Ada sebuah hal yang selalu terlupakan walau tetap berjalan
Ada sebuah hal yang hanya melakukan tanpa mendapat balasan
Ada sebuah hal yang harapan dan impian bergantung padanya namun tak pernah seorangpun melirik
Dia adalah " Waktu ".
Waktu berlalu begitu cepat dan seperti halnya terbenamnya matahari, satu bulanpun terlewatkan begitu saja.
Jeff tak pernah menyangka perjalanan mereka untuk berburu saat itu membawa langkahnya lebih jauh. Semua hal seolah berubah, sejak gadis bernama Dayna masuk kedalam kehidupan Exsa dia sama sekali tak pernah keluar dari sana. Wanita itu seperti penyihir yang memegang hati sang pangeran.
Malam itu, Jeff mengusap wajah putihnya pelan, tangannya masih gemetar mengingat kejadian barusan. Detik Detik dimana raja penguasa Fëlix menemui masa kritisnya. Yang membuat dia takut adalah, Exsa seolah sama sekali tak peduli. Bahkan ucapannya tak lagi didengarkan.
" Aku sudah menikahinya ayah, diakui atau tidak dia istriku. Dia akan menjadi ratu disini !!". Teriak Exsa tadi masih membekas di ingatannya. Bagaimana yang mulia Hermex II Oxtuz dibentak didepan semua pelayan dan tabib yang memeriksanya. Wajah pucatnya berubah pasi menatap putra kesayangannya.
" Alexsander, dia dari kalangan mana? Bahkan statusnya tidak jelas. Kita punya tradisi Exsa. Tak ada siapapun yang bisa menjadi ratu kecuali dia putri mahkota sebuah kerajaan atau putri setelahnya." Bibir tuanya gemetar.
" Tidak ayah!! Tradisi itu akan berakhir jika kau mati! Aku akan mengubah segalanya. Aku mencintainya. Titik!!".
" Itu bukan cinta Alexsander! Lihat dirimu, lihat dirinya..
" Diam ayah!!". Seketika semua ruangan senyap. Jeff yang berdiri didekat yang mulia Oxtuz hanya bisa diam. Exsa benar benar menjelma menjadi malaikat tak punya hati. Sementara gadis disampingnya hanya bisa menunduk seraya menangis.
" Alexsander baiklah. Kau boleh bersamanya, tidur dengannya dan menganggap dia istrimu . Tapi... (Raja menghela napas ) Hukum tetaplah hukum. Jika kau mengesahkan pernikahanmu ini didepan altar dan semua orang tahu. Maka, saat itu juga tahtamu aku cabut !". Ucap raja Oxtuz pada akhirnya. Exsa tercekat mendengar hal itu. Dia menggenggam tangan istrinya kuat. Kulit putihnya memerah emosi. Dia hendak melangkah tegap menuju pembaringan ayahnya.
Namun..
Dayna menahan tangannya. Dan seperti anjing, dia menurut tanpa kata.
" Kau harus menikah dengan seorang putri untuk jadi putra mahkota. Jika tidak... Ayah tak bisa memberikan tahta ini padamu nak." Ucapnya lagi.
" Siall !!". Kesal Exsa lalu beranjak begitu saja dari ruangan itu dan menghantam pintunya kasar.
Dayna menatap raja sekilas lalu menunduk hormat dan beranjak mengikuti Suaminya. Namun sebelum benar benar pergi, dia melirik kearah Jeffan sekilas lalu tersenyum dingin.
Hal yang paling Jeff ingat adalah..
Saat itu, Raja Oxtuz memegang tangannya erat. Dia menangis
" Jeffan anakku, katakan, apa aku sudah terlalu kasar padanya?". Ucapnya dengan bibir tuanya yang mengeriput pucat dibalik jenggot tebal yang sudah memutih. Jeffan hanya menunduk lalu menggeleng. Tangan tua itu mengusap tangannya
" Andai kau adalah putra syahku Jeffan. Aku akan sangat bahagia setidaknya ada anak yang menghiburku." Ucapnya lagi.
" Aku adalah putramu yang mulia. Aku akan melakukan apapun demimu." Jawab Jeffan menyisakan sedikit senyum dibibirnya.
" Kau mau melakukan satu hal untukku?". Tanyanya mengibaskan tangannya agar jeffan mendekat.
" Jika aku meninggal nanti dan Alexsander tetap bersikeras. Maka kepemimpinan ini akan aku wariskan padamu."
Deg. Bisikan raja waktu itu benar benar membuat jantung Jeffan seolah berhenti berdetak sekilas.
" Yang mulia?". Ucapnya pucat
" dibalik seorang raja yang besar akan ada ratu yang bijaksana. Ratu yang mengerti keadaan dan mengerti politik. Untuk itulah hukum ini dibangun nak. Jika anakku menikahi gadis tak jelas itu maka.. apa yang akan dia lakukan? Jeffan anakku, kau juga seorang pangeran walau statusmu ditangguhkan. Menikahlah dengan putri yang bijak dan pimpinlah kerajaan ini."
Jeff menarik nafas panjang. Pikirannya menjadi kalut.
Pemuda bermata gelap itu menarik nafas panjang lalu menghembuskannya kasar. Nafasnya mengembun karna udara dingin.
" Aku harus melakukan sesuatu." Ucapnya melirik ruang baca istana.
Entah apa yang ia pikirkan..
---
Gadis itu melangkah menyusuri halaman megah tempat yang ia yakini adalah rumahnya. Setidaknya itu yang ia tahu sejak ia bangun dari tidur yang membingungkan sebulan yang lalu.
Gaun panjang berwarna putih yang melekat dipenuhi permata semakin memperindah paras cantiknya.
Siapa aku?
Dimana diriku?
Mengapa semuanya seolah menelan jiwaku dalam arus waktu yang membingungkan.
Berkali kali aku mencoba tidur dan meyakinkan hatiku ini semua hanya mimpi
Semuanya ini terasa aneh .
Tapi aku selalu terbangun dengan keadaan yang sama.
Dia mendudukkan bokongnya di sebuah kursi kayu cantik ditengah hamparan taman luas tempat yang disebut phoenix itu.
Apakah aku harus diam saja dan meyakini bahwa yang mereka sebut putri akira itu adalah aku? Siapa aku? Kenapa aku disini?
Hingga tiba tibaa...
" Kau adalah dirimu dan apa yang kau yakini, tuan putri." Sebuah suara menghentakkan lamunannya. Sejanak suasana terasa sepi. Bukan terasa sepi tapi memang benar benar sepi. Izika melihat kesekitarnya bunga bunga seolah berhenti bernafas dan kupu kupu merebahkan sayapnya.
Gadis itu berdiri menatap sosok yang tampak berdiri tak jauh didepannya.
" Siapa kau? Kau bisa membaca pikiranku?". Tanyanya bingung. Sosok didepannya adalah seorang pemuda. Pemuda yang tampak sangat berbeda. Ia mengenakan jubah hitam dengan tudung yang menutupi wajahnya. Sebuah kain hitam dibiarkan menutupi hidungnya.
" Tentu saja.. Izika."
DEG
Izika mundur beberapa langkah dengan wajah pucat.
" Siapa kau? Kau tau namaku Izika? Jadi aku benar benar Izika kan? Ucapnya gugup. Perlahan pria itu mengangguk
" Kenapa aku ada disini? Dimana ini dan kenapa semua orang berpakaian dan berprilaku ane? Kenapa mereka memanggilku putri? Apa kau tau? Apa kau yang membawaku kemari? Dimana ini?”. Cerca izika meluapkan semua kebingungannya.
" Ini adalah rumahmu Izika, tempatmu seharusnya berada." Jawab laki laki itu kemudian melangkah kehadapan Izika.
" Tidak. Ini bukan rumahku, siapa kau??". Teriak Izika keras. Namun..
" Ssstttt." Pemuda itu meletakkan tangannya dibibir Izika.
" Diamlah atau angin akan marah padamu." Ucapnya lirih.
DEG.
Diamlah atau angin akan marah padamu..
Diamlah atau angin akan marah padamu..
Izika terhenyak. Entah kenapa ucapan dan prilakunya seolah mengingatkan izika pada sesuatu yang ia lupa.
Terasa sangat dekat.
" Si..apa kau?". Tanyanya getir.
" Aku tahu kau bingung. Izika kau juga Akira. Pada saat gerhana bulan total tahun 1987 kau kehilangan memorimu. Lalu dengan sekuat hati kau meminta sebuah permohonan. Hal terakhir yang kau ingat.. apa kau lupa permohonan itu. Dan kemarin adalah tepat kejadian itu berulang pada porosnya. Aku meminta satu hal pada tuhan agar aku bisa membawamu kembali." Ucapnya
Izika mengernyit tak mengerti
" Kau melupakan semuanya dan hidup bahagia. Membakar segala hal dimasa lalu. Lalu malam itu kau meminta satu hal pada pelangi ditengah hujan agar kau bertemu dengan Alexsander Oxtuz. Itulah kesempatan yang tuhan berikan padaku. Akira coba kau ingat tempat ini, coba kau lihat wajah ayahmu. Kau akan tahu mereka adalah sebagian dari dirimu." Lanjutnya kemudian membawa tangan izika agar duduk di bangku taman bersamanya.
" Siapa kau? Apa maksudmu?." Tanyanya lirih.
Dia terasa begitu dekat
Tapi juga tak bisa diingat..
Sosok itu tampak mengulas senyum
" Kau hanya punya 6 bulan untuk mengingatku. Tapi bukan itu yang aku mau. Aku hanya ingin kau tahu.... siapa dirimu yang sebenarnya AKIRA." Pemuda itu menundukkan wajahnya lalu kembali menatap Izika
" Jadi aku.. aku.. aku bingung apa yang kau katakan. Apa maksudmu. Dimana ini?". Tekan Izika
Perlahan awan mulai bergerak dan sosok itu mulai memudar.
" Ini adalah tahun itu Akira, tahun semuanya terjadi . Tahun 1987." Ucapnya membuat Izika pucat
" Apa?".
" Ini adalah Istana Phoenix. Istana putri Akira dan itu memanglah dirimu. Kau Izika dan kau juga Akira." Perlahan sosok itu mulai pudar.
Namun kebingungan dipikiran Izika semakin pekat saja.
" Tunggu siapa kau?". Teriak Izika tepat saat kupu kupu kembali terbang dan sosok pria itu mulai tak terlihat mata.
" Takdir." Jawabnya lalu senyap.
Izika terdiam ditempatnya dengan wajah pasi. Nafasnya seolah mencekik.
1987?? Phoenix??
Dia melihat sekitarnya. Menatap setiap pohon dan bunga yang tumbuh mekar disana.
" Akiraaaa ". Sebuah bayangan gelap tiba tiba muncul dikepalanya.
Entah kenapa hatinya terasa sakit.
" Aku mohon, tinggallah denganku.. tetaplah bernafas." Tangis bayangannya
" Akira.. diamlah.. angin bisa mendengar dan marah padamu." Ucapnya serak. Entah siapa itu, pandangannya seolah berkabut. Dann..
" Aarrkkhh." Akira memegang kepalanya yang terasa sakit.
" Tuan putri anda tidak apa apa?". Tanya beberapa pelayan yang mendekat kearahnya.
" Aku mencintaimu akira."
" Ayah."
" Tolong aku."
" Akira.. Akira..
Tak terasa air mata Izika menetes mengalir dihidung mancungnya lalu pecah ditanah.
" Tuan putri??".
Perlahan izika mengangkat wajahnya. Mata azulnya tampak bersinar terang.
" Dimana ayah? Aku merindukannya." Ucapnya dengan tatapan sendu.
Ya, aku adalah Akira.
Walau tak banyak yang aku ingat
Entah kenapa aku sedih..
Dan aku yakin
Akira adalah..
" Aku".
Pasti ada sebuah alasan yang membawaku kembali..
Aku hanya harus menemukannya.
Menemukan apa yang harus takdirku capai. Dimasa lalu.
Sosok bertudung itu tersenyum diantara pepohonan melihat kearah Izika yang berdiri lalu melangkah pelan.
" Ingatlah aku Akira, atau aku akan benar benar hilang." Ucapnya serak.
Siapakah dia??
***
" BrakK."
" Exsa dengarkan aku!!". Teriak Jeff sekali lagi. Kali ini ia menahan pintu itu dengan dua jari tangannya yang mulai berdarah.
" Aku tidak akan mendengarmu lagi Jeff. Kau pikir aku tidak tahu apa yang ada didalam pikiran kotormu itu. Jangan harap aku akan mendengarkan ide gilamu!!". Bentak Exsa berusaha sekuat mungkin menutup pintunya.
" Kau pikir apa yang akan terjadi jika kau tak mendengarkanku hah??". Teriak Jeffan mulai kesakitan.
" Aku hanya harus menunggu dia mati."
" Tidak Exsa. Ayahmu akan memberikan tahtamu padaku !!". Tekan Jeffan.
" Apa?". Raut wajah Exsa berubah. Pegagannya perlahan mengendur hingga Jeffan bisa masuk kesana dengan mudah.
" Kau harus mendengarkan aku!!".
" Apa kau serius. Kau tak berhak jeff!". Tekan Exsa. Pemuda itu mengusap rambut emasnya jengkel.
" Beliau masih hidup Exsa. Hukum tetap berjalan. Ayahmu bilang dia akan menjadikan aku pewaris tahtanya jika kau tetap seperti ini." Tutur Jeff. Exsa mulai terlihat frustasi
" Sial!!". Decaknya geram.
" Dengarkan aku Exsa, aku tak ingin tahta ini percayalah padaku. Aku hanya ingin membantumu." Ucap Jeffan tulus. Exsa menatapnya getir.
" Lalu bagaimana? Bukankah kau selalu membantuku selama ini? Jeffan Lien aku tak akan meninggalkan Daynaku." Ucap Exsa kokoh
" Kau tak harus meninggalkannya. Kau hanya harus patuh saja. Setelah baginda meninggal semuanya terserah padamu." Ucap Jeff berapi api. Exsa mengerutkan keningnya bingung.
" Apa rencanamu sebenarnya?". Tanyanya serius.
" Menikahlah dengan seorang putri..
" Apa kau gila !!". Potong Exsa langsung menarik kerah kemeja Jeff kasar.
" Ini hanya Pura pura !! Teriak Jeffan.
" Apa maksudmu?
" Nikahilah seorang putri. Hanya itu yang harus kau lakukan. Kau tak perlu menyentuhnya juga tak perlu menganggapnya istrimu. Kau bebas setelah itu. Dia hanya akan jadi alasanmu menduduki tahta dan Daynalah istrimu. Buat dia mengandung bayimu dan masalah selesai. Dia akan jadi ibu ratu. Apa kau mengerti maksudku?". Teriak Jeffan emosi. Pangeran didepannya sama sekali tak mengerti jika tidak dengan cara ini.
" Apa kau tidak mengerti Exsa. Aku hanya ingin kau bahagia itu saja". Tambahnya dengan wajah memerah. Exsa mulai luluh. Perlahan dia tampak berpikir.
Beberapa saat kemudian ia mengulas senyum.
" Kau benar. Itu ide yang bagus." Ucapnya membuat Jeffan menarik napas lega.
" Kau bisa mengandalkan aku exsa." Senyumnya senang.
" Bagus. Sekarang aku butuh satu bantuan lagi." Ucapnya menepuk pundak Jeff.
" Apa?".
" Carikan aku putri yang pantas." Senyumnya mengembang. Jeffan tersenyum senang. Ia mengambil nafas dalam menatap sahabatnya lekat.
Lalu...
" Aku sudah menemukannya." Ucapnya mantap.
Aku harus melakukan ini..
Sebelumnya aku sudah membaca semua arsip kerajaan.
Aku harus mendapatkan seorang putri
Yang kecantikannya bisa mengalahkan Dayna
Putri yang cerdas
Pintar
Kuat
Dan cerdik
Mungkin putri itu akan sedikit kesulitan menghadapi Exsa
Dia juga mungkin akan menderita.
Tapi aku yakin..
Dia bisa menyelamatkan hati Exsa
Karna aku tak tau.
Siapa Dayna sebenarnya.
" Siapa dia Jeffan?". Tanya Exsa penasaran
Jeffan tersenyum manis. Lalu dengan mantap dia menjawab.
" Akira Phoenix."
Dan inilah awal mula sejarah tertulis.