My Lord

1048 Words
Entah Zoya percaya atau tidak dengan jawaban yang kuberikan. Jika kulihat dari pandangan matanya, sepertinya dia tidak mempercayaiku. Viktor menebak-nebak jalan pikiran sang istri. Ia ingin sekali memperoleh kepercayaan penuh dari Xandrova, tetapi sukar baginya untuk meyakinkan hati sang istri. "Hmm? Begitu, 'kah?" Xandrova mengubah posisi duduknya dengan menggeser kursi. "Viktor, bagaimana hari pertama mu bekerja di perusahaan Konstantin Co?" Viktor tersenyum ketika Xandrova menatapnya dari jarak yang sangat dekat. "Aku sangat menyukainya, Zoya." Terlihat jelas aura kebahagiaan dari wajah Viktor. "Aku selama ini memimpikan untuk bisa bekerja di sebuah perusahaan besar. Gedung pencakar langit yang menakjubkan, ruang kantor yang luas dan mewah, rekan kerja yang profesional dan segala hal lainnya yang menakjubkan!" Viktor sangat antusias ketika bercerita tentang tempat kerjanya. "Aku tidak pernah menyangka Konstantin Co memiliki desain neoklasik Stalin yang sangat indah, Zoya!" Xandrova tersenyum lebar. "Viktor, boleh 'kah aku pergi ke kantor bersamamu dan Kakek?" Deg! Deg! Deg! Jantung Viktor nyaris berhenti berdetak saat Xandrova melemparkan kalimat pertanyaan barusan. "Viktor?" Senyum Xandrova menghilang. Ia memanggil nama sang suami dengan nada sedikit manja. "Iーiya?" Bukan 'kah besok adalah hari di mana aku harus melakukan sesi interview dengan kedua kandidat wanita yang akan ku pekerjaan sebagai bodyguard Zoya? Lalu, aku harus bagaimana sekarang? Viktor tenggelam dengan pikirannya. Ia bingung sekaligus tidak sampai hati menolak keinginan sang istri. "Viktor, apakah aku mengganggu pekerjaan mu?" Viktor memutar kedua bola matanya mencari-cari jawaban tepat untuk Xandrova hingga akhirnya ia mengiyakan dengan terpaksa. "Oーoke. Kau bisa pergi bersamaku, Zoya." Detik itu juga, Xandrova mengukirkan senyum di bibirnya. "Terima kasih, Viktor. Aku berjanji tidak akan mengganggumu bekerja." "Jika kau telah mengucapkan janji, maka sebaiknya tepatilah, Xandrova Zoya Konstantina!" Sepasang suami itu pun terkekeh bersama. Namun, suara teriakan Galana mengakhiri kebahagiaan mereka berdua. "Viktor!" Dua pasang bola mata berwarna biru pun saling menatap satu sama lain. "Oh, astaga! Aku telah melupakan sesuatu, Zoya!" Xandrova mengerjap. "Sebaiknya, kau ke kamar sekarang! Aku akan melayani Mama terlebih dahulu, oke!" Viktor berdiri, lalu membantu Xandrova untuk berdiri di sampingnya. "Pergilah, Viktor! Aku akan kembali ke kamar bersama Roxana." Xandrova menatap wanita berusia awal 40 tahun yang telah menjaga Xandrova hingga usia sekarang ini. "Baiklah, Roxana. Tolong temani Zoya hingga saya kembali!" Wanita bernama Roxana menganggukkan kepala. "Tentu saja, Tuan Viktor." Viktor berlari menuju ruang keluarga. Ia melihat jam dinding di ruang keluarga menunjukkan pukul 08.30 malam waktu St Petersburg, Rusia. "Ada apa, Ma?" Viktor melihat Davidoff sedang memijit kedua bahu Galana dengan raut wajah tidak suka. "Kau bertanya ada apa?! Yang benar saja, Viktor!" Galana mendelikan kedua mata, lalu mengarahkannya kepada Viktor. "Saya bertanya karena sekarang belum saatnya Mama mencuci kaki. Lalu, apakah ada hal lain yang Mama inginkan?" Saat itu juga, Galana mengarahkan kedua matanya ke jam dinding yang berada di sana. "Pergilah dan jangan lupa untuk kembali lagi!" Galana meminta sang menantu untuk pergi dari hadapannya. Oh, tidak! Sepertinya lebih pantas dikatakan dengan mengusir. "Baik, Ma." Viktor pun melangkahkan kakinya menuju dapur. Ia memasak air untuk mencuci kaki Galana tepat jam 9 malam nanti. "Sebagian temanku bertanya, bagaimana hidup sebagai seorang menantu di keluarga ini? Jika saja mereka tahu nasibku yang tidak juga membaik, apakah mereka akan mempermalukan aku?" Viktor bertanya sambil berjalan. Ia meraih kettle, lalu mengisinya dengan air hingga penuh. "Sambil menunggu air siap, aku akan membuatkan Zoya s**u hangat sebelum tidur." Viktor meraih gelas untuk membuatkan Xandrova s**u hangat. Kemudian, ia mengantarkannya sendiri ke ruang tidur mereka. ** Viktor telah sampai di depan pintu ruang tidur dirinya dan Xandrova yang sedikit terbuka. Senyum Viktor pun tiba-tiba menghilang ketika ia mencuri dengar pembicaraan antara Xandrova dan Roxana. "Nona Zoya, dengarkanlah perkataan saya! Anda akan bahagia jika kembali bersama Tuan Maksim." Viktor mendengar dengan jelas bagaimana Roxana berusaha menghasut Xandrova. "Anda merasakannya sendiri, bukan? Seorang Suami yang menumpang hidup di keluarga sang Istri, maka bisa dipastikan kondisi finansial-nya bermasalah. Karena seharusnya seorang Suami bisa menjadi tumpuan untuk Istrinya." Viktor melihat Xandrova terdiam. Viktor menghela napas. Akhirnya, Tuhan membukakan kedua mataku dan memberikan jawaban atas pertanyaan ku tentang Roxana selama ini. Ya, seperti yang dikatakan oleh Andriy bahwa wanita itu tidak menyukaiku sama sekali. Viktor berkata dalam hatinya. Namun, sesuatu yang menarik pun terjadi di depan kedua matanya. "Maaf, Roxana. Kau salah!" Xandrova menepis tangan Roxana dari kedua bahunya. Ia berjalan menuju ranjang, lalu duduk di sana. "Saya bisa selamat dari kematian berkat darah Viktor yang mengalir di tubuh saya, Roxana. Kau tahu itu, bukan? Golongan darah yang saya miliki sangat sukar ditemukan." Baru saja Xandrova berhenti bicara, Roxana menyela sambil mendekatinya. "Tapi, Nona ... perkara itu telah selesai. Dan, Anda bisa meminta Tuan Viktor untuk menceraikan Anda." "Cukup, Roxana!" Xandrova berteriak seraya berdiri. Ia menatap Roxana lekat-lekat. "Kau memang pengasuhku hingga kini, tetapi bukan berarti kau memiliki hak untuk mengaturku. Dan, silakan kembali ke kamar mu sekarang!" Seketika itu juga, Viktor mengambil alih situasi. "Zoya? Apakah kau sudah tidur?" Viktor membuka lebar pintu ruang tidur. Ia tersenyum ketika melihat Xandrova salah tingkah. Begitu juga dengan Roxana. Keduanya pun gugup melihat kedatangan Viktor yang tidak terduga. "Zoya, aku membuatkan mu s**u hangat. Minumlah sebelum tidur! Aku akan kembali ke dapur sekarang." Viktor memberikan segelas s**u hangat di tangannya kepada Xandrova. "Kau bisa kembali ke kamarmu sekarang, Roxana. Terima kasih telah menjaga Istri saya." Dengan sangat terpaksa, Roxana membungkukkan badannya di hadapan sepasang suami istri tersebut. "Saya permisi, Tuan Viktor dan Nona Zoya." Roxana pergi dengan langkah berat. Sedangkan Viktor menunggu Xandrova menghabiskan s**u buatannya. "Viktor, kau kembali saja ke dapur! Karena aku tidak bisa menghabiskan s**u dalam satu waktu." Viktor tersenyum saat menatap Xandrova. Ia membelai lembut rambut hitam kecoklatan istrinya. "Aku tidak akan menceraikan mu dalam keadaan miskin ataupun kaya, Zoya. Ingatlah hal itu!" Viktor melihat kedua mata Xandrova berkaca-kaca. "Habiskan susumu! Aku akan kembali ke dapur sekarang." Viktor berbalik, lalu melangkah pergi. Xandrova tidak mampu berkata-kata karena terlalu meresapi kalimat yang keluar dari mulut Viktor barusan. ** Viktor tiba di dapur dan melihat Yeva berdiri di sana dengan wadah biru yang telah terisi air hangat. "Tuan Viktor, silakan air Anda." Pria itu memberikan air di tangannya kepada Viktor. "Terima kasih, Yeva. Namun, Anda tidak perlu melakukannya di lain waktu." Sebenarnya, Viktor sangat terharu karena ternyata masih ada yang peduli padanya di mansion ini. "Anda tidak perlu sungkan, Tuan Viktor. Karena Anda akan menjadi Tuan saya suatu hari nanti."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD