Karina pun pergi mandi dan bersiap-siap, kemudian dia pergi ke meja makan untuk sarapan, saat di meja makan, salah satu pembantu Karina menghampiri Karina, karena sikap Karina yang tidak biasa.
"Nona ,nona hari ini bahagia sekali, ada gerangan apakah yang membuat nona seperti ini?." Tanya Pembantu Karina sambil melihat wajah Karina yang berbinar-binar senyuman.
"Iya Bik , aku bahagia sekali, tapi aku rasa bibi tak perlu tahu tentang hal apa yang membuat aku bahagia." Jawab Karina.
"Baguslah kalau memang nona bahagia , lagi pula lebih baik kalau nona bahagia seperti ini dari pada bersedih seperti kemarin." Pembantu Karina tersenyum melihat Karina.
"Iya Bibi doa kan saja agar aku selalu bahagia ." Jawab Karina.
"Amin.... , pasti saya doakan nona." Jawab pembantu Karina.
"Terima kasih Bi ." Jawab Karina.
"Kalau begitu , saya tinggal dulu ya nona , karena masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan."Pembantu Karina pun pergi ke dapur untuk mengerjakan pekerjaannya.
Saat pembantunya pergi , Karina yang masih berada di meja makan terus-terusan tersenyum dan melamun dengan kebahagiaan atas apa yang telah terjadi.
"Ya tuhan , terima kasih atas semua yang terjadi tadi malam." Gumam Karina dalam hati dengan senyum-senyum sendiri.
Karina terus saja melamun atas apa yang terjadi , tak lama kemudian, Karina pun berpikir untuk pergi ke dokter.
"Aku rasa sebaiknya aku pergi ke dokter saja untuk mengecek keadaan ku." Gumam Karina dalam hatinya.
Karina pun beranjak dari tempat duduknya , dan pergi menemui supirnya untuk meminta supirnya mengantarkan nya ke dokter.
"Pak." Panggil Karina kepada supirnya.
"Iya nona ." Jawab supir Karina.
"Pak antarkan saya ke rumah sakit yang biasa ya." Pinta Karina.
"Siap nona." Jawab supir Karina.
Supir Karina pun pergi mengambil mobil di parkiran , lalu berhenti di tempat Karina berdiri dan membukakan pintu mobil untuk Karina.
"Silahkan masuk nona." Supir Karina membukakan pintu mobil dan membiarkan Karina masuk ke dalam mobil itu .
"Terima kasih pak." Karina pun masuk ke dalam mobil , setelah Karina masuk ke dalam mobil lalu sang supir pun menutup pintu mobil.
Supir Karina pun menancapkan gas mobil , lalu berangkat menuju rumah sakit yang biasa Karina Kunjungi.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit , Karina sangat merasa deg-degan , karena dia takut jika ekspetasi yang diharapkannya ternyata tidak sesuai dengan realita nya.
"Aduh... Gimana ini ." Gumam Karina dalam hati nya dengan perasaan yang bimbang.
"Ya tuhan aku mohon, biarkan aku merasakan kebahagiaan dalam rumah tangga ku dengan hadirnya seorang anak." Karina berdoa dalam hatinya kepada Tuhan.
Supir Karina yang melihat Karina binggung dan bimbang , dia pun memutuskan untuk bertanya kepada Karina.
"Nona." Panggil supir itu.
"Iy... Iya , ada apa pak." Karina sedikit terkejut dengan panggilan supirnya itu.
"Maaf nona , jika saya mengagetkan nona." Supir Karina menyadari jika Karina sedikit terkejut dengan suaranya.
"Tidak mengapa kok pak , emangnya kenapa bapak memanggil saya?." Tanya Karina kepada supirnya.
"Saya lihat nona seperti sedang binggung dan bimbang, Apakah terjadi sesuatu ? ." Tanya supir Karina.
"Saya tidak kenapa-kenapa kok pak, bapak tak perlu memperdulikan saya ." Jawab Karina , karena pada dasarnya Karina tidak suka menceritakan hal pribadinya kepada siapapun , kecuali sahabatnya.
"Baiklah kalau begitu nona." Jawab supir Karina.
"Iya , bapak fokus saja membawa mobilnya dan jangan melihat ke arah saya." Pinta Karina kepada supirnya.
"Siap nona." Jawab supir Karina.
Supir Karina pun fokus mengendarai mobil , sedangkan Karina terus saja berdoa agar ekspetasi yang dia harapkan bisa menjadi kenyataan.
Tak lama kemudian , mereka telah sampai di depan rumah sakit , supir Karina pun menginjak pedal rem dan membukakan pintu mobil untuk Karina.
"Nona Karina , silahkan kita sudah sampai." Supir Karina mempersilahkan Karina untuk turun dari mobil.
"Terima kasih, bapak seperti biasa tunggu saya di parkiran dan jika lihat saya segera membawa mobil untuk menghampiri saya ." Karina berjalan keluar dari mobil.
"Siap nona." Jawab supir Karina.
Karina pun berjalan masuk ke dalam rumah sakit Lalu dia masuk ke dalam ruangan dokter yang sudah biasa dia datangi.
"Karina, apa ada masalah yang kamu hadapi sekarang?." Tanya dokter itu.
"Dok saya mau ngecek apakah saya sedang hamil atau tidak ?" Jawab Karina.
"Baik , tapi apakah kamu sudah berhubungan suami-istri dengan suami mu?." Tanya dokter itu.
"Iya kami sudah melakukan hubungan suami-istri." Jawab Karina.
"Kapan terakhir kalian berhubungan?." Tanya dokter itu.
"Tadi malam adalah hari terakhir kali kami berhubungan." Jawab Karina.
"Maaf Karina , kalau seperti itu tidak bisa , kamu bisa datang kesini 3 hari ataupun seminggu lagi dari sekarang untuk mengecek kehamilan kamu." Jawab dokter itu dengan menjelaskan kepada Karina.
"Owh begitu ya, kalau begitu terima kasih ya dokter." Dalam hati Karina ada perasaan kekecewaan tapi dia berusaha menyimpan kekecewaannya.
"Iya sama-sama ya Karina , semoga nanti hasilnya adalah positif." Jawab Dokter itu.
"Amin dok, kalau begitu saya permisi." Karina pun keluar dari ruangan dokter itu dan berjalan keluar dari rumah sakit.
Saat sampai di rumah sakit , supir Karina pun langsung menjemput Karina dan mereka pun langsung pulang ke rumah.
Di perjalanan menuju ke rumah , Karina terus saja melamun memikirkan hal yang diucapkan oleh dokter.
"Ya tuhan , hamba mohon tolong biarkan seorang anak datang dan berada di dalam rumah tangga hamba." Karina berdoa kepada Tuhan dalam hatinya.
"Oke Karina , kamu tunggu saja satu Minggu lagi , kamu harus yakin." Karina mencoba yakin dan menyemangati dirinya sendiri.
Tak lama kemudian , Karina pun telah sampai di rumahnya , supirnya pun membukakan pintu dan Karina pun turun dari mobil dan masuk ke dalam rumahnya.
Malam harinya saat hendak tidur , Karina berusaha untuk tidak tidur dan menunggu suaminya.
Tapi ternyata , suaminya tidak kunjung pulang ke rumah , padahal sekarang sudah jam 12 malam , tapi Karina terus saja menunggu suaminya pulang, tanpa sadar Karina pun tertidur .
Tepat pukul jam 3 subuh , Darren pun pulang ke rumah dalam keadaan mabuk, Karina yang mendengar suara pintu kamar terbuka langsung terbangun dari tidurnya dan melihat suaminya dalam keadaan mabuk.
"Mas ." Panggil Karina yang berjalan menghampiri Darren .
"Kamu dari mana ?." Tanya Karina sambil melihat wajah suaminya.
"Kamu kok mabuk? Tidak biasanya kamu seperti ini." Karina pun membantu Darren untuk tidur di tempat tidur.
Setelah Karina membaringkan tubuh Darren di tempat tidur , Karina mendengar ucapan Darren yang sangat membuat hatinya sakit.
"Anin, aku cinta sama kamu tolong jangan pergi ." Suara Darren dalam keadaan mabuk.
"Aku benci Karina , wanita yang tak pernah aku cintai dan hanya dalam keadaan terpaksa aku harus menikahinya." Tambah Suara Darren dalam keadaan mabuk.
Karina yang mendengar ucapan Darren merasa terkejut karena orang mabuk pasti akan berkata jujur dan tidak mungkin berbohong.
"Apa? Aku benar-benar tak menyangka jika kamu mencintai adikku, padahal aku ini istri kamu, bisa-bisanya kau mengatakan jika kau membenci aku ." Hati Karina hancur mendengar ucapan Darren , dia pun lantas mengeluarkan air mata dan berlari keluar kamar.
Saat Karina berada di luar kamar , Karina jatuh lemas ke lantai dan menangis atas apa yang di ucapkan suaminya, tapi Karina bangkit kembali karena dia percaya jika dia memberikan Darren seorang anak , pasti Darren nanti akan benar-benar mencintainya.
1 minggu kemudian , Karina pergi ke tempat dokter yang biasanya dia kunjungi untuk memeriksa keadaan nya yang hamil atau tidak.
"Permisi dok." Sapa Karina.
"Owh Karina , kamu pasti mau mengecek kehamilan kamu kan?." Tanya dokter.
"Tentu saja dok." Jawab Karina.
"Baiklah , ayo berbaring di sini." Dokter meminta Karina berbaring untuk melakukan pemeriksaan.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan , Karina pun kembali duduk dan dokter menjelaskan hasil pemeriksaan Karina yang ternyata hasilnya .
"Jadi apa hasilnya dok?." Tanya Karina yang sudah tidak sabar dengan hasil yang di dapatkan.
"Maaf Karina." Jawab dokter itu.
"Maaf kenapa dok?." Tanya Karina.
"Maaf ,karena hasilnya negatif dan kamu tidak hamil Karina." Jawab dokter itu.
Karina yang mendengar ucapan dokter merasa sangat sedih , tapi dia berusaha menyembunyikan rasa kekecewaan dan kesedihannya.
"Owh , makasih ya dok mungkin saya memang belum di kasih sama tuhan." Jawab Karina.
"Kamu yang sabar ya Karina , saya yakin kamu pasti nanti bakalan di kasih sama tuhan , kamu terus saja mencoba dan berdoa, insyaallah kamu pasti akan mendapatkan seorang anak." Dokter itu menyemangati Karina dan memberikan Karina saran.
"Iya terima kasih dok, saya permisi." Karina pun berjalan keluar dari ruangan dokter dengan penuh rasa kekecewaan.
Karina pun pulang ke rumah dengan keadaan kecewa , namun dia berusaha menutupinya.
Sesampainya Karina di rumah , ternyata Darren telah berada di rumah itu yang membuat Karina terkejut.
"Mas , kok kamu udah pulang?." Tanya Karina.
"Aku sengaja pulang karena aku ingin tahu apakah kau hamil?." Tanya Darren kepada Karina.
"Kok kamu bisa bertanya seperti itu kepada ku?." Tanya Karina dengan rasa bimbang.
"Iya aku tahu lah dan tak perlu kau bertanya tentang itu , kau tadi baru saja dari dokter kan , lalu apa hasilnya?." Tanya Darren dengan sedikit perasaan senang.
"Maaf , kata dokter aku hasilnya negatif dan tidak hamil." Jawab Karina.
Gubrak....
Suara Darren yang menendang meja
Karina yang mendengar langsung sedikit takut dan terkejut .
"Sudah kuduga kau itu memang tidak bisa hamil dan hasilnya pasti akan nihil." Darren marah kepada Karina.
"Aku sangat menyesal , karena telah menikah dengan mu , seharusnya aku dulu menolak pernikahan ini." Darren memarahi Karina.
"Percuma saja aku berusaha , tapi memang pada dasarnya kau itu mandul dan istri yang tidak berguna." Tambah Darren yang marah dengan Karina.
Karina hanya bisa terdiam mendapati dirinya di katakan seperti itu oleh suaminya sendiri.
"Karina sebaiknya kau mati saja , karena aku lebih baik menjadi seorang duda daripada memiliki istri seperti mu." Darren berkata dengan tatapan yang mengerikan kepada Karina.
"Kalau begini terus , jangan salah kan aku jika aku jarang pulang ke rumah ini nanti." Darren pun pergi meninggalkan Karina yang sedang terdiam di tempat itu.
Saat Darren pergi meninggalkan Karina , Karina pun jatuh melemas ke lantai dan menangis .
"Aku memang tidak berguna."
"Aku benci , aku benci diriku......."
"Aku benci kau Karina , wanita mandul yang tidak bisa menghasilkan keturunan untuk suaminya."
Karina membenci dirinya sendiri dan menyalakan dirinya atas apa yang terjadi, Karina terus saja tak berhenti menangis dengan air mata yang terus mengalir
Setelah itu , tiba-tiba saja handpone Karina berdering , yang ternyata orang yang menelpon Karina adalah Anindya adiknya.
Bersambung........