Berbicara terus terang kepada pasangan adalah suatu keharusan dalam suatu hubungan. Itulah kejujuran.
(Viktor Czar Romanov, The Romanov Diadem)
**
Viktor berdiri di hadapan Xandrova. Wanita itu membalikkan badan, lalu berjalan ke arah jendela yang tertutup. Viktor melihat raut wajah Xandrova tanpa ekspresi hingga akhirnya Xandrova mengutarakan apa yang sedang pikirkannya.
"Tapi, Viktor ... wanita itu telah mengucapkan sumpah akan merebut mu dariku. Tidak 'kah kau mendengarnya?"
Xandrova membuka jendela kamar seraya berbicara dengan suaminya. Ia tampak enggan membalikkan badan.
Sepertinya Zoya sudah terhasut oleh wanita yang bahkan aku sendiri tidak mengenalnya.
Viktor melangkah mendekati Xandrova sambil berbicara di dalam hati. Kini, ia berdiri di samping sang istri kecilnya.
"Zoya, apakah kau percaya pada setiap kata yang ke luar dari mulutku?"
Xandrova menarik lengan kanan sang suami agar tubuh mereka saling berhadapan.
"Viktor, apa maksudmu? Apakah kau meragukan ketulusanku?"
Viktor tahu bahwa sang istri sudah diserang emosi sejak tadi.
"Jika kau memang tulus mencintaiku, maka dengarkanlah, Zoya!"
Viktor meraih kedua tangan Xandrova dan menatapnya lekat-lekat.
"Aku tidak mengenali wanita itu sama sekali. Kau dan aku bahkan baru bertemu dengannya malam tadi di lift."
Viktor memilih kata-kata yang pantas diucapkan agar tidak membuat hati Xandrova terluka.
"Kau mungkin tidak tahu karena tertidur di punggung ku. Saat itu, dia memperkenalkan dirinya sebagai Viona dan menerangkan sedikit tentang dirinya."
"Beーbegitu 'kah?"
Xandrova mulai mempercayai Viktor. Ia tidak ingin menutup hatinya dan mencurigai sang suami yang telah bermain api. Viktor mengangguk tanpa senyum.
"Aku tidak pernah mempercayai orang ketika sedang berada di bawah pengaruh alkohol, Zoya, meskipun aku tahu dia tidak berbohong."
"Apakah malam tadi Viona meracau karena sedang berada di bawah alkohol?"
Viktor mengangguk tanpa menjawab. Kemudian, Xandrova menyadari bahwa ia telah salah sangka terhadap Viktor.
"Maafkan aku, Viktor. Aku tidak tahu jika yang kupikirkan tentang mu adalah suatu kesalahan."
Xandrova larut dalam dekapan sang suami. Begitu juga dengan Viktor.
"Aku benar-benar minta maaf."
Viktor mendengar Xandrova berkata dengan pelan. Ia tidak ingin menganggap hal ini serius.
"Ingatlah, Zoya! Ketika masalah datang, cukup bicarakan berdua saja denganku. Karena kita tidak membutuhkan orang ke-3. Bagaimana?"
Viktor melepaskan dekapannya. Ia menatap kedua iris mata Xandrova yang cantik sedang berkaca-kaca.
"Ya."
Xandrova kembali larut di dekapan Viktor.
"Baiklah, mari buat kesepakatan!"
Aku tidak tahu apakah kau mencintaiku, Zoya? Namun yang kurasakan, sejauh ini kau selalu membalas perasaanku.
Viktor berkata dalam hatinya. Ya, siapa yang tahu isi hati seseorang?
"Beristirahatlah, Zoya! Wajahmu terlihat memucat."
Viktor menarik tangan Xandrova dan membawanya menuju ranjang. Xandrova hanya bisa menuruti perintah sang suami tanpa banyak protes.
"Aku akan menemui Andriy dan Caleb."
Viktor berdiri menatap Xandrova sekilas. Ia berjalan menuju pintu ruang tidur dan membukanya.
Ceklek!
Viktor ke luar dari kamarnya saat Xandrova sudah tertidur. Ia meminta Xandrova untuk beristirahat karena wajahnya kembali memucat.
"Tuan Muda?"
Andriy bergegas berdiri ketika Viktor muncul.
"Di mana Caleb?"
Viktor menoleh ke kanan dan kirinya mencari keberadaan Caleb.
"Caleb sedang mengawasi kamar hotel Anda dari kejauhan."
Viktor duduk tepat di hadapan Andriy yang sedang menjawab pertanyaannya.
"Apa yang ingin kau diskusikan dengan saya?"
Andriy menyerahkan dokumen yang ia bawa.
"Tolong pelajari dokumen ini, Tuan. Saya sudah menyalinnya untuk Anda."
Viktor meraih dokumen dari tangan Andriy. Ia membukanya sejenak.
Proyek kerjasama antara perusahaan RHC dengan Konstantin Co?
Viktor membaca judul yang terpampang di halaman depan dokumen di tangannya.
"Hari Senin depan, perwakilan dari RHC akan mengadakan meeting dengan kita, Tuan Viktor. Untuk lebih jelasnya, saya telah mengirimkan email."
Viktor mengangguk.
"Ya."
Bersamaan dengan itu, Xandrova membuka pintu kamar.
"Viktor, aku pikir kau telah pergi."
Xandrova mengucek kedua matanya menatap Viktor.
"Kau bisa pergi, Andriy! Saya dan Zoya memiliki rencana menonton pertunjukan balet malam ini."
Andriy berdiri, lalu membungkukkan badan.
"Kalau begitu saya permisi, Tuan Viktor dan Nona Zoya."
**
Saat ini, pukul 6 sore waktu St Petersburg, Rusia. Di sore hari pada musim panas, matahari masih memancarkan sinarnya dengan terik.
Xandrova memakai pakaian terbaiknya. Ia sedang memoles wajahnya sambil bercermin di meja rias.
Kau senantiasa terlihat cantik!
Viktor memuji sang istri di dalam hati. Ia berdiri di bawah jendela menunggu Xandrova selesai berdandan. Pupil matanya membesar saat melihat punggung sang istri sedikit terbuka dan mempertontonkan kulitnya yang putih dan halus.
"Zoya?"
Viktor memanggil nama sang istri, tetapi Xandrova tidak menoleh sama sekali.
"Ya?"
Viktor melihat Xandrova kesulitan menata rambutnya yang coklat kehitaman.
"Aku akan membantumu menyisir rambut."
Viktor berjalan menuju Xandrova. Ia meraih sisir dari tangan istrinya.
"Apakah kau bisa membantuku menyisir rambut, Viktor?"
Viktor tertawa kecil.
"Kau terlalu meremehkan Suamimu ini, Zoya!"
Viktor mulai menyisir rambut Xandrova perlahan hingga tertata rapi.
"Apakah kau tidak berniat untuk mengganti gaun mu?"
Kita bahkan bukan akan mengadakan pesta, Zoya. Jadi kau tidak perlu memakai gaun malam seperti itu!
Viktor menyerukan isi hatinya. Ia masih memilih kata-kata untuk menyusun sebuah kalimat yang tidak akan membuat Xandrova terluka.
"Ada apa dengan gaunku, Viktor?"
Viktor menatap Xandrova sedang melihatnya dari cermin.
"Karena aku tidak rela bagian punggung mu terekspos, Zoya."
Viktor tidak lagi menyisir rambut Xandrova. Ia menunggu Xandrova merespon perkataannya barusan.
"Hmm, baiklah."
Viktor tidak menyangka bahwa Xandrova dengan cepat menyetujui keinginannya.
"Terima kasih, Zoya. Aku akan menunggumu di ruang tamu."
Viktor pun melangkahkan kakinya menuju pintu dan membukanya. Viktor duduk di sofa ruang tamu sambil membaca dokumen yang tadi diserahkan oleh Andriy kepadanya.
"Jadi, aku dan Kakek akan menangani proyek kerjasama dengan perusahaan RHC? Lalu, bagaimana dengan Papa David? Apakah Beliau akan pergi ke Moskow hari Senin depan?"
Viktor membuka halaman pertama dan membaca sedikit demi sedikit setiap kalimat yang tertulis di sana.
"Aku sungguh ingin tahu, siapa perwakilan dari RHC yang akan meeting bersamaku nanti? Apakah dia adalah Tuan Lenin? Atau bahkan Tuan Besar Vladimir?"
Oh, sepertinya Viktor tidak menyadari kehadiran sang istri yang sudah berdiri di hadapannya. Ia terlalu asyik membaca dokumen di tangannya.
"Viktor, bagaimana menurutmu?"
Viktor terenyuh mendengar suara Xandrova yang memanggil namanya. Ia mengangkat wajahnya, lalu menatap sosok Xandrova yang memiliki tinggi 171 sentimeter.
Ya Tuhan! Cantik sekali wanita di hadapan ku ini! Terkadang aku tidak percaya jika memiliki Istri secantik Zoya. Apakah Tuhan sengaja mengirimkan malaikat penjaga hatiku melalui sosok Zoya?
Viktor mengagumi sosok ciptaan Tuhan yang sedang berdiri malu-malu di hadapannya. Ia berkata di dalam hati sesuai dengan apa yang dilihatnya.
"Viktor, apakah pakaian ku kali ini tidak sesuai dengan selera mu?"