BAB 30: REALITAS YANG MULAI DI TERIMA

1451 Words
Hujan mulai turun lembut di atap kosan. Irama menenangkan. Tetes demi tetes. Di kamar 207, lampu belajar menyala redup. Lira duduk di lantai. Buku catatannya terbuka. Tapi dia tidak menulis. Matanya memandang hujan di jendela. "Tuan." Suaranya pelan. Tanpa menoleh. "Apakah kita akan kembali?" --- Pertanyaan itu menggantung di udara. Seperti butiran hujan yang tertahan di kaca. Arsya berhenti mengetik. Laptop proyek freelance masih terbuka. Tapi pikirannya sudah tidak di sana. "Kenapa tanya itu sekarang?" "Karena malam ini." Lira menunduk. "Saat aku hampir membongkar segalanya..." Jeda. "Aku tidak hanya takut ketahuan. Aku juga takut kehilangan." "Kehilangan apa?" "Kehilangan ini." Ia menatap kamar kecil mereka. "Kehilangan tempat ini. Kehilangan... mereka." --- Arsya meletakkan laptop. Dia mengerti. Malam ini, saat semua mata tertuju padanya setelah Lira berteriak "TUAN!"— Ada satu pasang mata yang tidak penuh kecurigaan. Melainkan kekhawatiran. Mata Naya. "Kita sudah di sini hampir dua bulan." Suaranya pelan. "Kita punya tempat tinggal. Pekerjaan. Teman..." "Apakah mereka teman, Tuan?" Lira menoleh. "Atau hanya manusia yang kebetulan berinteraksi dengan kita?" --- Pertanyaan sulit. Tapi Arsya tahu jawabannya. "Bu Rini mungkin hanya pemilik kos." Ia menghitung satu per satu. "Tapi dia selalu mengingatkan kita makan." "Bima mungkin cuma tetangga iseng. Tapi dia membantu kita dengan KTP dan proyek." "Dinda mungkin cuma teman kampus Bima. Tapi dia tidak pernah mengeksploitasi keanehan kita." Jeda. "Dan Naya?" --- Arsya diam. Hujan semakin deras. "Naya berbeda." Lira menutup buku catatannya. "Dia membantu tanpa banyak tanya. Dia menerima keanehan kita tanpa mencoba membongkar." Ia menatap Arsya. "Dan hari ini, dia membawakan Tuan s**u hangat." Arsya terkejut. "Kamu tahu?" "Aku mendengar." Jeda. "Aku selalu mendengar." "Kamu menguping?" "Itu bagian dari tugasku. Mengawasi lingkungan sekitar." Arsya tersenyum. "Tapi Naya bukan bagian dari lingkungan yang harus diawasi." Lira menggeleng. "Tidak." Suaranya lembut. "Dia... dia bagian dari kita sekarang." --- Pernyataan sederhana. Tapi bermakna dalam. Naya. Manusia cuek yang hemat bicara. Telah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Dua dewa yang tersesat. --- "Manusia itu aneh, Tuan." Lira kembali menatap hujan. "Mereka menciptakan film untuk membuat diri mereka takut." "Mereka membuat sistem birokrasi yang rumit untuk hal sederhana." "Mereka menggunakan uang kertas yang sebenarnya tidak berharga." "Tapi mereka juga menciptakan kopi hangat di pagi hari." Arsya. "Dan kue bolu buatan Bu Rini." Jeda. "Dan percakapan di teras saat senja." --- "Apakah Tuan ingat malam pertama kita di sini?" Lira tidak menoleh. Matanya masih di jendela. "Kita tidur di gang. Kedinginan. Tidak punya uang." "Dan sekarang kita punya kamar." Arsya. "Meski kecil." "Kita punya pekerjaan." Lira. "Meski sulit." "Kita punya..." Arsya berhenti. "...teman." Lira menyelesaikan. --- Diam. Hujan terus turun. "Di alam kita, umur kita ribuan tahun." Lira. "Tapi dua bulan di sini terasa lebih penuh daripada seratus tahun di sana." "Karena di sana, segalanya sudah kita ketahui." Arsya. "Di sini, segalanya baru." "Dan Naya adalah hal terbaru yang paling menarik." Arsya tidak menyangkal. "...Ya." --- "Apakah Tuan jatuh cinta padanya?" Pertanyaan langsung. Tanpa basa-basi. Arsya tercekat. "Aku... tidak tahu apa itu cinta dalam konteks manusia." Lira membuka buku catatannya. Membaca. "Menurut buku yang k****a di perpustakaan, cinta manusia adalah keinginan untuk bersama." Jeda. "Perhatian pada kebahagiaan orang lain." Jeda. "Dan perasaan hangat saat memikirkan orang tersebut." Arsya diam. "Kalau begitu..." Suaranya nyaris berbisik. "...mungkin." --- Lira menutup buku. "Jika kita kembali ke alam dewa, Tuan akan meninggalkan Naya." "Dan kamu akan meninggalkan Bima." Lira terkejut. "Bima? Dia hanya... manusia yang lucu." "Tapi kamu selalu menceritakannya. Dan kamu mengajarinya Excel dengan antusias." "Karena dia murid yang bersemangat!" "Kamu tersenyum saat menceritakan kebodohannya." Lira diam. Tidak bisa membantah. --- Hujan mulai reda. Tinggal rintik kecil. "Kita harus terus berbohong, Tuan." Suara Lira pelan. "Tentang DiRaTim. Tentang tradisi panggilan 'Tuan'. Tentang semua." "Tapi bohong itu melelahkan." "Dan berbahaya. Hari ini hampir terbongkar." Arsya memikirkan Naya. Dia curiga. Tapi tidak memaksa. Dia hanya menunggu. "Bagaimana jika kita memberitahu Naya?" Lira terkesiap. "TUAN! Itu melanggar aturan tertinggi!" "Aturan siapa?" Arsya menatapnya. "Kita sudah melanggar aturan dengan datang ke sini." "Tapi... dia manusia. Dia tidak akan memahami." "Kamu yakin?" --- Lira berpikir. "Dia selalu menerima." Jeda. "Tapi ini... terlalu gila." "Bahkan untuk manusia yang paling terbuka sekalipun." "Tapi dia sudah melihat banyak keanehan." Arsya. "Dia membantu menutupinya." "Karena dia mengira kita hanya orang desa yang aneh." Lira. "Bukan... dewa." Kata itu terasa aneh. Dewa. Di alam mereka, itu gelar mulia. Di sini, itu akan terdengar seperti delusi. "Kita tidak bisa memberitahunya." Lira menggeleng. "Tapi kita juga tidak bisa terus berbohong." "Maka kita harus memutuskan." Arsya. "Tinggal atau pergi." --- Itulah intinya. Dari semua refleksi malam ini. Tinggal atau pergi. Menjadi manusia. Atau kembali menjadi dewa. --- "Tuan." Lira memecah keheningan. "Apa itu rumah?" --- Arsya memandang langit-langit. "Dimanapun kita merasa aman dan diterima." "Apakah alam dewa adalah rumah?" "Pernah." "Dan sekarang?" --- Arsya melihat sekeliling kamar. Lantai mulai aus. Cat mengelupas di sudut. Lemari kayu reyot. Tapi juga ada buku Excel pinjaman Naya di meja. Ada gelas bekas s**u hangat. Ada jaket Bima yang tertinggal. "Rumah bukan tempat, Lira." Suaranya pelan. "Rumah adalah perasaan." "Dan perasaan itu ada di sini?" "Ya." Arsya mengangguk. "Di sini." --- Lira tersenyum. "Aku juga merasakannya." Ia menghitung jari. "Saat Bu Rini memarahi kita karena berisik, tapi kemudian memberikan kita kue." "Saat Bima membuat rencana bodoh, tapi dengan niat baik." "Saat Naya..." Jeda. "Saat Naya tersenyum kecil karena kita." Ia menatap Arsya. "Itu terasa seperti rumah." --- Arsya tersentuh. Lira—asistennya yang selalu bicara tentang tugas dan kewajiban— Sekarang bicara tentang perasaan. "Mungkin kita sudah berubah, Tuan." "Berubah menjadi apa?" "Menjadi... setengah dewa setengah manusia." "Atau menjadi manusia yang masih ingat sebagai dewa." --- Hujan sudah berhenti. Hanya tetesan air dari atap yang sesekali jatuh. Tok tok tok. --- Naya di pintu. Dua mangkuk di tangan. "Bubur ayam. Bu Rini bikin buat semua penghuni." "Terima kasih." Arsya. Naya melihat suasana kamar. Lira di lantai dengan buku catatan. Arsya di kasur tanpa laptop. "Lagi ngobrol serius?" "Sedang refleksi." Lira. "Oke." Naya meletakkan mangkuk di meja. "Gue tinggalin di sini ya." "Masuk saja." Arsya. "Kita sedang membicarakan... masa depan." --- Naya ragu. Tapi masuk. Duduk di kursi tunggal. Lira mengambil bubur. Makan di lantai. "Refleksi tentang apa?" Naya. "Tentang apakah kami akan tetap di Jakarta atau kembali ke desa." Arsya setengah benar. Naya mengangguk. "Mau pulang?" "Kami tidak yakin." Arsya menatap mangkuknya. "Jakarta sudah terasa seperti... rumah." --- Naya menyeruput bubur. "Gue juga dulu mikir gitu." "Waktu pertama pindah ke sini, pengen balik kampung terus." Jeda. "Sekarang, kampung jadi tempat nostalgia. Jakarta jadi rumah." "Apakah kamu tidak merindukan kampung?" "Kangen iya." Naya. "Tapi di sini gue punya kehidupan. Punya tanggung jawab. Punya... orang-orang." Lira bertanya, "Apakah kamu punya teman dekat di sini, Naya?" "Beberapa. Tapi kebanyakan sibuk." Jeda. "Makanya gue seneng ada kalian. Nggak pernah boring." --- Arsya tersenyum. "Kami senang ada kamu." Naya menunduk. Menyembunyikan senyum kecil. "Buburnya udah mau dingin. Makan." --- Mereka makan dalam keheningan yang nyaman. Naya selesai duluan. Berdiri. "Gue balik ke kamar dulu. Besok kan masih ada proyek." "Terima kasih untuk buburnya." Arsya. "Dan untuk s**u tadi malam." Lira. Naya mengangguk. Melangkah ke pintu. Berhenti. "Kalo kalian memutuskan tinggal, gue senang." Jeda. "Kalo pulang, gue akan... kangen." Pintu tertutup. --- Lira memandang Arsya. "Dia akan kangen." "Ya." "Kita tidak bisa membuat Naya berkangen." "Tidak." "Jadi..." "Jadi kita tinggal." --- Keputusan itu diucapkan dengan sederhana. Tapi bermakna besar. Mereka memutuskan tinggal. Menjadi manusia. Menghadapi semua konsekuensinya. --- Lira membuka buku catatan. Menulis. "Keputusan Arc 3: TINGGAL." "Pelajaran:" "1. Rumah adalah perasaan, bukan tempat." "2. Manusia, meski aneh, memiliki kehangatan yang nyata." "3. Naya adalah alasan utama untuk tinggal—dan itu tidak apa-apa." "4. Kita akan terus menyembunyikan identitas, tapi dengan tujuan baru: membangun kehidupan di sini." "5. KTP harus segera diselesaikan—kita butuh identitas legal." "6. Proyek freelance harus berhasil—kita butuh uang untuk bertahan." "7. Rania masih ancaman—harus diwaspadai." "8. Bima adalah sekutu yang tidak disengaja—pertahankan." "Kesimpulan: Kita mungkin dewa yang turun, tapi kita akan menjadi manusia yang bangkit." "Arc 3 selesai. Siap untuk Arc 4: kehidupan nyata dengan semua masalahnya." --- Arsya melihat Lira menulis. "Kamu serius dengan ini?" "Iya, Tuan." Lira mengangkat kepala. "Kita butuh rencana. Sekarang kita punya tujuan: membangun kehidupan di sini." "Mulai dari mana?" "Pertama, KTP. Selesaikan dengan bantuan pak RT." "Kedua, proyek freelance. Selesaikan dengan baik." Jeda. "Ketiga... hubungan dengan Naya." Arsya tegang. "Hubungan dengan Naya?" "Tuan harus memutuskan. Apakah hanya berteman, atau lebih." Lira tersenyum kecil. "Tapi aku sarankan lebih. Karena dia membuat Tuan tersenyum." --- Arsya tersipu. "Kita lihat nanti." --- Malam semakin larut. Jakarta tidak pernah benar-benar tidur. Lampu berkedip. Suara kendaraan sesekali terdengar. Di kamar kecil itu, dua makhluk dari dimensi lain memutuskan untuk menjadi manusia. Bukan karena terpaksa. Tapi karena mereka menemukan sesuatu yang lebih berharga daripada kekuatan dewa. Hubungan manusiawi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD