Karina pun mengangkat hp nya dan mencoba bersikap baik-baik saja .
"Halo Anin." Jawab Karina dari telepon nya.
"Halo kak Karina." Sapa Anindya dari telepon.
"Iya Anin ,kenapa kamu menelpon aku di jam seperti ini?." Tanya Karina.
"Aku mau kasih tahu ke kakak kalau sekarang aku bahagia banget deh." Anindya kegirangan ingin memberi tahukan kabar gembira kepada kakaknya.
"Serius? Bahagia kenapa?." Karina pun berpura-pura merasa bahagia juga.
"Kakak tahu kan kalau waktu itu saat acara kelulusan, aku pernah cerita kalau Ryan bakal ngelamar aku."
"Iya Anindya kakak tahu kan waktu itu kamu udah pernah cerita sama kakak , lalu sekarang apa yang terjadi?." Tanya Karina.
"Kakak harus tahu kalau barusan Ryan krim surat ke aku , dan isi suratnya adalah 3 hari lagi dia bakalan pulang dan dia bakalan langsung ngelamar aku kak dan dia juga kasih hadiah kalung , sumpah aku benar-benar bahagia banget." Jawab Anindiya.
"Wahhhh, selamat ya adikku sayang , sebentar lagi kamu akan dilamar dan akan berumah tangga." Karina memberi pujian kepada adiknya.
"Makasih ya kakak , kakak memang kakak aku yang paling terbaik, ngomong-ngomong rumah tangga kakak baik-baik saja kan?." Tanya Anindya .
"Kakak akan selalu jadi kakak kamu yang terbaik , rumah tangga kakak alhamdulillah baik-baik saja ." Karina berbohong kepada Anindya karena dia tak suka menceritakan tentang hal pribadinya kepada orang lain.
"Syukurlah kalau memang kayak gitu mungkin perasaan aku saja yang berpikir rumah tangga kakak ada masalah ,aku selalu berdoa agar rumah tangga kakak dan mas Darren selalu sejahtera dan bahagia ."Anindya selalu berdoa untuk kakaknya.
"Makasih ya Anindya kamu udah doakan kakak ." Karina mengucapkan terima kasih kepada adiknya , meskipun sebenarnya perasaanya sangat lah sakit.
"Sama-sama kakak." Jawab Anindya.
"Udah dulu ya teleponnya , kakak lagi sibuk juga nih , Assalamualaikum." Karina langsung mematikan teleponnya.
"Walaikum salam." Anindya pun membalas salam kakaknya.
"Aneh , kok kak Karina tiba-tiba langsung matikan hp nya, mungkin dia beneran lagi sibuk kali ya , ya udah lah nggak usah aku pikir." Gumam Anindya dalam hatinya , dia pun kembali bekerja.
Sedangkan Karina yang berada di rumahnya , dia pun pergi ke kamar nya dan menangis.
Hiks......Hiks.........Hiks......
Tangis Karina
"Kenapa aku kayak gini?."
"Aku hanya berharap aku bisa mendapatkan kebahagiaan dan bisa mempertahankan rumah tangga ku sebaik-baiknya , tapi kenapa jadi seperti ini."
"Kenapa disaat aku sedang terpuruk , adik ku justru mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya ."
"Aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak iri kepadanya dan selalu menyayanginya seperti yang ibu ku minta kepada ku , tapi rasanya hati ku sangat sakit."
Karina terus saja meneteskan air mata dengan apa yang telah terjadi , dia juga bersedih dan hatinya sangat hancur.
"Apa salah aku? Kenapa dari dulu selalu dia yang bahagia dan aku harus menerima penderitaan ini, aku sudah mencoba untuk selalu sayang dengan dia dan menjadi orang yang baik, tapi hati aku sakit dan tak sanggup lagi." Karina mengeluarkan semua perkataan sambil mengeluarkan air mata.
Karina terus saja menangis , dia teringat tentang apa yang terjadi di masa lalu dan masa kini,dan secara tiba-tiba Karina melempar semua barang-barang yang berada di kamarnya dan mengeluarkan emosi yang tidak terkendali.
"Aku benci , aku benci kau Anindya ." Karina secara tiba-tiba dia mengatakan jika dia membenci adiknya.
"Semua yang seharusnya aku dapatkan , lenyap hanya karena kamuu, indah sekali hidup mu , aku sudah tidak tahan melihat mu terus saja bahagia sedangkan aku , aku harus menerima nasib ku yang menderita ini."
"Sudah cukup Anindya , aku sudah muak dengan dirimu, aku sudah kehilangan cinta ku ,harga diri ku hanya untuk membuat kau bahagia."
"Ya , awalnya aku memang hanya berusaha menjadi kakak yang baik untuk mu , tapi semakin lama kebahagiaan ku sudah tidak bisa ku miliki, justru di saat aku tidak lagi bahagia , kau malah terus merasakan kebahagiaan."
"Adikku tersayang , akan ku beri tahu kau bagaimana rasanya jadi aku." Karina mengambil foto dirinya dan Anindya , dia juga menatap foto Anindya dengan sorot mata tajam dengan tersenyum licik.
"Hahahaha." Karina tertawa kesenangan.
"Aku akan membuat mu kehilangan cinta mu , lalu bagaimana rasanya jadi aku di masa lalu yang penuh dengan luka ." Karina tersenyum licik dan akan melakukan sesuatu terhadap Anindya.
Kemudian , Karina mulai bersikap biasa saja dan baik-baik saja , saat malam hari Karina duduk di meja makan sendirian seperti biasanya , tapi kali ini wajah Karina seperti memancarkan aura kelicikan , tetapi Karina menjadi orang yang lebih ramah lagi dari sebelumnya.
Salah satu pembantu Karina yang melihat Karina sendirian mencoba untuk berbicara dengan Karina.
"Nona ." Panggil pembantu Karina.
"Iya , ada apa Bibi?." Tanya Karina.
"Apa nona baik-baik saja?." Tanya pembantu itu.
"Saya baik-baik saja kok Bi, emangnya kenapa?." Tanya Karina.
"Tidak ada apa-apa kok nona , baguslah jika nona baik-baik saja , kalau begitu Bibi tinggal dulu ya nona." Pembantu itu pun meninggalkan Karina dan kembali bekerja di dapur.
"Oke sekarang aku harus memainkan permainan ini ." Gumam Karina dalam hatinya.
Karina yang telah selesai makan , dia pun mengemaskan meja makan dan membawa piring kotor ke dapur, meskipun sebenarnya Karina jijik melihat kotoran .
Saat berada di dapur , salah satu pembantu Karina melihat Karina yang sangat luar biasa , mereka pun memuji Karina .
Setelah selesai , Karina pun pergi ke kamarnya , sesampainya dia di kamarnya , Karina pun langsung masuk ke kamar mandi sambil menatap wajahnya dari cermin.
"Karina kau harus kuat dan tunjukkan bagaimana kau yang sebenarnya." Karina berkata sendiri sambil melihat wajahnya dari cermin dengan tersenyum licik.
"Baiklah , Anindya Shafira Wijaya akan ku tunjukkan kau bagaimana permainan yang akan ku mainkan." Karina terus saja menatap wajahnya dari cermin .
"Anindya adik yang ku sayang , aku adalah kakak terbaik untuk mu bukan?." Karina kemudian tersenyum licik dan tertawa mengerikan.
Tiba-tiba Karina mendengar suara mobil Darren yang telah pulang , dia pun bersikap baik-baik saja.
Darren kemudian masuk ke dalam kamarnya dengan wajah datar dan emosi yang tidak stabil.
"Karina." Panggil Darren dengan suara yang lantang.
Karina pun melihat ke arah suaminya , tapi Karina diam saja sambil melihat suaminya.
"Karina , aku muak dengan mu sudah cukup aku bersabar dengan mu selama ini." Darren berkata dengan lantang.
Karina yang mendengar ucapan Darren , dia secara tiba-tiba dan tidak biasanya justru bersujud di kaki Darren dengan memperlihatkan ketulusan dari hatinya .
"Mas , maafkan aku , aku selama ini tidak menjadi istri yang baik untuk mu , tapi percayalah bahwa aku akan selalu berusaha menjadi istri yang baik." Karina bersujud memohon ke suaminya sambil mengeluarkan air mata ketulusan.
"Apa-apaan kau ini? Kenapa kau bersujud di kaki ku?." Darren terkejut melihat Karina bersujud di kakinya , karena tidak pernah sekalipun Karina bersujud.
"Maafkan aku mas , maafkan aku." Karina tak henti-hentinya menangis dan meminta maaf kepada Darren.
Darren yang awalnya bersikap tidak peduli dan dingin , dia pun justru mulai tersentuh dengan ucapan Karina yang tulus.
"Sudah lah berhenti jangan menangis lagi." Darren mengangkat tubuh Karina agar berdiri dan tidak bersujud di kakinya.
"Tapi mas, apa sebaiknya kita akhiri saja rumah tangga kita?." Tanya Karina dengan tulus dan ikhlas , meskipun hanya sebuah kebohongan belaka.
"Dengar Karina , aku sudah memutuskan tetap mempertahankan rumah tangga ini dan kita akan terus mencoba saja atau tidak kita bisa mengangkat seorang anak untuk berada ditengah-tengah rumah tangga kita." Darren tersentuh dengan ketulusan yang Karina buat , sehingga Darren pun memutuskan untuk mempertahankan rumah tangga nya dengan berbagai cara.
Karina yang mendengar ucapan Darren merasa kesenangan karena dia telah pun berhasil melakukan rencananya.
"Terima kasih mas, aku janji tidak akan pernah mengecewakan mu ." Karina berkata dengan nada serius dengan kegembiraan.
"Baiklah , kau jangan menangis lagi dan jangan pernah bersujud di kaki ku." Darren menghapus air mata Karina dan tersenyum ke Karina.
"Iya mas , sekarang pergi lah bersih-bersih mas supaya kamu bisa segera tidur, aku juga sudah mempersiapkan air panas untuk mu, dan mulai sekarang aku berjanji akan menjadi istri yang lebih baik lagi untuk mu."
"Baiklah , aku pergi dulu." Darren pun pergi ke kamar mandi dan bersiap-siap untuk tidur.
Setelah Darren pergi ke kamar mandi , Karina tersenyum licik dan duduk di atas tempat tidurnya.
"Rencana pertama berhasil untuk mu suami ku sayang ." Gumam Karina dalam hatinya sambil tersenyum licik.
"Selanjutnya , akan ku tunjukkan untuk mu adikku sayang ." Tambah Karina dalam hatinya.
Setelah Darren selesai mandi , dia pun keluar dari kamar mandi dia pun menghampiri Karina yang sedang duduk di atas tempat tidur.
Saat melihat Karina, Darren terkejut melihat penampilan Karina yang biasanya selalu tampil seksi dan menggoda tapi kali ini dia berpenampilan simpel dan sederhana yang membuat Darren terkesima dengan perubahan Karina.
"Karina." Panggil Darren.
"Iya mas , Apa ada yang harus aku kerjakan?." Tanya Karina dengan suara lemah lembut.
"Tidak ada , tapi tumben sekali kau tampil seperti ini ?." Tanya Darren.
"Aku hanya ingin tampil beda dan sederhana seperti wanita yang kamu suka." Sebenarnya Karina mencoba berpakaian seperti Anindya yang selalu tampil sederhana , polos , simpel dan elegan.
"Sepertinya kau memang ingin menjadi istri yang baik dan aku akan mendukung mu sepenuhnya." Darren tak memikirkan tentang perkataan Karina yang berkata wanita yang kamu suka.
"Tentu saja mas , terima kasih karena kau mau memberikan ku kesempatan kedua untuk mempertahankan dan memperbaiki rumah tangga kita." Jawab Karina.
"Tentu saja , mulai sekarang aku Darren Hayes Atmadja berjanji mulai hari ini dan seterusnya akan berusaha menjadi suami yang baik untuk mu Karina Nadila Wijaya , tapi apa malam ini kau ingin kita melakukannya lagi?." Tanya Darren sambil melihat wajah Karina.
"Bukannya aku menolak , tapi aku sedang datang bulan juga, lagi pula aku lihat kau sangat lelah , sebaiknya kita istirahat saja." Jawab Karina dengan lemah lembut.
"Ku rasa kau benar , baiklah mari kita tidur." Mereka pun tidur bersama.
Saat tertidur ,tidak seperti biasanya yang jika tidur mereka selalu berjarak , tapi kali ini mereka tidur bersama dalam keadaan berpelukan .
Keesokan harinya , Karina dan Darren sarapan bersama yang tidak biasa nya.
Bersambung.....