Aku menanggapi kalimat yang keluar dari Delvin dengan senyum yang dipaksakan.
Ternyata Delvin memang tidak bisa membuka hatinya untukku. Apakah aku tidak menarik bagi Delvin?
Tentu saja! Aku berbeda dengan mantan Delvin yang kuketahui dulu. Mantan Delvin sangat modis, apalagi rambut mantan Delvin sangat bagus. Sangat berbeda denganku.
Aku menghela napas. Apa yang disini hanya aku yang mencintai? Mencintai Delvin tetapi Delvin tidak mencintaiku. Miris sekali.
Aku memejamkan mata, "aku tahu,"
Delvin menatapku lurus, "apakah kau masih mencintaiku?"
Aku tersentak, bagaimana dia bisa tahu? Benar-benar penebak yang hebat.
"Tidak," sanggahku cepat. Bagaimanapun aku harus berbohong pada dirinya, tidak mungkin bukan kalau aku jujur lagi padanya kalau aku masih mencintainya?!
Hey, aku perempuan yang masih punya harga diri. Dan aku tidak mau harga diriku jatuh di depan Delvin.
Delvin tersenyum miring, "benarkah? Kalau kau masih mencintaiku kau sangat bodoh! Dan satu lagi jangan pernah jatuh cinta padaku karena kau bukanlah tipeku, mengerti?" katanya dengan nada tenang.
Mataku berkabut. Rasanya aku ingin menangis. Tetapi aku tidak mau terlihat lemah didepan Delvin karena bagaimanapun juga aku harus tegar dihadapan pria yang memandangku dengan tatapan mencemooh.
Aku menatik napas panjang meredakan emosi serta tangis yang sebentar lagi pecah.
"Tenang saja, aku tidak akan kembali mencintaimu, percayalah."
Bohong! Padahal aku masih mencintainya. Tapi untuk apa aku memperjuangkan cinta ini? Toh Delvin bilang bahwa aku bukan tipenya jadi aku tidak akan berharap lebih pada Delvin.
Senyum merekah tercetak jelas di bibir merah Delvin.
"Aku pegang janjimu, Ferlyn!"
•••
Aku menatap pepohonan yang ada di samping. Sekarang kami sedang dalam perjalanan pulang. Maksudku perjalanan pulang kerumahku.
Suasana dalam mobil pun hening. Dari kami tidak ada yang mau membuka pembicaraan. Kalau aku sih dari setelah dia membuat 'perjanjian' itu aku sudah tidak mau berbicara pada Delvin.
Aku menerawang jauh tentang pernikahan ini nantinya. Apakah setelah menikah nanti --beberapa bulannya atau beberapa tahun-- kami bakal bercerai? Mungkin saja iya! Karena untuk apa pernikahan kami dilanjutkan jika di dalamnya tidak ada cinta. Ralat, maksudku kalau Delvin tidak mencintaiku. Karena bagaimanapun Delvin pernah bilang sebelumnya kalau aku bukanlah tipenya.
"Hei, kau melamun?"
Aku tersentak saat suara Delvin bergema. Aku menoleh kearahnya lalu menggeleng cepat.
"Tidak! Aku tidak melamun!" kataku dengan nada ketus.
Delvin menaikkan alis sebelahnya lalu kembali menatap jalanan.
Lalu hening kembali, aku menghela napas membuang rasa penat yang ada di tubuhku.
Apakah aku tidak pantas dicintai oleh pria seperti Delvin? Apa aku memang wanita tidak pantas untuk dicintai?
Karena saat aku jujur pernah suka sama Delvin waktu SMA, dan Delvin menolakku aku langsung menutup diri pada pria. Karena aku menganggap semua pria pasti sama. Sama jahatnya.
Maka dari itu mama menjodohkanku karena mama menanggapku lesbian. Hey! Itu semua tidak benar, karena aku masih normal. Masih mencintai Delvin seperti yang dulu.
"Ehem!" aku tersentak lagi saat suara Delvin berdeham keras, "ada satu hal lagi yang mau kubicarakan padamu."
Apalagi ini yang mau dia katakan?
"Apa?" tanyaku juga penasaran apa yang mau dia bicarakan.
"Jika kita menikah nanti, kita urus pribadi masing-masing."
Kalau yang itu aku juga tahu, karena aku tahu pasti Delvin punya kehidupan dia miliki sendiri tanpa ada orang yang mengusik kehidupannya walaupun aku yang bakal menjadi istrinya nanti.
"Baiklah, aku paham."
Delvin masih menatap jalan yang ada dihadapannya, "aku belum selesai," rajuknya.
Aku memutar kedua bola mataku, "cepat lanjutkan! Jangan bertele-tele."
Astaga pria ini! Ternyata menyebalkan juga sifatnya.
Delvin tersenyum tipis, "aku punya pacar, kuharap kau tidak merusak hubunganku dan pacarku nantinya jika kita sudah menikah nanti. Lalu kau tidak boleh membeberkan kalau kau adalah istriku didepan pacarku nanti."
Aku mematung mendengar tuturan dari Delvin. Jadi dia sudah pacar? Dan aku adalah orang ketiga dalam kehidupan Delvin?! Pantas saja Delvin melarangku untuk mencintainya. Karena ada seorang wanita yang benar-benar mencintai Delvin dengan tulus.
Hatiku perih. Sakit. Dan berasa ada ribuan paku menancap pas kena ulu hatiku.
"Kalau begitu kita bilang saja pada orangtua kita kalau kau sudah punya pacar dan kita meminta pada mereka untuk membatalkan perjodohan ini. Aku yakin pasti orangtua kita menyetujui keputusan yang kita pinta."
Delvin berdecak, "tidak semudah apa yang kau pikirkan! Papaku punya penyakit jantung, jika aku membatalkan perjodohan ini kuyakin penyakit jantung papa akan kambuh."
Aku tersentak kaget. Jadi, oom Dimas punya penyakit jantung?! Astaga, kasihan sekali. Pantasan Delvin tidak mau membatalkan perjodohan ini karena dia tahu jika dia membatalkan perjodohan ini pasti penyakit oom Dimas bakal kambuh.
Jadi sebaiknya aku dan Delvin menjalankan peran kami sebagai anak yang patuh.
Beberapa menit kemudian mobil Range Rover Delvin berhenti di perkarangan rumahku.
"Terimakasih atas jalan-jalannya dan bebek gorengnya,"
Delvin mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Iya, sama-sama."
Lalu aku membuka pintu mobil dan mobil Delvin sudah menjauh.
Jadi Delvin menerima perjodohan ini demi papanya?
Aku menghela napas panjang, saat aku tahu ternyata Delvin punya pacar membuatku sakit. Apakah pacar Delvin modelnya sama seperti mantan dia?
Tidak mau menunggu lama di halaman rumah, aku langsung masuk kedalam rumah dengan pikiran berkecamuk.
Kepulanganku disambut oleh mama dengan senyumnya yang merekah, "hai sayang, bagaimana jalan-jalan sama calon menantu idaman mama?"
Aku menghembuskan napas kasar, "ma, Ferlyn baru sampai rumah malah mama langsung merentetan pertanyaan yang membuat Ferlyn pusing."
Mama mengernyit, "Lha, kok pusing? Seharusnya kamu senang dong jalan-jalan sama Delvin, apalagi dia sangat baik."
Aku mengusap wajahku dengan kasar. "Ma, Ferlyn pusing karena kecapekkan. Kami hanya jalan-jalan biasa. Hanya nonton dan makan seperti pasangan pada umumnya." kataku sedikit malas membahas tentang ini. Lalu aku berbaring di sofa bed.
"Cuma begitu doang? Gak pakai kenalan dulu?!"
Mama kembali membrondongku dengan pertanyaan yang membuatku tambah pusing kepala.
"Tentu saja sebelumnya kami mengenal satu sama lain."
Bukan mengenal satu sama lain, tetapi membuat perjanjian. Tambahku dalam hati.
Mama tersenyum senang, "ah, syukurlah! Kalau begitu pernikahan kalian akan kami percepat. Pihak keluarga Delvin, mama serta papa memutuskan untuk menikahkan kalian minggu depan."
Aku langsung terduduk. Menatap mama dengan pandangan cengo.
"Seminggu lagi menikah?!" Aku membeo.
Mama mengangguk. Aku hanya bisa pasrah. Sebentar lagi aku akan menikah sama pria --calon suami-- yang tidak mencintaiku dan punya pacar.
Kurasakan ponselku bergetar satu tanda pesan masuk. Dengan cepat aku membuka isi pesan tersebut.
Ternyata dari Delvin!
Fer, kau pasti sudah dengar keputusan orangtua kita masing-masing kalau kita bakal menikah minggu depan. Ku harap kau ingat janjiku tadi. Tadinya mamaku berpesan untuk mengantarkanmu besok ke butik yang mama pilih untuk fitting. Besok kau pergi saja sendiri naik taksi karena aku akan mengajak pacarku kencan.
Aku menatap isi pesan tersebut dengan mata berkaca-kaca. Jadi Delvin lebih memilih kencan sama pacarnya daripada menemaniku fitting?!
Astaga Ferlyn! Apa yang kau pikirkan?!! Tentu saja dia lebih memilih kencan dengan pacarnya daripada menemanimu fitting. Memangnya kau siapanya dia? Kau dan dia adalah korban perjodohan yang dibuat oleh kedua orangtua kalian masing-masing.
Tak terasa satu tetes air mata merembes di pipi. Aku menghapus air mataku dengan cepat agar mama tidak mencurigaiku kenapa aku menangis.
"Sayang, kamu menangis?" Mama menatapku dengan tatapan heran dan penuh tanya.
Aku hanya menggeleng, "tidak kok ma, ini karena Ferlyn mengantuk. Ferlyn pamit tidur duluan ya,"
Tanpa menunggu jawaban dari mama, aku langsung melesat pergi kekamar meninggalkan mama yang masih terheran-heran dengan tingkahku.