02. Hamil

546 Words
Asyla terbangun dan ia tiba-tiba sudah berada di rumah sakit, cahaya putih lampu ruangan membuat matanya sedikit silau. Kepalanya masih terasa berat. “Asyla Maheswara?” suara seorang dokter membuatnya menoleh. Dokter itu tersenyum ramah. “Selamat, bu Asyla. Anda hamil.” Kata-kata itu seperti petir yang menyambar di siang bolong. Asyla menatap dokter itu lama, memastikan ia tidak salah dengar. “H-hamil?” suaranya tercekat. Dokter mengangguk sambil melihat hasil tes. “Sekitar delapan minggu. Tidak perlu khawatir, kondisi Anda dan bayi sangat baik. Namun, Anda perlu menjaga pola makan dan istirahat.” “Delapan minggu…” Asyla tertegun. Delapan minggu lalu, Abraham masih berada di sisinya. Waktu itu, mereka masih bahagia, belum ada perceraian, belum ada air mata. Kini… pria itu telah pergi meninggalkannya dan mungkin sudah menjadi milik orang lain. Ia menggigit bibirnya, menahan emosi. Kenapa sekarang? Kenapa di saat semuanya sudah berakhir? Dokter tampak ragu-ragu, seolah ingin mengatakan sesuatu. “Bu Asyla… apakah ayah anak ini akan mendampingi Anda selama kehamilan?” Pertanyaan itu menusuk. Asyla menatap kosong. “Tidak. Dia… tidak akan ada di sini.” Sungguh itu pukulan bagi Asyla, bagaimana dia bisa melewati masa kehamilannya tanpa Abraham? Tapi, dia juga tidak boleh terus-terusan bersedih dan hanya akan mengganggu kesehatan bayi yang ada dikandungannya. Dokter terdiam, lalu hanya mengangguk. “Apa pun keputusan Anda, kami akan mendukung Anda.” Beberapa hari kemudian, Asyla duduk di kafe bersama Laila. Tangannya gemetar saat menggenggam cangkir kopi. “Aku hamil, Laila. Delapan minggu.” Laila hampir menjatuhkan sendok. “Astaga, Syla! Itu… kabar besar. Apa Abraham tahu?” “Tidak. Dan Abraham tidak akan pernah tahu.” “Tapi Syla, ini anak Abraham. Dia berhak—” “Tidak, Laila!” suara Asyla meninggi, menarik perhatian beberapa orang di kafe. Ia langsung menunduk, suaranya melemah. “Dia sudah menikah. Aku… aku tidak mau mengganggu hidupnya lagi.” Laila hanya bisa menggenggam tangannya. “Kalau begitu, aku akan mendukung apa pun keputusanmu.” “Terima kasih, Laila. Kamu satu-satunya keluarga dan sahabat yang aku miliki, aku tidak tahu jika tidak ada kamu,” ucap Asyla, dengan matanya yang sudah berkaca-kaca. Malamnya, Asyla pulang ke apartemen. Ia duduk di sofa, tangannya refleks mengusap perutnya yang masih rata. “Hei, kecil… kita hanya punya satu sama lain sekarang. Mama akan menjagamu, mama janji.” Ponselnya tiba-tiba bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. “Kau pikir bisa menyembunyikan itu? Anak itu adalah milik keluarga Seno. Kami akan mengambilnya.” Asyla membeku. Darahnya serasa berhenti mengalir. Tangannya gemetar hebat. “Siapa… yang tahu?” Ia menatap jendela, matanya menangkap bayangan samar sebuah mobil hitam yang berhenti di seberang jalan. Mesin mobil itu masih menyala… tapi tidak ada seorang pun keluar. Asyla menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin anak yang berada di dalam kandungannya jatuh ke keluarga Seno. Asyla tidak terima setelah apa yang mereka lakukan pada pernikahannya, setelah kehilangan Abraham. Asyla juga tidak ingin kehilangan anaknya. “Tidak! Aku tidak akan membiarkan kalian mengambil anakku,” ucap Asyla, dengan kedua tangannya mengepal kuat. Ya, jalan satu-satunya Asyla harus keluar dari kota ini. Sejauh mungkin agar keluarga Seno tidak menemukannya. Asyla segera memasuki kamarnya, Asyla meraih hp miliknya untuk memesan tiket. Malam ini ia harus pergi meninggalkan Jakarta, ia akan membesarkan anaknya dengan tenang tanpa gangguan keluarga Seno..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD