"Apakah Kakek bergurau?"
Viktor tertawa sambil menatap lukisan yang berhasil mengalihkan perhatiannya.
"Bergurau? Saya tidak bergurau, Viktor. Daya tahan tubuh seorang pria, tentunya lebih kuat jika dibandingkan dengan wanita. Pikirkanlah baik-baik hal tersebut!"
Kali ini, Viktor menatap Gennadius sungguh-sungguh.
"Kakek, saya tidak bisa membayangkan Zoya akan bersama pria yang menjaganya sepanjang hari. Dan, tidak menutup kemungkinan bahwa akan ada benih-benih cinta yang hadir di antara mereka."
Bukannya aku mementingkan keegoisan ku sendiri. Namun, aku harus sedia payung sebelum hujan, Kakek. Tidak 'kah Kakek mengerti hal itu?
Viktor membatin. Ia mengutarakan isi hatinya tanpa membiarkan seorang pun tahu.
"Ha ha ha!"
Gennadius menertawakan Viktor.
"Ternyata kau adalah seorang pria pencemburu, Viktor."
Viktor terdiam. Jauh di dalam hatinya, ia membenarkan perkataan Gennadius barusan.
"Kau adalah Suami Zoya. Kau memiliki kuasa penuh atas hidup Istrimu, Viktor. Maka, putuskan yang terbaik untuk Cucu saya!"
"Tapi, Kakek. Saya tidak ingin siapapun tahu tentang hal ini, termasuk Papa David dan Mama Galana."
Gennadius menganggukkan kepala.
"Saya paham maksudmu, Viktor. Kau tenang saja!"
Gennadius berdiri dan berdiri di samping Viktor. Pria tua itu juga menepuk pelan bahu kanan Viktor.
"Saya suka jalan pikiran mu, Viktor. Pertahankan!"
Aku sudah mencoba memancing Kakek agar Beliau berbicara mengenai hal yang kudengar tadi. Namun, Mengapa Kakek tidak juga membuka mulutnya dan berkata terus terang padaku?
Viktor kembali berbicara dengan dirinya sendiri.
"Baiklah, Viktor. Mari kita kembali mansion! Karena sekarang sudah saatnya jam pulang kantor."
Gennadius berjalan lebih dulu menuju pintu ruang kerjanya, lalu disusul oleh Viktor.
**
20 menit setelah Viktor dan Gennadius tiba di mansion mewah keluarga Konstantin, mereka pun makan malam bersama pukul 7 malam waktu St Petersburg, Rusia. Tidak ada yang bersuara, selain suara alat makan yang saling bersahutan.
"Viktor, tuangkan saya air!"
Davidoff menyodorkan gelasnya yang telah kosong kepada Viktor.
"Ya, Pa."
Viktor berdiri, lalu meraih water jug. Melihat hal demikian, Gennadius menegur Davidoff yang berusaha membuat kegaduhan.
"David, mengapa kau meminta Viktor melakukannya? Padahal di sampingmu ada Galana yang siap melayani."
Viktor tetap melakukan apapun yang diperintahkan oleh Davidoff kepadanya.
"Karena hanya dia yang posisinya paling dekat dengan water jug."
Semua mata memandang posisi Viktor. Benar saja apa yang dikatakan oleh Davidoff dan tentu saja semua orang tidak dapat menyangkalnya. Gennadius pun terdiam.
Davidoff meminum air yang baru saja dituangkan oleh Viktor. Sedangkan Viktor duduk kembali di kursinya.
"Saya sudah selesai makan. Terima kasih untuk makan malamnya."
Galana membersihkan sisa makanan di bibirnya. Ia lantas berdiri.
"Viktor, jangan lupa untuk mencuci kaki saya pukul 9 malam!"
Usai mengatakan hal tersebut, Galana bergegas pergi meninggalkan ruang makan.
"Berhenti!"
Gennadius berteriak hingga membuat Xandrova tersedak.
"Zoya!"
Viktor memanggil nama Xandrova, lalu segera memberikan segelas air mineral kepada istrinya.
"Sampai kapan kau akan menyuruh Viktor mencuci kakimu, Galana?! Hah?!"
Gennadius menegur Galana hingga wajah wanita itu memerah.
"Di mana letak kesalahan Galana, Pa?! Dia adalah Menantu saya dan Galana, bukan?! Jadi, sudah sewajarnya dia melakukan semua kemauan kami!"
Davidoff membela Galana. Ia menunjuk-nunjuk Viktor dengan jari telunjuk kanan.
"Saya sudah selesai makan malam. Terima kasih."
Davidoff bangkit dan berklan menyusul Galana.
"Ayo, Galana! Situasi terus saja memanas sejak kehadiran Menantu miskin itu!"
Davidoff merangkul istrinya dan mereka pun berjalan meninggalkan ruang makan.
"Hei, kalian! Berhenti!"
Gennadius berteriak hingga wajahnya merah padam.
"Kek, tidak apa-apa. Biarkan saja! Karena saya melakukannya dengan senang hati."
Viktor berkata untuk memadamkan amarah sang kakek.
"Viktor, semua itu tidak bisa dibiarkan. Apakah kau akan melakukan hal tersebut seumur hidupmu?!"
Xandrova tidak bisa berbuat apa-apa, selain menggerutu sikap kedua orang tuanya di dalam hati.
Viktor tersenyum ketika Gennadius menatapnya.
"Benar, Kek. Saya akan terus berbakti kepada Anda dan kedua Mertua saya sampai kapanpun."
Viktor meyakinkan Gennadius agar membiarkan kedua mertuanya melakukan apa saja yang mereka inginkan.
"Termasuk memberikan nyawamu suatu saat nanti?!"
Gennadius bertanya dengan nada tinggi. Sepertinya, pria tua itu tidak tahu lagi harus berkata apa, selain membiarkannya.
"Ya. Saya akan berkorban demi keutuhan keluarga saya, yaitu keluarga Konstantin."
Viktor membiarkan sosok anggota keluarga Konstantin hadir satu persatu memenuhi benaknya. Ia tersenyum, lalu menatap Gennadius.
"Mari makan lagi, Kek!"
Viktor menatap Gennadius yang sedang kecewa dengan sikap Davidoff juga Galana. Namun, ia tidak bisa berbuat apapun karena Viktor tidak ingin terjadi masalah di keluarga Konstantin yang melibatkan dirinya.
"Saya sudah selesai makan. Kalian berdua lanjutkan saja."
Gennadius memalingkan wajahnya kepada pria yang berdiri tepat di belakangnya.
"Yeva, berikan tongkat saya!"
Pria bernama Yeva segera melangkah dan memberikan tongkat milik Gennadius.
"Silakan, Tuan."
Gennadius meraih tongkatnya, lalu berusaha berdiri. Viktor membantu Gennadius yang tampaknya kesulitan berdiri.
"Hati-hati, Kakek!"
"Tidak apa-apa, Viktor. Kau temani Zoya makan malam saja dan pastikan dia mengkonsumsi cukup gizi karena saya ingin cepat-cepat menggendong Cicit. Ha ha ha!"
Gennadius terkekeh sambil berlalu meninggalkan Viktor dan Xandrova yang saling bertukar pandang.
"ZoーZoya, jika kau risih dengan perkataan Kakek barusan, tidak perlu kau ambil hati. Oke?!"
Xandrova tidak menyahuti perkataan Viktor. Ia menunduk untuk menutupi wajahnya yang sedang memerah.
"Aーaku ... aku tidak ...."
Baru saja Xandrova ingin membalas ucapan sang suami, tiba-tiba smartphone Viktor pun berdering.
"Zoya, aku akan menerima panggilan masuk terlebih dahulu. Kau tunggu aku di sini karena aku tidak akan lama!"
Viktor berjalan menjauh dari ruang makan. Ia membaca nama penelepon di layar smartphone.
"Ada apa, Andriy?"
"Selamat malam Tuan Viktor. Maaf jika saya mengganggu makan malam Anda."
Viktor menoleh ke kanan dan kirinya seraya memastikan tidak ada yang mendengar percakapannya dengan sang asisten.
"Katakan saja to the point!"
Viktor tidak ingin meninggalkan Xandrova seorang diri di ruang makan. Ia menerima panggilan telepon sambil sesekali menoleh ke ruang makan dan memastikan Xandrova tetap berada di sana.
"Saya baru saja mengirimkan data terbaru tentang Tuan Davidoff beserta beberapa bukti foto. Silakan periksa smartphone Anda!"
Wajah Viktor memerah. Ia merasakan bahwa darah di dalam tubuhnya berhenti mengalir.
"Terima kasih, Andriy."
Viktor memutuskan sambungan teleponnya dengan Andriy. Ia bergegas kembali ke ruang makan dan melihat Xandrova masih menunggunya.
"Mengapa kau lama sekali, Viktor? Sebenarnya siapa yang menghubungimu barusan? Mengapa kau harus menjauh dariku?"
Viktor kebingungan karena mendapatkan berbagai pertanyaan dari Xandrova.
Apa yang sebaiknya aku katakan padamu, Zoya? Maafkan aku karena aku terpaksa membohongimu.
Viktor terdiam untuk sesaat. Ia bertanya di dalam hati.
"Andriy. Ya, dia menghubungiku untuk memberitahukan masalah pekerjaan."