Dia menatapku sepanjang upacara. Membuatku menunduk menahan nafas yang seolah semakin dingin. Ini benar benar seperti mimpiku,walau aku tak mengerti apa yang terjadi, tapi semuanya begitu indah. Apalagi saat kami berhadapan dan dia berjanji didepan ayahku akan menjagaku seumur hidupku.Itu benar benar indah. Aku tak mampu memperhatikan hal apapun selain dirinya.
Wajahnya, senyum dibibir merahnya, tubuh kekarnya dan aromanya. Kini semuanya benar benar menjadi milikku.
Dengan mimpi itulah aku melangkah pergi meninggalkan ayahku setelah upacara ini selesai. Begitulah peraturan disini. Aku hanya boleh kembali saat aku mengandung putra mahkota kerajaan ini dan kerajaannya nanti. Ayah.. aku pasti akan merindukanmu..
Aku menatap wajah tuanya teduh tanpa terlintas sekalipun pemikiran diotakku bahwa itu terakhir kalinya aku melihat dia tersenyum
" Ayah harap kamu bahagia sayang, cepatlah menjadi ibu dan kembalilah secepatnya. Ayah tak akan bisa hidup tanpamu lebih lama." Ujarnya menciumi setiap bagian dari wajahku yang tersapu air matanya. Air mataku ikut menetes memeluknya. Hingga..
Kurasakan tangan hangat itu mendarat dipunggungku dan berkata
" Jangan khawatir ayah, aku akan menjaganya dengan nyawaku. Ini janji seorang pangeran." Ucapnya dengan senyum yang begitu manis. Dia memeluk pundakku ke dadanya lalu mengusapnya pelan. Aku benar benar tenang dan bahagia sekarang.
Saat matahari mulai tenggelam, kereta kuda kami berangkat. Aku tak mengerti kenapa suamiku tak ingin bermalam diistanaku lebih lama?
Saat aku bertanya..
Justru pemuda berambut gelap disampingnya yang menjawabkan
" Akira, Exsa tidak sabar untuk mempertemukanmu dengan ayahnya yang sedang sakit." Senyumnya yang cukup manis untuk ukuran seorang pelayan. Tapi jujur, aku sedikit tak menyukainya. Siapa dia?
Apakah Exsa terlalu baik sampai pelayan saja berani memanggil namanya dan namaku tanpa sedikitpun rasa hormat?
Bahkan dia berani menatap wajahku. Itu benar benar membuatku tersinggung.
" Aku tidak bertanya padamu. Pantaskah kamu menjawab?". Celetukku tegas.
Mendengar pernyataanku, Exsaku yang sedari tadi menatap keluar tandu menoleh kearahku.
" Maaf, aku hanya menyampaikan..". Jawab pelayan itu santai dengan senyum yang membuat nafasku semakin panas. Dia bahkan berani memegang pundak Exsa tanpa hormat. Dan Exsa tak melakukan apapun??
" Apa pelayan sepertimu tidak punya etika?? Dia ini tuanmu!!" Ucapku datar namun penuh penekanan. Aku harus membela kehormatan suamiku bukan??
Namun..
Aku lihat jari jari putih Exsa mengepal erat. Dia menatapku tajam seolah tatapan penuh cintanya tadi berubah seketika.
" Diam !!". Suaranya dingin kearahku. Satu kata yang membuatku hampir mati rasa.
" Exsa..." aku lihat pelayan itu menggeleng tenang lalu meninggalkan kami turun dari kereta.
" Lebih baik kalian berdua dulu. Aku akan memimpin pengawalan didepan." Ucapnya kemudian menepuk pundak Exsa dan berlari keluar begitu saja. Aku membayangkan suasana romantis berdua dengannya setelah ini. Ini yang aku tunggu..
Udara diluar sudah mulai dingin dan malam semakin gelap. Aku tersenyum menatapnya. Tapi apa yang terjadi benar benar membuatku mati rasa
Inikah takdirku??
***
" Kemarilah." Ucap Exsa menepuk kursi kosong disebelahnya. Dengan semburat merah di wajahnya, Izika berpindah posisi di dekat suaminya itu.
Exsa tersenyum menatap wajah cantik Izika yang disinari percikan cahaya rembulan. Mata Azulnya bertatapan langsung dengan mata biru rubi Sang pangeran.
Aroma sang pangeran benar benar membuatnya gila.
Exsa tersenyum simpul menunjukkan lesung pipit yang begitu menawan dipipi kirinya. Jari jarinya membelai lembut pipi halus Izika membuat gadis itu gugup setengah mati menatap sosok didepannya.
Cantik, dia benar benar cantik -Batinnya
Tapi tak ada ruang dihatiku untuk siapapun lagi - senyumnya datar.
Jari jarinya perlahan turun menjelajahi leher jenjang Izika. Kemudian tutun memutari bahu mulusnya, Izika memejamkan matanya saat Exsa mulai mendekatinya, dia bisa merasakan hembusan nafasnya menyentuh kulit lehernya dan membuatnya meremang seketika.
" Apa kau mengenalku?" Tanyanya ditelinga gadis itu dengan suara s*****l. Izika membuka matanya lalu menoleh hingga hidung mereka hampir bertabrakan. Lagi lagi sang pangeran tersenyum maut. Izika menggigit bibirnya gugup.
" Apa kau menyukai pernikahan ini?". Tanya Exsa lagi, bahkan Izika seolah merasakan bibirnya begitu dekat. Dia bahkan tak mampu memberi jawaban saat sang pangeran dengan pelan mengecup bibir atasnya lembut. Dia seolah memiliki mantra untuk membuat gadis itu membeku menikmati setiap sentuhannya.
" Katakan padaku, apa yang kau pikirkan sekarang?". Ucap Exsa dengan tatapan mautnya. Izika merasakan pangeran itu lagi lagi mengecup bibirnya hangat kali ini bergantian dan Izikapun membalasnya. Perlahan Exsa menggigit bibir Izika pelan lalu menyudahi ciumannya.
Izika berkeringat dingin menyadari apa yang baru saja dia lakukan. Sosok didepannya tampak membuka kancing kemejanya memperlihatkan otot otot leher dan d**a bidangnya yang indah. Dia tersenyum kearah Izika yang tampak gugup
" Apa kau ingin b******a denganku?". Tanya Izika akhirnya dengan semburat merah malu dipipi cantiknya. Pangeran itu tak menjawab, hanya perlahan ia membaringkan Izika keruang kosong disisinya lalu mulai tersenyum menindih tubuhnya
Jarinya menelusuri hidung mancung izika lalu turun ke bibir sexinya. Tatapannya terhenti di bagian dadanya.
" Ya aku ingin memilikimu Akira." Ucapnya membelai leher Izika lalu hendak menciumnya.
Namun.....
" Exsa!!!". Sebuah sentakan suara dari tirai masuk membuat semuanya buyar. Exsa segera meraih kemejanya dan Izika tampak mengatur nafasnya. Walau jujur ia terlihat kecewa
" Dia lagi ". Cibir Izika kesal. Bagaimana tidak, tampak kepala Jeffan menyembul disana lalu tersenyum seolah tanpa dosa.
" Maaf, aku tidak tahu secepat ini kalian akan...
" Ada apa?". Tekan Exsa kesal. Mata biru rubinya berkilat marah. Namun pemuda berambut gelap disisinya justru malah tersenyum semakin lebar.
" Apa kau tidak lapar, didepan ada sebuah tempat makan kecil. Jika kau mau kita bisa kesana". Ucapnya bersemangat.
" Kau saja, ambilkan saja untukku." Malas Exsa memutar bola matanya kemudian kembali mengancingi kemejanya. Jeffan melirik kearah Izika yang tampak diam dengan pipi mengembung kesal.
" Kau bagaimana? Akira apa kau mau makan malam dulu?" Tanya Jeffan
Izika menarik nafas panjang. Emosinya sudah sampai keubun ubun.
" Kau sangat tidak sopan. Berani sekali kau hanya memanggil namaku hah? Kau tahu aku siapa? Apa kau tidak punya rasa malu? Percuma kau memiliki paras rupawan kalau kau berkelakuan seperti orang bar bar. Lihat dirimu kau bahkan seenaknya masuk ketandu pangeran! Harusnya kau sadar diri !!" Bentak Izika seketika membuat Jeffan mematung.
" Akira !!". Tekan Exsa menatap Izika tajam
" Kau juga selalu saja diam, aku tahu kau sangat baik. Tapi dia hanya pelayanmu!!"
" Akira cukup!!". Exsa hampir mengepalkan tangannya, tapi.. Jeffan memegang lengannya lembut lalu tersenyum dengan gelengan pelan kearah pangeran berambut emas itu.
" Maafkan saya tuan putri. Saya sudah lancang ." Jawabnya kearah Izika yang tampak menatapnya berang.
" Sekarang pergi dari hadapanku!!". Tekan Izika menuding.
" Akira kau!!". Exsa kembali Emosi. Tapi Jeffan menahan tangannya
" Baiklah yang mulia." Ucapnya menunduk hormat lalu menarik kepalanya dari tirai itu. Seperginya Jeffan, Izika menarik nafasnya panjang
" Maafkan aku Exsa, terkadang kita harus bersikap tegas pada seseorang apalagi dia berani kurang ajar padamu ." Ucapnya lembut seraya hendak memegang pergelangan tangan suaminya.
Exsa menarik tangannya, lalu menatap Izika datar
" Kau keterlaluan!". Ucapnya dingin. Benar benar berbeda dengan prilakunya tadi. Wajahnya yang putih tampak memerah emosi.
" Exsa.. aku hanya..
" Apa kau tau dia siapa?". Exsa menatapnya kesal
" Ya tentu. Dia hanya pelayanmu yang terlalu dekat hingga berani kurang ajar padamu." Jawab Izika dengan wajah yang mulai gusar
" Dia adalah Jeffan Lien, sahabatku sejak kecil. Pangeran mahkota kerajaan Lienxiou. Dan sikapmu benar benar keterlaluan!".
DEG
Izika mematung mendengar perkataan Exsa.
" Kau bercanda kan?". Tanyanya pucat.
Exsa merapikan kemejanya lalu mengenakan jubahnya hendak melangkah keluar, sesaat sebelum Izika menahan lengan kokohnya
" Kau marah? Maafkan aku.. aku benar benar tidak tahu.. kalau.. dia...
" Belajarlah sopan santuk sebelum kau mengajari orang lain. Bodoh!!".Ucap Exsa datar lalu menarik lengannya kasar dan beranjak keluar dari tandu keretanya. Tanpa Exsa sadari perkataannya benar benar membuat Izika terkenyak dengan wajah memerah.
Dan saat itulah, untuk pertama kalinya aku mendengarnya berkata kasar padaku
Bahkan seumur hidupku..
Baru pertama kali aku dikatai "Bodoh".
Dan itu rasanya sangat sakit
Inikah balasannya, hanya karna aku ingin menjaga martabatnya?
Apakah dia terlalu emosi?
Mengapa sepertinya rasa cinta itu tak kutemukan dimatanya.
Orang pertama yang menyakitiku adalah..
Dia yang benar benar aku cintai..
Tanpa sadar..
Air mataku jatuh..
***
" Kau sengaja melakukan itu kan?".
Jeffan terhenyak saat Exsa tiba tiba menepuk pundaknya yang berjalan mengiringi tandu dibagian depan.
Wajah putih pemuda itu tersenyum berusaha menyembunyikan kesedihannya
" Kenapa kau kemari?". Tanyanya pada Exsa
" Maafkan dia. Rasanya aku ingin merobek mulutnya. Dia tidak tahu bahwa kau adalah seorang pangeran." Exsa mengaitkan tangannya keleher Jeffan. Lalu berjalan beriringan
" Tidak Exsa, dia benar. Aku adalah budakmu.. statusku sudah lama hilang." Jawab Jeffan membuat Exsa mengernyit menatapnya.
" Apa apaan kau ini hah?? Berani sekali kau bicara begitu. Kau tau jika aku marah aku bisa membunuhmu." Ucap Exsa emosi. Mendengar itu Jeffan tersenyum manis. Pancaran ketenangan diwajahnya sama sekali tak hilang.
" Aku tahu, aku hafal sifatmu. Jika tidak marah maka kau akan memintaku melakukan ini itu." Ujarnya membelai pipi Exsa yang langsung memegang tangannya erat. Sorot matanya menajam.
" Aku tidak bercanda Jeffan. Aku tidak suka siapapun menghinamu, lihat saja. Jika aku sudah menjadi raja.. dia akan aku buang."
" Sssssttt. Diamlah dan lupakan saja. Okay!! Aku lapar.. ayo percepat langkah kita. Didepan sana ada rumah makan." Jeffan merangkul Exsa dengan riangnya. Exsa terdiam menatap wajah yang selalu tersenyum disisinya itu. Seolah dia tak pernah sekalipun merasa terluka. Padahal Exsa tahu betul setiap anak pasti marah pada pembunuh ayahnya dan penghancur kerajaannya. Tapi Jeffan berbeda, ia berusia 7 tahun saat Raja Oxtuz menghancurkan kerajaannya dan membunuh kedua orang tuanya lalu membawanya kesana sebagai tawanan. Tentu diusia seperti itu Jeffan sudah mengerti semuanya.Tapi ia sama sekali tidak pernah membangkang. Bahkan ia bersikap jauh lebih baik dari dirinya. Jeffan seolah kakak yang selalu menjaganya.
Apakah Jeffan tak punya emosi dan dendam?
Jauh dalam lamunnya..
Exsa memegang erat tangan kokoh Jeffan lalu berhenti melangkah.
" Hei ada apa?".
" Jeff, apa kau sengaja menghalangi niatku tadi. Kau pura pura masuk ketandu kan?". Exsa mengernyitkan alisnya sexi.
Pemuda bermata gelap didepannya tersenyum manis.
" Ya ya ya.. aku akui aku bisa membaca pikiranmu dari jarak jauh sekalipun. Putri itu sangat cantik bukan. Aku tau akal licikmu Exsa. Kau ingin menunjukkan pada dunia bahwa kau bisa mengambil keperawanan putri yg terkenal cantik dan cerdas itu. Tapi apa kau lupa pada Dayna?". Jeffan memancing
" Kalau kau tahu kenapa kau menghentikanku? Dia benar benar sexi. Tapi kalau dengan dayna... kau tau aku sangat mencintainya bukan? Bahkan saat ini aku terus melamunkannya." Senyum Exsa menerawang.
" Justru karna itu Exsa. Karna kau sangat mencintai Dayna.. Akira adalah putri dari kerajaan terbesar selain Fęlix. Kalau kau sampai menyetubuhinya dan dia hamil anakmu.. maka seluruh dunia akan memintamu menyingkirkan Dayna dan Dialah yang akan naik tahta menjadi ratumu. Apa kau siap kehilangan Dayna?". Exsa mengangguk mendengarkan perkataan Jeffan. Pemuda berambut gelap itu benar benar bijaksana dan cerdas.
" Kau benar Jeffan. Kau memang benar. Thanks." Ucap Exsa memeluk Sahabat kecilnya itu. Dibelakang punggung Exsa Jeffan menatap kearah tandu sang putri lalu tersenyum dingin. Sorot matanya berubah seraya menepuk pundak Exsa
Apa aku sebaik itu??
Aku yang menentukan takdir gadis angkuh itu
Kenapa aku memilihnya??
Kenapa tidak putri lain yang mudah dipengaruhi??
Benar, mungkin dia sudah tidak mengingatku lagi.
Tapi Akira, aku sangat mengingatmu.
Bagai sebuah perahu yang berlayar diatas air pasang. Mereka berpikir aku adalah perahu yang menyelamatkan mereka.
Tapi itu salah..
Benar benar salah..
Dan aku bukanlah perahu..
Tapi aku adalah..
Nahkoda yang mengendalikan kapal itu.
Jeffan tersenyum dingin lalu menatap kedalam mata biru Exsa