BAB 2 : TUAN DAN 1 JUTA

915 Words
Setelah warung bakso, mereka menyusuri gang ramai. "Lira. Analisis lingkungan. Ancaman terbesar?" Arsya berbisik. "Berdasarkan pengamatan..." Lira mengendus. "Bau got dari selokan itu." Arsya mengernyit. "Maksudku, manusia-manusia ini. Mereka menilai kita." "Mungkin karena kita masih pakai jubah dewa, Kak." Lira menunjuk baju sendiri. "Orang sini pakai kaos dan celana pendek." Arsya tersadar. Mereka mencolok. Sangat mencolok. "Kita perlu pakaian baru. Tapi butuh 'uang'." Ia mengangguk mantap. "Misi pertama: pahami sistem ekonomi lokal." --- Di depan, seorang ibu jual gorengan. Lira menatap. Lapar. "Kak... misi intelijen sekaligus nutrisi?" usulnya. Arsya mengangguk. Mereka mendekat. "Ibu, berapa harga ini?" Tunjuk tempe goreng. "Seribu perak, Mas." Arsya dan Lira saling pandang. Seribu perak? Logam mulia? "Maaf, Ibu. Kami tidak bawa perak fisik. Ada alternatif lain?" Ibu penjual mengeluarkan selembar uang lusuh. "Ini duitnya." Arsya memperhatikan. Kertas. Gambar. Angka 1000. Jadi 'seribu' merujuk angka di kertas ini. "Sistem fidusia yang menarik," bisiknya pada Lira. Ibu penjual bingung. "Ini mau beli atau enggak?" "Kami mau!" Lira cepat. "Tapi... belum punya duit. Bisa kami bantu ibu sebagai ganti?" "Gak usah repot. Sini, Ibu kasih sampel." Sepotong tempe goreng berpindah tangan. Lira menerima dengan haru. "Terima kasih, Ibu! Kebaikan Ibu akan dicatat dalam sejarah!" --- Mereka mencicipi. Sangat enak. Seorang bapak berkaos oblong lewat. "Loh, Ibu Yani, tamu baru?" "Iya, Pak RT. Kayaknya anak baru pindah kos." Pak RT—buncit, sandal jepit—mengamati mereka. "Dari mana?" "Kami dari... jauh." Arsya cepat. "Saya kakak, Arsya. Ini adik saya, Lira. Orang tua sudah tiada, jadi kami merantau." Pak RT mengangguk simpatik. "Cari kos? Di gang ini ada. Hati-hati sama Bu Rini. Pengamatannya tajam." "Terima kasih, Pak RT." --- Saat Pak RT pergi, Ibu Yani bertanya. "Mas Arsya kerjanya apa?" Arsya berpikir cepat. "Saya... ahli strategi dan logika." "Konsultan? Atau di bidang IT?" "Lebih ke... konsultasi multidimensi." Lira cepat menyela. "Kakak saya sedang cari kerja! Saya bantu urusan rumah tangga!" --- Meong! Seekor kucing liar melompat dari tong sampah. Lira melompat ke belakang. Berteriak. "PENJAGA GERBANG NERAKA! TUAN, AWAS—!" Hampir jatuh ke selokan. Arsya meraih lengannya. "LIRA! ITU CUMAN KUCING!" Tapi kata 'Tuan' sudah terdengar. Ibu Yani dan beberapa tetangga menoleh. "Tuan?" Ibu Yani mengulang. Arsya berkeringat dingin. "Ini... panggilan tradisi keluarga kami! Saat adik saya panik, ia memanggil saya 'Tuan' sebagai bentuk doa!" Lira mengangguk cepat. "Benar! Saya memohon kekuatan pada kakak saya!" Ibu Yani menggeleng. Tersenyum. "Keluarga aneh. Tapi kompak." --- Arsya menarik napas lega. "Terima kasih, Ibu. Kami akan cari kos Bu Rini sekarang." Mereka berjalan cepat menjauh. "Kamu harus lebih hati-hati!" tegur Arsya. "Maaf, Tuan! Itu refleks!" "JANGAN panggil aku Tuan saat kita sendiri!" "...Iya, Kak." --- Rumah nomor 15. Pagar hijau. Perempuan paruh baya berkacamata duduk di teras. Bu Rini. "Ibu Bu Rini?" Arsya sopan. "Iya. Cari kos?" "Kami dengar ada kamar kosong." "Kakak adik? Dari mana? KTP?" "Dari... timur." Arsya gugup. "KTP masih proses." Bu Rini mengamati mereka. Tajam. "Kos campur. Lantai dua ada kamar kosong satu. Cuma satu tempat tidur. Bisa?" "Bisa, Bu." "Biaya sebulan dua juta. Bayar di depan." Arsya dan Lira saling pandang. Tidak punya uang. "Bu... bisa bayar nanti? Atau kami kerja dulu untuk Ibu?" Lira memelas. Bu Rini tersenyum tipis. "Bisa jaga warung saya malam hari. Gajinya potong bayar kos." Jeda. "Tapi tetap harus bayar uang muka dulu. Satu juta." "Kami akan cari uang muka itu, Bu." Arsya mantap. "Naya! Antar calon penghuni lihat kamar 207!" --- Dari dalam, seorang perempuan berambut pendek keluar. Naya. Dari warung bakso. "Ikut." Singkat. Arsya mengikuti. Lantai dua. Pintu 207. Kamar kecil. Sederhana. Bersih. "Ini. Kamar mandi ujung. Dapur bawah." "Terima kasih. Saya Arsya. Ini adik saya, Lira." "Naya. Penghuni 205." Tunjuk kamar sebelah. Lira bertanya, "Kamu sudah lama di sini? Ada tips?" "Tips: punya uang. Jangan buat ribut. Bu Rini suka tenang setelah jam sembilan." "Kakak saya ahli strategi! Pasti bisa dapat uang cepat!" Lira semangat. Naya melirik Arsya. "Ahli strategi? Di bidang apa?" "Penyelesaian masalah kompleks." Naya datar. "Di Jakarta, masalah kompleks namanya macet dan cari kos murah." Dia masuk ke kamar. Pintu tertutup. --- Arsya terdiam. Ada sesuatu tentang Naya. Sesuatu yang menantang. "Kak, dia cuek banget." Lira berbisik. "Mungkin itu caranya bertahan di dunia ramai ini." Arsya melihat ke luar jendela. Dulu, ia merencanakan pertempuran antar kerajaan. Sekarang, ia harus merencanakan cara mendapat satu juta rupiah. "Misi kita: pahami cara menghasilkan uang dalam 24 jam." "SIAP, KAK!" Lira mengangkat tangan. "Tapi... caranya?" Arsya menarik napas. "Pertama, kita perlu ganti pakaian ini." "Dengan apa?" "Dengan sesuatu yang tidak membuat orang bertanya." --- Lima menit kemudian. Mereka berdiri di depan lemari pakaian bekas. Ibu penjual menyodorkan kaos oblong warna hijau army dan cokelat. "Kakak adik?" "Iya." "Cocoknya dua puluh ribu." Arsya memandang Lira. Lira memandang Arsya. "Misi kedua: dapatkan dua puluh ribu untuk baju," gumam Arsya. "Atau..." Lira mengeluarkan bros kecil dari balik jubahnya. Bros perak. Berkilau. "Ibu, ini sebagai ganti?" Ibu penjual mengamati bros. "Ini... perak asli?" "Ya. Cukup untuk dua puluh ribu?" Ibu penjual mengangguk cepat. Mereka pulang dengan baju baru. Dan tanpa bros. --- Malam itu. Arsya duduk di kamar kosong 207. Lira di lantai, duduk bersila. "Kak." "Ya." "Bros itu pemberian Dewi Bulan. Untuk jaga-jaga kalau kita tersesat." Arsya diam. "Kita memang tersesat." "Tapi kita masih bisa pulang, kan?" Arsya tidak menjawab. Di luar, suara Naya terdengar sekilas. Dia bicara di telepon. "—ya, Bu. Minggu depan aku pulang. Uangnya sudah aku kirim." Arsya mendengar. Diam. Lira juga. "Kak," bisik Lira. "Ternyata dia juga cari uang." "Ya." "Untuk ibunya." "Ya." Mereka diam. Di kamar sebelah, Naya mematikan lampu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD