Beberapa minggu berlalu sejak pertemuan di taman. Namun bayangan Asyla, dan anak kecil bernama Rafi terus menghantui pikiran Abraham.
Anak itu… setiap senyumnya, caranya berbicara, bahkan matanya… begitu mirip dirinya saat kecil.
Sore itu, Abraham memberanikan diri mengirim pesan.
“Syla, bisakah kita bertemu di kafe yang dulu sering kita datangi? Ada hal penting yang ingin kubicarakan.”
Pesan terkirim, dan beberapa detik terasa seperti selamanya. Lalu balasan datang.
“Baik, Bram. Aku akan datang jam 4 sore.”
Jantung Abraham berdegup kencang. Ini kesempatannya untuk bicara… atau setidaknya memastikan apa yang ia rasakan tentang Rafi bukan sekadar firasat.
Asyla tiba tepat waktu. Gaun biru mudanya membuatnya terlihat sederhana namun elegan. Aroma kopi dan roti panggang memenuhi kafe, membangkitkan kenangan lama.
“Terima kasih sudah datang,” ucap Abraham begitu Asyla duduk di depannya.
“Asal tidak lama, dan langsung saja apa yang akanmu bicarakan padaku,” jawab Asyla pelan, menahan dirinya tetap tenang.
Abraham mengusap tengkuknya. “Syla, sejak kita bertemu lagi… aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Semua kenangan itu kembali. Dan… anakmu... Rafi...”
Asyla menegakkan punggungnya, waspada. “Ada apa dengan Rafi?”
Abraham menatapnya lekat-lekat. “Dia… mengingatkanku pada diriku sendiri. Cara dia tersenyum, caranya bicara… Syla, siapa sebenarnya ayahnya?”
Jantung Asyla mencelos. Ia berusaha menguasai ekspresinya. “Itu tidak penting, Bram. Dia hanya anakku.”
Abraham meraih tangannya, matanya penuh harap. “Syla, tolong jangan berbohong padaku. Jika Rafi adalah__.”
“Bram.” Suara Asyla tegas, memotongnya. “Aku tidak ingin membahas ini. Kamu sudah memilih jalanmu lima tahun lalu. Jangan datang sekarang untuk menggali masa lalu.”
Abraham terdiam, rahangnya mengeras. “Aku hanya ingin tahu kebenarannya. Kalau Rafi benar—”
“Cukup!” Asyla berdiri, matanya bergetar menahan emosi. “Aku tidak butuh penjelasan apa pun. Hidupku sudah baik-baik saja.”
Sebelum Abraham sempat menahan, suara seorang pria terdengar dari belakang mereka.
“Syla? Kamu di sini?”
Abraham menoleh. Seorang pria tinggi dengan setelan rapi berdiri di ambang pintu kafe. Tatapannya hangat, namun tajam saat bergeser pada Abraham.
“Bram, kenalkan…” Asyla menarik napas dalam. “Ini... Rizky.”
Rizky mendekat dan merangkul bahu Asyla dengan santai. “Kita harus menjemput Rafi di taman bermain setelah ini, ingat?”
Abraham membeku. Jadi ini pria yang bersama Asyla sekarang? Pria yang dekat dengan Rafi?
Rizky menatap Abraham datar, lalu mengulurkan tangan. “Kamu?”
“Abraham.” Suara Abraham terdengar rendah, nyaris menahan amarah.
“Oh,” Rizky tersenyum tipis. “Jadi ini… mantan suamimu?”
Asyla merasakan ketegangan di antara keduanya. “Rizky, sudahlah…”
Abraham menatap tajam ke arah Rizky. “Kamu yang sekarang… menggantikan posisiku?”
“Bram!” Asyla menegurnya pelan.
Namun Rizky hanya tersenyum santai. “Aku tidak menggantikan siapa pun. Aku hanya ada di sini untuk Asyla dan Rafi… saat orang lain memilih pergi.” Kalimat itu menampar Abraham.
Asyla segera berdiri. “Kita pergi sekarang.”
Rizky meraih tangan Asyla, membimbingnya keluar. Sebelum mereka benar-benar pergi, Abraham berkata pelan namun penuh tekad, “Aku akan cari tahu kebenarannya, Syla. Tentang Rafi. Ini belum selesai.”
Asyla berhenti sejenak, matanya bergetar… lalu pergi bersama Rizky.
Abraham berdiri di tempatnya, napasnya berat. Ia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
“Selidiki Rizky. Dan cari semua data kelahiran anak bernama Rafi… umur empat tahun. Aku butuh kebenarannya.”
Matanya menatap keluar jendela, ke arah bayangan Asyla yang semakin menjauh. Ia tidak akan menyerah.
“Asyla, lihat saja siapa yang akan jadi pemenangnya. Dan pria itu tidaklah pantas disisi kamu,” geram Abraham dengan kedua tangannya mengepal.
Abraham tidak menyangka kenapa Asyla begitu mudah melupakannya, dan bahkan menikah dengan pria pengecut.
“f**k!”