"Ya?"
Mobil pun berhenti tepat di depan gym center. Caleb terdiam sesaat sebelum melanjutkan kembali kalimatnya.
"Saya bekerja di sebuah agen Detektif swasta. Dan, Andriy mempromosikan saya kepada Tuan Besar untuk menjaga Anda."
Viktor terkejut dengan pengakuan Caleb.
Menurut pengamatan ku, Caleb tidak mungkin berkhianat. Dan, bagaimana dengan Andriy? Dia pun jauh dari kata berkhianat. Lalu, Papa tahu dari mana mengenai perubahan isi kontrak?
Viktor berpikir sejenak mengenai kejadian di ruang tidur kedua mertuanya tadi. Ia akan mencari tahu siapa yang telah mengadu kepada Davidoff.
Caleb mencabut kunci mobil, lalu meraih tas olahraga di kursi belakang. Ia menatap Viktor yang sedang larut dalam lamunannya.
"Tuan Viktor, mari keluar dari mobil!"
Suara Caleb pun membahana di gendang telinga Viktor. Sang menantu keluarga Konstantin tersebut pun ke luar dari mobil.
**
Hampir pukul 01.00 pagi waktu St Petersburg, Rusia, Viktor berlatih Muay Thai bersama Caleb. Selain berlatih, mereka pun saling bertukar pikiran.
"Kau tahu, Caleb? Salah satu alasan saya memilih Muay Thai sebagai olahraga untuk meningkatkan kualitas tidur."
Viktor menyeka peluh yang membasahi dahi dengan handuk kecil yang sudah disiapkan oleh Caleb.
"Apakah Anda memiliki gangguan tidur, Tuan Viktor?"
Kini, Viktor dan Caleb duduk di kursi besi panjang di mana Caleb meletakkan tas olahraga.
"Benar."
Andaikan kau tahu, Caleb, aku memiliki gangguan tidur yang cukup parah. Namun, aku tidak ingin pergi ke Psikiater sama sekali.
Viktor membatin. Ia teringat potongan ingatan masa lalunya datang setiap kali ia memejamkan mata.
"Tuan Viktor, apakah Anda belum merasa kelelahan? Jika saya lihat-lihat, tubuh Anda sangat kuat dan daya tahan tubuh Anda cukup bagus."
"Bagaimana bisa kau berkata seperti itu, Caleb?"
Viktor meraih botol air mineral dari tangan Caleb, lalu meminumnya.
"Sebelum saya bekerja, Tuan Andriy memberikan data diri Anda. Namun, tidak ada riwayat tentang gangguan tidur Anda di sana."
Caleb sedikit terkejut ketika Viktor membeberkan gangguan tidur yang dideritanya.
"Mengenai hal ini, tolong rahasiakan dari siapapun, Caleb!"
Viktor sengaja menatap Caleb dengan pandangan memelas. Ia juga tidak ingin satu orang pun tahu tentang kekurangan di dalam dirinya.
"Karena saya ingin menyimpan rahasia ini untuk diri sendiri."
Viktor berdiri, lalu mengangguk.
"Mari kembali ke mansion utama, Caleb!"
**
Usai membersihkan tubuhnya, Viktor ke luar dari kamar mandi dengan menggunakan pakaian tidur. Lagi, ia menatap sang istri yang masih memejamkan kedua matanya.
"Astaga! Aku hampir saja melupakan sesuatu."
Viktor teringat akan telepon singkat dari Andriy ketika dirinya sedang bersama Xandrova di ruang makan.
"Di mana aku meletakkan smartphone-ku?"
Viktor mencari-cari benda pipih nan canggih buatan dalam negeri. Ia pun menemukannya di atas meja samping ranjang.
"Oh, mari lihat apa yang dikirim oleh Andriy padaku!"
Viktor berjalan menuju sofa panjang di mana dirinya tidur selama ini.
"Aーapa ini?!"
Viktor membelalakkan matanya ketika melihat foto Davidoff sedang bersama Maksim di hari yang sama saat dirinya bertemu dengan sang mantan tunangan Xandrova.
"Astaga! Aku telah salah sangka kepada Caleb, Andriy dan Yuri. Ternyata Maksim sendiri yang memberitahu tentang perubahan isi kontrak kerjasama itu."
Usai melihat beberapa foto juga membaca keterangan di foto tersebut, Viktor pun akhirnya terlelap.
Malam terpendek di kota St Petersburg pun telah dilalui oleh Viktor. Itu berarti matahari muncul selama 18 jam 45 menit.
"Viktor, bangun!"
Xandrova menepuk pipi Viktor dengan pelan seraya membisikkan kata-kata.
"Ah, Zoya! Aku baru saja tertidur beberapa jam."
Xandrova tersenyum.
"Apakah kau tidak akan pergi bekerja?"
Xandrova memencet hidung Viktor berulang kali hingga ujung-ujungnya memerah.
"Kau tahu, Viktor? Kota St Petersburg dahulu bernama Petrograd dan Leningrad. Kota tercantik di Rusia ini berhasil memukau dunia."
Viktor terpaksa membuka matanya dan duduk di sofa panjang.
"Mengapa kau pagi-pagi begini memuji keindahan kota St Petersburg, Zoya?"
Sepertinya Zoya menginginkan sesuatu dariku, batin Viktor seraya mengulas senyum.
"Tidak. Aku hanya ingin kau pergi membawaku ke suatu tempat nanti malam."
Viktor tertawa kecil.
"Memangnya kau ingin pergi ke mana nanti malam, Zoya? Bukan 'kah kau harus mempersiapkan diri untuk masuk kuliah pekan depan?"
Xandrova tidak lantas mundur begitu saja mendengar respon dari Viktor.
"Oh, ayolah, Viktor!"
Xandrova beralih. Ia duduk di sofa single tepat di hadapan sang suami.
"Pekan depan masih beberapa hari lagi, bukan? Aku bisa mengatur waktu untuk beristirahat. Namun ...."
Xandrova menatap Viktor dengan wajah memelas.
"Ya?"
Viktor tahu bahwa sang istri sedang mencoba menarik simpatinya. Ia membiarkan Xandrova menyelesaikan kata-katanya.
"Apakah kau telah menyiapkan berkas-berkas ku untuk kuliah nanti?"
Dan sekali lagi, Xandrova berniat mengulur waktu untuk pergi ke kampus.
"Untuk masalah itu, kau tidak perlu risau, Zoya. Andriy telah mempersiapkannya. Seharusnya pagi ini dia akan memberikannya padaku."
Kali ini, Viktor menyeringai lebar hingga membuat kedua bola mata Xandrova hampir terlepas dari rongganya.
"Karena kau sendiri yang meminta untuk melanjutkan studi, maka bertanggung jawablah, Zoya!"
Viktor bangun, lalu mengacak-acak anak rambut Xandrova.
"Berhentilah melakukan itu, Viktor!"
Viktor terkekeh, lalu melangkah pergi ke kamar mandi.
**
Keluarga Konstantin hampir tidak pernah melewatkan acara makan bersama. Karena menurut Gennadius, ruang makan adalah tempat berkumpulnya para anggota keluarga.
"Aku harus ke ruang tidur Kakek sebelum sarapan bersama."
Viktor berkata saat dirinya baru saja keluar dari ruang ganti. Ia berjalan mendekati Xandrova yang sedang berdiri di sudut ruangan.
"Apa yang sedang kau lakukan di sana, Zoya?"
Xandrova tersenyum ke arah smartphone-nya.
"Terima kasih telah berkumpul di live streaming channel Zoya. See you all!"
Astaga! Rupanya Zoya sedang live streaming!
Viktor berseru di dalam hatinya sambil tersenyum.
"Aku sudah selesai, Viktor. Beruntung sekali aku karena pagi-pagi seperti ini, aku mendapatkan endorse dari salah satu produk kecantikan yang sedang booming."
Xandrova berkata sambil meletakkan 3 jenis produk make up di atas meja kecil di sudut ruang tidur.
"Apa saja produk-produk itu, Zoya?"
"3 produk ini terdiri dari moisturizer, bedak dan lipgloss yang semuanya diperuntukkan untuk usia di atas 17 tahun atau beranjak dewasa, Viktor."
Viktor mengangguk karena dirinya tidak mengerti sama sekali tentang produk wanita.
"Zoya, aku ingin ke ruang tidur Kakek. Bagaimana jika kau pergi ke ruang makan lebih dulu?"
Viktor memang berencana untuk memberitahu Gennadius tentang niat Xandrova untuk ikut ke kantor.
"Apakah aku tidak boleh ikut ke ruang tidur Kakek?"
Kali ini, Viktor tidak tahu lagi bagaimana harus bersikap baik kepada Xandrova.
"Zoya, ada kalanya para pria membutuhkan ruang privasi untuk membicarakan hal-hal yang hanya dimengerti oleh mereka. Bukan 'kah para wanita juga begitu?"