"FILM HOROR MALAM INI! Yang berani nonton, kumpul jam 8 malam di ruang tengah! Ada popcorn dan teror gratis!"
Pengumuman Bima di grup w******p membuat Lira penasaran.
"Tuan, apa itu film horor?"
Arsya menurunkan laptop. "Cerita bergambar yang dibuat untuk menakut-nakuti."
"Mengapa manusia menciptakan ketakutan untuk hiburan?" Lira mengernyit. "Bukankah ketakutan adalah musuh?"
"Manusia memang aneh, Lira."
Naya lewat. "Gue bawa selimut. Buat sembunyi kalo takut."
Lira mengangkat dagu. "Aku tidak takut! Aku asisten de—asisten kakak! Apa pun yang manusia ciptakan, aku hadapi!"
---
Jam 8 malam. Ruang tengah berubah jadi bioskop mini.
TV layar lebar 32 inci—pinjaman Bima. Bean bag dan bantal berserakan. Bu Rini ikut, bawa kacang goreng.
"Kita nonton apa?" Rania duduk di bean bag paling empuk.
"The Conjuring!" Bima bersemangat. "Klasik!"
"Wah, berat nih." Dinda datang sebagai tamu Bima. "Naya, kamu berani?"
"Nggak juga." Naya duduk di pojok. "Tapi nonton aja."
Arsya dan Lira di sofa kecil. Lira mengamati dengan serius.
"Mereka menyiapkan altar gambar bergerak." Bisik. "Ritual pemanggilan arwah visual?"
"Bukan ritual, Lira. Hiburan."
"Tapi ada persembahan popcorn dan minuman!"
"Itu cemilan."
---
Film dimulai. Gelap. Musik menegangkan.
Lira awalnya tenang.
Lalu boneka Annabelle bergerak sendiri.
"BONEKA ITU HIDUP!" Desis. "IA MEMILIKI ROH!"
"Shhh." Arsya. "Itu cuma film."
"TAPI IA BERGERAK!"
"Itu rekaman."
Lira tidak tenang. Setiap adegan dikomentari.
Hantu di cermin: "ROH CAIR! IA KELUAR DARI DUNIA PANTULAN!"
Pintu terbuka sendiri: "ANGIN GAIB! PENJAGA PINTU TIDAK BERDAYA!"
Suara ketukan: "SINYAL DARI DIMENSI LAIN!"
Bima tertawa. "Lira, kamu lebih seru dari filmya!"
Tapi Arsya mulai khawatir. Lira semakin tegang. Tangannya mencengkeram lengan Arsya.
---
Film memasuki adegan k*****s. Keluarga kerasukan. Hantu di setiap sudut.
Lira di ujung kursi. Napas tersengal.
"Tuan, apakah ini dokumentasi nyata?" Berbisik panik. "Apakah dunia manusia sering diinvasi roh?"
"Bukan dokumentasi. Cerita."
"TAPI SANGAT NYATA!"
Naya dari bean bag sebelah. "Tenang, Lira. Efek khusus."
Tapi Lira tidak bisa tenang.
Hantu muncul tiba-tiba di belakang tokoh utama. Wajah mengerikan. Musik memekakkan telinga.
Bima dan Dinda berteriak. Rania menjerit. Bu Rini menjatuhkan kacang.
Lira melompat berdiri. Menunjuk layar.
Berteriak dengan suara paling keras:
"TUAN! ITU ROH PEMAKAN JIWA LEVEL TINGGI! KITA HARUS MELAWAN!"
---
Diam.
Film masih berjalan. Tapi semua mata tertuju pada Lira.
Dan pada Arsya.
Arsya membeku. Darahnya berhenti mengalir.
Tidak. Tidak. Tidak.
Bima memecah keheningan. "Tuan? Siapa tuan?"
Lira tersadar. Matanya membelalak. Wajahnya pucat.
"AKU... MAKSUDKU... KAKAK!" Suaranya bergetar. "KAKAK! ITU ROH PEMAKAN JIWA LEVEL TINGGI!"
Tapi kerusakan sudah terjadi.
Rania mengernyit. "Tadi kamu bilang 'Tuan', bukan 'Kakak'."
"Tidak! Aku bilang Kakak! Hanya karena panik, terdengar seperti Tuan!"
Bima tertawa. "Wah, Lira sampai lupa diri! Tapi 'Tuan' panggilan keren juga! Kayak di film feudal!"
Arsya mencoba menyelamatkan. "Di desa kami, kadang anak muda memanggil kakaknya 'Tuan' sebagai bentuk hormat."
"Benarkah?" Dinda penasaran. "Desa mana?"
"DiRaTim." Arsya dan Naya bersamaan.
"Di sana memang banyak tradisi unik." Naya datar. "Gue juga pernah dengar."
Tapi Rania tidak percaya. "Terdengar seperti panggilan untuk atasan. Bukan kakak."
Lira panik. "Karena di keluarga kami, kakak adalah atasan! Dia yang memimpin!"
Bu Rini ikut bicara. "Oh, seperti keluarga tradisional Jawa? Kakak tertua dihormati seperti raja kecil?"
"YA! PERSIS SEPERTI ITU!" Lira bersemangat. "Kakak Arsya pemimpin keluarga! Jadi aku memanggilnya Tuan sebagai penghormatan!"
Arsya mengangguk cepat. "Tradisi keluarga."
Bima manggut-manggut. "Keren! Jadi Arsya seperti tuan muda? Bisa suruh-suruh adiknya?"
"Tidak persis—"
Lira sudah keburu. "Ya! Aku harus menuruti semua perintah Tuan! Karena dia kepala keluarga!"
Naya menutup mata.
Lira, kamu berlebihan.
---
Film dilanjutkan. Tapi suasana berubah.
Sekarang orang-orang sesekali melirik Arsya dan Lira.
Setiap adegan menegangkan, Lira berusaha keras tidak memanggil "Tuan". Hasilnya: ia menggigit bantal sampai hampir robek.
Adegan jumpscare terakhir. Hantu muncul tiba-tiba. Suara keras.
Lira melompat—dan tanpa sengaja menarik selimut Naya.
Selimut terbuka. Naya yang juga kaget, menjatuhkan gelas.
Byur! Air tumpah ke karpet.
"ADUH!" Bu Rini. "Karpet baru!"
Semua sibuk membersihkan. Dalam kekacauan itu, Lira berbisik, "Maaf, Tuan. Hampir membongkar."
"Sudah. Tapi jangan lagi."
"Aku tidak bisa menahan diri! Ketakutan membuat lidah lepas kendali!"
---
Setelah tumpahan selesai, film usai. Tapi obrolan belum selesai.
"Jadi di desa kalian, semua adik panggil kakak 'Tuan'?" Dinda.
Arsya mengangguk. "Beberapa keluarga. Tradisi lama."
"Unik. Di Jakarta mah, adik malah panggil nama langsung."
Rania menyipit. "Tapi tadi Lira bilang harus menuruti semua perintah. Itu ekstrem."
"Keluarga kami sangat tradisional." Arsya.
"Seperti keluarga bangsawan jatuh?" Bima.
"Semacam itu."
Naya berdiri. "Gue mau minum. Ada yang mau?"
"Aku!" Lira melompat. "Aku bantu Naya! Sebagai hukuman karena berisik!"
---
Di dapur, Lira berbisik panik. "Aku hampir mengecewakan Tuan!"
"Tenang." Naya mengambil air. "Mereka kayaknya percaya."
"Tapi Rania masih curiga! Aku melihat matanya!"
"Rania emang gitu. Cari-cari kesalahan orang."
"Haruskah aku buat pengalihan? Pura-pura kerasukan roh film?"
"JANGAN." Naya tegas. "Itu akan lebih parah."
---
Di ruang tengah, Bima iseng. "Jadi Arsya, sebagai 'tuan muda', perintah apa yang biasa kamu berikan ke Lira?"
Arsya berkeringat. "Biasanya hal sehari-hari. Beli makanan, bersihkan kamar."
"Wah, enak dong punya adik kayak Lira. Dinda, kamu mau jadi adikku gak?"
Dinda mendorong. "Jangan mimpi."
Rania masih bertahan. "Kalian berdua jauh dari orang tua ya? Jadi Arsya benar-benar kepala keluarga?"
"Ya. Orang tua sudah meninggal."
"Sedih." Rania tidak terlihat sedih. "Tapi kalian kompak."
Bu Rini menguap. "Yang penting saling menjaga. Tapi Lira, lain kali jangan teriak-teriak. Ibu tua bisa kena serangan jantung."
"Maaf, Bu Rini."
---
Film selesai. Acara bubar.
Tapi Bima punya ide. "Besok kita main roleplay yuk! Arsya jadi tuan, Lira jadi pelayan, kita yang lain jadi pengunjung istana!"
"TIDAK!" Arsya dan Lira bersamaan.
"Ah, seru tuh!"
"Bima, jangan memaksa." Dinda. "Mereka mungkin trauma sama tradisi lamanya."
"Oke, oke. Tapi kalau mau, aku siap jadi pelayan juga lho!"
---
Setelah semua kembali ke kamar, Arsya menarik Lira.
"Lira, itu terlalu dekat."
"Aku tahu, Tuan." Menunduk. "Maafkan aku."
"Tapi untungnya, mereka percaya cerita tradisi desa."
"Berkat bantuan Naya."
"Ya." Arsya menghela napas. "Naya selalu membantu."
---
Pukul 02.00. Ketukan lembut di pintu.
Naya. Dua gelas s**u hangat.
"Buat lu. Biar bisa tidur."
"Kamu juga tidak bisa tidur?"
"Nggak juga. Cuma kepikiran lu pasti stres."
Arsya menerima gelas. "Terima kasih. Untuk segalanya hari ini."
"Gapapa." Naya. "Lira juga udah minta maaf ke gue."
"Mereka akan melupakan ini, kan?"
"Mungkin. Tapi kalo Bima, dia akan jadikan bahan lelucon seminggu."
Arsya tersenyum. "Lebih baik itu daripada curiga."
Naya mengangguk. "Gue pulang dulu. Tidur yang cukup."
---
Setelah Naya pergi, Arsya meminum susunya.
Hangat.
Seperti perasaan di dadanya setiap kali Naya membantu.
Mungkin suatu hari, mereka harus mengungkapkan kebenaran pada Naya.
Tapi bukan hari ini.
Hari ini, mereka selamat dari kehancuran karena teriakan "Tuan!".
Besok adalah hari baru dengan tantangan baru.
Tapi setidaknya, mereka punya s**u hangat dan teman yang memahami.
Itu cukup untuk sekarang.