Curiga

881 Words
Malam itu, Abraham duduk di ruang kerjanya yang sepi. Di hadapannya, layar laptop menampilkan berkas-berkas hasil investigasi singkat tentang Rizky dan… Rafi. Pria itu ternyata seorang pengusaha muda yang sukses di bidang properti. Namanya bersih, latar belakangnya baik, tidak ada yang mencurigakan. Abraham menghela napas berat. Namun, laporan tentang Rafi yang dikirimkan oleh asistennya membuat darahnya berdesir. “Rafi Maheswara. Usia 4 tahun. Lahir di Jakarta, tanggal…” Abraham membacanya berulang kali. Tanggal lahir itu… jatuh tepat delapan bulan setelah ia meninggalkan Asyla. Tangannya gemetar. Ia menutup mata, mengingat malam terakhir sebelum ia meninggalkan Asyla untuk memenuhi perintah keluarganya. Malam di mana mereka berdua saling menguatkan, dan… “Tidak mungkin…” gumamnya pelan, menolak untuk langsung percaya pada pikirannya sendiri. Namun ada satu hal lain yang membuatnya semakin gelisah. Di berkas itu juga terlampir foto kecil Rafi, wajah polos yang sangat mirip dengannya saat kecil. Bahkan lesung pipi di sisi kiri… sama persis. Abraham bangkit berdiri, tidak mampu lagi duduk diam. Ia meraih mantel, bertekad untuk mencari jawaban langsung. Mungkin dengan bicara lebih santai dengan Asyla, maka ia akan tahu tentang kebenarannya. Keesokan paginya, taman kota kembali ramai. Abraham sengaja datang lebih awal. Ia tahu Asyla sering mengajak Rafi bermain di sini pada akhir pekan. Dan benar saja, dari kejauhan ia melihat sosok kecil itu sedang bermain ayunan, ditemani Asyla. Jantung Abraham berdegup cepat. Ia berjalan perlahan mendekat, menahan diri agar tidak terlihat seperti penguntit. “Ma, dorong lebih tinggi!” seru Rafi, tertawa riang. Asyla tersenyum lembut, mendorong ayunan pelan. “Pelan-pelan, sayang. Jangan terlalu tinggi.” Suara tawa itu… begitu familiar. Saat Rafi turun dan berlari menuju perosotan, Abraham melihat jelas profil wajah anak itu. Mata bulat dengan tatapan tajam namun hangat. Hidung mancung kecil. Lesung pipi. Segalanya seperti potongan dirinya di masa kecil. Abraham merasa napasnya tertahan. Tidak mungkin ini hanya kebetulan. “Asyla.” Suara Abraham membuat Asyla menoleh. Seketika rautnya berubah. “Bram? Kenapa kamu ada di sini?” “Aku… hanya kebetulan lewat,” jawab Abraham pelan, meski jelas ia datang dengan tujuan. Matanya tak lepas dari Rafi. Anak itu menatap Abraham dengan rasa ingin tahu. “Om yang waktu itu datang lagi?” tanyanya polos. Asyla menunduk, mencoba menahan kegelisahan. “Rafi, main sana dulu, sayang. Mama mau bicara sebentar sama om Bram.” Rafi mengangguk dan kembali bermain, meninggalkan mereka berdua. Abraham menatap Asyla dengan intens. “Syla, aku ingin tahu. Rafi… dia lahir delapan bulan setelah kita berpisah, kan?” Asyla membeku. “Itu… tidak penting, Bram. Tolong jangan mulai lagi.” “Jawab aku.” Suara Abraham terdengar lebih dalam, mengandung campuran rasa takut dan harap. “Dia… anakku, ya?” Asyla menggeleng pelan, tapi matanya bergetar. “Bram, kamu sudah punya kehidupanmu sendiri. Jangan seret aku dan Rafi ke dalam masa lalu yang sudah selesai.” Abraham maju selangkah, menahan emosinya. “Syla, aku tidak peduli seberapa salahku di masa lalu. Tapi aku punya hak untuk tahu. Jika dia anakku… aku ingin ada di hidupnya.” “Dan setelah itu apa?” Asyla membalas dengan suara bergetar. “Kamu akan merebut dia dariku? Kau akan merusak kebahagiaan yang sudah kubangun?” “Tidak!” Abraham menggeleng keras. “Aku tidak akan merebut apa pun. Aku hanya… aku hanya ingin menebus semuanya. Aku tidak ingin Rafi tumbuh tanpa tahu siapa ayah kandungnya.” Sebelum Asyla sempat menjawab, suara langkah mendekat. “Sayang?” Rizky muncul, membawa dua cup minuman dingin. Senyumnya hangat, tapi saat melihat Abraham, ekspresinya langsung berubah dingin. “Aku tidak tahu kita punya tamu di sini.” Rizky berdiri di samping Asyla, merangkul bahunya dengan protektif. “Ada urusan apa lagi anda datang menemui istriku?” Abraham menatap Rizky lurus-lurus. “Aku hanya ingin bicara dengan Asyla.” “Bicara tentang apa? Masa lalu?” Rizky tersenyum tipis. “Karena masa lalu tidak ada gunanya lagi, Tuan. Sekarang akulah yang bersama mereka.” Ketegangan menguar di udara. Asyla berdiri di tengah-tengah mereka, hatinya berdegup kencang. “Rizky, tolong… jangan di sini,” bisik Asyla, mencoba meredakan situasi. Namun Abraham tidak mengalihkan pandangannya. “Aku tidak akan pergi sebelum aku tahu kebenaran tentang Rafi.” Rizky mengeraskan rahangnya, lalu menatap Asyla. “Jadi… dia sudah mulai curiga?” Asyla terdiam. Abraham menangkap reaksi itu, dan hatinya mencelos. Dia tidak menjawab, tapi diamnya adalah pengakuan. Namun Rizky melangkah maju, berdiri di hadapan Abraham dengan tatapan tajam. “Kalau tuan masih punya sedikit rasa hormat, tuan lebih baik mundur. Jangan ganggu keluarga kami lagi.” Abraham mengepalkan tangan. “Kalau Rafi benar anakku, aku tidak akan diam.” “Cukup!” Asyla akhirnya bersuara keras. “Bram, aku mohon… hentikan ini. Jangan buat segalanya lebih sulit.” Mereka saling menatap dalam diam yang penuh ketegangan. Rafi berlari mendekat sambil tertawa, tidak menyadari badai yang terjadi di antara orang dewasa itu. “Ma, lihat! Aku dapat teman baru!” Asyla berjongkok, memeluk Rafi erat, seolah ingin melindunginya dari semua ini. “Ayo, kita pulang.” Rizky merangkul bahu Asyla dan menggandeng Rafi, meninggalkan Abraham yang berdiri membeku. Abraham menatap punggung kecil Rafi yang semakin menjauh, hatinya bergejolak. Ia belum punya bukti… tapi hatinya sudah tahu. “Aku akan cari kebenarannya. Sampai kapan pun.” Abraham hanya bisa menghela napas panjang, entah sampai kapan bisa meluluhkan hati Asyla ditambah sudah menikah dengan Rizky.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD