"Ya? Ada apa, Viktor? Apakah akhirnya kau berubah pikiran dan membiarkan aku untuk melihat Beliye Nochi?"
Xandrova bertanya dengan antusias penuh. Ia menggenggam kedua tangan Viktor.
Astaga! Siapa yang bisa menolak wajah menggemaskan Zoya! Dia ... dia seperti anak kucing putih yang sedang menggoda untuk mengajak bermain.
Viktor berkata-kata di dalam hati seraya mengulas senyum. Ia tidak tahu dan tidak mengerti mengapa hatinya selalu luluh dengan tingkah menggemaskan Xandrova.
"Oke ... oke. Namun, berjanjilah untuk tetap bersamaku, Zoya!"
Senyum lebar pun mengembang tanpa perintah di bibir Xandrova yang berwarna merah muda.
Kedua manik mata biru Xandrova mengatakan ucapan terima kasih kepada Viktor tanpa bersuara. Bukan berterima kasih karena telah mengizinkannya untuk melihat Beliye Nochi, tetapi berterima kasih karena telah menjadi suami paling pengertian dan paling perhatian untuknya.
"Viktor, kau sangat tampan."
Xandrova membawa kedua tangan suaminya yang ia genggam sedari tadi mendekati bibirnya. Kemudian tanpa terduga, Xandrova mengecupnya singkat.
"Hah?!"
Viktor terkecoh dengan ucapan juga perilaku Xandrova. Tawanya pun pecah seketika.
"Ha ha ha! Kau benar-benar di luar dugaan ku, Xandrova Zoya konstantin!"
Viktor melihat Wajah cantik Xandrova berseri-seri. Ia juga melihat istrinya memejamkan kedua mata ketika mendaratkan bibir di punggung tangannya.
"Viktor, bawalah aku ke sana!"
Kedua mata Xandrova kembali terbuka. Ia menunjuk orang-orang yang sedang berdiri di tepi sungai Neva menyaksikan pertunjukan Scarlet Sails yang baru saja dimulai.
"Ayo ikuti aku, Zoya!"
Viktor mempererat genggaman tangan Xandrova. Mereka berdua berjalan menuju tepi Sungai Neva.
"Menjelang tengah malam seperti ini, wisatawan masih memadati pusat kota."
Viktor memberitahu pandangannya mengenai kota kelahiran sang istri.
"Saat musim panas seperti inilah terjadi pemandangan unik di kota St Petersburg, Viktor."
Viktor mendengarkan Xandrova berbicara sambil menoleh ke segala arah untuk memastikan tidak ada anak buah Maksim yang mendekati mereka.
"Lalu, bagaimana dengan kota kelahiranmu?"
Xandrova bertanya tanpa menoleh ke arah suaminya.
"Sejujurnya, aku tidak mengingat apapun."
Benar. Karena hingga saat ini yang kuingat hanya panti asuhan tempatku berasal.
Viktor melanjutkan kalimat di dalam hati. Ia bahkan tidak ingat siapa kedua orang tuanya.
"Oh!"
Viktor tersentak ketika merasakan smartphone-nya bergetar. Ia merogoh saku celana tanpa melepas tangan Xandrova.
Kakek? Mengapa Kakek menghubungiku? Apakah telah terjadi sesuatu di rumah?
Viktor berspekulasi untuk beberapa detik lamanya seraya membaca nama si penelepon yang tertera di layar smartphone-nya.
"Selamat malam, Kakek."
Viktor mengawali percakapannya dengan Gennadius. Ia melirik Xandrova yang tengah asyik menikmati alunan musik juga atraksi Scarlet Sails di perairan sungai Neva.
"Viktor, mengapa kau lama sekali mengangkat telepon saya? Apakah kau sedang bersama Zoya dan kedua mertuamu?"
Suara tegas milik Gennadius terdengar bergetar. Pria tua itu masih gagah meski usianya sudah tidak muda lagi.
"Ya, saya sedang bersama Zoya, tetapi tidak bersama Papa dan Mama."
Viktor berbicara dengan sangat hati-hati. Ia memelankan nada suaranya karena tidak ingin Xandrova mendengar percakapannya dengan Gennadius.
"Mengapa Kakek hubungi saya selarut ini? Apakah telah terjadi masalah di mansion?"
Baik Viktor maupun Gennadius tak ada yang berbicara. Mereka hanya mendengar suara deru napas masing-masing.
"Saya hanya ingin memastikan suasana liburan musim panas kalian. Apakah semua baik-baik saja, Viktor?"
Seolah tahu apa yang sedang terjadi dengan keluarganya, Gennadius bertanya kepada Viktor dengan nada cemas.
Mungkin 'kah Kakek sudah mengetahui apa yang terjadi hari ini? Namun, aku tidak akan menceritakan kejadian hari ini kepada Kakek. Karena aku tidak ingin menambah bebannya.
Viktor menatap Xandrova yang sedang bahagia. Lalu, ia menjawab pertanyaan Gennadius dengan berteriak.
"Semua baik-baik saja, Kakek. Anda jangan khawatir!"
Viktor melihat sebuah kapal besar dengan layar merah datang mengarungi sungai Neva. Bersamaan dengan itu pula, pertunjukan kembang api yang sangat spektakuler pun dimulai.
"Apakah Kakek mendengarnya?"
Suara bising seperti ini, seharusnya Kakek mendengarnya dan percaya dengan apa yang aku katakan, batin Viktor seraya berharap bahwa apa yang ia lakukan adalah benar.
"Ha ha ha! Ya, saya mendengarnya, Viktor. Saya kembali mengenang masa-masa muda ketika mengunjungi festival musim panas di sana."
Viktor paham sekali bagaimana rasa sepi mengunjungi hati Gennadius sejak meninggalnya mendiang Olgav Konstantinaーistri dari Gennadius.
"Nikmatilah liburan musim panas mu bersama Zoya dan berikan saya selusin cicit, Viktor! Ha ha ha!"
Gennadius kembali terkekeh.
"Aーapa, Kakek?"
Bagaimana aku bisa memberikan Kakek seorang cicit, apalagi selusin cicit seperti keinginan Beliau?! Sedangkan aku tidak pernah menyentuh Zoya satu kali pun bahkan di malam pertama kami.
Viktor mencibir dirinya sendiri di dalam hati. Ia melakukan semua itu karena ingin menghormati Xandrova.
Aku telah berjanji tidak akan menyentuh Zoya hingga dia siap.
Viktor tahu betul bagaimana posisinya saat ini.
"Ya, kau tahu bagaimana kondisi kesehatan saya, bukan? Maka sebaiknya, jangan kau tunda lagi, Viktor!"
Viktor tercengang mendengar kalimat terakhir yang Gennadius serukan padanya. Kalimat tersebut rupanya menjadi kalimat penutup untuknya. Viktor menyimpan kembali smartphone di tempat semula ketika mendengar nada terputus.
"Viktor, lihatlah! Bukankah kembang api sangat cantik?"
Viktor mengikuti arah pandang mata Xandrova.
"Apakah kau sangat menyukainya, Zoya?"
Xandrova memalingkan wajahnya dari kembang api, lalu menatap wajah Viktor. Ia menyentuh wajah suaminya dengan kedua tangan.
"Tentu saja, Viktor. Apakah kau tahu? Tradisi Scarlet Sails dimulai tepat di akhir perang dunia ke-2."
Viktor tidak menyangka jika Xandrova memiliki pengetahuan yang luar biasa.
"Mau 'kah kau mengambil beberapa potretku, Viktor?"
Viktor mengangguk setuju.
"Bagaimana jika kita foto bersama?"
Banyak cara untuk meraih kebahagiaan. Salah satunya dengan cara sederhana yang yang dilakukan oleh pasangan Viktor dan Xandrova.
Viktor dan Xandrova tidak sadar bahwa ada beberapa pasang mata yang memperhatikan mereka dari kejauhan. Beberapa pasang mata tersebut bukanlah anak buah Maksim, melainkan mata-mata yang dikirim oleh sang kakek untuk menjaga mereka berdua.
**
Kota St Petersburg yang populer memiliki 40 pulau, setidaknya begitulah menurut buku sejarah yang Viktor pernah baca saat masih menjadi seorang siswa. Tidak lama setelah atraksi kembang api spektakuler berakhir, Viktor mengajak istrinya kembali ke hotel karena menyadari wajah Xandrova memucat.
Awalnya Xandrova menolak ajakan Viktor. Namun setelah Viktor berjanji akan membawanya kembali ke sungai Neva di hari selanjutnya, Xandrova pun sepakat untuk kembali ke hotel.
"Benar saja dugaanku! Kau kelelahan, Zoya."
Viktor menggendong Xandrova di punggungnya menuju hotel. Ia berjalan lebih cepat saat tiba di lobi hotel.
Viktor menempelkan cardlock di kotak sensor tepat di dinding lift. Pintu pun segera tertutup.
"Tunggu! Tolong tahan pintunya!"
Viktor mendengar teriakan seorang wanita. Ia pun menahan pintu lift agar tidak tertutup.
"Terima kasih."
Wanita berwajah oriental dengan pakaian kekurangan bahan berwarna hijau daun masuk ke lift yang sama dengan Viktor dan Xandrova. Wanita tersebut tersenyum kepada Viktor.
"Kaーkau?"
Rupanya si wanita mengenali wajah Viktor. Ia menatapnya seraya membuka kedua matanya lebar-lebar.