Bersamaan dengan itu, Maksim datang dengan wajah tampannya tegang. Ia mendengar sedikit pembicaraan Viktor dengan Gennadius.
"Permisi, Tuan-tuan. Kami mengantarkan pesanan untuk meja nomor 7."
Dua pelayan datang menyapa Viktor dan yang lainnya. Mereka membawa pesanan makan siang dan menatanya dengan rapi di atas meja.
"Silakan dinikmati!"
"Silakan dinikmati!"
Usai membungkukkan badan, kedua pelayan tadi pun pergi.
Viktor menatap banyaknya menu makanan yang tersaji di atas meja.
"Silakan dinikmati, Tuan Maksim!"
Gennadius berusaha meluluhkan hati Maksim. Ia tidak ingin Maksim sakit hati, lalu membatalkan kontrak kerja sama antara perusahaan keluarga Romanov dan perusahaan keluarga Konstantin.
"Tidak perlu terlalu formal seperti itu, Tuan Gennadius. Karena biar bagaimanapun juga, saya adalah mantan Tunangan Cucu Anda."
Viktor melihat Maksim memaksakan senyum di bibirnya. Namun, Viktor senang sekali melihat bersikap hormat kepada Gennadius.
"Apa yang ingin Kakek makan? Pria ini siap melayani Anda."
Dan ya, Viktor menawarkan diri seperti biasanya.
"Tuan Maksim, Anda harus mencoba menu klasik Rusia. Seperti kholodet atau jeli kaki babi, dan kubis dengan apel dan cranberry."
Viktor menunjuk dua menu andalan restoran Grand Hotel Art Accent yang diminati banyak pengunjung.
"Namun selain dua menu tadi, masih ada tiga menu klasik Rusia lainnya yang pastinya akan menggugah selera makan Anda. Yaitu kentang goreng dengan jamur porcini, dan sturgeon halus. Silakan tentukan pilihan Anda, Tuan!"
Viktor pun tidak ingin kalah dari Maksim. Ia membeberkan pengetahuannya tentang beberapa menu klasik Rusia yang dimiliki restoran Grand Hotel Art Accent.
"Oh, ternyata Anda mengetahui nama-nama menu makanan klasik khas Rusia, Tuan Viktor! Saya sangat mengaguminya."
Viktor memergoki Feliks sedang memandangi tuannya dengan tatapan penuh kecurigaan. Sedangkan Andriy mendekatkan dirinya kepada Viktor.
"Berhati-hatilah, Tuan! Karena mungkin saja kalimat Tuan Maksim barusan merupakan jebakan."
Viktor menganggukkan kepala usai Andriy berkata demikian.
"Tentu saja, Tuan Maksim. Saya beberapa kali mengunjungi tempat ini bersama Istri saya sekadar untuk menikmati akhir pekan."
Jantung Gennadius hampir terlepas dari rongganya ketika mendengar penuturan Viktor barusan. Ia dengan cepat mengambil alih percakapan.
"Mari makan sebelum hidangan menjadi dingin! Ha ha ha!"
Rasa canggung sekali karena Kakek berusaha mengalihkan pembicaraan. Padahal masih banyak lagi yang ingin aku pamerkan kepada Maksim.
Viktor menyesali perbuatan Gennadius di dalam hatinya. Ia meraih sup ikan lezat yang berada tidak jauh di depannya. Sedangkan Maksim memilih untuk makan kholodet atau jeli kaki babi.
Untuk beberapa saat lamanya, suasana kembali hening. Hanya suara alat makan yang terdengar di meja nomor 7. Viktor mencoba untuk mencairkan suasana. Ia melihat Gennadius dan Maksim telah selesai menghabiskan makanan mereka.
"Sepertinya kue-kue Siberia buatan tangan dengan daging sapi, domba atau jamur ini sangat lezat, Kek. Mau 'kah Anda dan Tuan Maksim mencobanya?"
Dan sekali lagi, Viktor melihat ekspresi wajah Maksim menegang dan memerah sangat terlihat jelas.
"Ya. Saya menyukai kue Siberia dengan isi daging domba. Bagaimana dengan Anda, Tuan Viktor?"
Maksim bertanya kembali kepada Viktor sambil meraih satu potong kue tersebut, lalu memakannya.
"Saya tidak terlalu menyukainya. Namun, saya sangat menyukai vodka yang terbuat dari blackcurrant, cranberry, stroberi atau bit dengan penambahan berbagai rempah-rempah dan herbal. Tentu saja menjadikan minuman ini sebagai minuman yang sehat."
Viktor meneguk minuman di depannya dengan rakus. Ia mengusap lembut bibirnya dengan napkin yang tersedia.
"Benar. Saya juga menyukainya."
Maksim berbicara dengan sinis. Sedangkan Gennadius hanya bisa mencermati setiap tindakan kedua pria muda yang sedang bersamanya.
"Jaーjadi, bagaimana dengan kontrak kerja sama kita, Tuan Maksim?"
Viktor memberanikan diri untuk menanyakan perihal kerja sama dengan RHC. Gennadius tidak dapat bernapas lega sebelum Maksim menyetujuinya.
"Berikan saya dokumen penandatanganannya!"
Maksim berseru dengan ketus. Ia mengangkat gelasnya yang berisi Vodka, lalu menenggaknya hingga tidak tersisa.
"Andriy, berikan Tuan Maksim dokumen yang saya maksudkan!"
"Baik, Tuan Viktor."
Andriy dengan cekatan memberikan dokumen kepada Maksim.
"Silakan dibaca-baca terlebih dahulu, Tuan Maksim!"
"Tentu saja."
Feliks menerima dokumen tersebut, lalu memberikannya kepada Maksim. Sedangkan Yuri memanggil seorang pelayan untuk membereskan meja.
"Bisa 'kah kita mulai sekarang, Tuan Maksim?"
Viktor memulai percakapan. Ia menatap Maksim juga menatap Gennadius bergantian. Keduanya sama-sama sedang membaca isi perjanjian kontrak kerja sama antara Konstantin Co dengan RHC milik keluarga Romanov yang berbasis di Moskow, Rusia.
"Silakan!"
Lagi, Maksim menjawab dengan ketus. Namun, Viktor tidak mengindahkannya.
"Oke. Kita akan mulai saja."
Andriy dan Yuri menatap Viktor yang sedang membimbing Maksim dan Gennadius dalam menandatangani dokumen perjanjian kerja sama.
"Di tangan Tuan Maksim dan Kakek Gennadius terdapat dokumen yang sama dengan rangkap dua. Karena salinannya nanti akan dibawa oleh pihak RHC atau Tuan Maksim sebagai bukti."
Viktor berkata dengan tegas dan lugas dibarengi dengan tatapan mata elang miliknya.
"Di lembar pertama, terdapat ketentuan pihak pertama dan pihak ke dua. Di mana terdapat data-data yang telah disetujui oleh kedua belah pihak. Silakan dibaca terlebih dahulu!"
Viktor menjeda kalimatnya sejenak selama kedua pria yang bersama dengannya sibuk membaca isi kontrak.
Semoga saja kontrak kerja sama ini membuahkan hasil yang baik untuk ke depannya.
Viktor mengutarakan harapannya di dalam hati. Ia bahkan sangat berharap bahwa Maksim tidak akan protes kepadanya.
"Silakan bubuhkan tanda tangan kedua belah pihak sesuai dengan kartu identitas Anda!"
Viktor kembali berbicara. Kali ini, ia memperhatikan gerak-gerik Maksim yang penuh kecurigaan.
Ada apa dengan Maksim? Bukan 'kah dia telah menyetujui penandatanganan kontrak ini? tanya Viktor di dalam hati geram.
Lalu, mengapa dia belum juga membubuhkan tanda tangannya? lanjut Viktor di dalam hati.
"Apakah ada yang ingin Anda tanyakan, Tuan Maksim?"
Viktor menegur Maksim yang terlihat ragu. Ia sama sekali tidak ingin perjuangannya gagal.
"Oh, tidak apa-apa."
Maksim segera merespon pertanyaan Viktor.
"Andriy, sediakan pena untuk Tuan Maksim!"
Viktor dengan sengaja memberikan perintah kepada sang asisten. Padahal ia tahu bahwa Maksim sudah memegang pena di tangannya.
"Tidak! Itu tidak perlu karena Tuan Maksim memiliki pena sendiri."
Feliks segera menolak pemberian Viktor dengan sopan. Ya, ia tahu bahwa Maksim tidak menyukai Viktor dan segala tentang pria itu.
"Baiklah, tidak apa-apa. Kalau begitu silakan bubuhkan tanda tangan Anda di lembar pertama!"
Viktor menatap Gennadius yang sedang cemas. Ia menghela napas dan tersenyum kepada Gennadius. Viktor juga melihat Gennadius telah membubuhkan tanda tangannya di lembar pertama.
"Oh, oke."
Maksim akhirnya menandatangani lembar pertama pada dokumen tersebut. Viktor lega melihatnya.
"Well, silakan buka dan pahami isi dari kontrak di lembar ke-2 ini, Tuan Maksim!"
Maksim melakukan apapun yang diminta oleh Viktor. Kedua matanya terbelalak ketika membaca satu kalimat yang mencengangkan.
"Aーapa maksud dari kalimat ini, Tuan Viktor?!"