RHC

1027 Words
Gennadius menggeser posisi berdirinya dengan bantuan tongkat. Pria tua itu memberikan kesempatan kepada Viktor untuk tampil di depan publik. Ia dengan sigap mendampingi Viktor yang masih terlihat canggung di depan kamera. "Tuan Viktor, katakan kepada para wartawan bahwa Anda sangat bahagia bisa berada di Lakhta Center bersama para pebisnis! Anda bisa mengatakan hal-hal yang menyenangkan kepada mereka!" Viktor terdiam sesaat. Ia teringat sosok Xandrova sedang tersenyum ke arahnya. "Hmm ...." Suasana ricuh pun mendadak hening ketika Viktor berdeham. "Saya sangat bangga dapat menginjakkan kaki di Lakhta Center dan berdiri di antara para pebisnis sukses dan ya ...." Viktor berdiri seraya mengangkat dagunya terlalu tinggi. "Tentu saja, saya akan mencuri ilmu dari mereka. Setidaknya itulah yang akan dilakukan oleh para pemula." Viktor tersenyum tipis seraya melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. "Pa, mengapa Papa membiarkan Viktor berkecimpung ke dunia bisnis? Bukan hanya akan membuat malu keluarga Konstantin, tetapi dia juga akan membuat perusahaan keluarga menjadi bangkrut, Pa!" Davidoff berbisik di telinga Gennadius. "Lihatlah sikapnya yang angkuh! Bagaimana bisa Papa membiarkan anak angkuh itu mencampuri bisnis keluarga kita?!" Gennadius hanya tertawa kecil mendengar anak kandungnya menggerutu. "Kau ini ... tidak pernah berubah, David!" Gennadius berbisik di telinga Davidoff, lalu kembali menatap kamera yang menyorot ke arahnya. "Tuan Gennadius, satu pertanyaan lagi untuk Anda." Deg! deg! deg! Di saat yang sama, Viktor merasa jantungnya berdegup semakin lamban dan dunia berhenti berputar. Mengapa aku merasa seperti akan mati saja! Padahal aku tidak tahu apa yang akan wartawan wanita ini tanyakan kepada Kakek Gennadius. Namun dari gelagatnya, sepertinya bukan sesuatu yang baik! Viktor menatap si wartawan wanita yang memakai id card biru menggantung di lehernya. Rossiya L. Viktor menyebutkan nama salah satu stasiun televisi swasta di Rusia yang terkenal menyuguhkan berita terpanas dan ter-update dalam dan luar negeri di dalam hatinya. "Silakan saja! Ha ha ha!" Gennadius mempersilakan seorang wartawan wanita tadi bertanya padanya. "Apakah Tuan Viktor di masa depan akan menggantikan posisi anak Anda sendiri, Tuan Gennadius?" Hah?! Aーapa-apaan si wanita wartawan ini?! Pertanyaannya sungguh menyudutkan aku. Davidoff sangat membenci situasi ini. Ia melirik Gennadius seraya menggerutu. "Pa, katakan kepada mereka tentang kebenaran!" Gennadius tertarik dengan bisikan sang anak kandungnya. "Kebenaran? Kebenaran apa maksudmu, David?" Davidoff mengulas senyum sarkas. "Kebenaran bahwa dia bukanlah penerus bisnis keluarga Konstantin, Pa." Davidoff menunjuk Viktor dengan dagunya. Ia telah melupakan sesuatu. Ya, melupakan perkataan Andriy ketika bersamanya tadi. "Tuan Gennadius, mengapa Anda tidak menjawab pertanyaan kami? Anda juga terlihat ragu-ragu dengan Tuan Viktor. Mengapa demikian?" Gennadius menyunggingkan senyum dengan ramah ketika sepasang mata tua yang berdiri tidak begitu jauh menatapnya. "Seperti yang saya katakan di awal tadi bahwa Viktor akan berkecimpung di dunia bisnis yang kejam ini. Karena itu pula, saya membawa Viktor ke Lakhta Center untuk memperkenalkan dirinya kepada publik." Gennadius berkata dengan bangga. Ia tersenyum lepas ketika mengatakan hal yang mengguncang jiwa Davidoff. Mengapa Papa mengatakan hal itu? Apakah Papa berniat akan mengusirku dari perusahaan keluarga? Dan sekali lagi, Davidoff tidak terima dengan perlakuan Gennadius. ** "Silakan duduk, Tuan Gennadius!" Seorang wanita mempersilakan Gennadius untuk duduk di kursi yang telah dipersiapkan. Begitu pun dengan Viktor dan Davidoff. "Di mana meja keluarga Romanov?" Davidoff mencari-cari keberadaan keluarga terpandang juga keluarga terkaya di Rusia. Ada sesuatu yang menarik di sini! Viktor berseru di dalam pikirannya. Ia memandang satu meja bulat di sisi kanannya yang bertuliskan RHC. Viktor melirik Andriy yang berdiri di belakangnya dan memberikan isyarat agar sang asisten mendekat padanya. "Ya, Tuan Viktor?" Andriy bertanya dengan cara berbisik. "Apa maksud dari RHC?" Viktor menunjuk papan meja yang bertuliskan RHC tepat di tengah-tengah meja bulat. "RHC atau Romanov Holding Company adalah perusahaan milik keluarga Romanov, Tuan Viktor. Mereka merajai seluruh bisnis dalam negeri dan keluarga Romanov juga bersinar hingga ke luar negeri." Andriy menjelaskan tanpa ragu-ragu kepada Viktor yang sedang diserang rasa penasaran. "Apakah mereka memiliki bisnis di luar negeri?" Viktor kembali bertanya untuk kali ke dua kepada Andriy yang setia melayaninya. "Benar, Tuan. Mereka membuka menjalankan bisnis di bidang perhotelan di Kanada dan Inggris. Namun yang saya dengar, keluarga Romanov akan membuka cabang hotel ke-3 mereka di negara lain." Oh, really? Sehebat itu 'kah keluarga Romanov yang dibangga-banggakan oleh Papa tempo hari? Viktor mengingat kembali bagaimana Davidoff membanggakan keluarga Romanov di depan dirinya kala itu. "Andriy, apakah mereka adalah keluarga dari Maksim? Namun jika ya, mengapa Maksim tidak terlihat di sini?" Mendadak Andriy terdiam. Sejujurnya ia tidak sampai hati menjawab pertanyaan dari Viktor. "Untuk hal itu ... saya akan menjelaskannya nanti, Tuan Viktor." Viktor menangkap keraguan yang tersirat di dalam kalimat Andriy barusan. Pria itu lantas mengangguk, kemudian kembali fokus ke panggung di mana sepasang MC membuka acara seminar bisnis tersebut. Viktor bertepuk tangan ketika ia mendengar suara gemuruh tepuk tangan memenuhi ballroom di mana acara seminar tahunan digelar. "Tuan, perhatikan pria kurus dan berkumis yang duduk di meja keluarga Romanov!" Andriy berbisik seraya menunjuk sebuah meja yang hanya dihuni oleh 2 pria. "Ya? Siapa dia?" Viktor bertanya dengan polos. "Beliau adalah Tuan Lenin Vujovic RomanovーAyah kandung dari Tuan Maksim. Anda harus berhati-hati dengan Beliau!" Cairan merah yang mengalir di sekujur tubuh Viktor seolah berhenti mengalir saat Andriy mengatakan kalimat terakhir dengan nada tegas. Sang asisten pun kembali ke tempat duduknya yang berada di samping Viktor dengan tenang. Aku merasa pria itu sedikit mirip dengan Maksim, meskipun Beliau adalah Ayah biologisnya. Namun, mengapa hatiku terasa nyaman ketika melihat pria tua yang sedang duduk bersama Tuan Lenin? Viktor mengucapkan kalimat tanya di hatinya. Ia membaca situasi di sekelilingnya dengan was-was. "Viktor, suatu saat nanti saya ingin melihat mu berdiri di sana dan menyampaikan pidato sambutan di depan para pebisnis mancanegara. Ha ha ha!" Gennadius tidak segan-segan menyampaikan keinginannya di depan Viktor dan Davidoff. Melihat situasi tidak menguntungkan seperti ini, selalu saja membuat Viktor terpojok. "Seorang pria yang tidak memiliki pengalaman sama sekali di dunia bisnis sepertinya, mana mungkin dapat berdiri di sana sebagai seorang pebisnis sukses dan berkesempatan memotivasi banyak orang?!" Gennadius menghentakkan tongkatnya. Ia memandangi Davidoff dengan raut wajah kecewa. "Diam dan jangan membantah ucapan saya!" Tak ada seorangpun yang berani bersuara usai Gennadius membentak Davidoff. Namun, Viktor tetap menatap kedua mata Gennadius dengan sungguh-sungguh. "Saya berjanji bahwa saya akan berdiri tegak di sana untuk membanggakan Anda, Kakek."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD