Minggu pagi di kos Bu Rini biasanya tenang.
Tapi pagi ini, ketenangan itu pecah.
"ARSYA! LIRA! AYO TURUN! WAKTUNYA BELANJA BULANAN!"
Bu Rini dari bawah tangga. Suaranya seperti komandan pasukan.
Arsya terbangun kaget. Semalam ia begadang mempelajari konsep "weekend"—hari tanpa kerja yang membingungkan.
Ternyata weekend tetap ada kewajiban sosial.
"Belanja bulanan? Apakah ini ritual kelompok?" gumamnya sambil membuka pintu.
Lira sudah berdiri di lorong. Mata berbinar.
"Kak, katanya kita harus patungan belanja kebutuhan bersama! Seperti sistem logistik pasukan!"
---
Ruang tamu kecil penuh.
Bu Rini pegang daftar belanja panjang—kertasnya sudah lusuh, tanda dipakai berkali-kali.
Naya duduk santai. Kopi di tangan.
Bima ngantuk. Rambut masih acak-acakan.
Rania dengan riasan lengkap. Padahal baru jam tujuh pagi.
"Baik, seperti biasa." Bu Rini memandang satu per satu. "Kita belanja bareng biar lebih murah."
Dia membacakan daftar.
"Beras. Minyak. Gula. Telur. Sabun. Tisu. Kecap. Bumbu."
Jeda.
"Semua patungan. Naya yang hitung."
Naya mengambil kalkulator. Menekan beberapa tombol.
"Per orang kena seratus lima puluh ribu."
Dia melihat ke Arsya dan Lira.
"Yang mau ikut, angkat tangan."
---
Arsya dan Lira saling pandang.
Uang sisa dari jual jubah: delapan ratus ribu.
Harus bertahan sampai gajian pertama—dua minggu lagi.
"Kak, apa kita harus ikut?" bisik Lira.
"Sepertinya ini kewajiban sosial." Arsya berbisik balik. "Jika tidak ikut, mungkin akan dikucilkan."
Dia mengangkat tangan.
"Kami ikut."
"Bagus." Bu Rini mengangguk. "Sekarang, bagi tugas."
Dia menunjuk satu per satu.
"Bima angkat beras dan minyak."
Bima mengangguk.
"Naya hitung uang."
Naya mengangkat kalkulatornya.
"Rania pilih sabun dan tisu."
Rania tersenyum puas.
"Arsya dan Lira." Bu Rini memandang mereka. "Kalian baru. Bawa telur dan bumbu."
Jeda.
"Hati-hati. Jangan sampai pecah."
---
Kelompok belanja berangkat ke pasar tradisional.
Bima pinjam motor tetangga untuk angkut barang berat.
Yang lain jalan kaki.
Di pasar, kekacauan dimulai.
---
Lapak Beras.
Penjual menawarkan beberapa jenis.
"Ini Pandan Wangi. Ini IR 64. Ini Rojolele. Mau yang mana?"
Arsya memandangi tumpukan beras dengan serius.
Seperti sedang menilai artefak kuno.
"Berdasarkan analisis visual, yang butirnya lebih panjang sepertinya lebih unggul."
Jeda.
"Tapi apakah ada perbedaan kandungan energi per butir?"
Penjual tertawa.
"Wah, Mas ahli gizi ya? Yang biasa aja, Beras IR 64. Enak, pulen."
"Tapi bagaimana dengan indeks glikemiknya?" Arsya tidak menyerah. "Apakah cocok untuk pekerja kantor?"
Bima menggeleng.
"Bang. Kita cuma butuh beras yang bisa dimasak. Gak usah ribet."
"Tapi ini menyangkut nutrisi sebulan—"
"Ambil yang ini aja."
Naya memotong. Menunjuk IR 64.
"Sudah terbukti bisa dimakan."
Arsya mengangguk. Mengalah.
---
Lapak Telur.
Bu Rini memesan dua kilogram.
Penjual memasukkan telur-telur coklat ke plastik besar.
"Lira. Kamu yang pegang ini."
Bu Rini menyerahkan plastik dengan khidmat.
Lira menerima. Wajahnya tegang.
"Kak." Berbisik pada Arsya. "Benda bulat ini sangat rapuh. Seperti bola energi dewa yang belum stabil."
"Jangan dianggap bola energi! Pegang biasa!"
Tapi Lira terlalu khawatir.
Ia memegang plastik dengan dua tangan. Seperti membawa mangkuk suci.
Saat berjalan, ia melangkah pelan-pelan. Hati-hati.
"Lira, santai aja." Bima mencoba menenangkan. "Telur itu kuat."
"Saya tidak mau ambil risiko." Lira tegas. "Ini aset kelompok!"
---
Brmm! Brmm!
Sepeda motor lewat. Terlalu dekat.
Lira kaget.
Refleksnya sebagai asisten dewa: melompat ke samping dengan gerakan akrobatik.
Lompatannya terlalu tinggi untuk manusia biasa.
Plastik telur terayun keras.
"LIRA! HATI-HATI!" teriak Arsya.
Lira mendarat dengan satu kaki. Plastik membentur pinggangnya.
Krak.
Suara jelas.
Semua orang diam.
Lira membuka plastik dengan tangan gemetar.
Dua butir telur retak. Kuningnya merembes.
"Tidak..."
Wajahnya pucat.
"Aku telah hancurkan persediaan makanan!"
Dia menunduk.
"Maafkan hamba, Tu—"
Arsya cepat. Menutup mulut Lira.
"—TUDUHAN! Dia mau bilang ini tuduhan terhadap dirinya sendiri!"
Suaranya meninggi.
"Dia merasa bersalah!"
Bu Rini mengernyit.
"Tu... tuduhan?"
"Iya! Tuduhan!" Arsya mengangguk cepat. "Dia menuduh dirinya sendiri ceroboh!"
Bu Rini menghela napas panjang.
"Ya sudah. Dua telur pecah. Nanti potong dari jatah kalian."
Jeda.
"Sekarang lanjut."
---
Rania yang melihat kejadian itu mendekati Arsya.
"Kamu sangat protektif sama adikmu ya." Senyum manis. "Manis."
"Kami hanya saling menjaga." Arsya singkat.
---
Lapak Bumbu.
Arsya benar-benar bingung.
Penjual bumbu menunjukkan dagangannya.
"Bawang merah, bawang putih, cabai, kemiri, ketumbar, kunyit, lengkuas. Mau berapa?"
Arsya melihat daftar Bu Rini.
Bumbu dasar secukupnya.
"Apa arti 'secukupnya' dalam satuan metrik?" tanyanya pada Naya.
Naya memandangnya.
"Kira-kira aja. Bawang merah satu kilo, bawang putih setengah, cabai seperempat, lainnya seperempat."
"Tapi 'kira-kira' tidak akurat."
Arsya mengeluarkan kertas dan pulpen.
"Bagaimana jika kurang? Atau berlebihan? Apakah tidak sebaiknya hitung berdasarkan rata-rata konsumsi per orang per hari dikali tiga puluh hari?"
Naya diam.
"Misalkan satu orang butuh sepuluh gram bawang merah per hari. Ada lima orang di kos. Jadi lima puluh gram per hari. Dalam tiga puluh hari, total seribu lima ratus gram. Satu setengah kilogram."
Dia melihat daftar.
"Tapi daftar hanya satu kilogram. Berarti defisit lima ratus gram. Apakah kita harus menambah?"
Bima tertawa.
"Bro, ini bukan olimpiade matematika. Kalo kurang, beli lagi nanti."
"Tapi tidak efisien! Lebih baik beli sekaligus dengan perhitungan tepat untuk menghindari pembelian berulang!"
Bu Rini menarik napas dalam-dalam.
"Arsya."
"Beli sesuai daftar."
"Sekarang."
---
Arsya mengalah.
Tapi saat penjual menimbang cabai, ia protes lagi.
"Mohon ditimbang ulang."
Penjual—ibu setengah baya—mulai kesal.
"Mas, ini timbangan digital. Gak mungkin salah."
"Tapi ada kemungkinan kalibrasi melenceng karena kelembaban udara."
Arsya serius.
"Di tempat asalku, kita selalu verifikasi dengan timbangan kedua."
"Mas ini percaya atau enggak? Mau beli atau enggak?"
Naya menarik lengan Arsya.
"Sudah. Cukup."
---
Setelah semua barang terkumpul, saatnya pembayaran.
Naya mengeluarkan kalkulator.
"Total belanja tujuh ratus lima puluh ribu. Dibagi lima, jadi seratus lima puluh ribu per orang."
Jeda.
"Tapi karena Arsya dan Lira memecahkan dua telur, potong lima ribu."
Dia menatap Arsya.
"Jadi kalian bayar seratus empat puluh lima ribu."
Arsya mengernyit.
"Bagaimana perhitungan nilai dua telur menjadi lima ribu? Berapa harga per butir?"
"Apakah telur yang pecah beratnya sama? Dan apakah kerusakan parsial mengurangi nilai secara linear atau eksponensial?"
Lira menepuk bahu Arsya.
"Kak. Saya rasa kita hanya perlu bayar. Tanpa bertanya."
"Tidak! Ini tentang prinsip keadilan! Jika telur pecah tiga puluh persen, maka kita hanya harus bertanggung jawab tiga puluh persen nilainya!"
Bu Rini mendengus.
"Arsya."
"Bayar seratus empat puluh lima ribu."
"Sekarang."
Arsya membayar. Dengan berat hati.
---
Pulang dari pasar. Barang-barang dibawa dengan susah payah.
Di dapur kecil, saat menata belanjaan, terjadi lagi kesalahpahaman.
Lira menemukan sabun cuci bubuk.
"Kak, lihat! Serbuk putih ini berbau tajam."
Dia mengendus.
"Apakah ini racun untuk membasmi makhluk tak terlihat?"
"Itu untuk mencuci pakaian, Lira."
"Tapi baunya seperti ramuan pembersih altar dewa!"
Lira bersemangat.
"Mungkin bisa untuk membersihkan aura negatif di kamar kita!"
Rania mendengar.
"Kamu berdua memang dari daerah sangat terpencil ya?"
Dia tersenyum. Meremehkan.
"Sabun cuci aja tidak tahu."
"Kami... dari pegunungan." Arsya cepat.
"Gunung apa? Gunung Lawu?"
"Iya... sekitar sana."
Naya, yang sedang menyortir telur, tiba-tiba berkata.
"Gunung Lawu di Jawa Tengah."
Jeda.
"Logat kalian tidak seperti orang sana."
Arsya berkeringat dingin.
"Kami... banyak pindah-pindah. Jadi logatnya campur."
"Ooh."
Naya mengangguk. Tidak terlalu peduli.
---
Setelah semua selesai, Bu Rini mengumpulkan mereka.
"Mulai minggu ini, jadwal piket dapur."
Dia membacakan.
"Senin: Naya."
Naya mengangguk.
"Selasa: Bima."
Bima acungkan jempol.
"Rabu: Rania."
Rania tersenyum.
"Kamis: Arsya dan Lira."
Arsya mencatat mental.
Kamis = tanggung jawab memasak untuk semua orang.
Dalam empat hari lagi.
"Jumat: giliranku. Sabtu-Minggu masak sendiri-sendiri."
Bu Rini memandang mereka.
"Ada pertanyaan?"
Tidak ada yang bersuara.
---
Sore. Kamar 207.
Arsya dan Lira menghitung ulang keuangan.
"Kak, uang kita tinggal delapan ratus ribu."
Lira menulis di buku catatan kecil.
"Harus bertahan sampai gajian kakak. Dua minggu lagi."
"Kita perlu penghematan maksimal." Arsya berpikir. "Atau cari sumber pendapatan tambahan."
"Bima tadi bilang bisa mengajakku bantu di acara kampus."
Lira ragu-ragu.
"Jadi panitia. Dapat uang saku."
Arsya diam sejenak.
"Itu berisiko. Kamu akan berinteraksi dengan banyak manusia. Tingkatkan kemungkinan kesalahan penyamaran."
"Tapi kita butuh uang, Kak."
Lira menatapnya.
"Dan aku janji akan hati-hati."
Arsya menghela napas.
"Baik. Tapi laporkan setiap perkembangan padaku."
---
Tok tok tok.
Malam. Ketukan di pintu.
Naya. Membawa buku catatan.
"Apa kamu punya waktu?"
Dia duduk di kursi tunggal.
"Aku mau minta tolong hitung sesuatu."
"Ini data pengeluaran kos enam bulan terakhir."
Dia membuka buku.
"Bu Rini mau analisis sederhana. Tapi aku tidak pandai bikin grafik."
Jeda.
"Katanya kamu jago strategi. Mungkin bisa bantu?"
Arsya menerima buku itu.
Matanya berbinar.
Akhirnya. Sesuatu yang sesuai keahliannya.
"Aku akan buat analisis lengkap."
Dia sudah mulai membayangkan.
"Tren pengeluaran. Perbandingan bulanan. Prediksi tiga bulan ke depan."
"Bahkan rekomendasi efisiensi!"
"Gak perlu serumit itu."
Naya memotong.
"Cuma bikin grafik naik turun aja."
"TIDAK!"
Arsya terlalu bersemangat.
"Ini kesempatan untuk mengoptimalkan sistem pengelolaan kos! Lihat, di sini pengeluaran terbesar adalah listrik di bulan April. Itu karena—"
"NAYA! ARSYA! MAKAN MALAM!"
Bu Rini dari bawah tangga.
Percakapan terpotong.
Naya berdiri. Menuju pintu.
Sebelum pergi, dia menoleh.
Senyum kecil.
"Kamu memang lain."
Jeda.
"Tapi lumayan serius."
Arsya tersenyum balik.
"Terima kasih. Aku akan menyelesaikan analisis ini besok."
---
Setelah Naya pergi.
Lira berbisik.
"Kak. Dia tersenyum padamu."
Matanya berbinar.
"Itu kemajuan!"
"Jangan berandai-andai." Arsya membalikkan badan. "Dia hanya minta bantuan profesional."
Tapi Arsya tidak bisa memungkiri.
Hatinya berdebar sedikit lebih kencang.
Mungkin menjadi manusia yang berguna tidak buruk.
---
Di kamar 205.
Bima sedang merencanakan acara kampus.
Supaya bisa ajak Lira.
---
Di kamar 206.
Rania sedang berpikir.
Cara ikut "analisis keuangan" agar bisa dekat dengan Arsya.