Disinilah aku sekarang. Sebuah istana yang menjulang tinggi dan begitu besar. Aku berdiri didepan suamiku menyambut rakyat yang begitu hangat memandang kami dengan ribuan doa. Beberapa diantara mereka memuji keserasian kami.
Sikapnya padaku benar benar hangat. Aku masih yakin dia mencintaiku walau sejak malam itu ia sama sekali tak menyentuhku.
Beberapa hari diperjalanan ia seolah menjauh dariku dan selalu dekat dengan pria berambut gelap itu. Pria yang katanya seorang pangeran tapi posisinya mirip seperti pelayan.
Sudahlah..
Mungkin Exsa ingin aku tiba diistananya dulu. Dan memberikanku sebuah kejutan indah untuk honeymoon kami disana.
Tapi kenapa..
Saat aku melihat dinding gerbang istana itu, aku merasa takut??
Seolah ada sebagian dari hatiku yang menolaknya.
Hingga..
***
"Ayo." Exsa tersenyum manis menyambut tangan Izika. Membuat gadis itu tersenyum senang memegang erat tangan kokohnya. Dibelakangnya, Jeffan tersenyum mengikuti langkah mereka. Exsa tak melepas sekalipun tangan sang putri membuat semua pelayan tersenyum menatap betapa serasi pasangan itu.
Senyum bahagia, kecuali gadis itu.
Gadis yang menatap mereka dengan wajah merah dan tangan yang mengepal erat pada bingkai jendela kamar Exsa. Wajah cantiknya memancarkan sinar kebencian yang besar.
" Kenapa harus Akira ." Ucapnya geram lalu kembali menutup jendela itu kasar. Dia tak lain adalah Dayna. Gadis misterius yang dinikahi Exsa.
Beberapa saat, gadis itu menarik nafas panjang meluapkan semua emosinya dengan memejamkan mata. Hingga..
Beberapa detik kemudian ia mengulas senyum cantiknya.
" Tapi bagus juga sih, putri Akira, adikku tersayang, dengan begini aku bisa menyiksamu. Menyiksa jiwa dan ragamu. Sayangku, selamat datang di neraka.. hahaha." Tawanya kemudian merentangkan tubuhnya keranjang megah itu.
" Exsaku sayang, aku merindukanmu." Ucapnya memeluk selimut hangat disisinya.
Sementara itu,
" Klek." Dua prajurit itu menunduk hormat setelah membuka pintu.
Akira menatap kagum pada dekorasi megah yang terpahat sempurna di seluruh dinding ruangan didepannya. Batu batu rubi menempel dilantai kaca yang seolah dialiri air berwarna biru dilantainya.
" Ayo sayang, masuklah, ayah sudah menunggu kita." Senyum Exsa kemudian mengaitkan tangannya dipinggang Izika membuat gadis itu tertahan menatap wajah elok disisinya.
Mereka melangkah memasuki ruangan terbesar yang ada diistana itu. Aroma musk segar langsung menyentuh hidung mancung Izika. Tampak sebuah ranjang tidur berlapiskan permata hitam dengan ukiran emas di setiap sudutnya. Selambu yang menutupinyapun terbuat dari kain menyerupai sutra yang sangat lembut.
" Beliau sudah lama menunggu anda yang mulia. Kondisi beliau sangat buruk akhir akhir ini." Ucap seorang pria berpakaian putih dengan janggut tebal yang mungkin adalah dokter yang merawat sang raja.
Exsa membawa Izika mendekat.
Wajah itu tampak begitu letih.
Bibirnya memucat dan tangannya terlihat terus gemetar.
Namun dimata birunya, aku bisa melihat dia sangat bahagia menatapku.
" Maafkan saya , saya tidak bisa menyambut anda dengan baik tuan putri. " Ucapnya memegang tanganku.
Dia benar benar lembut, kini aku tau sifat lembut siapa yang diwariskan ke Exsa.
" Ayah, istirahatlah.." ucap Exsa memegang tangan tua itu penuh perhatian. Aku lihat dia hampir saja meneteskan air mata.
" Alexsander, hari ini ayah merasa kau memang pantas menjadi pengganti Ayah nak. Ayah sangat bahagia kau membawa putri yang begitu cantik sebagai menantu ayah." Ucapnya membelai wajah Exsaku penuh kasih sayang.
" Kemarilah." Dia melambaikan tangan kearahku. Lalu memintaku duduk disisinya.
" Exsa kau juga duduklah disini nak." Ucapnya lagi menepuk sisi didepanku. Exsa menurut dan duduk disisinya.
Seseorang berpakaian hitam yang selalu berdiri disamping ayah Exsa tampak menatap kami.
" Ayah rasa inilah saatnya." Senyum tua itu kemudian melepaskan cincin dari ibu jarinya. Sebuah cincin yang sangat indah dengan mata terbuat dari berlian membentuk wajah seekor elang.
" Ayah, apa kau yakin?". Tanya Exsa berbinar binar.
" Iya nak, semua syarat bisa kau penuhi. Sekarang ayah tak khawatir lagi. Kau sudah memiliki Putri Akira dan Jeffan disisimu. Kau pantas menjadi penguasa disini." Jawab raja Oxtuz dengan penuh keyakinan kemudian menyematkan cincin itu di ibu jari Exsa.
" Sekarang dengan disaksikan oleh perdana menteri Tepes. Kau sah menjadi raja sementara sampai posisimu dikukuhkan." Senyum sang raja membuat Exsa berhambur memeluknya.
" Terima kasih ayah." Ucapnya membuatku terharu.
Aku melirik kearah pemuda bernama Jeffan yang tampak juga tersenyum bahagia disisi sana.
***
Jeffan tampak menarik nafas lega setelah semuanya. Dia merasa sangat lelah setelah melakukan perjalanan panjang dan berakhir sesuai dengan apa yang diharapkan sahabatnya.
Dengan langkah gontai pemuda berambut hitam itu menuju kekamarnya.
" Tuan Jeff anda mau kemana?". Tanya beberapa pelayan saat ia temui di koridor
" Aku merindukan kamarku, apa kalian tidak merindukanku?". Senyum Jeff ramah lalu memainkan matanya membuat pelayan pelayan itu tertawa senang
" Anda bisa saja, tentu saja tanpa anda kami merasa sepi, kamar anda sudah kami bereskan." Jawab mereka.
" Terima kasih para pengurus istana yang baik hatiii." Jeffan membungkuk hormat membuat mereka kembali tertawa.
Begitulah mereka begitu menyukai pemuda berwajah manis itu. Dia bisa dengan mudah bergaul dengan siapa saja.
Jeffan melanjutkan langkahnya menuju ruangan cukup besar tak jauh didepannya " Kamarnya". Ia tersenyum saat mendapati ruangan itu sama sekali tak terkunci. Dengan siulan kecil ia melangkah masuk dan menguncinya dari dalam.
" Aku harus mandi, berhari hari diperjalanan bersama Exsa rasanya seluruh tubuh ini kaku." Ucapnya pada diri sendiri lalu melangkah kearah kamar mandi. Jeffan menatap wajahnya dicermin, perlahan ia melepas kancing kemejanya lalu melemparnya asal. Tatapannya tertuju pada bathub yang sudah dipenuhi dengan air hangat dengan taburan bunga yang kembali membuatnya tersenyum
Betapa baiknya para pelayan itu menyiapkan semuanya.
Beberapa saat kemudian ia memasukkan dirinya kedalam rengkuhan air hangat yang seolah menjernihkan pikiran dan hatinya. Jeffan menenggelamkan wajahnya beberapa detik.. dan saat ia mengangkat wajahnya kepermukaan air. Tiba tiba...
" Jeffan Lien." Sebuah tangan halus menjalari tangannya.
" Kau!!" Jeffan bangkit dari pemandiannya lalu berdiri dengan wajah kaget. Mata hitamnya menatap kedalam irish mata indah didepannya. Jari jari lentiknya kembali menyentuh d**a bidang Jeffan lalu menjalar kearah lehernya.
" Kau benar benar tampan." Bisiknya dengan suara serak
" Jangan sentuh aku!!". Jeff menahan tangannya lalu menariknya kearah ranjangnya dan menghempasnya kasar. Gadis itu mengeluh ringan
" Kau kasar sekali. Tidak ada yang melihat kita kan? Aku sangat merindukanmu Jeff. Apa kau sudah melupakan aku?". Keluhnya menarik lengan kokoh Jeffan halus. Pemuda itu mengusap rambut basahnya kebelakang lalu berdecak lirih.
" Keluar dari kamarku dan jangan menggangguku lagi !!".
" Jeffan ini aku."
" Aku tidak perlu tahu siapa kau Dayna. Yang aku tahu adalah kau istri dan cinta Exsa jadi tolong jangan seperti ini." Tekan Jeffan kemudian menarik lengan gadis itu kasar dan menyeretnya menuju pintu.
" Jeffan.. ini aku
" Aku tidak peduli!!".
" Jeffan sakit, awwhh kau kasar sekali!". Dayna mencoba menarik tangannya. Jeffan berhenti didepan pintu lalu menatapnya tajam
" Kau mau keluar sendiri atau aku yang mendorongmu hah?". Tanyanya dingin. Dayna tampak berkaca kaca menatapnya.
" Jeffan ini aku..
" Berhenti mengatakan ini aku dan keluarlah!!".
" Jeffan Lien. Aku datang kemari untukmu."
DEG. Jeffan mengernyit. Wajah cantik Dayna menatapnya sendu
" Apa kau benar benar tak ingat padaku? Ini aku.. Aurora Phenix."
DEG.
Wajah Jeffan langsung berubah pucat mendengarnya. Dia seolah membeku menatap Dayna
" Ini aku sayang.. Aurora. Kau tau betapa menderitanya aku tanpamu? 11 tahun lamanya aku mencarimu. Aku begitu marah saat Kerajaan ini merenggutmu. Apa kau tak ingat aku?". Air mata Dayna menetes.
" Tidak!! Ini tidak mungkin. Tidak !!". Jeffan gemetar. Tubuhnya hampir saja limbung ketembok saat menatap lekat wajah Dayna.
" Aku benar benar merindukanmu sayang." Gadis itu berhambur memeluk tubuh Jeffan erat. Namun...
" Cukup !". Jeffan melepas pelukannya. Matanya tampak berkaca kaca.
" Tapi jeffan..
" Itu sudah lama berlalu. Jeffan yang berdiri didepanmu sekarang adalah saudara bagi suamimu. Jadi tolong lupakan saja. Dan pergilah!". Ucap Jeffan membukakan kunci kamarnya. Dayna mematung mendengar ucapan Jeffan.
" Jeffan apa kau tidak merindukanku?".
" Kumohon pergilah!". Tekan Jeffan membukakan pintunya. Pemuda itu menyembunyikan air matanya tak mau menatap Dayna. Dayna mengepal gaunnya erat. Bola matanya berkaca kaca.
" Aku mencintaimu Jeffan. Dan akan aku lakukan apapun untuk membalas apa yang mereka lakukan padamu!". Ucapnya membelai hangat wajah pucat Jeffan
" Pergilah !". Tekan Jeffan sekali lagi. Gadis itupun menghapus air matanya dan berlalu pergi. Seperginya dia Jeffan menghapus air matanya lalu menutup pintu kamarnya rapat. Ekspresi sedihnya berubah menjadi senyuman yang entah bermaksud apa.
***
Dan inilah akhir dari impianku...
" Exsa, diaa??". Izika tercekat penuh tanya saat Exsa tiba tiba melepaskan pegangan tangannya setiba didepan kamar. Senyum manisnya berubah datar kearah Izika lalu memeluk hangat sosok gadis cantik didepannya. Bahkan gadis itu dengan berani mengecup bibir Exsa lembut didepan matanya. Ini ibaratkan ada air garam yang mengguyurmu agar segera bangun dari mimpi indah.
" Well terima kasih atas bantuanmu Akira, perkenalkan dia adalah Dayna istri yang sangat aku cintai. Ratuku!". Ucap Exsa membuat bola mata Izika membundar.
Ia menatap gadis itu dengan sorot mata kebingungan.
" Apa ini sebuah lelucon?". Tanya Izika pucat. Bagaimana tidak? Hal ini ibarat petir yang menyambar saat kau tengah menikmati indahnya cahaya matahari. Hatinya terasa perih.
Exsa mengaitkan tangannya di pinggang Dayna lalu mengecup bibirnya lembut didepan Izika.
" Tolong jawab aku!". Ucap Izika gemetar. Exsa memainkan matanya dan dengan jahatnya dia berkata
" Benar, ini sebuah lelucon untukmu. Dan aku sudah tidak sanggup lagi. Pergilah carilah tempat tidur manapun yang kau mau. Tapi tidak disini, karna kau tahu kamarku adalah milik istriku yang sebenarnya. Dayna".
DEG. Izika memegang dadanya yang seolah menyengat seluruh tubuhnya. Nafasnya seolah tak sanggup berhembus.
" Kau bohong kan? Apa artinya semua ini? Kau mempermainkanku?". Air matanya meleleh. Wanita didepannya tersenyum mengejek.
" Bodoh, raja boleh kan memiliki lebih dari satu istri. Exsa milikku kau harus terima itu. Kau hanya akan menjadi selir. Jadi jangan menangis. Senyummu sudah berakhir." Ucap Dayna. Izika mematung menatap Exsa yang hanya tersenyum sinis.
" Sudahlah sayang. Aku sangat merindukanmu. Abaikan saja dia." Ucap Exsa
" Aku ingin pulang." Tutur Izika parau. Mendengar itu Exsa tersenyum dingin.
" Aku tidak peduli. Kalau kau mau pulanglah dan permalukan ayahmu." Ucapnya seolah tanpa dosa lalu memegang lengan halus Dayna. Dan...
" Brak !!!". Pintu itu terbanting keras setelah dua mahluk itu masuk
Kecerdasannya adalah warisan ayahnya, ketampanannya adalah cerminan dari ibunya, dan kebijaksanaannya adalah lambang kejayaan dimasa itu
Kata kata itu seolah mencubit hati Izika jika mengingatnya. Kenapa kenyataan dan sejarah begitu berbeda?
Air matanya bahkan tak sanggup keluar menahan kekecewaan dan sakit hati yang ia rasakan. Ini seperti ia dijatuhkan sampai hancur. Bahkan setelah disakiti seperti ini ia masih mencintai Exsa.
Sang putri melangkah lunglai tak tahu arah. Ditatapnya bunga bunga mawar yang tampak indah dengan warna putihnya dimalam yang gelap. Sekali lagi ia melirik kearah kamar Exsa, entah apa yang mereka lakukan didalam.
Izika mencepol asal rambut panjangnya lalu hendak duduk dilantai merenungi nasib. Namun...
" Apa kau ingin semua orang menertawakanmu?".
Izika menoleh. Sorot matanya menajam melihat sosok yang tampak tersenyum manis dengan rambut berponi sampingnya yang membuatnya terlihat cute.
" Kau? Jeffan? Izika menatapnya tajam. Jeffan tersenyum meletakkan tangannya disaku lalu menghentikan langkahnya didepan Izika.
" Apa kau selemah ini?" Tanyanya pada Izika.
" Tanyakan itu pada pangeranmu. Apa maksudnya memperlakukan aku seperti ini?? Aku ini putri terhormat. Berani sekali dia melakukan ini padaku. Dan gadis itu?? Siapa dia?.” Izika menahan air matanya yang hampir meledak turun.
" Apa kau marah?". Raut wajah Jeffan berubah datar. Ditatapnya putri malang itu
" Tidak.. aku hanya.. aku hanya.." Izika akhirnya tak sanggup menahan air matanya. Ia menangis, melihat itu, Jeffan melepas jubahnya lalu menyelimutkannya kepunggung telanjang Izika. Gadis itu menatapnya bingung.
" Jangan menangis. Aku kira kau tak akan selemah ini." Ujar Jeffan
" Apa kau tau semuanya?". Izika menghapus air matanya pelan. Mata Azulnya menatap kedalam mata gelap Jeffan.
Jeffan mengangguk lirih.
" Ikutlah denganku. Akan aku ceritakan semuanya." Ajak Jeffan.
" Kemana?".
" Kekamarku".
" PLASH!!". Sebuah tamparan kesar mendarat diwajah tampan Jeffan membuat bekas merah dipipi putihnya yang benar benar terasa nyilu.
" Berani sekali kau mengajakku kekamarmu!!". Bentak Izika marah
" Kau ini ishh". Jeffan hampir saja meradang. Tapi kemudian ia menarik nafas dan mencoba tenang.
" Kamar terbesar selain kamar Jeffan diistana ini adalah kamarku. Dan aku tak mungkin membiarkanmu tidur diruang tamu. Para pelayan akan curiga. Kau harus tetap menjadi istri Exsa yang berharga. Aku yang akan menjaga dan membantumu." Tekan Jeffan membuat Izika mengernyit
" Apa kau bisa dipercaya?". Tanyanya ragu
" Terserah, aku hanya mencoba melindungi harga dirimu dan Exsa. Bukankah kau ini seorang putri yang cantik dan cerdas. Apa kau tidak percaya diri menghadapi Dayna?". Jeffan mengernyit. Izika menatapnya berfikir
" Kau benar." Ucapnya akhirnya. Jeffan tersenyum
" Makanya, jangan terlalu kasar. Kau tau, angin bisa marah padamu ". Ujar pemuda itu lalu berlalu mengawali langkah.
DEG
Dia bilang apa tadi??
Kata katanya...Sepertinyaaa
Sangat aku kenal
"Jangan berteriak, angin bisa marah padamu."
Izika mematung menatap punggung kokoh Jeffan yang terus melangkah tegap didepannya
Dan siapa dia sebenarnya??