The Threat

1030 Words
Suara Gennadius memecahkan lamunan Viktor. Viktor pun gugup. Bukan gugup karena tidak tahu atau tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Gennadius. Namun, karena benak Viktor sedang mengingat sesuatu. Ya, benar! Mengingat potongan masa lalu yang tertinggal di benaknya. "Benar, Tuan Viktor." Maksim ikut bicara. Ia melirik Gennadius sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya. Sedangkan Viktor hanya terdiam dengan wajah yang mulai memucat. "Selain pertunjukan musik, Anda bisa membaca buku atau majalah berbahasa Rusia juga bahasa asing yang tersedia di rak buku sebelah kanan, tepat di belakang Anda. Grand Hotel Art Accent benar-benar membuat pengunjung merasa nyaman." Maksim menunjuk rak buku yang berada di belakang Viktor. Namun, Viktor tidak merespon sama sekali. Ia justru sibuk bermain dengan pikiran-pikirannya. Sepertinya aku harus pergi ke toilet sekarang juga, batin Viktor seraya menatap Gennadius. Ia merasakan kepalanya cenat cenut. "Kakek dan Tuan Maksim, saya pamit ke toilet sebentar." Viktor berdiri, lalu membungkukkan badan di hadapan Gennadius. Namun sebelum pergi, Viktor sempat melirik perubahan pada ekspresi wajah Maksim sebentar. "Eh, Viktor?! Tuan Maksim baru saja berbicara denganmu! Mengapa kau pergi begitu saja?!" Merasa tidak enak hati dengan Maksim, Gennadius mencoba menghentikan langkah Viktor. Namun, Maksim mengangguk dan tersenyum ke arah Gennadius. "Tidak masalah, Tuan Gennadius." Viktor muak mendengar kata-kata Maksim. Ia mempercepat langkahnya menuju toilet. "Sepertinya Maksim tersinggung dengan sikapku karena aku tidak merespon ucapannya tadi. Namun, apa boleh buat? Aku harus menenangkan diriku sekarang juga!" Viktor mengusap peluh yang membasahi dahinya dengan sapu tangan yang selalu ada di saku jas. Akhirnya, ia sampai di toilet. Pria itu beruntung sekali karena saat ini toilet tidak ramai. Brak! Viktor menutup salah satu pintu kamar mandi. Ia juga menutup kloset, lalu duduk di atasnya. "Astaga! Mengapa kepalaku mendadak sakit seperti ini?! Dan, mengapa ingatan-ingatan yang samar itu selalu datang setiap kali aku mendengar denting piano yang bahkan aku sendiri tidak tahu musik apa itu!" Viktor mengaduh seraya memijit pelipisnya. Ia berulang kali mengusap peluh yang seakan tidak ingin berhenti keluar dari pori-pori kulitnya. "Aaarghhh!" Viktor memekik tertahan seraya berpikir keras. "Di mana?! Di mana aku mendengar denting piano seperti tadi?! Aku merasa pernah mendengarnya, tetapi entah di mana!" Otak Viktor mulai bekerja keras mengingat memori yang telah lalu. Pada akhirnya, Viktor mengacak-acak rambut dengan deru napas yang memburu. "s**t!" Viktor memekik kecil. Wajahnya memerah dengan rahang menegang karena menahan rasa sakit di kepalanya yang tak kunjung usai. Tok! Tok! Tok! Seketika itu juga, seseorang mengetuk pintu kamar mandi di mana Viktor berada di dalamnya. Viktor terkejut. "Siapa yang menggedor-gedor pintu?!" Baru saja Viktor ingin menenangkan diri, tetapi sepertinya ada sedikit masalah. "Viktor, keluarlah! Saya tahu kau di dalam sana!" Terdengar suara seorang pria memanggil nama Viktor dengan berteriak. "Maksim?! Mau apa dia menyusulku ke toilet?!" Rupanya Viktor mengenali suara itu. Tok! Tok! Tok! Maksim menggedor-gedor pintu kamar mandi untuk kali ke dua. "Jika kau tidak ke luar juga, maka jangan salahkan saya jika berbuat sedikit kasar padamu!" Dengan sedikit mengancam, Maksim berteriak meminta Viktor untuk segera membuka pintu dan keluar menemuinya. Akhirnya, Viktor pun membuka pintu dengan ragu dan melangkah ke luar dengan perasaan was-was. Wajahnya yang memucat terlihat jelas di mata Maksim dan membuatnya terheran-heran. "TuーTuan Maksim?! Mengapa Anda menyusul saya ke sini?!" Apakah dia mengkhawatirkan aku karena wajahku yang memucat saat mendengar denting piano tadi? Jika ya, Maksim sungguh baik padaku karena telah mengkhawatirkan aku. Viktor berkata-kata di dalam hati seraya berpikir. Ia menebak-nebak jalan pikiran Maksim. "Jangan terlalu percaya diri, Viktor! Saya tidak sedikit pun mengasihani seseorang seperti mu!" Maksim meraih jas Viktor dengan kedua tangan, lalu mencengkeramnya. "Lalu?!" Masih dengan wajah memucat dan peluh yang bercucuran, Viktor mencoba bertahan dan mencoba menguasai dirinya. "Viktor, ingatlah untuk tidak macam-macam dengan saya! Karena nasib keluarga Konstantin berada di tangan saya! Kau tahu itu, 'kan?!" Viktor geram karena Maksim telah berani mengancamnya. Namun, ia berpura-pura tidak mengerti. "Aーapa maksud Anda, Tuan Maksim?! Bukan 'kah pertemuan kita siang ini untuk membahas masalah kontrak kerja sama?!" Viktor melihat Maksim menyeringai. Shit! Seandainya aku tidak terserang panik dan sakit kepala seperti ini, mungkin saja aku sudah melawannya. Namun, aku teringat nasehat Kakek untuk selalu bersikap sopan terhadap Maksim. Viktor mengingat kembali apa yang dikatakan oleh Gennadius kepadanya saat mereka akan memasuki restoran tadi. "Saya akan menjamin kehidupan keluarga Konstantin jika kau bersedia menceraikan Zoya. Bagaimana? Kau bisa pegang kata-kata saya barusan karena Tuan Muda keluarga Romanov tidak pernah mengingkari janjinya!" Kali ini, dua pasang mata pria tampan itu saling melemparkan tatapan tajam satu sama lain. Tersirat jelas di kedua mata Maksim bahwa pria itu menyimpan dendam juga kebencian ketika menatap Viktor. Namun, tidak sebaliknya. "Tuan Muda Maksim, bagaimana perasaan Anda saat mengetahui Tuan Vladimir tidak mengakui status Anda?!" Maksim membelalakkan matanya. Ia terkejut sekali dengan pertanyaan yang menyudutkan harga dirinya. Maksim pasti sedang menebak-nebak dari mana aku mengetahui semua itu! Zoya bahkan tidak memberitahu ku tentang status Maksim di keluarga Romanov! Viktor berseru seorang diri. Ia membalas tatapan Maksim tanpa ragu dan gentar sedikitpun. "Tutup mulutmu, Viktor! Kau tidak berhak berkata seperti itu kepada saya!" Brak! Suara pintu yang terbuka mengagetkan Maksim. Moment itu dimanfaatkan Viktor untuk melepaskan dirinya dari cengkeraman Maksim. Seorang pria yang baru saja masuk menatap Viktor dan Maksim dengan curiga. "Oh, mengapa tidak, Tuan Maksim? Di Rusia, semua warga negara bebas berpendapat." Viktor berkata sambil mendorong Maksim. Ia merapikan jas seraya berjalan menuju wastafel untuk merapikan rambutnya. Setelah merasa cukup, Viktor kembali menatap Maksim yang masih berdiri di tempatnya dari pantulan cermin. "Saya tidak pernah menyangka akan status Anda di keluarga Romanov, Tuan Maksim! Apakah Zoya mengetahuinya?! Saya rasa tidak. Karena Zoya tidak pernah menceritakannya kepada saya." Viktor membuka pintu toilet usai menyampaikan beberapa kalimat kepada Maksim. Ia tidak lantas keluar dari sana, melainkan menoleh ke arah pria angkuh yang mengancamnya tadi. "Saya dan Kakek menunggu Anda, Tuan Maksim." Viktor keluar dan berjalan tanpa menghiraukan ekspresi wajah Maksim. Ia tahu bahwa kini Maksim telah terjerat emosi. Namun, Viktor tidak mengindahkannya. "Halo, Kakek." Viktor kembali ke kursinya. Ia menatap Gennadius sedang memancarkan raut wajah cemas. "Viktor, mengapa kau tadi pergi begitu saja saat Tuan Maksim sedang berbicara denganmu?" Gennadius masih saja membahas masalah tadi. "Maaf, Kek. Tiba-tiba saja perut saya sakit dan saya harus pergi ke toilet secepatnya. Saya pikir, Tuan Maksim pasti mengerti."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD