Tidak Rela

893 Words
Malam ini, Abraham tidak bisa tidur. Wajah Rafi terus terbayang di kepalanya, lesung pipi, mata yang mirip dengan matanya sendiri, bahkan cara anak itu tertawa seperti membangkitkan kenangan masa kecilnya sendiri. Ia berdiri di balkon apartemen, menatap langit malam yang gelap. Kalau Rafi benar-benar anakku, aku tidak akan diam. Ia berjanji akan menebus kesalahan lima tahun lalu dan akan memberikan Asyla dan Rafi, keluarga yang bahagia. Abraham mengambil ponselnya dan menekan nomor asistennya. “Besok, aku ingin kamu cari semua data tentang Rafi Maheswara. Rumah sakit tempat ia lahir, nama dokter yang menangani, bahkan akta lahirnya. Aku ingin semuanya.” “Asalkan legal, Pak?” suara asistennya terdengar ragu. “Lakukan apa pun yang perlu. Aku butuh kebenaran.” Abraham menutup telepon, matanya menatap lurus ke kegelapan malam sama seperti kehidupannya selama lima tahun tanpa Asyla, dan terus merasa bersalah. Sementara itu, di rumah kecil Asyla, suasana hening. Rafi sudah terlelap di kamarnya, memeluk boneka kesayangannya. Asyla duduk di ruang tamu bersama Rizky, yang wajahnya tampak serius. “Kamu yakin bisa mengendalikan Abraham?” tanya Rizky dengan nada hati-hati. Asyla mengusap wajahnya. “Aku tidak tahu, Rizky. Dia sudah mulai curiga. Aku takut dia akan cari tahu lebih jauh.” “Dia tidak boleh tahu,” Rizky menatapnya tajam. “Kalau dia tahu, semuanya akan kacau. Kamu tahu itu, kan?” Asyla terdiam, hatinya berdesir. Ia tahu Rizky bukan hanya sekadar pria baik yang menolongnya. Ia pernah menyelamatkan Asyla di masa sulit, tapi di balik kelembutannya, ada sisi yang keras dan… mengintimidasi. “Aku hanya ingin Rafi tenang. Aku tidak mau dia bingung dengan siapa ayahnya,” bisik Asyla pelan. Rizky meraih tangannya, menggenggamnya kuat. “Rafi sudah menganggapku ayahnya. Jangan biarkan masa lalu merusak apa yang kita bangun. Aku sudah ada di sini sejak awal, Syla. Jangan sampai Abraham menghancurkan segalanya.” Asyla menunduk. Ia tahu Rizky mencintainya dan Rafi. Tapi di dalam hatinya, ada rasa bersalah yang ia pendam dalam-dalam. Sampai detik ini ia belum mencintai Rizky, bahkan sebagai istri ia merasa berdosa telah membohonginya. Keesokan harinya, Abraham datang ke rumah sakit tempat Rafi lahir. Ia sengaja menyamar, hanya berpura-pura mencari informasi umum. Namun ketika ia menyebut nama “Rafi Maheswara” pada resepsionis, perasaan aneh menyergapnya. “Ah, ya. Data kelahiran Rafi Maheswara… sebentar, Pak.” Resepsionis mengetik sesuatu di komputernya. “Ia lahir pada… 4 Februari, empat tahun lalu. Dokter yang menangani… dr. Fadillah.” Abraham mencatat semua detail itu dalam pikirannya. Ia berterima kasih lalu pergi. Saat keluar dari rumah sakit, ia menatap langit. Tanggal lahirnya persis sesuai hitungan. Tidak ada lagi keraguan. Namun ia tahu, butuh bukti. Dan satu-satunya cara untuk mendapatkan bukti… adalah melalui tes DNA. Beberapa hari kemudian, Abraham kembali bertemu Asyla secara tak sengaja, kali ini di sebuah supermarket. Rafi berjalan sambil menggandeng tangan Asyla, riang bercerita tentang mainan yang ia inginkan. “Ma… lihat, Om itu lagi!” seru Rafi begitu melihat Abraham. Asyla menoleh, matanya langsung membeku. “Bram…” Abraham tersenyum tipis, berjongkok agar sejajar dengan Rafi. “Hai, Rafi. Bagaimana kabarmu?” Rafi tersenyum lebar. “Baik! Om, lihat, aku dapat stiker baru!” Abraham menatap anak itu lama, merasakan d**a sesak. Ia mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya, sebuah cokelat. “Untukmu.” “Wow! Terima kasih, Om!” Asyla menahan napas. Ia bisa merasakan sesuatu yang berbeda di mata Abraham, tatapan yang penuh makna, seolah ia tahu lebih dari yang ia katakan. “Aku boleh bicara sebentar, Syla?” suara Abraham pelan, namun tegas. Asyla menggeleng cepat. “Tidak sekarang. Kami harus pulang.” Namun sebelum Asyla sempat pergi, sebuah suara muncul dari belakang. “Tuan, Abraham.” Rizky berdiri di sana, menatap Abraham dengan tatapan yang tidak kalah tajam. “Aku rasa aku sudah bilang padamu untuk tidak mengganggu keluarga kami.” Abraham bangkit berdiri, menghadapi Rizky. “Aku tidak mengganggu. Aku hanya ingin bicara dengan Asyla. Ada hal yang harus dijelaskan.” “Tidak ada yang perlu dijelaskan,” potong Rizky dengan nada dingin. “Anda hanya bagian dari masa lalu, Asyla. Jangan paksa dirimu untuk masuk ke masa depan kami.” Abraham mengepalkan tangannya, menahan emosi. “Rafi bukan hanya masa depanmu, Rizky. Kau tahu itu.” Mata Rizky sedikit bergetar, tapi ia tetap tenang. “Hentikan, Tuan. Jangan buat ini lebih rumit.” Suasana memanas. Orang-orang mulai melirik ke arah mereka. “Asyla,” Abraham menatap wanita itu dengan mata yang memohon. “Aku hanya ingin tahu kebenarannya. Tolong, katakan padaku. Apakah Rafi… anakku?” Asyla terdiam, napasnya tersengal. Ia ingin berteriak, ingin jujur, tapi lidahnya kelu. Rizky merangkul bahunya erat. “Sudah cukup.” “Aku tidak akan berhenti sampai aku tahu!” Abraham bersuara lantang, matanya menatap tajam ke arah Rizky. “Kalau kamu benar-benar yakin dia bukan anakku, kamu tidak akan takut tes DNA, kan?” Kalimat itu menggantung di udara, membuat Asyla terkejut dan Rizky membeku sejenak. Untuk pertama kalinya, wajah Rizky berubah. Ada ketegangan yang sulit disembunyikan. “Asyla, jawab aku,” desak Abraham sekali lagi, suaranya bergetar. Namun Rizky menarik Asyla menjauh. “Ayo pulang.” Abraham hanya bisa berdiri, menatap mereka yang pergi. Tapi kini ia yakin ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Dan ia bersumpah, akan mengungkapkannya, apapun caranya. “Asyla, mungkin kali ini kamu bisa menghindar namun tidak untuk selanjutnya.” “Perlu kamu tahu Asyla, pria yang bersamamu tidak akan lama lagi juga akan meninggalkanmu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD