5. Janji Evan Kepada Ambu

1926 Words
Setelah menyaksikan kejuaraan seri pertama balap motor di Brigif Cimahi, keinginan Evan untuk menjadi seorang pembalap semakin menggebu-gebu. Keinginan itu seakan-akan hanya sebuah angan-angan Evan yang entah bisa terwujud atau tidak. Terlebih ketika Evan melihat performa Erik Devandra yang menduduki podium pertama dalam seri pertama ini, membuat dirinya semakin mengidolakan pembalap tersohor itu. ‘Seandainya ... aku punya tim seperti Devandra Racing Team, sesuatu banget! Bisa nggak ya masuk podium seperti Erik Devandra?’ ucap Evan dalam hatinya sembari merenung memikirkan semuanya. “Bro! Ngapain ngalamun?” Tatang menepuk bahu Evan yang membuat pemuda itu terkesiap dari lamunannya. “Sugan teh jurig Bro! Ngagetin wae! Leungit lamunan Aing!” Evan melirik ke arah Tatang yang sedang cengengesan. “Lagian teh ngalamunin naon?” Tatang penasaran karena Evan terlihat begitu serius dalam lamunannya. “Biasalah! Hasrat pengen jadi pembalap! Tapi teu boga modal!” Evan menepuk jidatnya sendiri karena merasa bahwa dirinya tidak memiliki modal yang cukup untuk menjadi seorang pembalap. Jangankan sebuah tim, motor yang mumpuni pun tidak ada. “Nggak apa-apa, Van! Kita bermimpi dulu! Siapa tahu suatu hari nanti mimpi itu bakal jadi kenyataan!” Tatang menepuk kembali bahu Evan untuk memberikannya dukungan. “Da heu’euh! Kamu kalau ngomong teh suka bener! Biarlah kita bermimpi dan suatu hari ketika kita terbangun, kita harus mengejar mimpi itu, tah kitu!” Evan dan Tatang saling tos untuk memberikan semangat. *** Malam pun tiba ketika Evan sudah berada di rumah. Evan tengah duduk di dalam kamarnya, di depan meja belajar, sembari memegang pulpen di tangan kanannya dan membuka sebuah buku pelajaran. Rupa-rupanya Evan sedang mengerjakan PR dari sekolahannya yang harus dikumpulkan besok pagi. Namun, Evan termenung dengan menyangga kepalanya menggunakan tangan kirinya. Suara detak ujung pulpen dengan meja yang saling berbenturan pun seakan mampu menemani kesepian yang Evan rasakan. Tatapannya kosong dan pikirannya berjalan untuk memikirkan bagaimana caranya agar dirinya bisa meraih sebuah impian yang sulit untuk dia raih, jika melihat keadaannya saat ini. Tak lama kemudian Widya masuk ke dalam kamar Evan yang tidak dikunci. Karena hanya ditutup oleh gorden sederhana. “Ari anak Mama teh kunaon? Kenapa, Van? Ulah ngalamun atuh bisi kesambet! Jangan melamun nggak baik!” suara Widya membuyarkan lamunan Evan. “Eh, Mama?” lamunan Evan buyar seketika dirinya ke gap alias terciduk oleh mamanya saat melamun. Widya berjalan mendekat. Kemudian duduk di tepi dipan sederhana yang berada di sebelah meja belajar, “Kunaon sih? meni ngalamun wae?” Widya menatap Evan dengan iba. Dia pun merasa bahwa dirinya belum bisa menjadi ibu yang terbaik untuk Evan. “Biasalah, Ma! Urusan anak muda.” Evan tersenyum karena dia tidak ingin membebani pikiran mamanya. Evan tahu mamanya mengetahui apa yang menjadi keinginan Evan. “Kan Mama sudah belikan kamu motor. Terus apa lagi?” Widya mengetahui kalau Evan begitu menyukai otomotif terutama motor. Widya juga kasihan terhadap putranya, jika harus meminjam motor milik adiknya terus-menerus. Namun Widya tidak mengetahui kalau Evan serius ingin menjadi seorang pembalap. “Ya ... memang, Mama sayang banget sama Evan sampai-sampai Mama rela patungan uang sama Ambu, Aki, dan Mamang Angga buat beliin Evan motor. Tapi ... i—itu ... anu, Ma!” Evan begitu gugup dan terbata-bata. Ia takut kalau mamanya tidak menyetujui apa yang menjadi impian Evan. “Itu? Anu? Apa sih?” Widya cukup bingung karena jawaban Evan seakan memiliki makna lain yang masih disembunyikan. “Evan pengen jadi pembalap, Ma!” Evan mengatakan hal yang sejujurnya kepada Widya. Saat itu juga Widya mengernyitkan dahinya. Evan hanya bisa menunduk dan ragu-ragu untuk melihat ekspresi wajah Widya. “Evan! Mama nggak pernah melarang Evan untuk hobi otomotif atau menggunakan motormu untuk jalan-jalan ke mana pun yang Evan suka. Tapi sejak dulu Mama melarang kamu untuk jadi seorang pembalap!” Widya menatap Evan dengan wajahnya yang terlihat marah. “Tap—tapi, Ma ....” “Nggak ada tapi-tapian! Mama hanya tidak mau melihat kamu cedera, Evan! Mama melarang kamu untuk ikut balap motor walaupun kamu sudah memiliki motor itu!” Widya berdiri dengan tatapan mata tertuju pada Evan. “Ma ....” Evan masih ragu-ragu untuk menatap mata Widya. “Nggak ada tawar-menawar, Evan! Mama cuma nggak mau kehilangan kamu! Mama juga nggak mau kamu cedera!” Widya masih menatap Evan dengan tatapan sangar. Saking sayangnya Widya dan tidak mau kehilangan putranya, sebisa mungkin Widya harus menjaga Evan dengan ekstra hati-hati. Sebenarnya, semua itu hanya ketakutan yang muncul dalam pikiran Widya. Padahal kejuaraan balap motor sudah memenuhi standar pengamanan yang sesuai. Memang benar peluang kecelakaan tentu saja ada. Namun penanganan medisnya pun sudah disiapkan dengan baik sesuai dengan protokol yang ada. Hanya saja ketakutan Widya justru membuat pikirannya berkecamuk tentang keselamatan Evan. “Ma ... kejuaraan balap itu pengamanannya sudah sesuai dengan standar yang seharusnya, jangan disamakan sama balap liar, Ma!” Evan berusaha untuk meyakinkan Widya bahwa olahraga yang diminati Evan tidak mengerikan seperti bayangan Widya. “Cukup!” Widya kembali menatap Evan dengan serius. “Nggak ada tawar-menawar dan nggak ada perdebatan!” Widya masih menatap Evan. Tak lama kemudian dia meninggalkan kamar putranya. “Ma!” “Mama!” “Maafin, Evan, Ma!” Evan berlari mengejar Widya yang hendak masuk ke kamarnya. Evan menggenggam lengan Widya dan terus meminta maaf kepada Mamanya. “Ma! Evan benar-benar minta maaf! Nggak ada perdebatan lagi!” Evan menatap Widya dengan penuh harap. Widya menoleh dan menatap Evan yang berada di sampingnya. Wanita itu tidak tega menatap Evan dan akhirnya memeluk Evan dengan begitu erat. “Maafin Mama, ya! Mama hanya terlalu mengkhawatirkan Evan! Mama nggak mau kehilangan kamu, Jang!” Widya masih memeluk erat putranya. Dia tengah merasakan perih dalam hatinya. Hati Widya berkecamuk setiap kali mendengar Evan menceritakan tentang kejuaraan balap motor dan hasrat Evan yang ingin menjadi seorang pembalap. Widya merasa darahnya mendidih dan emosi muncul begitu saja dalam benaknya, setiap kali Evan mengungkit tentang dunia balap motor. Lantaran Widya teringat masa lalunya bersama orang yang dia cintai. “Iya, Ma ... Evan minta maaf! Evan nggak akan lagi bahas hal itu di depan Mama.” Evan berusaha untuk menenangkan Mamanya. Walau hatinya merasa pupus sudah harapan. ‘Tapi aku nggak janji sama Mama kalau aku akan menjauh dari impianku, aku akan mengejar impianku itu sambil meluluhkan hati Mama untuk Meridhoi impian Evan menjadi seorang pembalap,' ujar Evan dalam hatinya sembari memeluk Mamanya erat. ‘Mama hanya terlalu khawatir, Mama juga takut kehilangan kamu. Nggak ada yang salah dengan kejuaraan balap motor, yang salah hanya Mama yang terlalu mengkhawatirkan Evan dan takut kehilangan Evan!’ Widya berbicara dalam hatinya. Widya berusaha untuk menenangkan dirinya dan merasakan kehangatan perhatian dari putranya yang berusaha untuk menenangkan Mamanya. “Evan ngerti, Ma ... ya sudah sekarang Mama istirahat dulu aja!” Evan tersenyum kepada mamanya dan membiarkan Widya untuk beristirahat. Widya hanya mengangguk dan kembali berjalan menuju dipan sederhana di dalam kamarnya. Evan begitu tidak tega melihat Widya yang terkadang emosinya masih labil. Evan berusaha untuk mengembalikan mood-nya. Dia tidak langsung kembali ke kamarnya. Namun duduk di teras sembari menikmati semilir angin malam yang terasa semakin dingin. Evan merapatkan jaketnya dan duduk sembari menatap bintang yang sudah muncul di langit walau hanya sedikit karena tertutup oleh awan. Pikirannya menerawang jauh. Dia bingung karena hasratnya ingin menjadi seorang pembalap masih ditentang oleh Mamanya. Evan tidak ingin melukai atau membuat khawatir perasaan sang mama. Walau di sisi lain, Evan ingin meraih impiannya. Lamunan Evan malam itu tidak sengaja dilihat oleh Ambu. Ketika Ambu tengah memeriksa gerendel pintu rumahnya untuk memastikan sudah terkunci atau belum. Ambu membungkukkan bahunya dan mengintip ke arah teras rumah Evan ‘Si Ujang Kasep kunaon?’ batin Ambu ketika melihat lamunan Evan. “Aya nu teu beres ieu mah!” Ambu berbisik dan bergegas mengambil sweater rajut milik Ambu, memakai syal, penutup kepala yang terbuat dari bahan rajut halus, dan tidak lupa memakai kaos kaki, lantaran udara di luar sangat dingin, bersamaan dengan kabut yang mulai turun. Lalu Ambu keluar dari rumahnya dan mendekati Evan. “Epan! Ujang Kasep!” panggil Ambu kepada Evan yang tengah melamun. “Eh, aya Ambu.” Evan tersenyum dan langsung mencium punggung tangan Ambu. Lantas Ambu duduk bersebelahan dengan Evan di depan teras rumah Evan. Ambu menghela napas dan menatap cucunya yang raut wajahnya tengah terlihat mendung. “Ari kamu teh kunaon, Kasep? Meni cemberut kitu?” Ambu berusaha untuk mengorek informasi tentang apa yang terjadi. Karena Ambu yakin kalau cucunya terlihat gelisah tidak seperti biasanya. “Galau, Ambu!” Evan masih cemberut dan berusaha untuk menenangkan hatinya. “Sok cerita wae ka Ambu! Ulah ditutup-tutupin atuh Jang! Ambu teh kan sahabatna Epan!” Ambu berusaha untuk bisa membuat Evan mencurahkan hati kepadanya. “Mama. Masih nggak mau, enggak setuju kalau Evan jadi pembalap. Padahal itu semua adalah impian Evan.” Evan yang menundukkan kepalanya, wajahnya murung, justru membuat Ambu tertawa cekikikan. Jelas saja Evan langsung menoleh ke arah Ambu, “Ari Ambu teh kumaha? Katanya Evan suruh cerita sama Ambu! Terus kenapa Ambu teh ketawa? Geus ah! Evan bade ceurik waelah ti pojokan!” Evan cemberut melihat tingkah Ambu yang justru cekikikan menatap Evan. “Hmmm ... Kitu wae nyeri hate? Ulah kitu atuh Jang! Epan harus ngerti keadaan Mama! Mungkin Mama teh cuma pengen Evan pokus sama sekolah, serius kitu! Masalah balapan mah kumaha atuh da, kan bukan prioritas Epan!” Ambu memberikan sebuah saran dan gambaran kepada Evan. “Justru kalau Evan dibolehin, diizinin nyobain lah jadi pembalap kitu, Ambu! di sirkuit ... Seak-seok, tancap gas!” Evan seakan mempraktikkan ucapannya yang seolah tengah mengendarai motor. “Evan janji bakal tetap konsentrasi sama sekolah Evan! Pan Ambu ngarti, hobi Evan teh momotoran, otomotif! Seakan-akan teh geus mendarah daging kitu atuh Ambu! Please atuh Ambu boleh ya! Tapi rahasiain dari Mama!” Evan melirik ke arah Ambu sembari memohon. “Please atuh Ambu! Katanya Ambu teh sahabat Evan? Ari sahabat mah kudu ngerti atuh gimana baiknya!” Evan seolah-olah pasrah dan berharap Ambu mengizinkannya. “Plas ... Plis! Cuplas Cuplis! Kumahanya?” Ambu merasa khawatir juga tetapi dia tidak mau melihat cucunya bersedih. “Tah kitu, ngarti sekarang mah! Evan mah teu aya babaturana! Evan hoyong nangis di pojokan wae udah!” Evan berusaha untuk bangkit dari duduknya tetapi Ambu kembali menahan lengan Evan. “Ulah ambekan atuh, Jang!” Ambu berusaha untuk kembali mendudukkan Evan di sebelahnya. “Ya udah! Ambu izinkan kamu untuk meraih mimpi kamu jadi pembalap! Tapi aya syaratna! Sekolah kamu teh nilainya harus bagus! Jangan main balap liar! Jaga diri! Jaga kesehatan! Jaga nama baik keluarga! Jaga perasaan Mama kamu! Kamu teh lebih ngerti lah kumaha cara bersikap, terus jangan sampai kamu teh cilaka pas balapan motor! Biar Mama, Ambu, Aki, sama Mamang enggak sedih! Sok pikirkeun! Kumaha satuju heunteu?” Ambu menatap Evan dan menunggu Evan mengikrarkan janji kepada Ambu. “Satuju pisan atuh Ambu! Ini teh kenyataan? Ambu ngizinin Evan ieu teh?” Evan masih tidak percaya kalau Ambu mengizinkan Evan untuk meraih impiannya menjadi seorang pembalap dengan persyaratan yang sudah diminta oleh Ambu. “Iya bener atuh, Pan! Kumaha satuju henteu?” Ambu masih menunggu jawaban Evan. “Satuju pisan atuh, Ambu!” Evan mengulas senyuman hangat dan bersemangat. “Good!” Ambu mengacungkan jempolnya. “Tah ari Good mah ngarti?” Evan merasa terbelalak karena Ambu mengucapkan bahasa Inggris. “Jangan salah, Jang! gini-gini Ambu teh ngarti sedikit-sedikit mah bahasa Inggris, cuma logat Ambu teh geus kental sundana, jadi ... ari ngomong teh susah tapi kalau ada orang ngomong bahasa inggris teh ngerti!” Ambu tersipu malu. “Good!” Evan kembali mengajukan jempol kepada Ambu. Mereka berdua begitu bahagia dan saling menyimpan rahasia. Karena Ambu begitu menyayangi cucunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD