya" lagi-lagi nada bicaranya datar, meski merasa tak nyaman Aqeela berusaha untuk mengabaikan hal itu.
Sambil tersenyum, Aqeela menggumamkan kata oke dan terimakasih, yang entah di dengarkan atau tidak.
Fahri berjalan ke arah gerbang, diikuti oleh Aqeela yang melanjutkan keluar, menuju mobil dimana Viano dan Tiara sedang menunggunya.
Setelah memberikan tanda untuk menjalankan mobilnya masuk ke dalam, Aqeela kembali berjalan menuju tempat Fahri yang sedang membuka gerbang.
"Lama banget sih lu njir…" Seperti biasa, Tiara yang tidak bisa diam mulai mengeluarkan protesnya setelah menutup pintu mobil.
"Yaelah tiban di mobil doang lu banyak bacot, gua disini kepanasan heh!" Tak terima di protes begitu saja, Aqeela membalas Tiara.
Sengaja tidak berbicara pelan, agar orang yang bernama Fahri itu mendengar. Berharap peka dan menyuruh mereka duduk atau menunggu di tempat yang teduh dari sinar matahari.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan lewat, jadi sinar matahari sudah mulai membuat kulit terasa terbakar jika lama-lama berada di bawahnya.
Seolah tak peduli, Fahri justru kembali pada tempatnya semula, mengabaikan ketiga tamunya tetap berdiri di sisi mobil yang di parkir tak jauh dari pos penjagaan. Dan tentu saja panas-panasan. Fyi, disana tidak ada tempat parkir mobil dengan atap sebagai pelindung. Pohon pun hanya sekedar tanaman hias yang tingginya tidak lebih dari satu sampai satu setengah meter, jadi tidak bisa dijadikan tempat bernaung.
Satu-satunya tempat yang terlindung dari panasnya sinar matahari adalah di samping pos penjagaan itu, akan tetapi masih sedikit tahu soal sopan santun orang bertamu, dilarang duduk sebelum dipersilahkan. Tentu saja setelah tadi sedikit membaca referensi di google, karena merasa takut jika mereka berakhir di usir karena malu-maluin tidak tahu sopan santun.
"Dia emang gak ada niatan manggil kita buat duduk gitu? Padahal disana banyak kursi loh," tanya Viano setelah sekian lama berdiri, merasa lelah dan kepanasan.
"Kayaknya sih, soalnya gua juga dari tadi diri aja gak ada basa-basi nyuruh duduk, mana panas lagi" Aqeela sudah berulang kali membuka ikatan pashmina di belakang lehernya, merasa kepanasan dan tidak betah.
“Eh ada deng, tapi gak nyuruh duduk nyuruh nunggu aja, katanya bentar lagi Yuni bakal jemput.” Ralatnya setelah beberapa detik mengingat ucapan Fahri.
"Alaaah terobos aja lah!" Baru saja hendak melangkah, Viano sudah menarik tas Tiara dari belakang.
"Diem napa bocah, jangan malu-maluin!" Decak Viano.
Viano akhirnya memilih untuk membuka bagasi mobilnya untuk tempat mereka duduk, meski panas matahari masih sangat terasa, setidaknya kaki mereka tidak pegal terlalu lama.
"Berasa mau camping tapi ban bocor tengah perjalanan gua." ucap Tiara masih belum selesai dengan protesannya.
Dan diabaikan oleh dua manusia lainnya.
Setelah lima belas menit sejak mereka duduk, muncul seorang perempuan yang berlari tergopoh-gopoh menuju mereka dari arah timur. Tubuhnya yang Nampak kurus mengenakan gamis yang nampak sedikit kebesaran, membuatnya terlihat seperti hendak terbang dibawa angin.
Tiara yang melihat itu nyaris saja menyemburkan suara tawanya, namun dia tahan karena merasa tidak sopan. Terlebih Langkah kakinya yang cepat membuat orang itu segera tiba di hadapan mereka bertiga.
"Mbak Tiara ya? Aduuh maaf ya tadi saya masih selesain tugas saya ngajar dulu, nanggung soalnya." Yuni menundukkan kepalanya meminta maaf. Menyesali keterlambatannya, meski memang tadi dia berniat untuk menghabiskan waktu mengajarnya yang tinggal beberapa menit saja.
Dia benar-benartidak menyangka bahwa tiga orang itu akan menunggu di bawah sinar matahari langsung, alih-alih duduk di tempat yang sudah disediakan oleh pihak pesantren.
"Oke gapapa, kita tipe orang yang setia menunggu kok" jawab Tiara.
Pencitraan sekali, jelas-jelas dari tadi dia yang kayak cacing kepanasan, dikit-dikit protes. Kepanasan lah, tidak profesional lah dan lain sebagainya.
"Maaf ya sekali lagi, tapi kenapa gak nunggu disana saja? Kan ada tempat yang udah disediakan buat menunggu"
"Owh itu emang tempat buat tamu nunggu ya? Kayaknya penjaga yang disana baru ya mbak, soalnya dari tadi kami tidak dipersilahkan duduk." kali ini Aqeela yang menjawab, dengan sedikit protes karena pelayanan kang penjaga.
Viamo yang berdiri di sisi Aqeela diam-diam mencubit lengannya, menegurnya karena ucapannya yang sedikit tidak sopan. Meski memang yang dikatakan adalah fakta.
Gadis itu menggaruk kepalanya, "aduh saya jadi makin gak enak nih, Fahri emang gitu orangnya mbak, maaf ya pasti kalian merasa tidak dihargai ya…"
"Enggak kok, kita baik-baik aja mereka berdua memang suka melebih-lebihkan keadaan, jadi mbak kayaknya matahari sudah mulai memanas nih jadi bisa langsung saja kali ya ke maksud dan tujuan kami datang kesini yang pastinya mbak sudah tahu dong…" Viano menyela dan menutup mulut Aqeela yang hendak menjawab lagi.
Jika dibiarkan mereka akan semakin lama berada di bawah matahari.
"Owh iya mas, tapi kita baiknya bahas di dalam saja ya, mari…"
“Nah ini baru bener, biar gak makin gosong kita.” Kekeh Tiara, Viano menepuk jidatnya dengan kelakuan kedua temannya itu.
Mereka mengikuti gadis itu yang diketahui namanya Yuni, setelah beberapa hari yang lalu sempat memperkenalkan diri via dm i********:.