BAB 3 : PAKAIAN DAN PANIK

1332 Words
Kamar kos 207 terasa sempit di pagi hari. Sinar matahari menerobos jendela. Menerangi debu yang beterbangan. Arsya terbangun dalam posisi duduk di lantai. Semalaman ia "bernegosiasi" dengan Lira soal siapa yang tidur di kasur. Lira menang. Ia tidur nyenyak di atas kasur. Jubah dewa jadi selimut. Arsya di lantai. Beralaskan jubahnya sendiri yang sudah kusut. Sebagai dewa, ia tak butuh banyak tidur. Tapi malam itu, lelah mental terasa berat. "Lira. Bangun." Arsya menendang lembut kasur. "Misi hari ini: dapatkan pakaian penyamaran dan uang satu juta." Lira menggeliat. Mata setengah terbuka. "Satu juta... seperti satu juta butir pasir di pantai dewa, ya?" "Bukan waktunya puitis. Bangun. Kita harus bergerak sebelum Bu Rini menagih." --- Setengah jam kemudian. Mereka keluar kamar. Masih pakai jubah dewa. Di depan pintu, hampir bertabrakan dengan seseorang. Bima—penghuni 205. Rambut acak-acakan. Kaos bergambar band metal. "Whoa, baru nih?" Bima tersenyum lebar. Matanya langsung ke Lira. "Halo, saya Bima. Kos 205. Kalian adik-kakak?" Arsya mengangguk singkat. "Arsya. Ini adik saya, Lira." "Wah, adiknya lucu banget." Bima langsung. "Umur berapa?" Lira, masih setengah sadar, menjawab polos. "Lima ratus—" Arsya menendang kakinya. "—delapan belas! Delapan belas tahun!" Lira terkikik gugup. Bima mengernyit. "Tadi mau bilang lima ratus apa?" "Lima ratus... hari lagi ulang tahun ke delapan belas!" timpal Arsya cepat. "Kami dari keluarga yang sangat merayakan hitungan mundur." "Oooh, keren." Bima manggut-manggut. Wajahnya masih bingung. "Kalian pakai kostum apa ini? Mau cosplay?" "Ini... pakaian tradisional." Lira sekarang sudah waspada. "Kami akan menggantinya. Tahukah di mana bisa dapat pakaian terjangkau?" "Pasar loak! Dekat sini, jalan kaki sepuluh menit. Mau aku antar?" "Tidak perlu." Arsya cepat. "Kami bisa sendiri." "Yakin? Nanti bisa kesasar." Bima menyeringai. "Apalagi kakaknya kayak orang lagi survey buka portal ke dimensi lain gitu." Arsya dan Lira saling pandang panik. "Bercanda aja, santai." Bima tertawa. "Kalau mau ke pasar loak, belok kiri keluar gang, terus lurus. Nanti ada tulisan 'Pasar Uwenak'. Hati-hati sama copet!" --- Setelah Bima pergi—masih melirik Lira—Arsya menarik napas. "Dia terlalu kepo. Tapi informasi pasar loak berguna." "Apa itu 'loak', Kak?" Lira bertanya sambil berjalan. "Berdasarkan konteks, kemungkinan barang bekas pakai yang masih layak. Sistem daur ulang efisien." --- Pasar Uwenak adalah keramaian tingkat dewa. Los-los sempit. Baju, celana, sepatu, dan barang-barang membingungkan berjejalan. Bau campuran kain basah, minyak goreng, dan keringat. "Kak, lihat! Baju-baju ini punya tulisan aneh!" Lira menunjuk kaos "I ❤️ NYC". "Apakah ini mantra perlindungan?" "Itu mungkin lokasi atau ekspresi emosi." Arsya mengamati. "Kita butuh pakaian sederhana. Cari yang polos." Mereka berhenti di lapak bapak berkumis tebal. "Mau cari apa, Mas? Kaos? Celana? Ada yang murah meriah!" "Dua set pakaian biasa. Untuk sehari-hari." "Nih, kaos katun lima belas ribu, celana jeans tiga puluh ribu. Murah kan?" Lira berbisik, "Kak, kita tidak punya lima belas ribu pun." Arsya menghela napas. "Bapak, apakah bisa kami menukar dengan jasa? Saya bisa menghitung jumlah barang dagangan Bapak dalam hitungan detik. Atau mengatur strategi penjualan." Bapak pedagang tertawa terbahak-bahak. "Wah, Mas, kamu sales marketing ya? Gak perlu. Duit dulu, baru baju." "Tapi kami benar-benar tidak punya duit." Lira mata memelas. Bapak itu melihat mereka dari kepala sampai kaki. "Baju kalian yang ini... kualitas tekstilnya bagus. Jual aja!" Arsya dan Lira terkejut. Jual jubah dewa? Tapi... ide itu tidak sepenuhnya buruk. "Berapa yang Bapak tawar?" "Gue bukan yang beli. Coba ke lapak sebelah, Ibu Sari. Dia terima barang antik atau kostum." --- Mereka pindah ke lapak Ibu Sari. Perempuan paruh baya dengan kacamata pembesar di dahi. "Ibu, apakah tertarik membeli pakaian tradisional kami?" Arsya hati-hati. Ibu Sari melihat jubah Arsya. Matanya berbinar. "Kain sutra campur benang emas? Bordiran tangan? Import ya?" "Iya... dari daerah yang sangat jauh." Lira tersenyum. Ibu Sari memeriksa lebih dekat. "Ini asli. Bisa gue tawar... satu set dua juta." Arsya hampir tersedak. Dua juta? Harga itu bisa untuk uang muka kos! "Tapi." Ibu Sari melanjutkan. "Kalau mau lebih tinggi, harus ada sertifikat asal. Kalian punya?" "Sertifikat... hilang dalam perjalanan." Arsya cepat. "Yah, sayang. Tapi gue masih bisa ambil. Satu set dua juta. Mau?" Arsya dan Lira saling pandang. Ini solusi instan. Tapi melepas jubah dewa rasanya seperti melepas identitas. "Kami setuju." Arsya lirih. "Tapi kami butuh pakaian pengganti." Lira menambahkan. "Gampang. Ambil kaos dan celana dari lapak gue. Gratis." --- Transaksi berlangsung cepat. Mereka berganti di belakang lapak. Keluar dengan penampilan baru. Arsya: kaos abu-abu, celana chino coklat. Lira: kaos putih, jeans ketat. Mereka terlihat seperti mahasiswa biasa. Tapi ekspresinya masih seperti ikan di darat. "Rasanya aneh." Arsya meraba kain kaos yang kasar. "Tidak ada aura perlindungan." "Tapi kita punya dua juta, Kak!" Lira berbisik gembira. Memegang uang tunai. "Sekarang bisa bayar uang muka kos!" --- Mereka berjalan cepat keluar pasar. Di depan, penjual es teh. Lira haus. "Kak, beli minuman itu, ya? Namanya 'es teh'. Dingin dan manis katanya." "Dua es teh, Pak." Arsya mengeluarkan uang dua puluh ribuan. Penjual menyodorkan dua gelas plastik. "Lima ribu per gelas." Arsya memberikan uang. Penjual mengembalikan sepuluh ribu. Arsya memandang uang kembalian itu. Bingung. "Ini... kurang?" "Nggak, Mas. Kembaliannya sepuluh ribu. Dua kali lima ribu itu sepuluh ribu, dua puluh ribu kurang sepuluh ribu ya sepuluh ribu." Arsya berdiri diam. Matematika dasar ini tiba-tiba terasa seperti teka-teki filsafat. Lira melihat wajah Arsya yang kosong. "Kak? Apa yang salah?" "Aku... sedang memverifikasi sistem pengembalian uang." Gumam. Penjual tidak sabar. "Mas, itu bener kok." --- Tiiin! Tiiin! Motor lewat kencang. Klakson keras. Lira kaget. Tangannya gemetar. Es tehnya tumpah. Tepat di celana Arsya. "AAH! Serangan cairan manis dingin!" Lira panik. "TUAN, AWAS! ADA BAHAYA TERSEMBUNYI!" Kata "Tuan" meluncur keras. Penjual menengok. Beberapa orang di sekitar ikut menengok. Arsya, celana basah lengket, mencoba tenang. "Dia... maksudnya 'jangan panik' dalam bahasa daerah kami. 'Tuan' itu singkatan dari 'jangan tunjuk-tunjuk'." Lira cepat menyambar. "Iya! 'Tu-an'! Artinya tetap tenang! Karena kakak saya suka panik saat basah!" Penjual mengernyit. "Basa-basi aneh banget. Nih, tissue." --- Sementara Arsya membersihkan celana, motor lain berhenti. Rania—penghuni kos 206. Gaya percaya diri. Senyum menggoda. "Loh, celananya basah nih. Kejadian apa?" "Kecelakaan kecil." Arsya singkat. "Kamu yang baru di kos Bu Rini kan? Aku Rania, kos 206." Ia tersenyum. "Kamu Arsya ya? Yang katanya ahli strategi?" "Iya." "Wah, menarik." Rania tersenyum manis. "Nanti malam main ke kamar aku, bisa diskusi strategi... apa saja." Dia menggaskan motor. Pergi. Lira mendekat. "Kak, perempuan itu aura pengganggu. Seperti penyihir penggoda di legenda." "Kita fokus dulu pada misi. Bayar uang muka kos." --- Mereka kembali ke kos Bu Rini. Langkah cepat. Bu Rini sedang menyapu teras. "Ibu, kami sudah dapat uang mukanya." Arsya menyerahkan satu juta. Bu Rini menerima. Memeriksa. "Bagus. Kamar 207 resmi jadi tempat tinggal kalian." Jeda. "Ingat aturan kos: jangan ribut, jangan bawa orang sembarangan." "Kami mengerti." "Oh iya, Naya bilang kalian butuh KTP. Buat sementara, pakai surat keterangan dari aku dulu." Mereka mengangguk lega. --- Malam harinya. Mie instan. Pengalaman pertama. Lira terkesima. "Kak, ini makanan manusia? Rasanya seperti ramuan penyembuh lelah!" "Makan dulu. Besok kita cari kerja." Tiba-tiba. Tok tok tok. Arsya membuka pintu. Naya berdiri. Ekspresi datar. Memegang kotak kue kecil. "Bu Rini suruh kasih. Selamat datang." "Terima kasih." "Gimana, udah nyaman?" Naya melirik kamar yang masih berantakan. "Masih adaptasi." Naya mengangguk. "Lo tadi pagi mau cari kerja ya?" Jeda. "Ada lowongan di tempat kerjaku. Bagian admin. Butuh yang bisa atur jadwal dan data. Katanya lo ahli strategi." Arsya terdiam. Kesempatan. "Iya. Saya tertarik. Di mana?" "Kantor kecil di pusat kota. Besok pagi aku antar kalau mau." "Saya sangat berterima kasih." Naya hanya angguk. Lalu pergi. --- Lira yang menguping dari belakang pintu langsung melompat. "Kak! Dia baik! Menawarkan pekerjaan!" "Ya. Mungkin tidak semua manusia di sini sulit dipahami." "Atau mungkin dia tertarik pada Kakak." Arsya memandang Lira. "Jangan berandai-andai. Fokus pada misi besok: wawancara kerja." --- Tapi di dalam hati, Arsya merasa sedikit hangat. Mungkin kehidupan sebagai manusia tidak akan seburuk yang ia kira. --- Di balik pintu kamar 206. Rania mendengarkan percakapan tadi. Tersenyum. "Ah, pemain baru. Ini jadi menarik." --- Di kamar 205. Bima sedang memikirkan cara mengajak Lira makan siang besok.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD