Syukurlah Zoya mengerti. Aku tidak kesulitan memberitahunya karena pada dasarnya dia adalah seorang Istri penurut.
Viktor bergumam di dalam hati seraya berjalan menuju kamar utama mansion ini yang terletak bersebelahan dengan ruang kerjanya.
"Kakek, apakah Anda di dalam?"
Viktor mengetuk ruang tidur sang kakek.
"Masuk saja, Viktor!"
Viktor mendengar suara dari dalam. Ia pun membuka pintunya.
"Selamat pagi, Kakek. Maafkan saya karena pagi-pagi seperti ini."
Viktor menutup pintu, lalu membungkukkan badan seraya memberi salam.
"Ha ha ha! Ada apa, Viktor?"
Gennadius sedang memakai jasnya. Ia duduk di pinggir ranjang.
"Apa yang membawamu menemui saya di pagi hari seperti ini?"
Viktor berjalan mendekati Gennadius. Kedua matanya menatap ke bawah di mana sepatu kulit Gennadius berada. Viktor berjongkok di hadapan Gennadius.
"Aーapa yang kau lakukan, Viktor? Berdirilah!"
Viktor tidak menanggapi seruan Gennadius. Ia meraih sepatu, lalu memakaikannya dengan sabar.
"Kek, Zoya ingin ikut saya ke kantor. Namun, pagi ini saya akan melakukan interview dengan dua kandidat bodyguard. Apakah Kakek bisa menemani Zoya sebentar saja ketika di kantor nanti?"
"Mengapa tidak kau tolak saja permintaannya, Viktor?"
Gennadius akhirnya membiarkan Viktor memakaikan sepatu untuknya.
"Itu tidak akan, Kakek. Saya pantang menolak keinginan Istri selama bisa memenuhinya."
Gennadius menepuk pundak Viktor dan tersenyum.
"Kau memang tidak pernah menolak permintaan Zoya, sekalipun permintaannya selalu aneh-aneh. Ha ha ha!"
Viktor mendongakkan kepala.
"Anda benar, Kek. Melihat wajahnya saja mampu membuat hati saya luluh!"
Viktor berkata dengan santai dan jujur hingga membuat pria tua itu tertawa terbahak-bahak.
"Ha ha ha!"
"Ha ha ha!"
Pada akhirnya, kedua pria tersebut pun tertawa bersama.
"Selamat pagi, Tuan Besar. Apakah Anda sudah siap?"
Suara Yuri menyudahi tawa dua pria di ruang tidur utama.
"Masuk saja, Yuri!"
Yuri membuka pintu dan melihat Viktor berdiri. Ia menatap Gennadius, lalu membungkukkan badan.
"Selamat pagi, Tuan Besar. Ternyata Anda tertawa bersama Tuan Viktor ...."
Yuri agak aneh ketika melihat keberadaan Viktor di ruang tidur sang tuan.
"Benar, Yuri. Oh, saya ingin memberitahumu bahwa Zoya akan pergi bersama kita ke kantor hari ini. Dan, buatlah dia merasa nyaman karena kau tahu, bukan? Dia selalu takut padamu. Ha ha ha!"
Viktor membulatkan matanya menatap Gennadius beserta sang asisten.
"Meーmengapa Zoya takut kepada Yuri, Kek?"
Gennadius memandangi Viktor.
"Lihatlah wajahnya! Luka parut pada kening kiri Yuri membuat Zoya enggan mendekatinya, Viktor."
Viktor memperhatikan luka parut di wajah Yuri. Seperti yang dikatakan oleh Gennadius, luka parut itu memanjang dari kening hingga samping daun telinga pria itu.
"Oh, alasan itulah yang membuat Zoya takut!"
"Benar, Tuan Viktor. Nona Zoya selalu menghindar saat bertemu saya."
Yuri berkata dengan suara bergetar. Entah apa yang sedang dipikirkan olehnya.
"Tidak apa-apa. Kau duduklah di samping sopir, Yuri. Biarkan kami duduk di belakang."
Gennadius menyela pembicaraan antara Viktor dan Yuri.
"Baik, Tuan. Terima kasih atas pengertian Anda."
Yuri membungkukkan badan. Gennadius meriah tongkat dan berusaha untuk berdiri.
"Biarkan saya bantu, Kek."
Sang Kakek mengangkat tangan kirinya guna memberikan isyarat.
"Tidak, Viktor. Biarkan orang tua renta ini berdiri dengan usahanya sendiri."
Gennadius menolak keinginan Viktor. Ia pun berhasil berdiri dengan perlahan.
"Ayo, kita ke ruang makan sekarang!"
Gennadius berjalan tertatih diikuti oleh Viktor dan Yuri di belakangnya.
**
"Selamat pagi, Tuan Besar."
"Selamat pagi, Tuan Besar."
Semua pelayan wanita di mansion keluarga Konstantin memakai seragam merah mencolok lengkap dengan celemek dan rambut yang di cepol. Mereka membungkukkan badan saat Gennadius memasuki ruang makan.
"Kalian terlihat lebih fresh memakai seragam baru. Ha ha ha!"
Gennadius tertawa bahagia melihat para pelayan memakai seragam baru.
"Terima kasih, Tuan Besar."
"Terima kasih, Tuan Besar."
Para pelayan pun kompak mengucapkan terima kasih kepada Gennadius.
"Kakek!"
Xandrova berlarian menuju Gennadius. Wanita itu memeluk sang kakek dengan erat.
"Oh, ada apa dengan Cucuku?"
Gennadius menghentikan langkahnya. Ia mengusap lembut punggung Xandrova.
"Papa melarang ku untuk ikut Viktor pergi ke kantor."
Oh, rupanya Zoya sedang merajuk!
Viktor berseru seraya tersenyum melihat tingkah laku sang istri.
"David, mengapa kau melarang anakmu?"
Gennadius menegur Davidoff yang sedang menatapnya.
"Pa, Zoya akan mengganggu Viktor bekerja. Untuk apa dia di sana, selain hanya menjadi pengganggu?"
Davidoff menaikkan kedua alisnya, lalu menyandarkan punggungnya di kursi. Sedangkan Galana memilih untuk terdiam.
"Tidak. Kau boleh ikut bersama Kakek dan Viktor. Bukan 'kah Viktor sudah memperbolehkan mu ikut dengannya, Zoya?"
Xandrova melepaskan pelukannya. Ia mendongakkan kepala dan menatap wajah Gennadius.
"Benar."
Xandrova mengangguk.
"Apakah aku boleh ikut Kakek dan Viktor?"
Xandrova mengulangi lagi pertanyaannya dengan memasang wajah memelas seperti biasanya.
Jika Kakek sedang berbicara, aku bisa apa? Aku tidak akan menyela jika orang tua sedang berbicara.
Viktor berbicara pada dirinya sendiri. Ia menahan tawa ketika melihat Xandrova mengubah mimik wajahnya seperti seekor anak kucing.
"Tentu saja Zoya. Ha ha ha!"
Xandrova tersenyum mendengar jawaban sang kakek.
"Selamat pagi, Tuan Viktor."
Andriy menyapa tuannya. Ia berdiri tepat di belakang kursi Xandrova menunggu kedatangan Viktor.
"Nona Zoya berkata bahwa Anda sedang bersama Tuan Besar, itulah mengapa saya tidak berani mengganggu Anda, Tuan Viktor."
"Ya."
Viktor hanya menjawab dengan satu kata. Terkadang jawaban seperti inilah yang membuat Andriy geram. Karena sang tuan selalu irit ketika berbicara dengan dirinya.
"Baiklah. Mari kita makan!"
Gennadius melanjutkan langkahnya bersama Viktor dan Xandrova menuju kursi masing-masing untuk menikmati sarapan.
**
Acara makan di keluarga Konstantin tidak pernah berjalan tanpa adanya drama. Kini, Viktor sedang berada di Limousine bersama Gennadius, Xandrova dan kedua asisten.
"Zoya, Kakek ingin kau menemani Kakek di ruang kerja. Kau mau, 'kan?"
"Tentu saja aku mau, Kek. Namun, bagaimana dengan Viktor?"
Viktor mengalihkan perhatiannya dari layar phablet milik Andriy. Ia mendongakkan wajahnya ke arah Xandrova dan Gennadius yang duduk di hadapannya.
"Tidak apa-apa, Zoya. Aku ada meeting pagi dengan beberapa staf. Kau bisa bersama Kakek hingga aku selesai meeting. Bagaimana?"
Aku bahkan cemburu pada Kakek karena Zoya lebih memilih duduk bersama Beliau daripada bersamaku.
Viktor berkata di dalam hati sambil tersenyum.
Astaga! Apa-apaan aku! Mengapa aku cemburu pada Kakek?!
Viktor berseru menyesali sikapnya. Namun, ia sedikit lucu saat melihat Xandrova bergelayut manja pada sang Kakek.
"Tuan Viktor, apakah akan aman jika Nona ikut Anda ke kantor?"
Andriy berbisik di telinga sang tuan.
"Ya. Tenang saja!"
Viktor menjawab dengan nada pelan.
"Oh, ya, Tuan. Kedua wanita tersebut sudah berada di kantor sejak 15 menit yang lalu."
Viktor memicingkan matanya ketika melihat Andriy.
"Rupanya mereka sangat disiplin, Andriy. Saya sangat menyukai semangat mereka yang membara."
Limousine yang ditumpangi oleh Viktor pun berhenti di depan lobby Konstantin Co. Sang sopir menoleh memberitahukan Gennadius juga Viktor jika mereka telah sampai di tujuan.
"Tuan Besar dan Tuan Viktor, kita telah sampai."