Kejujuran Yang Pahit Dari Reo (9)

1714 Words
Cinta Terlarang Anak dan Suamiku (Part 9) #Anakku_Maduku #Ajt #Seputih_Cinta_Amelia ~Kejujuran Yang Pahit Dari Reo~ kulempar tiga gepok uang seratus ribuan dalam tasku. Uang itu jatuh di meja dan di lantai. Berhamburan. “Ambil! uang itu untuk kamu semua. Untuk kebahagiaan keluargamu. Bisa juga untuk modal usaha. Tapi penuhi satu permintaan saya. Jangan pernah mau menjalin hubungan dengan pria beristri manapun. Karena apa yang kamu lakukan, bial tidak dihentikan akan menjadi kebiasaan yang mendarah daging. Menjadi pelakor. Hinggap dari satu laki-laki kepada laki-laki lainnya,” ucapku tegas. Kemudian aku berlalu pergi meninggalkannya. * Kurebahkan diri di kursi kerja. Sebetulnya susah harus tegas dan marah dalam keadaan tak memiliki daya. Sebuah kenyataan baru yang semakin mempertegas keyakinan bahwa aku tak perlu mempertahankan Reo atas alasan apapun. Beruntung aku berhasil mengeksekusi Fira dengan baik. Semoga ia benar-benar menyadari kesalahannya sehingga menghargai arti sebuah hubungan sakral yang telah disatukan-Nya. Baru saja hendak merapikan beberapa berkas yang perlu dibaca dan di acc, ada pesan masuk dari seseorang. [Mel, aku sudah bangun dari koma, aku ingin sekali bertemu dengan kamu. Apakah kamu ada waktu?] pesan dari Reo. Reo, kenapa harus menghubungiku di saat aku berada di ujung kesal. Aku tahu kamu baru sembuh dari koma. Tapi apakah kamu tahu di sini aku baru saja mendapati kenyataan yang juga bisa membuatku koma. Affairmu, ini tak termaafkan Reo. Kenapa kamu harus koma, koma oleh ulahmu sendiri. Ingin rasanya menarikmu dan Fira di hadapan semua orang, menunjukkan kepada dunia, bahwa kalianlah yang membuatku luka, akulah yang di sini terluka. Aku yang perlu ditolong. Sekuat dan sehebat inikah aku, hanya sendiri menghadapi kenyataan pahit, tak banyak orang tahu, hanya untuk menjaga dan membuat semuanya seolah baik-baik saja. * Satu bulan sudah kulewati semua dengan kesendirian. Satu syukur panjang bisa melewati masa terberat dalam hidup. Meski baru satu bulan, ini sangat luar biasa untukku. Di usia yang tak lagi muda, di usia yang seharusnya sudah bisa menikmati hasil perjuangan, melihat anak tumbuh besar, sebentar lagi lulus kuliah, atau menikah. Melihat suami yang karirnya mulai gemilang, menikmati hari-hari menenangkan. Melihat swastamita dan arunika dengan hangat, sehangat keluarga yang harmonis yang selama ini aku dambakan. Mencoba memulihkan hati juga dengan keliling ke berbagai tempat, menjumpai keponakan-keponakan yang sudah mulai beranjak dewasa, bersama mereka untuk sekedar pergi ke pantai, Dufan, melihat banyak hal baru, dan menyeimbangkannya dengan beribadah. Setidaknya shalat tepat waktu ketika adzan telah berkumandang, dzikir pagi dan petang, membaca Al-Ma’tsurat, Surat Al-Waqiah, Surat Yasin, Ar-Rahman, dan membiasakan menjalankan kobliyah ba’diyah. Jika tidak, mungkin aku akan terperosok lagi jatuh dalam keterpurukan. Menyadari bahwa hidup sepenuhhnya adalah milik-Nya. Tiada suatu bencana dan ujian yang menimpa setiap hamba di muka bumi ini melainkan telah tertulis di dalam Lauh Mahfudz. Mungkin Allah sedang mengingatkanku untuk tidak terlalu lena atas angerah yang telah Allah limpahkan. Mungkin Allah tidak ingin aku terlalu berduka terhadap apa yang luput dalam hidupku, seperti yang tertera dalam surah Al – Hadid 22-23 yang selalu k****a berulang-ulang. Saat-saat tertentu merenung, bahwa mungkin kesalahan kemarin, sekian persen juga karena adanya kelalaianku. Harusnya aku tak egois meninggalkan anak dan suamiku berdua dalam satu rumah tanpa ada aku yang bisa setiap saat mendampingi. Mungkin juga Reo merasa kesepian, karena aku jarang pulang, jarang meladeninya. Meski aku merasa sudah memberikan yang terbaik dengan segala keterbatasan waktu, aku tak pernah tahu sebenar-benarnya bahwa bisa jadi Reo membutuhkan lebih perhatian dan pelayananku. Mungkin selama ini aku terlalu berkutat dengan karir dan karir. Meski seharusnya dalam kondisi apapun, kesalahan yang dilakukan Reo tak bisa dibenarkan. Bukankah masih bisa jujur, masih bisa mengkomunikasikannya dan memberi tahuku mau diperlakukan seperti apa. Bukan justru mencari pelampiasan lain, jajan di luar bahkan mencicipi anak manusia yang harusnya dia jaga baik-baik. “Bu, ada tamu,” Bik Darti melongok dari balik pintu. “Siapa, Bik?” “Pak Reo.” “Siapa?” Aku mencoba memastikan. “Pak Reo, Bu.” Apa, Reo datang? Baru saja aku ingin mendapatkan ketenangan seutuhnya. Sosok yang paling tak ingin kulihat, kenapa harus datang. Sebaiknya aku usir. “Suruh saja dia pulang, Bik.” “Sudah, Bu. Tapi Bapak meminta saya ke atas bilang dulu sama Ibu, katanya.” “Bik Darti nggak memaksanya untuk pulang saja. Saya bener-bener nggak bisa, Bik.” “Tadi juga sudah di usir Pak Ranto, Bu. Tapi Bapak duduk lama di bawah, nggak pulang-pulang.” “Datang dengan siapa dia?” “Sendiri, Bu.” Dari bawah terdengar suara Reo memangil-manggilku. “Amelia ... Amel ... aku mau bicara sama kamu.” “Nah itu, Bu. Bapak panggil-panggil Ibu.” “Ya sudah Bik turun aja, kasih tahu Pak Ranto, jangan sampai Pak Reo naik ke atas.” Bik Darti lekas pergi menuruni tangga. “Amel, Dek .... Aku tunggu di bawah, aku mau bicara.” Apa? Dia memanggilku “Dek”? panggilan yang dulu sangat familiar, tapi sekarang aku sudah risih mendengarnya. Reo sudah mulai asing dalam hatiku. Setelah satu bulan lebih aku berusaha melupakannya. Bahkan aku tak tahu bagaimana satu bulan ia merecovery dirinya pulih dari koma. Menulikan telinga, membutakan mata, dan membekukan hati untuk sama sekali tak mau tahu tentang Reo. Jelas sakit, seperti menutup luka yang belum kering oleh debu. Terlihat mulus diluar, tapi membusuk di dalam. Cinta Terlarang Anak dan Suamiku (Part 9) #Anakku_Maduku #Ajt #Seputih_Cinta_Amelia ~Kejujuran Yang Pahit Dari Reo~ Lalu sekarang Reo datang. apakah aku harus turun dan melihatnya lagi, melihatnya akan menjadi serupa luka yang di tusuk-tusuk dengan jarum. “Amel, aku tahu kamu ada di atas, turunlah sebentar, please!” Suara itu menuntut. Berat dan putus asa. Aku mencoba menelisik sisi realistisku. Reo tak akan segera pergi jika belum bertemu denganku. Aku tak mau ia malah bermalam di rumah ini. Berarti aku harus menemuinya. Kuyakinkan diri, jika hatiku sudah baik, harusnya aku bisa bicara bik-baik dengannya. Lekas kukenakan hijab sembari memikirkan amunisi kata apa yang ampuh yang membuatnya lekas pergi dan menyadari aku bukan Amelia Rananti yang dulu. “Kenapa kamu masih berani ke sini?” “Dari sejak aku bangun dari koma, memang Cuma kamu yang ingin aku temui, Mel.” Aku memilih berdiri pada anak tangga ketiga dari bawah. Memastikan dia tahu bahwa aku tak perlu berlama-lama bicara padanya. “Aku cuma mau bilang aku menyesal,” ucapnya dengan nada penuh penekanan dan berat. Tersimpan ribuan makna yang bisa kutangkap dari kata-katanya. “Pulanglah, aku mau istirahat.” Ia justru mengambil posisi duduk di sudut sofa. Seolah ingin memberi tahu bahwa ia ingin bicara lebih banyak denganku. Sungguh aku turun hanya ingin mengusirnya. Selesai. “Mel, ketika aku baru sembuh dari koma, ada kesedihan luar biasa memenuhi hati. Aku seperti berada pada dimensi baru hidupku. Aku tak ingat apa-apa, tak ingat siapa-siapa, tapi ada nama yang selalu aku sebut, yaitu kamu. Itu juga yang adik-adikku katakan. Bahkan dalam gelap tidurku berhari-hari, hanya ada satu bayangan wajah yang selalu singgah, wajah seorang wanita, dan itu kamu.” “Maksud kamu apa? Mau mencoba mencari iba dariku?” Ia menarik napas dan menatapku. “Aku minta maaf, Mel. Aku sadar aku salah.” Ia menundukkan pandangan. “Kamu salah, jelas kamu salah. Raya, Fira, siapa lagi?” Aku mengatakan dengan rahang mengeras dan nada yang berat. Matanya seketika membulat. Mungkin ia tak menduga aku tahu kebusukannya yang lain. “Ya, sepenuh-penuhnya aku salah. Aku cuma mau minta maaf. Aku cuma mau kamu tahu bahwa aku benar-benar merasa bersalah. Menyesal dan rela kamu hukum seperti apapun hukumannya.” “Aku cuma minta kamu pergi jauh-jauh dari hidupku, mulai saat ini dan selamanya. Aku nggak dendam atau mau balas menyakitimu. Tapi bercerai dari kamu sudah keputusan finalku.” “Apakah kamu mau memaafkanku, menunda dan mempertimbangkannya lagi, Mel?” “Nggak. Memberi maaf itu gampang, tapi menutup luka yang sudah terlanjur menganga apakah cukup dengan maaf. Memperbaiki hati yang terlanjur sakit apakah akan sembuh dengan kata maaf? Terlebih kamu merobek luka yang sudah menganga itu menjadi demikian lebar dengan terbukanya affair-mu yang lain, mungkin akan ada affair-affair lain yang lambat laun akan kuketahui. Itu semakin memperjelas keputusanku untuk cerai, Reo.” “Nggak Mel, hanya dengan dua wanita itu. Nggak ada yang lain, sungguh ...." Ia bangkit igin mendekatiku. Aku mundur menaiki dua anak tangga. "Stop Reo." "Mel ... tahukah kamu kenapa aku sampai seperti itu? Karena aku lapar, Mel. Aku seperti singa di padang pasir yang tak ada seorangpun mau memberi makan. Berkali-kali aku menahan lapar, beberapa kali aku berhasil, tapi ketika singa lapar itu dihadapkan pada daging yang sengaja di pancing di depan mata, aku tak mampu untuk tak menyambarnya ....” Reo tergugu seketika. Aku membuang muka, tak ingin mengasihani tangisannya. Cuma dua kali katanya, cuma!! “Aku rindu kamu, Mel. Aku begitu merinduimu beberapa tahun belakangan ini. Kamu ada tapi aku tak mampu merengkuhmu secara utuh. Di malam-malam yang sepi, saat aku ingin memelukmu, aku hanya bisa memeluk guling. Saat namamu kupanggil dalam igau malamku, hanya bayangmu yang menari-nari dalam benakku. Aku rindu kamu hadir menyiapkan sarapan, teh hangat, pakaian kerjaku di pagi hari, kopi di malam hari, dan teman ngobrol yang mampu memberiku kehangatan. Di saat aku sakit pada malam-malam yang dingin, butuh wanita yang bisa memijat dan mengerokiku, hanya ada dinding kamar yang dingin diam membeku. Aku rindu kamu Mel. Aku rindu kamu yang dulu, anggun, keibuan, berwajah tenang dengan bibir ranum memerah yang selalu ada di sampingku. Tak pernah pergi meninggalkanku jauh.” Entah kenapa aku diam memberinya waktu untuk meneruskan bicara. “Aku tahu aku salah, harusnya aku mengutarakan keinginanku itu padamu. Tapi terkadang aku tak tega melihatmu yang sudah sedemikian lelah bekerja. Aku tak ingin membuatmu makin kelelahan dengan meladeniku di malam-malam yang panjang. Aku sudah sangat bersyukur dengan semua kebahagiaan yang kamu beri dalam kelaurga kita. Jadi aku pikir aku akan bisa mengatasi hati dan hasratku sendiri.” Ada yang basah dalam hatiku. “Sayangnya aku tergelincir, Mel. Aku jatuh, aku tergoda. Aku tak bisa menghindari diriku dari hal yang memang paling aku butuhkan. Kebutuhan batinku. Aku terpaksa dan itu bukan mauku. Mereka yang memberi kesempatan itu untukku, mempersilahkan baik-baik aku masuk dan memberi kehangatan kepada singa yang lapar ini.” TO BE CONTINUED. yuk subscribe IG Asa Jannati, search aja di ig pake Asa Jannati, pasti ketemu. akan ada info seputar karya2 Asa Jannati disana. Sebelum ke bab selanjutnya, bantu klik love-nya and komen, dan masukkan ke dlm daftar bacaan, yah. Makasih udah bantu akun ini bertumbuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD