 Sayap Sayap Patah

1816 Words
Izika terdiam menangis dikamar megah itu setelah mendengar semua penjelasan dari Jeffan tentang semua rencana Exsa. Rambut blonde panjangnya tampak acak dan gaun yang dia kenakan sebagian basah oleh air mata. Apa ini? Mengapa seperti ini? Rasanya sangat menyakitkan mengetahui kenyataan ini.. Kenapa? Tok tok tok Izika menatap kearah pintu, suara ketukan itu masih saja terdengar sejak ia mengusir Jeffan keluar dari kamarnya. " Putri please buka pintunya, biarkan saya membantu anda!!" Teriaknya lirih. Izika tak peduli. Ia kembali membenamkan wajahnya diantara kedua lututnya lalu kembali menangis. " Go to hell." Ucapnya kesal. Dan hal itu berlanjut sampai matahari terbit di ufuk timur. Sementara itu, dilain tempat.. " Sayang, bangunlah.. ini sudah pagi." Sebuah kecupan hangat dipunggung telanjangnya membuat mata biru rubi Exsa terbuka malas. Pemuda itu kemudian berbalik memeluk mesra gadis yang tampak sangat cantik kedadanya. " Dayna aku mencintaimu." Ucapnya parau. Gadis itu melepas pelukan Exsa lalu kembali meraih gaunnya. " Kau tau Exsa, aku juga sangat mencintaimu.. tapi..." " Tapi apa sayang?". Exsa langsung bangkit memeluk sosok yang tampak murung didepannya. Dayna menatap Exsa dengan tatapan berkaca kaca. " Aku tidak menyukai ini, tapi gadis itu, dia juga istrimu bahkan ayahmu lebih menyukainya dari pada aku. Exsa aku takut, dia sangat cantik, aku takut dia merebutmu dariku." Tekan Dayna dengan air matanya yang hampir menetes. " Sssttt jangan ulangi kata kata itu lagi. Aku hanya mencintaimu sampai kapanpun aku sangat mencintaimu, tidak akan ada gadis lain dihidupku selain dirimu." Ucapnya menghapus air mata itu lalu kembali memeluk Dayna erat " Ku mohon jangan tinggalkan aku." Isak Dayna. " Iya, aku janji sayang dia tidaklah lebih berarti dari sekedar batu loncatan untuk kita. Kau adalah ratuku satu satunya." Dayna tersenyum mendengar ucapan Exsa. Benarkah begitu?? *** " Kau!!". Izika tersentak saat membuka pintu kamar Jeffan dan mendapati pemuda itu meringkuk diluar pintu kamarnya. Kulit putihnya tampak pucat dan rambut halusnya terlihat acak. Pasti semalaman dia tidur di sana. " Hai." Ucapnya dengan senyum pucat kemudian berdiri menjajari Izika. " Apa yang coba kau buktikan dengan bermalam disini? Ucap Izika dengan tangan dipinggang. Pemuda didepannya menggaruk tengkuknya lugu " Tidak ada, aku hanya mengantuk saja kau membiarkanku diluar." Jawabnya polos. Izika mendengus kesal. " Apa maumu sebenarnya?". " Sssttt pelankan suaramu." Decak Jeffan mendorong tubuh Izika kembali kedalam kamarnya saat beberapa pelayan tampak melewati tempat itu. " Lepaskan aku!!". Teriak Izika kesal. " Tuan putri dengar, kau boleh marah atau membentakku. Kau juga boleh luapkan semua amarahmu dengan memukulku. Tapi aku berjanji padamu, aku pasti akan membantumu." Jeffan menatap Izika dengan sungguh sungguh. " Bohong!!". Tukas gadis itu memalingkan wajahnya. Ya ampun.. sulit sekali meraih kepercayaan gadis ini- batin Jeffan " Untuk apa saya membohongi anda? Saya tidak memiliki keuntungan apapun. Percayalah saya hanya ingin membantu anda. Anda pasti bisa mendapatkan hati Exsa." Tekan Jeffan . Izika menatap kedalam matanya " Aku tidak butuh bantuanmu!"Tekan Izika. Mendengar itu Jeffan menarik nafas panjang lalu menghembuskan nafasnya kerambut poninya kesal. Izika benar benar menguji kesabarannya. " Kau tahu, aku sebenarnya tidak suka bicara formal. Aku ini juga seorang pangeran kau tahu itu. Jadi jika kau tidak mau bantuanku ya sudah. Dasar keras kepala. Kau itu mirip seperti Exsa." Balas Jeffan akhirnya. Izika memanyunkan bibirnya kesal. Entah kenapa didepan pemuda berdarah asing ini ia bisa menjadi dirinya sendiri. " Ya sudah bunglon, abaikan saja aku. Gitu aja repot, lagipula aku tidak butuh bantuan siapapun untuk mendapatkan suamiku!". Tekan Izika " Kau tidak tahu siapa itu Dayna, Akira." " Aku akan segera tahu." Jawab Izika . " Terserahlah!". Jeffan memutar langkahnya kearah lemari kayu diruangan itu lalu meraih sebuah kemeja hitam dari dalamnya. " Hei kau mau apa?". Teriak Izika saat pemuda itu melepaskan kemejanya santai. " Ganti baju!". Jawab Jeffan dengan ekspresi datar. Izika memalingkan wajahnya menghindar, tapi masih mencuri curi pandang melihat tubuh Jeffan yang ekhm.. Lumayan Sexi Dia mirip artis korea - batin Izika menelan kagum "Ayo." Ajak Jeffan tiba tiba. Ia tampak merapikan rambutnya sekilas didepan cermin. " Kemana?". Tanya Izika bingung. Pemuda itu berbalik menatap wajahnya dengan kening yang bertaut sexi. " Apa kau tidak lapar. Kita harus kemeja makan." Sambungnya. " Apa disana ada Exsa dan.. gadis itu?". Tanya Izika dengan wajah tertunduk. Jeffan tersenyum mengangkat alisnya. " Wow kemana perginya gadis keras kepala tadi? Jangan bilang kau takut menghadapinya?". " Heh busuk dengar ya." Izika mengangkat wajahnya berang. " Ok baik si busuk ini mendengarmu." Ucap Jeffan menahan tawa. " Iz.. Akira tidak pernah takut pada siapapun apalagi gadis norak desa kayak dia." Tekan Izika " Hmm lalu? " Lihat pakaianku ini, lihat aku. Apa aku tidak akan ditertawakan menurutmu hah?". Izika menilang nilang gaun yang dia pakai. Jeffan tersenyum menyadari betapa berantakannya gadis itu. Rambutnya acak dan makeupnya berantakan. Apalagi gaunnya yang sudah berhari hari tidak diganti. " Haha tunggulah sebentar." Ujar pemuda itu kemudian " Kau mau kemanaaa?". Teriak Izika. Namun Jeffan tak menjawab malah berlari keluar dari kamar itu. " Aneh." Tukas Izika lirih. " Tapi dia memang mirip artis korea sih hmm siapaaa ya namanya.. salah satu aktor Boys Before Flowers. Ehm persis banget." Ucapnya menggumam. Beberapa waktu kemudian ruang makan. Jeffan melangkah santai membantu para pelayan menata makanan dimeja. Sesekali pemuda itu bercanda ria bersama mereka. Hingga saat seseorang tiba tiba memegang tangannya lembut.. " Jangan macam macam Dayna." Kecam Jeffan lirih menarik lengannya. Dayna tersenyum memainkan matanya. " Kenapa? Apa kau takut ada yang melihat? Jeff kau tau? Wajahmu itu selalu saja menarik saat ketakutan." Bisik gadis berambut gelap itu s*****l. " Gila!". Kecam Jeffan memalingkan diri menuju seberang meja menata sendok disana. Dayna menggigit bibirnya sexi menatap pemuda didepannya yang tampak tak peduli padanya. Hingga Exsa datang diruangan itu dengan rambutnya yang masih basah. Para pelayan seperti biasa tersenyum kagum menyambut sang pangeran yang selalu saja terlihat elegant. Senyum manisnya mengembang melihat sahabat dan istri tercintanya sudah lebih dulu ada disana. " Semuanya sudah berkumpul, aku sudah lapar. Mari kita mulai." Ucapnya menggantikan posisi di kursi ayahnya. Mendengar itu Jeffan mengangkat wajahnya menatap Exsa " Belum, kita harus menunggu akira." Ucapnya membuat Exsa mengernyit. Dayna yang duduk disisi Exsapun mengangkat alisnya tak suka " Apa kamu bilang? Jeff ini sudah selesai bukan. Aku tidak harus menganggapnya lagi." Tukas Exsa dengan wajah masam. Jeffan tersenyum manis menggelengkan kepalanya. " Tidak Exsa. Ini belumlah berakhir. Paman masih hidup dan selama itu kau masih dibawah bayangannya." Tekan Jeffan lirih. Exsa mengernyitkan alisnya. " Aku tak menyangka kau mengatakan hal ini. Kau tahu jeff aku benar benar muak selalu berpura pura baik padanya." Tekan Exsa dengan tatapan tajamnya. Dayna mencoba memegang tangannya lembut. " Exsa pikirkan dengan baik. Bahkan seharusnya kursi didekatnya itu adalah miliknya. Kau perlu membangun image agar semua orang mempercayaimu." Tukas Jeffan. " Jeffan apa kau sedang mengatur suamiku?". Ucap Dayna penuh penekanan. Jeffan hanya tersenyum dengan tangan menumpu dagunya dimeja. Sorot matanya menatap Dayna tajam " Ingat Dayna, dia suami Akira didepan semua orang. Setidaknya sampai paman tiada." Ucapnya santai. Beberapa saat suasana menjadi hening dan saling bertatapan tajam. Hingga tiba tiba.... " Aku tak akan mau duduk ditempat yang sudah diduduki orang lain." Ucap seseorang yang melangkah anggun kesana. Exsa menatap kearah suara itu, dan mendapati sosok Izika melangkah dengan anggunnya menuju kemeja makan. Sosoknya bahkan membuat pangeran itu tak berkedip. Gaun putih yang membalut tubuh sexinya benar benar indah. Rambut panjangnya di ikat dengan baluran permata kecil kesamping serta wajahnya yang sangat cantik dengan bibir merahnya yang menggoda. Izika duduk dengan anggunnya berhadapan dengan Jeffan yang tersenyum memainkan matanya lalu mulai menyantap makanannya. Exsa PoV Dia benar benar membuatku terpana Seolah pertama aku melihatnya Tubuhnya, wajahnya, bahkan aromanya.. Seolah nafasku tertahan direlung dada Bagaimana bisa dia seelegant ini? Aku tak sadar beberapa waktu. Hingga merasakan seseorang memegang tanganku hangat. Aku menatap kearah Daynaku.. " Maaf sayang.." bisikku ditelinganya. Dia tersenyum manis membuatku mati rasa. Sesekali aku menatap kearah wanita yg baru kunikahi diseberang sana. Ada apa dengan diriku? Aku melihatnya tertawa bersama Jeffan. Mereka terlihat begitu akrab. Dan itu.. Membuatku merasa kesal. Tanganku tanpa sadar mengepal. Berani sekali Jeffan mencuri tawa dari istriku Akira? Apa aku bilang barusan?? Istri?? " Exsa kenapa kau tak makan?". Tanya Jeffan membuatku semakin meradang. Terkadang wajahnya yang selalu tampak tak berdosa itu sangat menyebalkan. Aku memalingkan wajahku muak lalu berdiri " Aku makan atau tidak apa urusanmu. Kalian berisik sekali. Dan kau( aku menunjuk kearah Akira) apa kau tidak pernah diajari tarakrama dimeja makan?". Teriakku emosi. Yang entah kenapa itu terasa konyol bagiku. " Kawan kau kenapa?". Tanya Jeffan mengernyit. Dayna pun berdiri dan mengusap dadaku lembut dedepan mereka. Aku mengambil kesempatan ini dengan memegang tangannya hangat berharap Akira marah melihatnya. Oh tuhan apa yang ada diotakku ini?? Akira sama sekali tak peduli. Dia malah asik menyantap makanannya tanpa menoleh kearahku. " Menjijikkan!". Tekanku emosi lalu melangkah pergi dari sana. POV End. Flashback " Jeff ini apa apaan?". Teriak Izika saat Jeffan kembali membawakan beberapa pelayan kekamarnya tadi. " Tolong urus tuan putri dan jadikan dia gadis tercantik hari ini." Tukas Jeffan tak mendengarkan Izika. Para pelayan itu langsung menunduk hormat lalu mendudukkan gadis itu pada sebuah bangku dan mulai membersihkan tubuhnya. " Jeffan!!". Teriak Izika " Sssttt diamlah dan temui aku dimeja makan setelah ini. Bukankah kau ingin terlihat lebih cantik dari Dayna?". Jeffan mengangkat alisnya " Apa kau mengaturku?". Tekan Izika memutar bola matanya kesal. Jeffan hanya tersenyum mengangkat bahunya tanpa menjawab lalu beranjak keluar. " Sinting." Manyun Izika. " Tuan Jeff itu sangat baik putri." Ucap pelayan yang menyisir rambutnya pelan. Izika hanya tersenyum menatap pintu kamar itu. " Entahlah..." Back Off " Thanks." Jeffan terhenyak meletakkan sendok dipiringnya. Izika tampak berdiri disampingnya sambil tersenyum manis. " Kau membuatku terlihat berharga hari ini." Lanjutnya. Jeffan berdiri menjajari Izika lalu tersenyum manis " Sudah kubilang kan. Aku akan membantumu. Dan kau lihat barusan? Aku yakin Exsa akan menyukaimu." Jawab Jeffan Izika mengulurkan jari kelingkingnya membuat Jeffan mengernyit. " Apa ini? " Sahabat?". Tanya Izika dengan wajah merona. Jeffan kembali melirik kelingking Izika yang terulur didepan dadanya. " Tak ada persahabatan yang bisa terjadi antara pria dan wanita Akira." Ujar Jeffan. " Maka sekarang akan ada. Ayolah.. kau mau kan jadi sahabatku?". Ucap Izika. Jeffan tampak berpikir sejenak. " Aku memaksamu." Tambah Izika yang akhirnya berhasil membuat pemuda itu menunjukkan senyum manisnya lalu mengaitkan jari kelingkingnya ditangan Izika. Dan saat itulah.. Saat aku menyentuh tangannya seolah ada ikatan yang jauh melebihi apapun dihidupku.. Aku tak bisa memalingkan mataku dari matanya.. Akira..... Aku tak ingin merasakan ini padanya.. Untuk kedua kalinya. Ya, kedua kalinya.. " Lien.....". Teriakan itu seolah merebah dimemorie panjangnya. Teriakan dari bayangan seorang gadis kecil yang mengejarnya dari belakang. " Namaku Jeffan bukan Lien.." Tolak Jeffan kecil waktu itu " Tetap saja. Kau bernama Lien." Gadis itu mengembungkan pipinya lucu. " Baiklah terserah kau saja." Jeffan kembali meraih bunga bunga kecil yang tumbuh liar didepannya. " Itu bunga untuk siapa?". Tanya gadis itu mengernyit. Jeffan tersenyum manis. Lalu menunjukkan bunga bunga ditangannya kehadapan gadis kecil itu. " Ini untukmu..". Ujarnya membuat gadis itu tersenyum senang. Namun.. saat ia hendak meraihnya.. " Ini milikkuuu!!". Seseorang tiba tiba menarik bunga bunga itu dan merampasnya dari tangan Jeffan. Gadis kecil lain yang terlihat begitu marah. " Jeffan adalah milikku, dia temanku dan hanya akan menjadi temanku!!". Bentaknya pada gadis kecil tadi kasar Back Off Tak terasa bola mata Jeffan memerah menatap kedalam mata Izika saat itu. Kenapa?? Aku mengingat memorie itu...?? Batinnya " Jadi, kita sahabat?". Senyum Izika menghentakkan lamunannya. " Baiklah." Jawab Jeffan kemudian. Pemuda itu tersenyum datar , senyum yang tak sampai kemata. Tidak Jeffan, kau tidak boleh luluh... Tidak akan
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD