Kartu Tanda Penduduk

1179 Words
Pada malam hari Keluarga kecil Gege sedang menyantap ayam bakar yang di beli ayah Hadi di salah satu rumah makan ternama.  "Bang, tadi gimana tadi pas ninjau lokasinya?" Ayah Hadi menjadi yang pertama buka suara. "Ada 3 lokasi, tapi yang baru di tinjau lokasinya masih 2, Yah. Karna tadi waktunya nggak cukup."  "Yang lokasi pertama itu cocok, tapi pemiliknya ribet pas di ajak transaksi. Nah, yang kedua itu kurang gede ukurannya. Nanti kalo yang ketiga udah ke tinjau, baru deh mutusin mana yang pas." Sambung Gandhi. "Emang mau buat apa Bang? Kok Gege nggak tau?" Tanya Gege. "Anak kecil nggak boleh ikutan, ini bisnis orang gede." Jawab Gandhi enteng. "Ish, nggak suka deh sama Abang!! Yah, Abang mau buat apa sih?"  "Abang kamu rencana mau buat bengkel mobil, Nduk." Jawab Ayah Hadi. "Emang Abang bisa benerin mobil? Pake acara buat bengkel segala." Ejek Gege. "Lu kalo ngomong nggak usah ngadi-ngadi ya Ge, lu aja yang nggak pernah merhatiin Abang." Jawab Gandhi dengan telinga yang mengeluarkan asap. "Dih, gitu aja ngegas." "Dasar anak kecil!! Udah pendek, boncel, hidup lagi." Mereka berakhir dengan saling ejek-mengejek. "Daripada Abang, badan kayak tiang listrik, kurus kering kayak kanebo, jomblo lagi, hahaha." Gege tertawa puas setelah mengejek Abang satu-satunya itu. "Emang situ udah sold out?" "..." "Aba-" Ucapan Gege terpotong oleh bundanya. "Udah-udah, di meja makan nggak boleh banyak omong! Cepet makan!" Gantian Bunda Ery yang angkat bicara. Setiap hari ia selalu di suguhkan perdebatan kedua anaknya. Rasanya seperti tidak ada hari tanpa pertengkaran mereka berdua.  "Nggak yang laki, perempuan sama aja!! Nggak mau ngalah!" Sambung Bunda Ery. "Anak kamu tuh Bun." Celetuk Ayah Hadi. "Enak aja!! Anak Ayah juga ya!" Sarkas Bunda Ery. Ruang Keluarga Semua anggota keluarga berkumpul dan berbincang santai di depan televisi ruang keluarga. Mereka wajib berkumpul setiap malam untuk sekedar berbincang dan bercanda ria. Kebetulan Gandhi sedang ada urusan menyelesaikan pembayaran ruko dengan temannya. "Ge, kamu kan udah 17 tahun nih, buruan urus KTP gih." Ujar Ayah Hadi. "Ya Allah Yah, baru aja tadi malem Gege ultah. Masa udah ditagih ngurus KTP sih." Ujar Gege cemberut. Allahu, baru aja sehari gue sweet seventeen. Lagian gue juga nggak berani sendirian ngurusin KTP-nya. "Lebih cepat lebih baik Nduk." Jawab Ayah Hadi. "Tap-." "Nurut aja deh Ge, ini juga buat kebaikan kamu!" Potong Bunda Ery yang sedang merebahkan tubuhnya di paha Ayah Hadi. "Ck, iya deh iya. Tapi gimana cara ngurusinnya Yah?." "Minta surat pengantar ke RT dulu, terus minta surat pengantar ke Kepala Desa, dan yang terakhir ke Kecamatan. Gampang kan?"  "Oh ya, sebelum ke Kantor Desa, kamu harus lengkapin syarat-syaratnya. Yaitu, Fotokopi KK, fotokopi Akta Kelahiran, dan Pas Foto 3×4." Terang Ayah Hadi enteng. "Ha?" Gege melongo.  Astaghfirullah, repot banget elah!! Banyak banget deh perasaan. Orang cuma kartu persegi panjang aja ribet banget bikinnya!! "Bisa di catet aja nggak Yah?" "Yaudah, nanti Ayah kirim lewat WA aja ya." Ujar Ayah Hadi. "Iya Yah." "Eh tunggu, tapi ngurusinnya Ayah yang anterin kan?" Moga aja Ayah mau, mana berani Gue sendirian ngurusin. "Eh, mana ada! Ya urusin sendiri lah. Orang udah gede juga!" Potong Bunda Ery. Anaknya yang satu ini memang beda. Orang tuanya selalu bekerja dengan konsep Public Speaking, dan mengharuskan tampil percaya diri di depan orang banyak. Nah ini anaknya kok nggak pede ketemu orang. Entah sifatnya menurun darimana. Mungkin dulu waktu di rumah sakit ketuker. Haha. "Lho! Kok gitu. Gege mana berani Bun. Masa Gege sendirian sih." Ungkap Gege cemberut. "Yah, ayolah, temenin Gege. Sekaliii aja. Ayah kan The Best Daddy Ever." Sambung Gege memelas. "Udah Yah jangan di turutin. Biar Gege belajar mandiri dan percaya diri." Ujar Bunda Ery. "Ngurusin sendiri ya Nduk KTP-nya. Gampang kok. Nanti kalau nggak tau, ya tanya sama petugas di Kantor Desanya. Di Kantor Kecamatan juga gitu, kalau nggak tau, tanya. Bener kata Bunda, itung-itung kamu melatih percaya diri di depan orang banyak." Ujar Ayah Hadi. "Tapi Gege sendirian lo Yah." Jawab Gege lirih. "Ya kamu ajak temen kamu yang rencana mau buat KTP deket-deket ini. Tapi yang ikut daerah sini." Ujar Ayah Hadi. "Tapi siapa?" Tanya Gege. "Kamu lupa kalo punya kembaran tapi nggak sedarah?" Sahut Bunda Ery. "Eh? Siapa emang Bun?" Tanya Gege. "Masa nggak tau. Tuh! Samping rumah." "Ucup?"  "Iyalah, siapa lagi."  "Woiyaaa lupa. Hahaha, pinter banget sih Bunda. Kok Gege lupa ya punya Ucup."  Kok Gue lupa ya kalau Ucup juga belum buat KTP, Dia kan seumuran sama Gue. Oalah Ge, Ge. "Nah itu ada, buruan ajak ngurus bareng-bareng. Lumayan kan, daripada sendirian." Kata Ayah Hadi. "Iya Yah siap." Jawab Gege sembari tangannya memberi hormat. "Udah, sekarang kamu chat tuh si Ucup." Ujar Bunda Ery. "Siap Bunda cangtip." Gege bergegas pergi ke kamarnya dan mengambil handphone yang di-charge nya tadi. Ia membuka aplikasi hijau ber-ikon telepon. Dan segera mencari kontak yang ia tuju. 20:20 Me Woy!! Lu udah ngurus ktp belom?  Selang beberapa menit akhirnya yang ia chat membalas juga. 20.27 Ucup laknat!! Blm. Males. Sebenernya sih udah di suruh sama mama. Lu gimana? 20.30 Me Belom lah. Kata ayah suruh cari temen, yaudah gue tanya lu. Mau gue ajak ngurus bareng. Mau nggak? 20:32 Ucup laknat!! Hayuk lah, manut wae. Tapi gimana caranya?? Lu tau? 20:33 Me Minta surat pengantar di pak RT dulu, terus minta tanda tangan pak RW. 20:34 Ucup laknat!! Ok. Jadi kapan? Besok aja gimana?  20:35 Me Oke siap. Ba'da isya' lu ke rumah yak! Abis itu kita ke rumah pak RT buat minta surat pengantar. 20:36 Ucup laknat!! Oke siap. Kayak biasa ya, siapin salad buah spesial. Oke? 20:36 Me Hmm, ya -_- Setelah mengabari Ucup ia bergegas menyiapkan berkas-berkas yang akan ia butuhkan saat dia Kantor Desa.  Oh ya, kalian belum tau pekerjaan apa yang di geluti orang tua Gege? Belum kan? Pekerjaan Ayah Hadi adalah Dosen Sastra Inggris di salah satu Universitas Negeri di kota kelahiran Gege. Sedangkan Bunda Ery adalah instruktur senam ibu-ibu di kawasan tempat tinggal Gege. Maka dari itu mereka selalu bekerja dengan konsep Public Speaking, karena akan selalu berhadapan dengan orang banyak. Oke skip! Setelah ia menyiapkan Akta Kelahiran dan Kartu Keluarga, ia menaruhnya dalam map dan meletakkannya di atas meja belajar. Rencananya, ia akan fotokopi berkas-berkas itu setelah mencari surat pengantar. *** "Assalamu'a- Astaghfirullah!! Demittttt!!" "Pait, pait, pait, pait. Ya Allah kulo tasek pengen urip."  "Apasih lu!! Gue Gandhi! Enak aja ngatain demit!" Yusuf Bina, dia berencana ke rumah Gege karena ingin meminta surat pengantar bersama ke Pak RT. Dan sialnya, ia di kejutkan dengan adanya Gandhi yang sedang memperbaiki mobil dengan wajah yang penuh dengan oli dan asap hitam, sehingga wajahnya mirip dengan hantu yang ada di film-film horor. Kaget? Tentu saja!! Karena dalam keadaan malam hari yang gelap dan sangat mendukung untuk membuat orang kaget.  "Masa sih lu Bang Gandhi? Passwordnya?" "Gandhi ganteng nyaman dipandang." "Oh, asli ternyata. Hahahaha. Lu ngagetin aja sih Bang." "Ya maap. Gue habis benerin mobil, tau-tau wajah limited edition Gue udah kayak gembel." "Huh, baru nyadar kalo kayak gembel, haha." Ucap Yusuf enteng. "Mulut Lu nantang nih? Bunnn!! Ucup ngatain Bunda gemukkk!" Tuduh Gandhi. "Eh!! Lu kok fitnah sih Bang!! Enggak Bunn!! Bang Gandhi fitnah! Jangan di dengerin!" 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD