Sepakat Menikahi Raya (10)

1324 Words
Cinta Terlarang Anak dan Suamiku (10) #Anakku_Maduku #Ajt #Seputih_Cinta_Amelia ~Sepakat Menikahi Raya~ ~Beri aku satu kesempatan, maka akan kuubah harimu penuh bintang-bintang, kupastikan kau tak akan menyesal telah memberi kepercayaan padaku sekali lagi.~ (Reo) Entah kenapa aku diam memberinya waktu untuk meneruskan bicara. “Aku tahu aku salah, harusnya aku mengutarakan keinginanku itu padamu. Tapi terkadang aku tak tega melihatmu yang sudah sedemikian lelah bekerja. Aku tak ingin membuatmu makin kelelahan dengan meladeniku di malam-malam yang panjang. Aku sudah sangat bersyukur dengan semua kebahagiaan yang kamu beri dalam keluarga kita. Jadi aku pikir aku akan bisa mengatasi hasratku sendiri.” Ada yang basah dalam hatiku. “Sayangnya aku tergelincir, Mel. Aku jatuh, aku tergoda. Aku tak bisa menghindari diriku dari hal yang memang paling aku butuhkan. Kebutuhan batinku. Aku terpaksa dan itu bukan mauku. Mereka yang memberi kesempatan itu untukku, mempersilahkan baik-baik aku masuk dan memberi kehangatan kepada singa yang lapar ini.” Nggak Reo, itu pembenaran yang salah. “Lalu kamu makan daging haram itu?! Kamu babad habis tanpa ampun hingga Berbulan-bulan. Tidak puas satu lalu cari lagi kesempatan yang lain. Dasar nggak punya otak kamu! Sampah kamu!” Ingatanku kembali bangkit pada hal menjijikkan malam itu. Bayangan yang sudah coba aku kubur. Seketika emosi dan amarahku memuncak kembali. “Benar kamu singa, Reo. Kamu memang Singa yang lapar. Kamu binatang. Maka dari itu cara pikir kamu seperti bintang. Binatang memang nggak punya akal dan bisa melampiaskan nafsu di mana saja. Nggak tahu beda halal dan haram. Sayangnya setelah sekian belas tahun, aku baru menyadari kalau selama ini aku hidup dengan binatang!” teriakku. Entah sudah seperti apa wajahku, merah penuh amarah dengan air mata yang rata sepenuh wajah. Mbok Sum berlari mendekatiku. “Ya Allah, Ibuk. Sudah, Buk. Ibuk nanti capek. Biarkan saja Bapak, jangan diladeni. Nanti ibuk sakit.” “Pak, Bapak kan baru sembuh dari sakit, sudah Bapak sudah menjelaskan apa yang mau dijelaskan kepada Ibu. Sekarang Bapak pulang saja, istirahat.” Bi Darti mengusap-usap punggungku. Pak Ranto sigap memegang lengan Reo, menariknya sedikit kencang untuk pergi keluar rumah. “Lepasin, Pak. Saya belum selesai bicara. Saya mau bicara baik-baik sama Bu Amel. Lepasin, Pak!” Pak Ranto tetep bertahan menyeret Reo keluar. “Tapi, Pak. Bapak bisa bicara lagi dengan Ibu kapan-kapan. Biarin ibu istirahat.” “Ibu nggak ngusir saya keluar, Pak. Biarkan saya.” Pak Ranto menatapku, berharap ada instruksi selanjutnya dariku. “Biar, Pak. Lepaskan saja,” jawabku. Pak Ranto melepaskan tangan Reo, Reo kembali duduk di sofa. Aku menatap mereka semua agar pergi meninggalkan kami berdua. “Mel, aku ke sini hanya ingin bicara baik-baik, ingin minta maaf, dan ingin bilang kalau aku rindu,” ucapnya sedikit berbisik, menyadari hanya ada kami berdua di sini. Aku menghela napas dalam dan membuangnya kasar. Rindu katanya? Ini lucu. “Jangan naif Reo. Aku malu mendengarnya, jijik malah. Kemana rasa malumu, setelah aku tahu semua perselingkuhanmu, tapi masih berani merayu?” “Nggak, aku nggak malu. Selama ini aku bodoh. Terlalu ja’im. Tak terlalu berani mengekspresikan diri di hadapanmu. Sehingga kamu pikir aku tak butuh kamu. Padahal sumber kekuatanku selama ini adalah kamu. Seorang wanita yang bernama Amelia. Masih ingatkah Mel gimana perjuangan kita untuk bisa bersama. Begitu susah begitu pelik. Mati-matian aku berusaha meyakinkan Papa untuk bisa menikah denganmu. Mati-matian juga membuktikan bahwa aku bisa menjadi menantu yang dihargai banyak orang. Bisa di hargai Papa dan di akui sebagai menantunya yang hebat.” “Iya, lalu kamu hancurkan sendiri semuanya!” “Ya, benar, aku bodoh, disitulah salahku. Disitulah titik lemahku. Aku terjebak oleh nafsuku sendiri, Mel.” “Sekarang semuanya sudah beda Reo. Papa, Mama sudah nggak perduli sama kamu, akupun. Mungkin saat ini aku masih mau mendengarkanmu bicara. Aku masih menghargaimu sebagai sesama manusia. Sebagai seseorang yang pernah hidup bersamaku dan memberi bahagia. Tapi untuk kembali sama kamu, nggak Reo.” Reo menahan napas mendengarkan setiap kataku,lalu membuangnya ketika aku selesai mengucapkan kata terakhir. “Benar-benar nggak ada jalan untukku pulang ke rumah ini lagi, Mel? Hidup sama kamu seperti dulu. Dan kita ualng lagi hidup baru. Kamu akan lihat bagaimana aku memperbaiki semuanya.” “Tak termaafkan, Reo. Pergilah kemana kamu mau, tapi tidak untuk bersamaku lagi. Tapi satu yang paling aku harap, kamu Ayah dari bayi yang dikandung Raya. Itu anakmu. Harusnya mulai saat ini, kamu concern dengan kehamilan Raya. Ia masih terlalu muda untuk hamil. Bisa saja membahayakan untuk dirinya dan bayinya. Lupakan saja tentang kita. Ada yang lebih penting di sana. Calon anakmu. Bukankah kamu ingin punya anak tapi tak mampu terwujud dariku ‘kan?" “Terima atas sarannya, Mel. Ya, aku memang ingin, tapi aku tak pernah memaksamu. Aku terima jika memang ini sudah takdir Allah. Aku sudah cukup bersyukur atas semua anugerah ini. Terlalu besar syukurku, hingga aku jgua benar-benar menjaga hatimu. Aku tak mau kamu tersakiti olehku. Bukankah selama ini kubiarkan dan kuijinkan semua maumu. Kamu di Bandung berhari-hari, berminggu sampai sebulan tak pulang. Bukankah aku tak pernah mengeluh. Kamu tak meladeniku, sejatinya aku tak pernah protes. Hanya saja sesekali dalam hati kecilku, sepi tanpamu. Dan lagi-lagi, aku tergoda oleh sesuatu yang memang aku butuhkan. Yang sebenarnya kuharap itu kudapatkan darimu.” “Sudahlah, Reo. Jangan bahas soal itu lagi. Aku paham. Tapi semua sudah terjadi dan sudah menjadi keputusan bulatku. Bagiku kamu tak termaafkan. Mungkin disebut khilaf, sendainya itu hanya sekali. Lalu kalau kamu melakukannya berkali-kali, hingga Raya hamil, itu bagiku sudah tak termaafkan Reo. Raya anak kamu sendiri, Reo. Anak yang sedari kecil kamu besarkan. Ditambah Fira. Oh aku nggak habis pikir Reo. Yang aku heran, kenapa sih kamu harus merusak orang-orang yang ada di sekelilingmu. Yang seharusnya kamu jaga. Kenapa kamu nggak jajan saja diluaran, misalnya.” “Aku ngerti penilaianmu sudah segitu benci dan jijiknya Mel. Aku nggak tahu lagi gimana harus menjelaskan. Jelas aku nggak ada niat jajan di luaran. Karena kejadian yang aku alami akibat kesempatan yang sering bersama. Terjebak oleh setan yang mencari-cari lengahku.” “Ck, ck, ck, ck, alasan kamu Reo. Aku rasa pembicaraan kita sudah terlalu panjang. Sebaiknya kamu pulang saja.” “Aku masih berstatus suami kamu ‘kan, Mel?” “Hanya di atas kertas.” “Tapi aku nggak akan menceraikanmu. Kamu boleh mengganjarku dengan apapun, tapi tidak untuk menceraikanmu.” Aku lelah. Lelah menjelaskan, lelah dengan pergolakan batin yang selama ini memenuhi kepalaku. “Sebaiknya kamu pulang.” Sekali lagi kukatakan. “Aku masih suamimu jadi aku masih berhak tinggal di sini.” Kenapa dengan lelaki ini, dia begitu ngeyel dan tak tahu malu. Aku seperti sudah tak mengenalinya lagi. Reo seperti anak kecil yang merengek pada ibunya, meminta membeli mainan pada penjual mainan keliling yang sudah terlalu lama berlalu. Apakah karena ia baru sembuh dari koma, sehingga emosinya menjadi kian tak stabil. “Papa, dan Mama tak akan setuju. Tolong hargai mereka.” “Aku tak bisa sendiri, Mel. Aku butuh kamu.” “Kamu bisa menikahi Raya. Ceraikan aku. Kamu jangan egois Reo. Raya butuh kamu.“ Reo mengambil sebatang rokok dari saku bajunya, memantik api dan menghisap dalam-dalam ujung batang benda itu. Melepaskannya perlahan. “Baiklah, jika ini memang yang kamu mau, aku akan menikahi Raya. Aku senang melakukan ini karena ini permintaanmu. Semoga ini bisa mengobati lukamu dan bisa membayar semua dosa-dosaku kepadamu.” Perkataan itu menghentakku. Ada nada putus asa juga perlawanan kepadaku di dalamnya. “Kapan kamu mau tentukan tanggal pernikahanku? Raya pasti sangat senang mendengar kabar ini.” Sekali lagi ia menghisap dalam rokok di tangannya dan menghembuskannya dengan tergesa. “Satu minggu lagi.” Aku menaikkan dagu beberapa centi untuk meyakinkannya bahwa akupun tak kalah siap atas tantangannya itu. ------- ~ Tidak ada jodoh yang salah, memang hanya sebatas itu waktu yang Tuhan beri. Mungkin saling mendoakan adalah yang terbaik untuk kita saat ini.~ TO BE CONTINUED. Terima kasih sudah menyimak, semoga ada hikmah/ibroh dari cerita ini nantinya. Bantu klik love-nya and komen, dan masukkan ke dlm daftar bacaan, yah. Makasih udah bantu akun ini bertumbuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD