Pukul 05.30. Kamar 207 bergetar dengan energi panik.
Arsya berdiri di depan cermin. Tiga pilihan kaus—semuanya abu-abu.
"Lira. Mana yang lebih terlihat 'profesional'? Yang gelap atau yang terang?"
Lira, masih setengah tidur, menjawab dengan mata tertutup.
"Kakak, manusia tidak peduli selisih tiga persen tingkat keabuan."
"Tapi ini kesan pertama! Di alam dewa, kesan pertama bisa menentukan apakah kau dihormati atau dilempar ke jurang api!"
"Di sini yang dilempar ke jurang api cuma sampah yang tidak dipilah, Kak."
Arsya akhirnya memilih kaus abu-abu sedang. Celana chino coklat. Sepatu sneaker kusam—hadiah Bu Rini.
"Aku pergi. Kamu jangan buat keributan."
"Aku janji belajar budaya manusia dengan tenang."
---
Kantor Pak Anton pagi itu sunyi.
Naya sudah duduk di mejanya. Menyeduh kopi instan.
"Pagi. Kamu datang terlalu awal."
"Prinsip strategi: kuasai medan sebelum pertempuran."
"Ini bukan medan perang. Ini kantor administrasi."
"Setiap tempat dengan deadline adalah medan perang."
Naya menghela napas. "Bos datang jam sembilan. Rapikan dokumen di meja sebelah."
Meja itu seperti gudang mini.
Tumpukan kertas. Map usang. Alat tulis berserakan.
Dan boneka stress relief berbentuk alpaca kempes.
"Apakah ini altar persembahan?" Arsya menunjuk boneka.
"Itu mainan. Kalau stres, remas."
Arsya meremasnya dengan serius.
"Tidak mengeluarkan energi penyembuhan sama sekali."
"Ya karena itu cuma karet."
---
Saat membersihkan, Arsya menemukan dokumen.
DRESS CODE: BUSANA FORMAL.
Matanya membesar.
"Naya, apa arti 'busana formal'?"
"Pakaian rapi. Kemeja, celana bahan, sepatu pantofel."
"Apa bedanya dengan pakaian yang aku kenakan sekarang?"
Naya memandanginya.
"Kamu sekarang seperti mau main futsal. Formal itu seperti mau wawancara kerja."
Arsya panik. "Tapi Pak Anton tidak bilang apa-apa!"
"Mungkin lupa."
"Aku harus pulang ganti!"
"Tenang. Jam segini belum ada klien."
---
Nasib berkata lain.
Pak Anton datang lebih awal. Pukul 08.15.
Dengan klien penting—Pak Joko. Minta data pajak lima tahun terakhir.
"Arsya, ambil arsip pajak 2018-2023."
Arsya berusaha profesional.
Sambil merasa kausnya sangat futsal.
Ia menuju rak arsip. Sistem penataan berkas di sini adalah sistem "yang penting masuk".
Lima menit menggali.
Ia kembali dengan dokumen 2018 bercampur 2020 dan 2022.
Tapi 2019 dan 2023 hilang.
"Maaf, yang 2019 dan 2023 sepertinya sedang… bermigrasi."
"Migrasi?" Pak Joko bingung.
"Maksudnya, mungkin terselip di rak lain."
"Coba cari lagi," desak Pak Anton.
Arsya kembali menggali.
Lalu—
Brukk!
Suara robekan nyaring.
Kausnya tersangkut sudut rak besi. Sobek sepuluh sentimeter di ketiak.
Naya memandang dengan ekspresi ya ampun.
Pak Anton menghela napas.
Pak Joko berusaha tidak tertawa.
"Maaf. Pakaian saya tidak kooperatif."
"Ganti dulu. Pakai kemeja cadangan saya di lemari."
---
Kemeja cadangan dua ukuran lebih besar.
Arsya memakainya seperti terpal. Lengan menjulur menutupi tangan.
"Kamu seperti mau main sulap," komentar Naya.
"Ini strategi. Dengan lengan panjang, aku bisa sembunyikan kegugupan."
---
Kerja berlanjut.
Arsya input data ke Excel. Kali ini lebih hati-hati.
Saat mengetik "PPh 21", ia penasaran dengan simbol "@".
"Naya, karakter @ ini untuk apa?"
"Untuk email."
"Apa itu email?"
Naya memandangnya.
"Kamu bercanda?"
"Saya dari daerah terpencil."
"Email seperti surat elektronik. Kirim dokumen lewat internet."
"Ah, seperti pesan burung merpati antar dimensi tapi lebih cepat!"
"Iya… semacam itu."
Arsya coba ketik alamat email Pak Anton.
Salah.
anton@kantor.pajak.com — seharusnya anton@pajakkantor.id.
Email terpental kembali.
"Kok bisa gagal?"
"Domainnya salah."
"Domain… wilayah kekuasaan digital?"
"Iya. Anggap saja begitu."
Setelah beberapa percobaan, email akhirnya terkirim.
Arsya merasa seperti baru menyelesaikan ritual besar.
---
Sementara di kos.
Lira menghadapi tantangan sendiri.
Bima mengetuk pintu. Pukul 10 pagi.
"Lira, mau ikut ke kampus? Aku ada kelompok belajar."
Lira ingat pesan Arsya: pelajari budaya manusia.
"Apa itu kampus?"
"Tempat orang belajar. Kayak sekolah tapi lebih dewasa."
"Ada pelatihan teknologi manusia di sana?"
"Ada lab komputer. Mau lihat?"
Lira setuju.
---
Di kampus, Bima tunjukkan lab komputer.
Lira terkesima.
"Banyak monitor! Apakah ini altar penglihatan masa depan?"
"Ini buat ngerjakan tugas."
Masalah muncul.
Bima perkenalkan Lira pada teman-temannya sebagai "adik kos yang lucu".
Reza, salah satu teman, bertanya.
"Lira, kamu kuliah di mana?"
Lira bingung.
"Aku tidak kuliah. Aku sedang mendampingi kakakku."
"Kakakmu kuliah?"
"Tidak. Dia sedang berperang dengan kertas dan printer."
Reza dan teman-teman tertawa.
"Kamu unik banget."
Lira senang dianggap "unik".
---
Bima ajak Lira ke kantin.
Lira lihat makanan bernama "batagor".
"Apa ini?"
"Bakso tahu goreng. Coba."
Lira menggigit.
Matanya melotot.
"Rasanya ledakan di mulut! Campuran ikan, tahu, dan saus kacang! Ini sangat efisien untuk energi!"
Bima dan teman-teman tertawa terbahak-bahak.
"Kamu kayak lagi iklan TV."
Lira tidak paham iklan TV.
Tapi senang membuat orang tertawa.
---
Tanpa sengaja, saat cerita tentang "kakaknya yang pernah bertarung dengan naga", ia sebut kata itu lagi.
"Tuan?"
Reza mengernyit. "Kakakmu bangsawan?"
Bima cepat menyelamatkan.
"Itu panggilan daerah mereka. Kayak 'Bang' di Sunda."
"Oh, unik lagi."
Lira lega.
Tapi dalam hati, ia berjanji harus lebih hati-hati.
---
Di kantor.
Masalah baru.
Pak Anton minta Arsya cetak 50 lembar proposal.
Printer yang kemarin jadi musuh harus dihadapi lagi.
"Jangan sentuh tombol hijau," bisik Naya.
"Aku mengerti."
Tapi Arsya terlalu fokus hindari tombol hijau.
Sampai lupa memasukkan kertas.
Perintah print diberikan.
Printer berbunyi. Tapi tidak keluar apa-apa.
"Mengapa dia tidak mau bekerja?"
"Kertasnya kosong."
Naya masukkan kertas. Printer mulai bekerja.
Tapi tiba-tiba macet di lembar ke-10.
"Dia terluka!"
"Cuma macet. Tarik pelan."
Arsya menarik. Terlalu kuat.
Kertas sobek. Separuh tertinggal di dalam.
"Sekarang dia sekarat!"
"Buka tutupnya. Ambil sisa kertas."
Arsya buka tutup printer hati-hati.
Seperti bedah makhluk hidup.
Berhasil.
Tapi wajahnya berkeringat.
"Aku lebih suka hadapi naga daripada mesin ini."
"Naga?" Naya melirik.
"Kiasan. Naga di game."
---
Siang hari.
Arsya pulang sebentar. Ganti pakaian.
Di kos, ia temui Lira yang baru kembali dari kampus.
"Kak! Aku belajar banyak! Ada 'batagor' dan 'kantin' dan 'tugas akhir'!"
"Bagus. Tapi jangan lengah."
Arsya berganti kemeja. Pinjaman Naya.
---
Sore. Tantangan terbesar: menerima telepon.
"Naya, apa yang harus kukatakan saat angkat telepon?"
"Sebut nama kantor. 'Selamat siang, Kantor Pajak Anton, ada yang bisa dibantu?'"
"Baik."
Kringggg!
Arsya angkat dengan gemetar.
"Selamat siang! Kantor Anton Pajak! Apa yang bisa saya bantu untuk Anda hari ini yang cerah ini?!"
Naya memejamkan mata.
"Terlalu bersemangat."
Penelepon ternyata sales kartu kredit.
Arsya dengarkan serius. Kira klien penting.
Lima menit kemudian. Naya beri isyarat tutup telepon.
"Kami akan pertimbangkan," kata Arsya sebelum tutup.
"Naya, dia tawarkan 'limit hingga 50 juta'. Apakah itu pinjaman energi?"
"Iya. Tapi kita tidak butuh."
"Oh. Aku kira dia tawarkan bantuan finansial."
---
Hari pertama kerja berakhir pukul 17.00.
Arsya lelah mental.
Tapi merasa telah melewati banyak rintangan.
"Bagus untuk hari pertama," kata Pak Anton. "Besok lebih hati-hati dengan printer."
---
Di perjalanan pulang.
Naya bertanya.
"Tadi kamu bilang lebih suka hadapi naga. Kamu sering main game fantasi?"
"Bisa dibilang… aku pernah di lingkungan penuh elemen fantasi."
"Asyik. Aku juga suka baca novel fantasi." Jeda. "Nanti kalau ada rekomendasi, kasih tahu."
Arsya tersenyum.
Ini kesamaan. Titik terang.
---
Sampai di kos.
Bu Rini sambut dengan pertanyaan.
"Arsya, kerja pertama gimana?"
"Penuh pembelajaran, Bu."
"Bagus. Oh iya, tadi ada sales vitamin. Aku kasih nomor kamar 207. Siapa tahu butuh."
Arsya hanya bisa angguk lelah.
---
Di kamar.
Lira sudah siapkan teh hangat.
"Kak, bagaimana pertempuran hari ini?"
"Aku selamat. Tapi besok harus berperang lagi."
Jeda.
"Kamu? Tidak ada kesalahan panggil 'Tuan' kan?"
"Hampir. Tapi Bima yang selamatkan."
"Bima lagi." Arsya menghela napas. "Hati-hati."
"Kenapa?"
"Menurut instingku, dia punya niat tidak murni ilmiah."
Lira tidak paham. Tapi mengangguk.
---
Malam itu.
Sebelum tidur, Arsya merefleksikan hari pertamanya.
Di alam dewa, ia hanya perlu memerintah dan merencanakan.
Di sini, ia harus urus printer, email, kemeja kebesaran, dan sales telepon.
Lebih melelahkan.
Tapi, ketika ingat percakapan kecil dengan Naya tentang novel fantasi—
Ia merasa hangat.
Mungkin, di antara semua kekacauan ini, ada hal-hal kecil yang membuatnya bertahan.
---
Di luar.
Bima sedang merencanakan cara ajak Lira nonton film akhir pekan.
Rania sedang memikirkan kapan waktu tepat "menolong" Arsya.
Dan Bu Rini sedang mencatat di buku harian:
"Penghuni baru 207: Arsya kerja kantoran, Lira sok tahu. Perlu diawasi."