BAB 7 : KIAMAT DI KOMPOR

1281 Words
Kamis pagi. Hari yang ditakuti Arsya sejak jadwal piket diumumkan. Hari ini, dia dan Lira bertanggung jawab menyiapkan makan malam untuk semua penghuni kos. Lima orang. Satu dapur. Dua dewa yang tidak bisa membedakan kompor dan altar persembahan. "Kak, aku sudah mempelajari teori memasak manusia semalaman." Lira mengumumkan dengan bangga. Buku catatan penuh coretan. Diagram. Panah. Catatan kaki. "Prinsip dasarnya: pemanasan bahan makanan hingga suhu tertentu untuk mengubah struktur kimia, membunuh mikroorganisme, dan meningkatkan kecernaan." Arsya memandang catatan itu dengan khidmat. "Bagus. Tapi teori berbeda dengan praktik. Kita tidak punya pengalaman langsung." "Kita punya insting bertahan hidup!" Lira mengepalkan tangan. "Dan aku sudah menonton banyak video tutorial di ponsel Bima." "Video tutorial?" "Gambar bergerak yang mengajarkan keterampilan. Manusia menyebutnya 'YouTube'." Arsya mengangguk. Skeptis. Tapi tidak punya pilihan lain. --- Pukul 16.00. Mereka turun ke dapur. Dua jam sebelum makan malam. Waktu yang cukup—menurut teori. Dapur kos Bu Rini sederhana. Kompor dua tungku. Kulkas mini. Beberapa panci dan wajan. Rak bumbu. Tampaknya cukup. Tapi bagi dua makhluk dari alam dewa yang biasa makan ambrosia yang muncul dengan sulap, ini seperti labirin teknologi tingkat tinggi. "Pertama, kita harus memutuskan menu." Arsya memeriksa persediaan. Beras. Telur. Tempe. Tahu. Kol. Wortel. Bumbu dasar. "Menurut video, kita bisa membuat 'nasi goreng'." Lira membaca catatan. "Populer. Efisien. Menggunakan bahan sisa." "Nasi goreng." Arsya mengangguk. "Tapi kita tidak punya nasi sisa." "Kita masak nasi dulu!" --- Mereka mencuci beras. Lira mencuci beras dengan sangat bersih. Terlalu bersih. Air bilasan pertama. Kedua. Ketiga. Keempat. Kelima. "Lira, berasnya sudah cukup bersih." "Tapi ini untuk konsumsi kelompok! Harus higienis maksimal!" Keenam. Akhirnya, beras dimasukkan ke rice cooker. Air ditakar—dengan mata, sesuai perkiraan. Lalu mereka menunggu. Lima menit. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Nasi masih mentah. "Kenapa tidak terjadi reaksi termal?" Arsya memeriksa rice cooker. "Oh! Tombolnya belum ditekan!" Lira menekan tombol dengan keras. Klik. "Jadi mesin ini butuh perintah eksplisit." Arsya menghela napas. "Tidak seperti peri dapur yang memahami keinginan." Rice cooker akhirnya bekerja. --- Sambil menunggu nasi, mereka menyiapkan bahan lain. Arsya bertugas memotong wortel dan kol. Cara memegang pisau: seperti memegang pedang upacara. Terlalu formal. Terlalu kaku. "Kak, potongannya harus kecil-kecil, katanya." "Aku tahu. Tapi ukuran 'kecil' itu subjektif. Apa acuannya? Sentimeter? Inci?" "Pokoknya kecil aja!" Arsya memotong dengan serius. Setiap potongan diukur dengan mata. Hasilnya: wortel berbentuk kubus sempurna. Variasi ukuran: kurang dari dua milimeter. Waktu: tiga puluh menit. Untuk dua wortel. --- Lira bertugas menggoreng tempe dan tahu. Wajan dipanaskan. Minyak dituang. Terlalu banyak. Minyak setinggi tiga sentimeter. "Menurut video, minyak harus panas sebelum memasukkan tempe." "Bagaimana kita tahu sudah cukup panas?" "Tes dengan sendok kayu. Kalau ada gelembung, berarti sudah." Lira mencelupkan sendok kayu. Tidak ada gelembung. Dia menunggu. Dan menunggu. Karena tidak sabar, ia menaikkan api ke maksimum. Minyak mulai berasap. "Lira, itu asap! Apakah normal?" "Saya rasa ini bagian dari proses—" PRANG! Ledakan kecil. Minyak mendidih berlebihan. Tumpah ke api. Nyala api membesar mendadak. "KEBAKARAN! SERANGAN API!" Lira panik. "TUAN, LARI—!" Arsya bereaksi. Refleks dewa: meraih wadah air. Menyiramkannya ke wajan. SYYYYSSSSS! Asap mengepul tebal. Memenuhi dapur kecil. Api padam. Tapi tempe dan tahu sekarang terapung di genangan air berminyak. "LIRA! Jangan pernah menuang air ke minyak panas! Itu dasar-dasar fisika!" "Tapi di alam kita, api bisa dipadamkan dengan air suci!" "Ini bukan api suci! Ini api kompor!" --- BEEEP! BEEEP! BEEEP! Asap tebal memicu detektor asap di plafon. Alarm berbunyi nyaring. Semua penghuni kos berhamburan ke dapur. Bu Rini datang dengan wajah merah. "APA YANG TERJADI?! KEBAKARAN?!" Bima mematikan alarm. Naya membuka jendela. Rania berdiri di belakang, ekspresi terhibur. "Maaf, Bu." Arsya mengibaskan asap. "Eksperimen memasak kami agak... energetik." Naya melihat ke dalam wajan. Tempe dan tahu hancur. Berendam di air berminyak. "Kalian merebus tempe goreng?" "Kami sedang mengembangkan teknik baru." Lira polos. Bu Rini menghela napas panjang. Sangat panjang. "Kalian berdua keluar." Jeda. "Naya, tolong lanjutkan masaknya. Kita tidak bisa makan larut malam." --- Arsya dan Lira duduk di ruang tamu. Wajah tertunduk. "Kami gagal, Kak." Lira memainkan ujung bajunya. Arsya diam. Tapi tidak menyerah. "Kami bisa membantu persiapan yang lain." "Kalian duduk saja di ruang tamu." Bu Rini tanpa menoleh. "Jangan sentuh apa-apa." Bima menghampiri Lira. "Gak apa-apa, namanya juga belajar. Dulu aku pertama masak juga hampir bakar kos." "Tapi kami membuat asap dan kebisingan. Kami merepotkan semua orang." "Biarin. Yang penting belajar." --- Di dapur, Naya membersihkan kekacauan dengan tenang. Gerakannya terampil. Efisien. Tiga puluh menit kemudian, aroma sedap mulai tercium. Arsya memperhatikannya dari ruang tamu. Dia seperti komandan yang menguasai medan perang, pikir Lira, membaca ekspresi kakaknya. "Ya. Dia kompeten." --- Makan malam siap pukul 18.30. Nasi goreng sederhana. Telur dadar. Kerupuk. Sambal. Semua duduk di meja makan. "Maaf untuk gangguan tadi." Arsya menunduk. "Gapapa, yang penting selamat." Bu Rini menyajikan nasi. Rania tersenyum manis. "Arsya, lain kali aku bisa mengajarmu masak. Privat." "Terima kasih, tapi tidak perlu merepotkan." "Gak repot kok. Malah asyik." Naya, duduk di seberang Arsya, tidak berkata apa-apa. Tapi saat Arsya mencicipi nasi goreng, ia bertanya. "Gimana rasanya?" Arsya mengunyah. "Enak. Lebih enak dari yang kami coba buat." "Karena pakai bumbu yang tepat, dan apinya tidak sampai membakar dapur." Arsya tersenyum kecut. "Kami masih harus belajar banyak." --- Makan malam berlanjut. Bima bercerita tentang kampus. Rania tentang belanja. Bu Rini tentang tetangga yang baru punya anak. Arsya dan Lira lebih banyak diam. Mengamati. Dinamika sosial manusia. Kompleks. Tapi hangat. Setelah makan, semua membantu membereskan. Arsya menawarkan diri mencuci piring. Naya membantu mengeringkan. "Sungguh menakjubkan." Arsya menyabuni piring. "Kamu bisa memasak dengan cepat dan baik." "Dari kecil terbiasa. Ibu kerja, jadi anak-anak harus mandiri." "Di tempat asalku... kami tidak perlu memasak. Makanan selalu tersedia." Naya terkekeh. "Negeri surga ya?" "Bisa dibilang... hampir begitu." Mereka berdiri berdampingan di wastafel kecil. Bahu hampir bersentuhan. Arsya merasa aneh. Dekat dengan manusia. Dalam aktivitas sehari-hari seperti ini. Ternyata tidak seburuk yang dibayangkan. "Kamu tidak perlu merasa gagal tadi." Naya tiba-tiba. "Semua orang pernah gagal pertama kali." "Tapi kami menyebabkan alarm berbunyi." "Itu justru lucu." Senyum tipis. "Jarang ada yang bisa bikin Bu Rini terkejut seperti itu." Arsya tersenyum. "Jadi ini hiburan untuk kalian?" "Sedikit." Naya mengeringkan piring. "Tapi jangan diulangi. Bu Rini bisa naik darah." Mereka tertawa kecil. --- Lira melihat dari jauh. Tersenyum sendiri. Bima mendekat. "Li, besok ada acara kampus. Mau jadi panitia? Dibayar." "Tugasnya apa?" "Jaga stand, bagi-bagi brosur. Gampang." Lira melirik Arsya. Kakaknya mengangguk pelan. "Baik. Aku mau." "Siap! Nanti aku jemput jam sembilan." --- Malam. Kamar 207. Arsya dan Lira merefleksikan hari itu. "Kak, masak ternyata lebih sulit daripada mengatur strategi pertempuran." "Karena di pertempuran, kita punya pasukan." Arsya berbaring di lantai. "Di dapur, kita sendirian." "Tapi Naya tidak marah pada kita." "Ya. Dia malah menghibur." "Kak... apakah kita bisa bertahan seperti ini? Menjadi manusia biasa?" Arsya berpikir. "Kita harus bisa. Karena sekarang tidak ada pilihan lain." Jeda. "Dan... mungkin tidak semua buruk." --- Tok tok tok. Naya di pintu. "Aku mau kasih ini." Buku kecil. Sampul bergambar sayuran. "Resep sederhana. Buat latihan." Arsya menerimanya. "Terima kasih. Kau sangat baik." "Gak baik-baik amat." Naya setengah berbalik. "Cuma gak tebayang kalo besok Kamis giliran kalian lagi dan masih bikin asap." Mereka tertawa. Naya pergi. Arsya membuka buku resep. Halaman pertama. Tulisan kecil di sudut. Yang penting berani coba. -N --- Lira mengintip dari balik bahu. "Kak, dia memberimu pesan rahasia!" "Ini bukan pesan rahasia. Hanya catatan." "Tapi dia menulis khusus untukmu!" Arsya mengabaikan. Tapi dalam hati, ia merasa hangat. Buku resep ini terasa lebih berharga dari ribuan gulungan ramalan dewa. --- Di kamar 205. Bima menyiapkan rencana acara besok. Semoga Lira suka. --- Di kamar 206. Rania mendengar percakapan di lorong. Naya terlalu cepat. --- Di kamar 204. Naya membuka laptop. Mencari resep pemula. Untuk siapa? Tidak penting.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD