03. Pertemuan Tak Terduga

703 Words
Lima tahun telah berlalu sejak Asyla dan Abraham berpisah. Hidup Asyla kini berpusat pada satu hal, karir, Rafi, dan anak laki-laki berusia empat tahun yang menjadi alasan ia bertahan melewati semua luka. Pagi itu, taman kota dipenuhi tawa anak-anak. Rafi berlari di antara pepohonan, tertawa riang. “Mama, lihat! Aku bisa lari secepat mobil balap!” “Hati-hati, sayang,” seru Asyla sambil duduk di bangku taman, mengawasi anaknya dengan senyum lembut. Namun, di dalam hatinya, ada rindu samar yang masih bersembunyi, rindu pada pria yang dulu pernah membuatnya merasa utuh. Namun memilih pergi demi keluarganya, meski ia tahu alasan terbesar Abraham pergi karena tidak ingin dirinya hancur. Tapi, tetap saja Asyla masih belum bisa terima. Di sisi lain taman, seorang pria berjalan santai. Setelan kasual namun elegan menempel di tubuhnya. Rambutnya sedikit lebih panjang, ada guratan kelelahan di wajahnya, tapi sorot matanya tetap sama. Ya, Abraham langkahnya terhenti begitu matanya menangkap sosok itu, wanita yang selama ini ia pikir tidak akan pernah ditemui lagi, Asyla. Jantung Abraham berdegup kencang. Ia hampir tak percaya. Lima tahun, dan wanita itu masih terlihat sama… bahkan lebih dewasa, lebih anggun, dan semakin menarik. Ada senyum di bibirnya, meski kesalahan terbesarnya meninggalkan wanita yang bahkan sampai detik ini masih ia cintai. Tapi kemudian matanya tertarik pada anak kecil yang berlari mendekati Asyla. Anak itu… Rafi. Dan di detik itu juga, ada sesuatu yang aneh merayap di dadanya. Wajah anak itu… terlalu familiar. Mengumpulkan keberanian, Abraham mendekat. “Asyla?” Asyla menoleh. Napasnya tercekat. “Abraham?” Mereka saling bertatapan lama, seolah waktu berhenti. “Sudah lama,” suara Abraham terdengar berat, nyaris bergetar. “Iya… sudah lama sekali,” jawab Asyla pelan, berusaha tetap tenang. Abraham tersenyum canggung. “Bagaimana kabarmu?” “Aku baik.” Asyla memaksa senyum. “Bagaimana denganmu?” “Hidup terus berjalan… seperti seharusnya.” Tatapan Abraham tanpa sadar kembali ke arah Rafi. Anak itu sedang memungut daun jatuh, tertawa kecil. “Itu… anakmu?” tanyanya akhirnya, meski hatinya berdebar hebat. Asyla mengangguk, menelan ludah. “Ya, dia anakku.” “Jadi… kamu sudah menikah?” Ada jeda panjang sebelum Asyla mengangguk. “Ya.” Kebohongan itu terasa seperti duri di dadanya. Abraham mengangguk pelan, tapi sorot matanya meredup. “Kamu… tampak bahagia.” Sebelum Asyla sempat menjawab, Rafi berlari mendekat. “Ma, siapa om ini?” tanyanya polos, matanya bulat menatap Abraham. Asyla berjongkok, meraih bahu Rafi. “Ini teman lama mama, sayang. Namanya Om Abraham.” Abraham berlutut, menatap Rafi sejajar. Hatinya seperti ditarik ke arah anak itu, entah kenapa. Ada sesuatu dalam sorot mata Rafi yang mirip dengan dirinya sendiri. “Halo, Rafi. Kamu suka bermain di taman?” tanya Abraham, suaranya terasa aneh di telinganya sendiri. Rafi tersenyum malu-malu. “Iya! Om juga suka main?” “Dulu, waktu kecil, om suka sekali.” Abraham tersenyum samar. Tuhan… kenapa anak ini terlihat begitu familiar? Rafi tertawa kecil, lalu berlari lagi. Abraham berdiri, menatap Asyla dengan sorot mata penuh pertanyaan. “Aku… minta maaf, Asyla,” katanya pelan. “Maaf atas masa lalu. Pernikahan yang keluargaku atur… hanya bertahan setahun. Aku menyesal tak melawan waktu itu.” Asyla menatap lurus ke matanya, dingin. “Tidak perlu menyesal. Semua sudah berlalu, Abraham.” Tapi di balik kata-katanya, jantungnya berdegup panik. Tolong… jangan curiga. Abraham diam. Ada sesuatu yang ia rasakan. Sesuatu yang tidak masuk akal. “Aku senang melihatmu bahagia, Syla,” katanya akhirnya. “Mungkin… kita bisa berteman?” Asyla hanya menjawab singkat. “Mungkin.” Rafi kembali memanggil dari kejauhan. “Ma, ayo kita pulang!” Asyla mengangguk, lalu melangkah pergi bersama anaknya tanpa menoleh lagi. Abraham berdiri di tempatnya, matanya mengikuti langkah kecil Rafi. Semakin lama ia menatap, semakin kuat perasaan itu. Rafi… terlihat terlalu mirip dirinya saat kecil. Dan saat itu juga, tekad Abraham mulai terbentuk. Ia harus tahu. Malamnya, Abraham duduk di mobilnya. Tangannya memegang ponsel, menelepon seseorang. “Cari tahu semua tentang Asyla Maheswara,” suaranya terdengar tegas. “Dan… tentang anak laki-lakinya.” Rasanya Abraham sudah tidak sabar menunggu kabar tentang mereka. Jika benar itu anaknya maka ia akan melakukan segala cara agar Asyla kembali padanya dan ia sudah tidak peduli lagi dengan keluarganya karena saat ini kedudukannya sudah kuat dalam keluarga Seno.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD