Maksim membuka matanya lebar-lebar dan menatap serangkaian kalimat yang tertera di lembar kerja ke-2.
"Jika pihak ke-2 membatalkan kontrak kerja sama secara sepihak, maka pihak ke-2 harus membayar pinalti sebesar 10 kali lipat dari kerugian yang ditimbulkan."
Viktor mendengar Maksim membaca kalimat menohok yang membuat semua orang tercengang, termasuk Gennadius.
"Ya, benar."
Viktor membenarkan kalimat yang baru saja dibaca oleh Maksim. Sikapnya yang tenang senantiasa mengelabui lawan.
"Sesuai dengan apa yang tertulis di dokumen tersebut, maka Anda sebagai pihak ke-2 harus membayar pinalti jika di kemudian hari Anda memutuskan kontrak kerja sama dengan Konstantin Co."
Gennadius menepuk pundak kiri Viktor usai sang cucu menantu memberikan penjelasan kepada Maksim.
"Viktor, bukan 'kah kalimat tersebut tidak ada di dalam kesepakatan kita saat membuat dokumen penandatangan itu?"
Gennadius berbisik di telinga Viktor. Dirinya was-was karena tidak ingin kehilangan kesempatan dan kepercayaan dari perusahaan raksasa seperti RHC.
"Mungkin Anda lupa, Kakek."
Viktor berusaha menghindari kontak mata dengan Maksim juga Feliks. Karena ia tidak ingin kedua pria licik itu membaca ekspresi wajahnya.
"Saya akan menjelaskannya kepada Anda nanti, Kakek. Sekarang, mari fokus menyelesaikan dokumen ini!"
Gennadius hanya bisa mengangguk menuruti kemauan Viktor. Di balik semua itu, Gennadius ingin tahu kemampuan Viktor dalam menangani beberapa kontrak kerja.
"Bagaimana, Tuan Maksim? Apakah Anda sudah paham?"
Viktor kembali mencermati gerak-gerik Maksim.
"Ya."
Viktor melihat Maksim mengangguk. Kemudian, pria itu membalikkan lembar berikutnya.
Apa yang sedang dibisikkan oleh Feliks di telinga Maksim?
Viktor bertanya pada dirinya sendiri. Ia berdeham.
"Hmm ...."
Andriy mendekati Viktor, lalu berbisik seperti apa yang dilakukan oleh Feliks dan Maksim.
"Tuan Viktor, apakah Anda merevisi dokumen itu?"
"Saya hanya bermain trik saja."
Viktor membalas dengan senyuman.
"Silakan buka lembar ke-5 dan silakan bubuhkan lagi tanda tangan Anda di bagian bawah sebelah kanan, Tuan Maksim!"
Viktor mempercepat proses penandatangan. Ia hampir berhasil membuat Maksim menyepakati kontrak tersebut tanpa banyak bicara.
"Kakek, Anda juga harus menandatanganinya."
Viktor memperingatkan sang tuan besar keluarga Konstantin.
"Ya, Viktor."
Gennadius segera membubuhkan tanda tangannya di lembar ke-5.
"Andriy, ambilah beberapa foto saat kedua Tuan penting ini sedang membubuhkan tanda tangan!"
"Baik, Tuan."
Andriy segera berdiri, lalu mengarahkan pablet kepada Gennadius dan Maksim yang sedang memandangi dokumen tersebut. Diam-diam Viktor mengembangkan senyum tanpa diketahui siapapun.
"Baiklah. Sekarang, mari buka lembar ke-6, di mana lembar ke-6 adalah bagian akhir dari dokumen di tangan Anda."
Baik Gennadius maupun Maksim, keduanya sama-sama membuka lembar terakhir dan membacanya dengan seksama.
"Silakan bubuhkan tanda tangan terakhir di bagian bawah yang telah tersedia!"
Viktor melirik Feliks yang lagi-lagi membisikkan sesuatu di telinga Maksim.
"Yuri, tolong bantu Kakek!"
Viktor meminta Yuri untuk membantu Gennadius. Karena bagian terakhir ini sangat penting.
"Mohon diperhatikan, Kakek dan Tuan Maksim! Di lembar terakhir ini, tertera identitas diri perwakilan kedua perusahaan. Maka, saya berharap, baik Kakek maupun Tuan Maksim lebih teliti lagi membacanya!"
Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Viktor, Maksim segera memeriksa identitasnya. Viktor melihat Maksim mengepalkan tangan kirinya saat membaca lembar terakhir tersebut.
"Baiklah, silakan tanda tangan!"
Maksim menandatangani lembar terakhir dengan cepat. Bukan karena antusias, tetapi karena pria itu sangat muak berlama-lama dengan Viktor.
"Oke. Berikan saya salinannya!"
Maksim berseru dengan nada tidak suka.
"Saya tidak yakin dengan dokumen yang Anda tanda tangani barusan, Tuan Maksim. Saya tidak ingin ada yang terlewatkan. Maka, biarkan saya memeriksanya sebentar!"
Feliks memberikan dokumen yang telah ditandatangani oleh tuannya kepada Viktor.
"Silakan, Tuan Viktor."
Viktor meraih dokumen tersebut, lalu memeriksanya.
Hmm, apakah tanda tangan Maksim telah sesuai?
Viktor bertanya di dalam benaknya seraya memeriksa satu persatu tanda tangan Maksim yang tertera di lembar pertama, lembar ke-5 dan lembar ke-6.
"Well, semua tanda tangan Tuan Maksim telah sesuai."
Viktor memalingkan wajahnya kepada Yuri.
"Yuri, bagaimana dengan milik Kakek? Apakah telah sesuai?"
Yuri mengangguk ke arah Viktor.
"Semua telah sesuai, Tuan Viktor."
Viktor lega mendengarnya.
"Jika begitu, sekarang silakan bertukar dokumen!"
Kemudian, Viktor menyerahkan dokumen di tangannya kepada Gennadius.
"Silakan Kakek tanda tangani dokumen ini! Begitu juga dengan Tuan Maksim."
Yuri memberikan dokumen dari tangan Gennadius kepada Viktor.
"Silakan, Tuan Maksim."
Tidak lebih dari 10 menit, akhirnya Gennadius dan Maksim selesai menandatangani dokumen tersebut. Viktor memeriksanya satu kali lagi.
"Semua sudah lengkap. Saya akan memberikan salinannya untuk Anda, Tuan Maksim."
Andriy membantu Viktor menyiapkan salinan kontrak kerja sama untuk Maksim.
"Silakan, Tuan Maksim."
Viktor memberikan salinan dokumen seraya mengajak Maksim berjabat tangan. Maksim yang enggan bersentuhan dengan Viktor terpaksa menyambut tangan Viktor.
"Senang sekali bisa bekerja sama dengan perusahaan raksasa RHC."
Viktor berkata diiringi dengan senyum lebar.
"Terima kasih, Tuan Maksim."
Gennadius pun melakukan hal yang sama seperti Viktor. Pria tua itu berjabat tangan dengan Maksim.
"Sebelum kita mengakhirinya, mari berfoto bersama!"
Gennadius tiba-tiba saja menyerukan idenya. Viktor tidak ingin berfoto bersama Maksim, begitu pula sebaliknya.
"Saya akan membantu mengambil beberapa foto Anda dengan Tuan Maksim, Kek."
Viktor menawarkan diri guna menghindari ajakan Gennadius untuk berfoto bersama Maksim.
"Oh, tidak, Viktor. Kau akan berfoto bersama kami."
Shit! Bagaimana aku bisa menghindarinya?
Viktor mengeluh di dalam hati. Mungkin saja lain kali ia perlu jurus menghilang seperti di kebanyakan film animasi yang ditontonnya bersama Xandrova.
**
Selepas kepergian Maksim, Viktor masih bersama Gennadius dan kedua asisten mereka di restoran Grand Hotel Art Accent. Gennadius sungguh penasaran dengan kalimat mencengangkan yang berhasil membuat Maksim menandatangani kontrak perjanjian tersebut.
"Viktor, katakan sejujurnya kepada Kakek! Bagaimana dan kapan kau merevisi dokumen kontrak kerja tersebut?"
Viktor meletakkan pablet milik Andriy di atas meja.
"Saya mengubahnya pagi tadi, Kakek."
Viktor menjawabnya dengan jujur.
"Lalu, mengapa kau melakukannya? Tidak 'kah kau berpikir kerugian yang akan dialami oleh kita jika Maksim enggan menandatanganinya, Viktor?"
Gennadius menatap Viktor dengan sungguh-sungguh.
"Kakek, tolong percaya pada saya!"
Viktor memegang tangan kanan Gennadius guna meyakinkan pria tua tersebut.
"Untung rugi adalah hal biasa di dunia bisnis. Sebagai pebisnis handal, kita harus siap jika suatu saat berada di titik terendah."
Viktor mencoba menjelaskan terperinci kepada Gennadius mengenai tujuan mengapa ia melakukan hal seperti tadi.
"Itulah mengapa, saya menambahkan satu poin penting yaitu poin pinalti yang akan dibayarkan sebagai bentuk denda bagi mereka yang tidak memenuhi peraturan perundangan yang telah tertera di dokumen kerja sama tersebut, Kakek."
Semua orang mendengar penuturan Viktor. Namun, tidak ada yang memberikan tanggapan.
"Tujuan saya melakukan hal itu adalah untuk investasi agar perusahaan Konstantin Co tidak mengalami kerugian besar di masa depan."
Viktor memberikan alasan kepada Gennadius mengapa ia mengubah surat perjanjian tersebut.
"Dan Untuk ke depannya, saya akan menerapkan hal serupa, Kakek."