The Reason

1045 Words
Viktor menutup pintu kamar hotel dengan kakinya. Ia tetap membiarkan cardlock pada tempatnya agar penerangan tetap menyala. Viktor melangkah menuju ruang tidur. Ia membaringkan tubuh Xandrova perlahan. "Rupanya kau sangat lelah, Zoya." Viktor meletakkan tas tangan milik sang istri di atas nakas. Kemudian, pria itu melepaskan sepatu boots yang masih dikenakan Xandrova. ** Liburan musim panas telah berakhir. Viktor dan sang istri telah kembali ke mansion keluarga Konstantin yang terletak di distrik Leningrad. "Di mana Kakek? Mengapa Beliau tidak terlihat?" Xandrova bertanya kepada pelayan wanita yang setia merawatnya sejak berusia balita. "Tuan Besar sudah menunggu Anda di ruang makan untuk sarapan bersama." "Ruang makan?!" Viktor melihat kedua mata Galana nyaris loncat dari rongganya. Namun, pria itu tetap tenang seperti biasa. "Benar, Nyonya." Viktor mengikuti langkah kaki kedua mertua juga sang istri menuju ruang makan. Entah mengapa, instingnya berkata akan terjadi hal-hal di luar kendali. "Halo, Papa mertua." Galana lebih dulu menyapa Gennadius. Wanita 50 tahun tersebut menempelkan pipinya di kedua pipi Gennadius. Sedangkan Davidoff langsung duduk di barisan kursi sebelah kanan. "Selamat pagi, Kakek." Kini, Xandrova menyapa kakek kandungannya diikuti oleh Viktor. "Selamat pagi, Kakek. Semoga kebahagiaan dan kebaikan menyertai Anda." Berbeda dengan anggota keluarga Konstantin yang lain, Viktor bukan hanya menyapa Gennadius. Pria 29 tahun tersebut mengucapkan doa serta harapan yang sangat jarang Gennadius dengar dari anak atau sang menantu. "Amin. Dan, semoga keberkahan selalu melimpah padamu, Viktor. Ha ha ha!" Raut wajah Gennadius berubah bahagia ketika mendapatkan kata-kata penyemangat yang keluar dari mulut Viktor. Sebagai tuan besar keluarga Konstantin yang telah ditinggal mati sang istri, pria tua itu kerap kesepian. "Duduklah, Viktor!" Gennadius menunjuk deretan kursi sebelah kirinya yang berada sangat dekat dengannya. "Oh, mengapa Kakek hanya memberikan perhatian kepada Viktor saja?" Viktor dan semua orang yang berada di ruang makan memandang Xandrova yang baru saja protes. "Ha ha ha!" Suara gelak tawa Gennadius terdengar menggema di ruang makan. "Tentu saja tidak, Sayang. Saya menyayangi kalian berdua karena kalian adalah sumber kebahagiaan. Ha ha ha ...." Jelas-jelas aku menemukan kebohongan di ekspresi wajah Kakek! Ya, kebohongan yang sengaja ditutupi dari semua orang. Viktor dengan mudah membaca raut wajah Gennadius. Namun, ia tidak ingin ikut campur urusan sang kakek. Xandrova tersenyum ketika mendengar jawaban Gennadius. "Aku pun bahagia ketika bersama Kakek." Xandrova memeluk Gennadius dari samping dan pria tua itu pun membalasnya sambil menepuk-nepuk punggung tangan cucunya. "Nanti saja melepas rindunya! Sekarang mari makan sebelum hidangan dingin!" Davidoff berkata sambil mengunyah makanan pembuka. Melihat hal demikian, Gennadius hanya bisa menggelengkan kepala. "Bahkan orang tuamu saja belum menyentuh makanan-makanan itu, David." Menyadari perubahan suasana hati Gennadius, Viktor pun mengambil inisiatif. "Dari menu sebanyak ini, apa yang ingin pertama kali Kakek makan? Biarkan saya melayani Anda!" Gennadius menatap menu yang tersaji di atas meja makan panjang yang terbuat dari kayu mahoni dengan ukiran klasik khas Eropa. "Hmm, saya ingin Ukha. Ya, sangat menggugah selera ketika melihat tampilannya." Viktor tersenyum seraya mengulurkan tangannya mengambil mangkuk coklat berbahan keramik dan menyerahkan kepada Gennadius. "Pilihan yang sangat tepat, Kakek. Sup ikan ini memang cocok dinikmati saat musim panas." Viktor menghibur hati Gennadius. Ia menoleh ke arah Xandrova yang sedang tersenyum padanya. "Kau memang benar-benar ahli memanjakan Kakek, Viktor. Tidak salah jika Kakek memberikan mu kesempatan untuk berbisnis dengan Beliau." Xandrova berbisik di daun telinga Viktor hingga membuat pria itu menahan tawa. "Terima kasih atas pujian mu, Miss Pretty." Viktor melakukan hal yang sama seperti Xandrova. Yaitu berbisik di telinga istri kecilnya. "Apakah kau tahu, Viktor? Ukha sudah ada sejak negara tercinta kita ini terbentuk dan sangat jarang Koki yang bisa membuatnya karena mengingat diperlukan keterampilan khusus untuk membuatnya." Viktor memilih menu sarapan yang sama dengan Gennadius. Ia mulai mencicipi sedikit demi sedikit. "Mengapa begitu, Kek? Jika dilihat dari bahan-bahannya sangat mudah." Viktor menatap mangkuk miliknya. Begitu juga dengan Xandrova yang memilih menu yang sama seperti Viktor dan Gennadius. "Benar. Bahan-bahan memang sangat mudah, Viktor. Yaitu salmon, sturgeon, trout, kod, starlet dan burbot. Ya, kau bisa melihatnya sendiri. Ha ha ha ...." Gennadius tertawa seperti tidak menganggap kehadiran Davidoff dan Galana. "Namun, proses pembuatannya sungguh rumit." Viktor melihat Gennadius memakan sup Ukha dengan lahap. Ia juga menatap Davidoff yang duduk di depannya bersama Galana yang sedang memasang raut wajah tegang. "Jadi, mengapa Papa meminta kami kembali ke mansion lebih cepat dari jadwal yang sudah ditentukan?" Davidoff tidak peduli dengan suasana hati Gennadius yang berubah-ubah. Karena ia merasa tidak adil dengan perlakuan Gennadius padanya dan Viktor yang terlalu mencolok. "Ya, saya merasa mansion ini terlalu sepi tanpa kehadiran kalian. Saya ingin ditemani makan seperti ini ...." Gennadius menatap satu persatu wajah anggota keluarga Konstantin. Kedua matanya berhenti saat menatap Viktor. Ia tersenyum, tetapi Viktor tidak menyadarinya. Xandrova menyenggol siku Viktor hingga membuatnya terkejut. "Ya?" "Viktor, Kakek menatapmu." Viktor segera mengalihkan perhatian kepada Gennadius. "Kakek, apakah Anda ingin memakan sesuatu yang lain? Biarkan pria ini melayani Anda!" Gennadius menatap Viktor sambil tertawa. Ia juga memperhatikan mangkuk Viktor yang masih utuh. "Orang tua ini telah menghabiskan 1 mangkuk sup Ukha dan anak muda sepertimu makan dengan sangat lamban. Ha ha ha!" Viktor pun tersenyum. "Maaf, Kakek. Saya terlalu menikmati rasa dari setiap gigitan. Karena anak muda ini belum pernah mencoba makanan selezat ini." Puk! Puk! Puk! Gennadius menepuk bahu kanan Viktor sambil memamerkan deretan gigi palsunya. "Kau memang pria yang jujur, Viktor. Saya pernah mendengar cerita dari seorang kawan yang memiliki identitas seorang muslim." Gennadius meletakkan alat makannya dan kedua mata menatap Viktor sungguh-sungguh. "Ya, Abramovich Mohammed berkata bahwa kejujuran dalam berdagang akan membawa keberkahan." Viktor mengangguk. "Hal itu pula, saya pelajari dari kawan satu asrama yang berasal dari Islamabad, Pakistan. Namanya adalah Akhtar Hazeem bin Ali Ruwaihim Hazeem." Gennadius manggut-manggut mendengar penjelasan Viktor. Apakah tidak apa-apa jika aku bercerita sepenggal masa laluku ketika menimba ilmu di universitas swasta Rusia? Viktor bertanya-tanya dalam kebingungannya karena melihat Davidoff dan Galana memasang wajah masam. "Ayo lanjutkan, Viktor!" Berbeda dengan Gennadius yang memiliki rasa keingintahuan tinggi. Ia ingin sekali mengetahui masa lalu Viktor. "Ya, umat muslim meneladani salah satu sifat Nabi mereka, Kakek. Yaitu sifat kejujuran dalam berbisnis, berdagang maupun dalam segala hal di dalam hidup ini." Prang! Detik itu juga, Davidoff melemparkan alat makannya ke sembarang tempat. "Lain kali jika Papa ingin seseorang menemani Anda makan, cari saja orang lain! Karena Anda telah membuat kami tergesa-gesa untuk kembali ke sini hanya demi alasan konyol Anda."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD