Setahun tanpa jejak
Tiga ratus lima puluh hari....
Carmelia menghilang tanpa jejak. Hari ini tepat setahun Carmelia meninggalkan mansion keluarga Prasetyo, namun Jonathan Prasetyo tak pernah menyerah mencari sang istri. Tak seorang pun berani meminta Jonathan berhenti mencari Carmelia, bahkan kedua orang tua nya sendiri. Setiap bulan, Jonathan menerima laporan dari tim investigasi pribadi yang dia sewa dan hasilnya...Nihil! Carmelia tak juga ditemukan. Carmelia hilang bagaikan debu, tak berjejak dan tak tahu ada dimana saat ini.
Pagi itu, Jonathan sedang memimpin rapat direksi. Presentasi berjalan lancar sampai asistennya masuk dengan wajah tegang.
"Maaf mengganggu, Tuan Jonathan."
Semua orang langsung diam. Charles menyerahkan sebuah map hitam. Jonathan membukanya. Itu adalah laporan terbaru dari tim investigasi yang disewanya.
Lagi-lagi nihil.
Tidak ada keberadaan Serena.
Tidak ada petunjuk baru.
BRAKK!
Untuk pertama kalinya dalam rapat, Jonathan membanting map itu ke meja. Semua orang terlonjak.
"Apa kalian mencari manusia atau bayangan?" suaranya dingin.
Ruangan langsung membeku. Seluruh karyawan yang mengikuti rapat menjadi gugup dan takut. Sikap tenang dan dingin Jonathan membuat suasana ruang rapat seperti berada di kutub.
Saat pulang dari kantor, Jonathan masuk ke kamar Carmelia. Sejak menikah, Carmelia meminta disediakan kamar khusus untuk dirinya sendiri. Seluruh koleksi pribadi Carmelia masih ada di dalam kamar itu. Tak berpindah tempat, masih seperti saat pertama kali Carmelia masuk ke dalam rumah Jonathan. Wangi parfum yang biasa dipakai Carmelia pun masih samar-samar tercium. Jonathan duduk di tepi kaki ranjang sambil memandangi foto Carmelia yang terpajang di atas meja buffet.
"Kamu dimana, Mel? Kenapa kamu lakukan ini?" gumam Jonathan dengan wajah lelah, dia mengusap wajahnya dengan kasar.
Tak ada cinta di dalam pernikahan ini, namun dengan menghilangnya Carmelia, harga diri dan nama baik keluarga Prasetyo menjadi tercoreng. Jonathan berusaha mencari Carmelia untuk memperbaiki nama baik Prasetyo. Kabar terakhir yang didapatnya setahun yang lalu, Carmelia bersama Gerry, kakak tiri Jonathan. Kabarnya Mereka berdua melarikan diri keluar negeri. Namun saat Jonathan mencoba menyusul keluar negeri, jejak mereka tak ditemukan.
Drrttt....drrrtttt....
Tiba-tiba ponsel Jonathan bergetar di dalam kantong celana nya. Jonathan bangkit berdiri, lalu dia mengambil ponselnya dari kantong celananya.
(Malam, tuan Jonathan! Saya mendapatkan kabar terbaru tentang nona Carmelia. Kami melihat seorang wanita berwajah sangat mirip dengan nona Carmelia di sebuah kafe. Disini saya sertakan foto wanita itu.)
Manik Jonathan seketika membesar setelah membaca pesan singkat itu. Sebuah foto yang dikirim lewat pesan singkat itu memperlihatkan seorang wanita dengan pakaian sederhana dilengkapi sebuah celemek menutupi dari pinggang ke lutut, sedang melayani tamu di sebuah kafe. Rambut dan dandan wanita itu sangat sederhana. Rambut ikal berwarna coklat tua diikat ekor kuda dan dihiasi pita berwarna hitam. Wajahnya tak ada make-up yang berlebih, tak seperti Carmelia. Tak ada aksesoris yang berkilauan menghias di tubuh wanita ini. Hanya sebuah giwang mutiara sederhana menghias cuping telinga wanita ini. Di leher wanita ini ada seuntai kalung dengan liontin berbentuk oval. Jonathan mengernyitkan keningnya sambil memandangi wajah wanita yang ada di dalam layar ponselnya.
Jonathan langsung menekan tombol hijau untuk menelpon tim investigasi pribadi yang disewanya.
"Halo!"
"Malam tuan Jonathan! Apa anda sudah membaca pesan saya?"
"Ya! Saya ingin kalian membawa wanita itu malam ini! Saya tidak ingin menunda lagi!"
"Baik, tuan!"
Untuk pertama kalinya setelah setahun ini Jonathan mencari Carmelia, jantungnya berdetak sangat kencang. Seperti seorang anak kecil yang begitu bersemangat akan mendapatkan mainan baru. Jonathan segera beranjak keluar dari kamar Carmelia. Dia sudah tak sabar ingin bertemu dengan wanita yang dikatakan mirip dengan Carmelia.
Dua jam Jonathan menunggu. Dia melihat ke jam antik yang berdiri di dekat tangga. Jam sudah menunjuk ke pukul sembilan malam. Jonathan berjalan mondar mandir di depan meja kopi. Segelas minuman keras yang diminum Jonathan sambil menunggu sudah tandas. Jonathan sudah tak sabar ingin melihat wanita ini.
Sementara di kafe Black Coffee,
Mina bersiap-siap untuk pulang. Dia dan dua orang temannya berjalan keluar dari kafe. Mina melambaikan tangan pada kedua temannya, lalu dia berjalan menuju halte.
Ringgg....Ringgg.....
Ponsel Mina berdering di dalam tasnya. Mina langsung berhenti berjalan, lalu dia mengambil ponsel nya dari dalam tas selempangnya. Mina melihat siapa yang menelpon nya.
"Halo kak Rena?"
Ternyata kakaknya yang menelponnya.
"Min, ibu...ibu masuk rumah sakit! Kamu segera kesini ya!"
"Ibu kenapa, kak? Kambuh lagi ya?"
"Iya! Kamu cepetan ya kesini! Kakak, mas Irvan dan ayah sudah ada disini!"
"Baik kak! Saya akan segera kesana!"
Setelah mematikan ponselnya, Mina berlari ke halte untuk mencari taksi. Dia harus segera sampai ke rumah sakit. Saat Mina tengah menunggu taksi, tiba-tiba sebuah mobil van hitam berhenti di depan nya, lalu keluar dua orang pria berbadan tinggi tegap. Awalnya Mina tak mengira kalau pria-pria ini mencari nya, namun saat kedua pria ini mendekatinya Mina baru sadar. Seketika Mina bergerak mundur menjauh dari pria ini.
"Mau apa kalian? Saya tak punya uang, jika itu yang kalian mau?" tanya Mina dengan wajah ketakutan sambil mendekap dirinya.
"Nona harus ikut dengan kami!" jawab salah pria itu dengan nada datar sambil meraih lengan Mina, lalu disusul pria kedua yang ikut meraih lengan Mina.
"Maksudnya apa? Lepaskan...lepas...! Saya tidak kenal kalian! Apa mau kalian?" Mina meronta agar dia terlepas dari cengkraman kedua pria ini.
Sayangnya tenaga kedua pria ini lebih besar dari kekuatan Mina. Mina yang bertubuh mungil seperti seekor semut di depan gajah. Tubuh Mina diseret paksa oleh kedua pria ini untuk masuk ke dalam mobil. Mina terus berusaha meronta agar dia bisa dilepaskan. Saat Mina hendak berteriak minta tolong, mulut Mina langsung dibekap oleh sebuah sapu tangan yang sudah diberi obat bius. Seketika tubuh Mina terkulai lemas. Salah satu pria itu langsung mengangkat tubuh Mina dan membawanya masuk ke dalam mobil. Mina duduk diantar kedua pria itu, tak sadarkan diri. Mina tak tahu dia akan dibawa kemana. Mobil langsung melaju menuju rumah Jonathan.