The Character

1033 Words
"Selamat malam, Nona." Viktor akhirnya menyapa wanita yang sedang memandangnya. Ia risih dan tidak bisa mengendalikan dirinya jika mendapatkan tatapan seperti itu. Ya, seperti seseorang yang membutuhkan teman tidur. "Siapa yang berada di punggung Anda?" Si wanita yang Viktor tidak ketahui namanya bertanya tanpa memikirkan sebab akibat. Sesekali wanita itu berdiri tidak seimbang. Kedua kakinya seolah tidak mampu menopang tubuhnya yang menggoda. "Istri saya. Benar, dia adalah Istri kecil saya yang menggemaskan." "Oh, saーsaya pikir ... saya pikir Anda pria lajang yang sedang membawa seorang wanita ke kamar Anda." Brengsek sekali wanita ini! Viktor memaki si wanita tanpa nama di dalam hati. Ia gusar karena ucapan si wanita. "Maaf jika saya lancang. Perkenalkan, nama saya adalah Viona Zakharchenko. Saya blasteran Rusia-Inggris. Dan, siapa nama Anda?" Wanita bernama Viona mengulurkan tangan kepada Viktor, tetapi apa boleh buat, Viktor tidak bisa menyambutnya. Memangnya, siapa yang bertanya namanya? Dan, siapa yang ingin berkenalan dengan wanita aneh ini? Viktor mengeluh di dalam hati dengan mengajukan 2 pertanyaan yang telah membuatnya risih. Saat aku mengenalkan Zoya padanya, seharusnya dia mengerti bahwa aku bukanlah pria pencari hiburan seperti Papa David. Kali ini, Viktor membuat hatinya mengecam tindakan buruk yang dilakukan oleh ayah mertuanya. "Viktor Gusev Konstantin." Viktor selesai menyebutkan namanya berbarengan dengan terbukanya pintu lift. Saat Viona berbicara, aku mengenali bau minuman keras yang tajam dari mulutnya. Viktor melangkah meninggalkan Viona di dalam lift seorang diri seraya berbicara di dalam hati. "Hei, Viktor! Namamu sungguh bagus seperti wajahmu yang tampan dan bentuk tubuhmu yang menggoda!" Viona berteriak sambil melangkah dengan tertatih dari dalam lift. Viktor menoleh sebentar ke belakang untuk memastikan Viona tidak terjatuh. "Hei, Tampan! Jika Anda kesepian, silakan datang ke kamar saya nomor 311. Jangan sungkan mengetuk pintunya, oke!" Viktor menggelengkan kepala seraya menarik sudut bibir kanannya. Ia kembali menatap jalan di depannya. Ia merasakan Xandrova bergerak lembut di punggungnya. "Sabar, Sayang! Sebentar lagi kita akan tiba di kamar." Viktor berjalan semakin mendekati kamar hotelnya. Ia merogoh saku mantel guna meraih cardlock. "Akhirnya kita sampai, Zoya." Viktor mendorong pintu kamar dengan kaki kanan, lalu ia pun masuk ke dalam sana. "Tidurlah dengan nyenyak, Istri kecilku! Semoga Tuhan memihak kita untuk tetap bersama hingga aku berhasil membahagiakanmu, Zoya." Viktor membaringkan tubuh sang istri dengan lembut. Ia pun melepaskan sepatu boots yang dikenakan Xandrova. "Kau sungguh sangat cantik, Zoya! Pantas saja Maksim tidak berniat sedikitpun untuk melepaskan mu." Viktor menyelimuti Xandrova, lalu menatapnya beberapa detik. "My Aurora is here. But, why can't I reach you, Zoya?" Viktor mengusap pipi Xandrova yang kemerahan, lalu pria itu bergegas mematikan lampu ruang tidur agar sang istri tidur dengan nyaman. Tidak terasa, kedua mata Viktor meminta untuk diistirahatkan. Ia mengambil bantal dari samping kepala Xandrova dan membawanya ke sofa panjang di mana dirinya akan tidur malam ini. ** Sebuah tangan yang entah siapa pemiliknya menggapai Viktor yang akan terjatuh ke jurang. Tidak main-main, tangan tersebut mencoba menariknya hingga Viktor selamat sampai ke atas dengan selamat. "Siapa Anda pria tua?" Viktor baru menyadari bahwa si empunya tangan adalah seorang pria tua dengan perkiraan usia sekitar 60 tahunーmungkin saja bisa lebih. Mata tua pria yang menolong Viktor berurai air mata saat menatap wajah Viktor. "Mengapa Anda menolong saya?" Viktor tahu bahwa pertanyaan pertamanya belum dijawab, tetapi ia tetap saja melemparkan pertanyaan lain kepada si pria tua. Viktor berharap si pria tua akan menjawab semua pertanyaan yang ia ajukan. "Siapapun Anda, saya mengucap banyak terima kasih, Tuan." Viktor menundukkan kepalanya. Namun saat ia kembali mendongakkan kepala, si pria tua sudah tergeletak dan tidak bernyawa. "Aargghhh! Tiーtidak!" Viktor berteriak seraya mengangkat tangan kanannya hendak meminta pertolongan. Namun, suara dering smartphone-nya mengagetkan pria itu. "Hah?! Jaーjadi, aku hanya bermimpi? Benar 'kah? Namun, mimpi itu terasa sangat nyata bagiku." Viktor terbangun dari tidurnya. Ia duduk di sofa panjang dan mendapatkan selimut membungkus seluruh tubuhnya. "Zoya?!" Seketika itu juga, Viktor beranjak dari sofa menuju ruang tidur untuk melihat istrinya. Ia membawa selimut tadi di tangannya. "Oh, tidak! Mengapa kau memakaikan selimut ini padaku, Zoya? Aku tidak akan mati membeku karena kedinginan." Viktor kembali menyelimuti sang istri dengan lembut. Ingin sekali aku mendaratkan bibir ini di pucuk kepalamu, Zoya. Namun, aku tidak memungkiri bahwa hanya dengan melihatmu ... hatiku merasa tenang. Viktor menatap wajah Xandrova yang sedang tertidur. Pria itu tidak mengerti akan perhatian yang diberikan oleh sang istri padanya. Karena yang ia tahu adalah sikap penolakan dari Xandrova. Viktor tidak kembali ke sofa yang berada di luar ruang tidur. Ia memilih untuk membuka jendela dan merokok di bawah sana. "Apakah aku harus menerima tawaran pekerjaan dari Kakek Gennadius? Sedangkan aku?" Whosh! Gumpalan asap rokok mengepul di udara. Viktor mengerutkan kening seraya berpikir keras mengenai apa yang dibicarakan oleh Gennadius 2 hari yang lalu sebelum ia pergi berlibur bersama Xandrova juga kedua mertuanya. "Baiklah, aku memutuskan untuk pergi bekerja di perusahaan keluarga Konstantin atas keinginan Kakek Gennadius." Usai yakin dengan keputusannya, Viktor pun kembali tidur di sofa yang berbeda. Ia kini tidur di sofa ruang tidur tepat berada di ujung ranjang seraya menahan suhu dingin yang ekstrim. Di sisi lain, Xandrova membuka kedua matanya. Ia mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Viktor tadi. "Apakah Papa telah mengetahui rencana Kakek? Bukan 'kah Papa tidak menyetujui campur tangan Viktor di perusahaan?" Xandrova duduk sambil memeluk lututnya yang bergetar. Entah apa yang ia rasakan hingga tubuhnya bergetar hebat. "VikーViktor ... aーaku ... aku membutuhkanmu." Xandrova mencoba memanggil nama suaminya. Ia berharap Viktor akan mendengar suaranya. "Viktor, aku ... kedinginan ...." Suara samar-samar Xandrova tetap tidak terdengar di telinga Viktor yang rupanya sudah tertidur pulas. Xandrova tidak ingin menyerah. Ia kembali memanggil nama sang suami sedikit lebih keras. "Viktor, aーaku ... aku merasakan cuaca semakin dingin ...." Wajah cantik Xandrova memerah. Ujung hidungnya pun memerah seperti buah tomat. Setelah menunggu beberapa saat tetap tidak ada pergerakan dari Viktor, Xandrova pun mencoba cara lain untuk membangunkan Viktor. Ia meraih tas kecil miliknya yang terdapat di atas nakas tepat di samping ranjang. "Semoga kali ini kau bangun, Viktor." Setelah mengucapkan harapan, Xandrova segera menjatuhkan tas tersebut. "Astaga! Suara apa itu?" Viktor bangun seraya terkejut mendengar suara benda jatuh. Ia menoleh ke belakangnya dan melihat Xandrova tersenyum puas menatapnya. "Mengapa kau bangun, Zoya?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD